
Citra memandangi David dengan lekat, jujur dia tidak ingat tapi dia merasa pernah bertemu dengan David. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Sejak kejadian tiga tahun lalu, banyak kejadian yang dia lupakan tapi kejadian yang paling sulit dia lupakan adalah kebersamaannya dengan William walau singkat.
"Ini aku, David. Apa kau tidak ingat? Yang beri kamu tumpangan? Apa kau benar-benar lupa padaku?" tanya David.
Dia tidak menyangka jika Citra sudah melupakannya. Walau kecewa dia akan membuat Citra ingat kembali dengan pertemuan pertama mereka dan janji Citra yang belum Citra tepati. Citra masih memandangi David tapi tidak lama kemudian dia ingat dengan pria itu.
"David, si tukang gombal?" tanya Citra.
"Ya, si tukang gombal," jawab David sambil tertawa. Akhirnya Citra mengingatnya.
"Apa kabarmu, Citra? Kenapa kau menghilang tiga tahun yang lalu?" tanya David.
"Banyak hal yang terjadi, David."
"Oh ya? Apa itu?" tanya David penasaran.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa."
Dari kejauhan, Agnes sedang berjalan menghampiri mereka karena dia sudah selesai. Agnes tampak heran melihat mereka berdua yang tampak akrab. Apa mereka saling mengenal? Agnes menghampiri mereka dengan terburu-buru karena dia sangat penasaran.
"Kalian saling kenal?" tanya Agnes sambil memandangi mereka berdua.
David dan Citra memandangi Agnes, sedangkan Agnes masih terlihat sangat penasaran dan ingin tahu.
"Begitulah," jawab David singkat. Dia belum ingin memberitahu adiknya terlebih dahulu karena dia takut Agnes terlalu banyak bicara yang bisa membuat Citra salah paham.
"Bagus deh kalau gitu. Kak ini teman aku Kak Citra, sebenarnya teman baik Doni sih," Agnes memperkenalkan Citra pada kakaknya.
"Sudah tau," ucap David.
Citra hanya tersenyum mendengar perkataan David, da kembali membungkuk dan memunguti buket bunganya dan ketika melihat itu, David segera membantunya.
"Sini, aku yang bawa," tanpa persetujuan Citra lagi, David mengambil buket bunga dari tangan Citra.
"Terima kasih," sebenarnya Citra tidak enak hati tapi David sudah mengambilnya.
"Kita mau makan di mana kak?" tanya Agnes sambil menggandeng tangan Citra.
"Terserah kamu aja, Nes, aku kurang paham restoran enak yang ada di sini," jawab Citra.
"Ya sudah ke tempat biasa kami makan aja ya," ucap David dan Citra hanya mengangguk.
Mereka segera keluar dari gedung itu dan berjalan menuju parkiran. David segera membawa mobilnya menuju restoran yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di restoran yang mereka tuju.
__ADS_1
Beberapa jenis makanan mereka pesan untuk mengisi perut mereka yang lapar. Selama mereka menikmati makanan, David curi-curi pandang ke arah Citra yang saat itu sedang berbicara dengan Agnes. Jujur dia sangat penasaran, kenapa Citra menghilang tiga tahun yang lalu?
"Kak Citra berapa lama di Jakarta?" tanya Agnes.
"Gak lama Nes, besok aku sudah harus balik ke Surabaya."
"Kok cepat amat sih, Kak? Kenapa tidak tinggal satu minggu dulu di sini?" tanya Agnes lagi.
"Ngak Nes, aku sibuk. Aku juga tidak terlalu suka di sini," Jawab Citra tapi sebenarnya yang dia takutkan adalah, kemungkinan besar dia akan bertemu dengan William jika dia terlalu lama di Jakarta.
"Lagi pula aku harus menyelesaikan rancangan gaun pengantinmu, bukan?"
"Iya sih, buat yang cantik ya, Kak," ucap Agnes.
"Pasti," jawab Citra sambil tersenyum.
David diam saja mendengar percakapan mereka, dia memang belum begitu mengenal Citra dan sekarang, setelah sekian lama bertemu kembali dia ingin mengenal Citra lebih jauh dan berharap kali ini dia bisa menjalin hubungan dengan wanita itu.
"Di Surabaya kamu tinggal di mana?" tanya David.
Jika memang wanita itu tidak bisa berada di Jakarta lama-lama apa salahnya jika dia yang ke Surabaya untuk mengejar cinta lamanya.
"Aku hanya ...," sebelum Citra menyelesaikan ucapannya Agnes sudah menyela.
"Kamu benar, Nes," jawab Citra sambil tersenyum.
"Kamu itu tidak sopan menyela pembicaraan orang!" David menjewer kuping Agnes sedangkan Agnes tampak meringis dan memegangi daun telinganya sambil menggerutu.
"Apa sih, kak?"
