
Citra masih berdiri di sisi jalan, menangis. Hatinya terasa sakit dan bodohnya dia harus merasakan hal seperti itu. Padahal sejak awal mereka memang tidak memiliki hubungan spesial dan dia tahu, dia selalu menjadi orang yang tidak dianggap.
Hujan mulai turun tanpa diinginkan dan dia masih juga belum beranjak. Untuk apa dia menangisi pria yang tidak pernah mencintainya dan menganggapnya ada? Dia tidak mau menangis, tidak mau tapi rasa sakit di hatinya, telah membuatnya seperti itu. Apa dia sudah jatuh cinta pada William?
Hujan semakin deras dan membasahinya. Citra mengusap air yang jatuh dari wajahnya dengan perlahan. Lebih baik dia mencari tempat untuk berteduh terlebih dahulu. Sebuah halte bus yang tidak jauh darinya menjadi tempat pilihannya jadi dia segera berlari menyeberangi jalan untuk mencapai halte bus itu.
Derasnya guyuran air hujan, membuat jalanan menjadi sepi. Belum lagi guntur yang menggelegar di atas sana dan hembusan angin malam yang dingin. Citra duduk di halte sambil mengusap lengannya yang terasa dingin. Tidak seharusnya dia jatuh cinta pada William karena dia tahu jika pria itu sudah memiliki wanita lain.
Dia sungguh tidak mau tapi rasa cinta yang tumbuh di hatinya? Hadir tanpa dia inginkan dan jujur saja dia benci dengan perasaan ini. Dua bulan lagi, dia harap dia bisa selama dua bulan karena setelah itu, dia akan bebas dan rasanya sudah tidak sabar.
Angin malam semakin dingin dan hujan tidak juga reda. Citra mulai kedinginan tapi dia tidak bisa pergi ke mana pun dengan keadaan cuaca yang seperti itu. Dia harap hujan segera berhenti karena dia mau pulang dan tidur. Ya, dia butuh tidur untuk memperbaiki perasaannya yang sedang kacau.
Setelah sekian lama menunggu, hujan tidak juga berhenti. Citra melihat sekitarnya tapi tidak ada kendaraan umum yang lewat. Dia harap akan ada taksi karena tubuhnya semakin terasa menggigil. Dia akan menunggu lagi dan jika hujan mulai reda, dia akan mencari taksi.
__ADS_1
Sementara itu, William memutar kembali mobilnya menerobos derasnya air hujan. Dia tidak menyangka jika hujan akan turun dengan lebat setelah dia meninggalkan Citra. William menghentikan mobilnya untuk berpikir dan setelah mengambil keputusan, dia segera menghubungi Lena dan mengatakan jika dia tidak bisa mendatanginya akibat hujan dan petir yang menyambar.
Semula Lena marah dan tidak mau mengerti tapi William berusaha membujuknya dan berjanji akan mengabulkan apapun yang Lena inginkan nanti. Tentu kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Lena. Setelah membujuk Lena, William segera memutar mobilnya dan kembali di mana dia meninggalkan Citra tadi.
Dia sudah tiba tapi dia tidak melihat keberadaan Citra. William terus mencari tapi derasnya air hujan membuat jarak pandang menjadi minim sehingga dia tidak menyadari jika Citra berada di halte bus yang tidak jauh darinya. William memutuskan menunggu dan dia harap Citra masih ada di sana, mungkin Citra sedang berteduh di suatu tempat dan dia harap ketika melihat mobilnya, Citra akan menghampirinya.
Cuaca benar-benar tidak bersahabat karena hujan tidak juga berhenti dan semakin turun dengan lebat. William mengambil ponsel-nya dan berusaha menghubungi Citra tapi sayang, Citra tidak mau menjawab panggilan darinya bahkan, Citra langsung mematikannya.
Itu Citra lakukan karena dia sedang ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Entah kenapa William menghubunginya dia sendiri tidak tahu. Apa pria itu akan pura-pura bersalah dengan cara menanyakan keadaannya? Lebih baik jangan memberikan perhatian palsu jika memang tidak suka agar dia tidak berharap dan semakin salah paham dengan kebaikan yang dilakukan oleh William.
Dia pikir Citra pasti sudah pulang dan dia akan membicarakan permasalahan mereka di rumah. William segera menjalankan mobilnya dan tidak menyadari jika dia melewati Citra yang masih duduk di halte bus yang ada di seberang jalan.
William membawa mobilnya dengan cepat menembus air hujan yang semakin lebat. Dia tahu dia salah dan dia akan meminta maaf pada Citra nanti. Tidak seharusnya dia membentak Citra dan menyakiti lengannya, sebagai seorang lelaki, dia benar-benar sudah seperti baj*ngan karena sudah bersikap kasar.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, William berlari masuk kedalam rumahnya. Dia benar-benar berharap Citra sudah pulang jadi dia segera menuju kamar untuk mencari istrinya tapi sayangnya, Citra tidak ada di sana. William mengumpat dan memaki, mana wanita itu?
Dia segera mengambil ponsel-nya karena dia mau menghubungi Citra kembali tapi dia urungkan. Entah kenapa dia merasa dirinya bagaikan orang bodoh. Untuk apa dia mengkhawatirkan Citra? Jangan sampai dia terlihat seperti pria bodoh saat ini!
William berdiri di depan jendela, memandangi air hujan yang masih turun dengan lebat dan petir yang masih menyambar. Entah kenapa dia semakin merasa khawatir sekarang dan dia harap istrinya cepat pulang. William mengacak rambutnya, frustasi. Tidak seharusnya dia membentak istrinya dan meninggalkannya di jalanan seorang diri. Dia menyesal sekarang dan tiba-tiba saja dia merasa takut, bagaimana jika Citra bertemu dengan orang jahat dan tertangkap?
Dia harap itu tidak terjadi tapi waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Citra belum juga kembali, apa yang sebenarnya terjadi? Lebih baik dia pergi mencari Citra apalagi hujan sudah berhenti. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan istrinya karena jika sampai kakeknya tahu, dia pasti akan marah besar.
William segera keluar dari kamar dan meraih kunci mobilnya,dia segera berjalan menuju pintu dengan terburu-buru dan ketika pintu terbuka, dia sangat terkejut mendapati istrinya di luar dalam keadaan basah kuyup. Citra tampak menggigil dan bibirnya tampak sedikit membiru dan bergetar. William merasa bersalah melihat keadaan istrinya dan tidak seharusnya dia meninggalkan Citra tadi.
"Hey, kenapa kau baru kembali? Apa kau baik-baik saja?" William mendekati Citra hendak menyentuh bahunya tapi dia tidak menyangka Jika Citra segera menepis tangannya dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.
Citra segera berlalu pergi. Dia tidak mau lagi tertipu dengan perhatian yang ditunjukkan oleh William. Sudah cukup rasa sakit yang dia rasakan dan dia tidak mau terlihat menyedihkan lagi di depan William. Dia telah bertekad akan mencari kebahagiaannya sendiri dan bagaimanapun, William tidak pernah menganggap jika dia ada.
__ADS_1
William hanya berdiri terpaku di tempatnya dan dia hanya melihat kepergian Citra. Entah kenapa pada saat itu, sebuah perasaan aneh mengalir dari dalam hatinya. Sebaiknya dia tidak memikirkan hal ini jadi William segera berjalan menuju kamar untuk mencari Citra tapi sayangnya. Citra tidak ada di dalam kamar.
William menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ada apa dengannya? Ini pasti hanya perasaan menyesal karena telah meninggalkan istrinya. Tapi apakah demikian?