Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Kabur


__ADS_3

Tubuh Citra membeku, dia sangat berharap jika itu bukan William. Orang yang menepuk pundaknya tadi, memutar tubuh Citra karena dia merasa heran Citra seperti orang ketakutan apalagi tubuhnya tampak gemetar. Citra menahan nafasnya ketika melihat seorang pria berdiri di depannya, matanya membulat dan wajahnya tampak pucat tapi tidak lama kemudian dia tampak lega karena itu adalah Doni.


"Doni?" ucap Citra dengan pelan.


Dia begitu tampak lega karena itu bukan William. Dia benar-benar takut William mendapatinya mau kabur jadi sebaiknya dia bergegas. Doni sangat heran melihat Citra begitu ketakutan, apa yang telah terjadi?


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Doni sambil melihatnya dengan penuh selidik.


Citra melihat sekitarnya dan langsung menarik tangan Doni masuk ke dalam lift ketika benda itu telah terbuka. Doni semakin heran dibuatnya, apa telah terjadi sesuatu di antara sahabatnya dan pria itu?


"Kenapa kau seperti ketakutan?" tanya Doni.


"Jangan sampai dia melihat aku, Don," jawab Citra.


"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu dengan kalian?"


Citra hanya menggeleng, dia tidak mau Doni tahu apa yang baru saja terjadi dengannya.


"Tolong bawa aku pergi dari sini, Don," pinta Citra.


Sekarang hanya Doni harapannya dan dia harap Doni mau menolongnya dan membawanya pergi dari sana.


"Baiklah, aku tidak tahu apa yang telah terjadi denganmu tapi aku akan membantumu karena kita sahabat," ucap Doni.


"Terima kasih, Don. Aku benar-benar takut dan aku tidak tahu harus bagaimana. Untung ada kamu di sini jika tidak?" air mata Citra kembali mengalir.

__ADS_1


Kejadian yang baru saja dia alami kembali terngiang. Citra memeluk tubuhnya yang gemetar, sedangkan Doni melihat keadaannya dengan heran. Setelah Citra di bawa pergi oleh William, Doni masih diam saja di tempat karena dia tidak mengerti.


Tadinya dia ingin pergi tapi dia iba dengan keadaan sahabatnya. Hal itu membuat Doni mendatangi hotel di mana Citra menginap dan menanyakan nomor kamar yang ditempati oleh Citra. Memang agak sulit karena dia tidak mengenal pria yang membawa Citra tapi segala upaya dia lakukan sampai dia tahu nomor kamar Citra menginap.


Doni mencari sahabatnya dengan tanda tanya di hati, kenapa Citra bersama dengan laki-laki di tempat itu? Apa dia benar-benar dijual oleh keluarganya?


Begitu melihat Citra, dia semakin heran karena Citra tampak ketakutan. Hal itu semakin membuat Doni curiga jika Citra benar-benar di jual oleh keluarganya dan lihatlah sekarang, Citra tampak waspada seperti takut dengan sesuatu.


Pintu lift yang mereka tumpangi terbuka, Citra mengintip sebelum keluar karena dia takut William ada di lobi. Setelah merasa aman, Citra langsung menarik koper-nya dan berlari. Dia bahkan mengabaikan rasa sakit yang masih terasa di sela pahanya karena jika sampai dia tertangkap, rasa sakit itu akan bertambah.


Doni mengikutinya dengan terburu-buru dan begitu ada Taksi, mereka langsung menyetop kendaraan itu. Citra masuk dengan cepat dan meminta Doni untuk segera bergegas. Mobil taksi mulai bergerak, Citra melihat hotel itu sejenak di mana dia harus kehilangan kehormatannya dengan paksa dan dia tidak akan pernah kembali ke sana dan dia berharap, dia tidak bertemu dengan William lagi untuk selamanya.


Sementara itu, William telah kembali. Dia mencari keberadaan Citra di dalam kamar tapi tidak dia temukan. Dia mulai mencari di segala tempat yang ada di dalam kamar tapi Citra tidak ada.


Dia sedang merenung dan mencari jawaban untuk dirinya sendiri, kenapa dia begitu marah ketika melihat Citra bersama dengan laki-laki? Apa yang telah terjadi dengannya?


Dia menyesal, benar-benar menyesal karena telah memperlakukan Citra dengan kasar. Tidak seharunya dia seperti itu tapi dia benar-benar marah dan cemburu.


Setengah jam dia berada di Bar itu untuk merenung tapi dia tidak mendapatkan jawaban. Setelah minumannya habis, dia memutuskan untuk kembali ke kamar untuk melihat keadaan Citra.


Dia harap Citra baik-baik saja dan dia akan membelikan makanan untuk Citra, dia juga akan meminta seorang pegawai hotel membawakan minuman hangat untuk istrinya.


Tidak saja membeli makanan untuk Citra, dia juga membeli obat penahan nyeri untuk istrinya tapi lihatlah sekarang, Citra tidak ada di dalam kamar mereka.


Seharusnya dia tidak berlama-lama di Bar tapi memang, dia terhamba karena seorang anak kecil memencet semua tombol yang ada di lift sehingga lift berhenti di setiap lantai.

__ADS_1


William mengambil ponsel-nya dan mencoba menghubungi Citra tapi sayang, ponsel Citra sudah tidak bisa dihubungi lagi.


Dengan kemarahan di hati, William melempar makanan yang dia bawa ke atas lantai hingga makanan itu berantakan. Dia juga melemparkan obat yang dia bawa untuk Citra ke atas lantai sambil memaki.


"Sialan!" teriaknya marah.


Jika dia tahu Citra akan pergi maka dia akan mengunci pintu dan tidak akan memberikan kesempatan untuk Citra pergi.


Dia kambali mencoba menghubungi Citra tapi lagi-lagi gagal. William melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan setelah itu, dia juga menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.


Bercak darah masih ada di sana bahkan baju Citra yang dia buka dengan paksa masih berserakan di atas lantai.


"Sial! sial!" umpatnya.


Dia tidak pernah menduga jika mereka akan jadi seperti ini tapi bukankah ini yang dia harapkan?


Bukankah dia berharap Citra pergi darinya? Sekarang wanita itu sudah pergi bukan? Dia bisa mengatakan pada kakeknya jika Citra kabur bersama dengan selingkuhannya dan dia percaya kakeknnya pasti akan percaya.


Bukankah dengan demikian dia bisa menikah dengan Lena? Tapi kenapa perasaannya tidak menentu saat ini?


William mengusap wajahnya dan melihat langit-langit kamarnya, apapun yang terjadi dengannya dia tidak tahu tapi yang pasti, dia tidak akan membirkan Citra pergi.


"Kau ingin kabur dariku? Tidak akan bisa dan jangan harap kau bisa! Kemana pun kau pergi, aku pasti akan menemukanmu dan selama kita masih terikat sebagai suami istri, jangan harap kau bisa lepas dariku!" ucap William dengan kemarahan di hati.


William segera turun dari atas ranjang dan keluar dari kamar karena dia ingin mencari tahu kemana Citra pergi.

__ADS_1


__ADS_2