Citra hanya tersenyum, entah kenapa jadi teringat dengan adik angkatnya Caren. Bagaimana dengan keadaan keluarga angkatnya saat ini?
"Jika kamu pergi ke Surabaya dan ada waktu, mainlah ke tempatku bersama Agnes," ucap Citra.
"Baiklah, boleh aku meminta nomor telepon kamu?" David memberikan ponsel-nya pada Citra.
Ini adalah kesempatannya dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini apalagi dia sudah mendapat lampu hijau dari Citra. Kali ini dia tidak boleh gagal seperti tiga tahun yang lalu.
"Tentu," jawab Citra seraya mengambil ponsel David. Dia segera menulis nomor ponsel-nya dan setelah itu dia mengembalikan benda itu pada David.
Agnes hanya tersenyum melihat kakaknya, rasanya ingin menggoda kakaknya tapi akan dia lakukan nanti. Mereka masih berada di restoran itu dan berbincang dan setelah itu, David mengantar Citra kembali ke hotel di mana Citra menginap. Semula Citra menolak tapi Agnes dan David mendesaknya apalagi sudah larut malam.
"Thanks ya sudah mau repot-repot anter aku," ucap Citra ketika dia sudah tiba di hotel.
"Jangan sungkan, nanti aku kabari kalau aku ke Surabaya," ucap David.
__ADS_1
"Tentu David, aku tunggu," Citra tersenyum dan turun dari mobil.
Dia masih berdiri di lobi dan melambaikan tangannya ke arah Agnes dan David. Dia juga masih berdiri di sana melihat kepergian mobil David dan setelah mobil tidak terlihat lagi, Citra melangkah masuk ke dalam hotel.
Lift adalah tujuan utamanya dan ketika pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari sana. Tanpa sengaja, Citra melihat seorang wanita keluar dari lift sambil menggandeng tangan seorang pria dengan mesra. Mata Citra mengekori Lena sampai wanita itu keluar dari hotel.
"Lena?" ucap Citra dengan pelan.
Dia masih ingat betul dengan pacar William yang dia lihat ketika di cafe dan dia tidak akan melupakan itu. Tapi kenapa Lena bersama dengan pria lain? Apa William tidak jadi menikahinya?
Citra menggeleng, sebaiknya dia tidak memikirkan hal ini. Lagi pula bukan urusannya lagi dan sebaiknya dia segera masuk beristirahat karena dia lelah. Pintu lift lain terbuka dan Citra segera masuk ke dalam. Tiga tahun sudah merubah banyak hal dan dia tahu itu. Mau William tidak bersama dengan Lena lagi atau tidak? Dia tidak perduli.
Sementara itu di jalan, senyum selalu menghiasi wajah David. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Citra lagi. Mungkin mereka memang jodoh. Agnes melihat kakaknya dengan heran, ada apa dengannya?
"Kakak kenapa sih?" tanya Agnes.
"Kakak lagi senang, ngak lihat?"
"Kakak aneh dari tadi, kayak orang lagi menang lotre."
"Ini lebih dari menang lotre, Agnes. Apa yang aku cari akhirnya aku temukan."
"Maksud Kakak?" tanya adiknya semakin tidak mengerti.
"Anak kecil tidak bakal mengerti!"
"Apaan sih, Kak! memangnya aku ngak tau apa? Jelas-jelas kakak suka sama Kak Citra," tebak Agnes.
"Kelihatan banget ya, Dek?" tanya David sambil tersenyum
"Setan juga tau liat tingkah laku kakak!"
David tertawa, memang dia sedang jatuh cinta dan dia jatuh cinta pada orang yang sama.
"kamu benar, Jodoh ngak bakal lari ke mana. {Perempuan yang kakak cari selama tiga tahun akhirnya ketemu juga. Terima kasih Nes, berkat kamu akhirnya Kakak menemukan cinta kakak yang hilang."
"Apa?" Agnes sangat kaget mendengar perkataan kakaknya.
Sebenarnya dari tadi melihat tingkah laku aneh kakaknya dia sudah bisa menebak tapi dia tidak menyangka jika kakaknya benar-benar menemukan wanita yang selama tiga tahun ini dia cari dan dia juga tidak menyangka jika Citra adalah wanita yang kakaknya cari selama ini. Dia juga belum lama mengenal Citra dan semenjak mengenal Doni barulah dia mengenal Citra.
"kak, jangan menyerah. Kejarlah cinta kakak dan aku akan membantu kakak," ucap Agnes.
"Tentu," David kembali tersenyum.
Selama di perjalanan entah kenapa David tiba-tiba teringat dengan teman baiknya William. Entah kenapa saat itu dia sangat ingin menemui William tapi karena hari yang sudah malam akhirnya David memutuskan jika besok dia akan menemui sahabat baiknya.
__ADS_1