
Doni diam saja dan belum menjawab pertanyaan William, mereka saling pandang dan hal itu membuat William gusar.
"Jawab, Doni! Dimana Citra?" tanya William lagi sambil menekan ucapannya.
"Jangan harap aku akan mengatakannya padamu! Dia sudah bahagia jadi jangan ganggu dia!" ucap Doni sambil menepis tangan William.
William mengepalkan tangannya, kenapa Doni tidak mau memberitahunya? Tapi bukan berarti dia akan menyerah. Citra ada di Surabaya jadi dia akan mencari keberadaan Citra dan dia pasti menemukannya.
"Urusan kita belum selesai!" ucap William sambil melangkah pergi meninggalkan Doni.
Agnes melihat Doni dan setelah itu dia melihat William yang sudah melangkah pergi, sebenarnya apa yang terjadi?
"Don, ada apa sih?? Ada hubungan apa Kak William dengan Kak Citra?" tanya Agnes penasaran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Doni dan dia berharap Citra tidak datang malam itu agar dia tidak bertemu dengan William.
William berjalan pergi dengan sejuta pertanyaan dalam hatinya. Dia melangkah dengan cepat melewati kerumunan para tamu sambil menghubungi sekretarisnya.
"Batalkan janji untuk besok, aku akan ada di sini lebih lama," ucapnya.
Saat itu Citra baru sampai, sedari tadi David telah menghubunginya tapi karena jalanan yang macet membuatnya terlambat. Citra segera bergegas untuk menemui Doni dan Agnes, dia berjalan dengan terburu-buru dan high heel yang dia pakai benar-benar membuatnya kesulitan.
Citra semakin mempercepat langkahnya karena dia sudah terlambat, sedangkan dari arah yang berlawanan William berjalan dengan cepat pula. Citra terus menerobos tamu undangan yang sibuk makan dan pada saat itu dia berteriak karena lantai yang licin akibat minuman seseorang yang tumpah.
Tubuh Citra menabrak seseorang dengan keras dan Citra menabrak dada bidangnya sambil berteriak. William sangat kaget dan menangkap tubuh Citra yang jatuh ke arahnya. Citra terengah-engah, hampir saja dia jadi pusat perhatian.
"Terima kasih, Tuan," ucap Citra sambil melangkah mundur.
__ADS_1
Citra mendongak dan berusaha tersenyum saat melihat orang yang menolongnya tapi dalam sekejap mata senyumnya hilang dan wajahnya terlihat pucat. William begitu kaget melihat wanita yang baru saja dua tolong.
"Wi-William?"
Dalam sekejap mata saja, tubuh Citra sudah berada di dalam pelukan William karena pria itu sedang mendekapnya dengan erat. Tubuh Citra bergetar karena takut, sedangkan William begitu senang melihat Citra baik-baik saja dan sekarang dia bisa bertemu lagi dengannya.
Wanita yang sudah dia sangka tiada ternyata masih hidup dan sekarang berada di dalam pelukannya. Dia benar-benar rindu, rindu dengan Citra.
"Le-lepaskan aku!" pinta Citra sambil berusaha mendorong tubuh William.
Bayang-bayang kejadian tiga tahun lalu yang ingin dia lupakan dengan susah payah kini kembali terngiang di otaknya tapi William tidak mau melepaskannya karena dia takut Citra menghilang lagi dari hadapannya. Citra berusaha memberontak dari pelukan William. Kenapa pria itu ada di sana?
"Lepas aku!" Citra masih berusaha melepaskan diri dari pelukan William.
"Maaf, apa aku menyakitimu?" tanya William seraya melepaskan pelukannya.
Dia tidak pernah menyangka jika mereka akan bertemu di tempat itu, apa William akan memaksanya seperti tiga tahun yang lalu?
Tanpa menunggu, Citra memutar langkahnya dan segera lari. Dia tidak mau William memperlakukannya seperti tiga tahun yang lalu, sungguh dia tidak mau. Dia harap William tidak mengejarnya tapi sayang, William sedang mengejarnya saat ini karena dia tidak akan membiarkan Citra lari darinya lagi.
Citra mulai mengumpat karena high heel yang dia pakai, dengan terpaksa, Citra membukanya agar dia bisa berlari dengan mudah. Dia tidak perduli dengan kakinya yang terasa sakit yang penting saat ini dia bisa lari dari William. Dia bahkan berdoa semoga Tuhan menolongnya lagi kali ini.
Parkiran adalah tujuannya, dia terus berlari tapi sayangnya kakinya kurang cepat dari kaki William. Citra sangat kaget dan berteriak ketika William meraih pinggangnya dan memeluknya. Langkah mereka berdua terhenti dan mereka tampak terengah-engah.
"Lepaskan aku, William!" pinta Citra sambil memberontak.
William tidak perduli dan mendekapnya semakin erat. Sudah bertemu lagi dengan istri yang dia sangka sudah tiada, mana mungkin dia akan melepaskannya?
__ADS_1
"Lepaskan aku, Willy," pinta Citra lagi dan tanpa dia inginkan air matanya mengalir.
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu!" ucap William.
"Apa maumu? Apa kau mau menangkap aku dan menyekap aku?" tanya Citra sambil menghapus air matanya.
"Tidak, dengarkan aku Citra."
"Aku tidak mau," tolak Citra sambil menggeleng.
"Dengarkan aku, please," pinta William.
Pelukannya semakin erat dan dia mulai membenamkan wajahnya di bahu Citra. Tidak akan dia lepaskan, tidak akan pernah.
Sementara itu David masih berusaha mencari Citra. Citra sudah mengabarinya jika dia sudah tiba tapi mana wanita itu? David sudah menunggu begitu lama dan dia sudah tidak sabar. Dia memutuskan untuk keluar menunggu Citra tapi begitu dia berada di luar, tanpa sengaja David melihat William sedang memeluk Citra. Ada apa ini?
David tidak percaya dengan apa yang dia lihat jadi dia mendekati mereka berdua bahkan dia bisa mendengar pembicaraan mereka sekarang karena jarak mereka yang semakin dekat.
"Tolong lepaskan aku, William," pinta Citra lagi.
"Tidak, aku sudah kehilangan dirimu tiga tahun yang lalu dan sekarang tidak akan aku lepaskan lagi!"
"Tolong jangan ganggu aku lagi!" Citra berusaha memberontak.
"Tidak, kau istriku jadi pulanglah bersama denganku," pinta William.
Mata David membulat dan dia sangat shock mendengarnya, jadi Citra adalah istri William? Jadi wanita yang dia sukai adalah istri sahabat baiknya sendiri? Tidak, ini tidak benar. Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
David masih memandangi mereka dengan pikiran yang kacau. Dia benar-benar tidak percaya tapi sayangnya, dia sudah merasa jika dia sudah kehilangan Citra untuk selamanya.