Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Berikan aku kesempatan.


__ADS_3

Pagi itu Citra terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Citra melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia bangun dengan malas, rambut panjangnya berantakan dan matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


Suara pintu yang diketuk kembali terdengar dan Citra segera turun dari atas ranjang. Dia berjalan menuju pintu sambil merapikan rambutnya. Siapa yang datang?


Pintu terbuka dan dia sangat heran melihat pak Rt berdiri di depan pintu rumahnya bersama dengan William. Apa ada tetangga yang melapor jika ada seorang pria di rumahnya semalam?


"Pak Rt, ada apa ya?" tanya Citra sambil melihat pak Rt dengan penuh selidik.


"Tidak, saya hanya ingin tahu. Kenapa Mbak Citra begitu tega meninggalkan suami Mbak di depan pintu?" tanya Pak Rt.


"Hah?" Citra masih belum mengerti, maksudnya?


"Jika saya tidak kebetulan lewat rumah Mbak, Bagaimana? Suaminya pasti sakit apalagi lagi hujan deras. Ini bisa disebut KDRT, Mbak. Kalau berantem jangan tega dong Mbak usir suaminya suruh tidur di luar, dalam rumah tangga berantem hal wajar Mbak. Apa tidak iba membiarkan suaminya tidur di luar? Kalau aku punya anak gadis mending buat anak gadis aku aja kalau Mbak Citra tidak mau," oceh Pak Rt.


Citra memutar bola matanya dan melirik ke arah William yang sedari tadi tersenyum, apa sebenarnya yang William katakan pak Rt?


"Iya, Pak. Maaf ya dan terima kasih," Citra meraih tangan William dan menariknya masuk ke dalam.


"Ya sudah, Mbak. Jangan diulangi lagi ya," ucap pak Rt dan setelah itu dia pergi.


Citra menutup pintu rumahnya dan tampak kesal, kenapa William bisa bersama dengan Pak Rt?


"Kenapa kau bisa bersama dengan Pak Rt?" tanya Citra sambil menatap William dengan tajam.


"Aku kedinginan di luar, Sayang. Aku juga lapar dan belum makan dan aku dikira pencuri sama Pak Rt," jawab William.


"Kenapa kau tidak ke hotel, William?" Citra benar-benar kesal.


"Hey, kau meninggalkan aku tanpa apa-apa. Mau suruh aku jalan kaki dan mengemis di hotel?"


William mendekati Citra dan memeluknya, dia juga memandangi wajah Citra yang terlihat semakin cantik dibandingkan tiga tahun yang lalu dan merapikan rambut Citra yang berantakan.


"Apa kamu tidak tahu aku begitu kedinginan semalam?"

__ADS_1


"Lepas! Kalau kamu kedinginan sana cari kekasihmu!"


Citra berusaha melepaskan diri tapi William memeluknya semakin erat dan tidak membiarkan Citra lepas dari pelukannya.


"Aku tidak punya kekasih," ucapnya.


"Jangan bohong!" Citra tidak akan percaya begitu saja.


"Sungguh, aku sudah lama tidak punya pacar. Aku memang pernah berhubungan dengan beberapa wanita tapi mereka bukan kekasihku."


"Memangnya pacar kamu yang genit itu kemana?" tanya Citra penasaran. Pasalnya waktu di Jakarta dia pernah melihat Lena sedang bersama dengan laki-laki lain.


"Maksud kamu Lena? Apa kamu mengenalnya?" tanya William.


"Tidak, aku hanya pernah lihatĀ  dia menempel di badan kamu seperti lintah!"


"Apa kau cemburu?" tanya William dan entah mengapa dia merasa senang.


"Tidak! Lepaskan aku!" jawab Citra sambil melepaskan dirinya dari pelukan William.


"Dalam mimpimu Tuan Alexanders! Dan lagi, apa maksudmu berhubungan dengan beberapa Wanita?" tanyanya.


William hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Citra. Semenjak dia putus dengan Lena dan kehilangan Citra dia berubah menjadi baji*ngan. Apa dia harus mengatakan hal ini pada Citra?


"Kau menjijikkan William," ucap Citra. Dia hendak melangkah pergi tapi William segera menahan tangannya.


"Maaf, waktu itu aku benar-benar putus asa karena kehilangan dirimu."


"Jika begitu kau bisa terus menganggap aku sudah mati dan pergilah jangan ganggu aku!" pinta Citra sambil menepis tangan William.


"Tidak! Aku sudah berjanji jika aku diberikan kesempatan kedua maka aku akan memperbaikinya jadi berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Citra menghembuskan napasnya dan menatap William dengan serius, dia merasa hal ini tidak akan pernah selesai apalagi dia tahu, William bukan orang yang mudah diajak berdebat.

__ADS_1


"Katakan dengan jelas, apa maumu, William?"


"Aku hanya ingin kau kembali padaku," jawab William tanpa ragu.


"Sudahlah William, aku lelah dengan semua ini. Aku ingin kita bercerai!" pinta Citra dengan tegas.


"Apa kita tidak bisa memperbaiki semua nya?" tanya William memelas


"Tidak, aku jijik padamu yang suka main wanita!"


"Tidak seperti itu, Sayang. Jangan salah paham. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pinta William memohon.


"Dulu waktu kita di Italia aku juga pernah memintamu mendengarkan penjelasanku, tapi kau dengan kejam memperkosa aku tanpa mau mendengarkan perkataanku. Sekarang, apa aku pantas memberikan kesempatan untukmu?" tanya Citra sambil tersenyum sinis.


"Dengar, Sayang," William menarik tangan Citra dan memeluknya kembali.


"Dulu aku dibakar api cemburu. Aku kira kamu selingkuh dengan Doni dan aku belum menyadari perasaan aku. Waktu kamu melompat dari mobil aku benar-benar takut dan aku sudah kembali mencarimu tapi kamu tidak ada di sana. Kau tahu? Satu minggu kemudian supir pribadiku mengatakan kau telah meninggal dan aku melihatnya sendiri di televisi. Aku kira mayat wanita itu adalah kamu yang tergelincir ke sungai. Aku juga sudah ke rumah sakit dan bodohnya aku tidak memeriksanya dengan baik. Saat itu ayah, ibu dan kakekku, mereka kecewa denganku dan aku sangat menyesal dengan semua yang telah aku lakukan padamu. Aku selalu dihantui rasa bersalah dan aku selalu berharap ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya.


"Apa kau tahu?" William melepaskan pelukannya dan menatap wajah Citra sambil tersenyum. Tangannya juga sedang mengusap wajah Citra dengan lembut.


"Saat itu rasanya aku tidak ingin hidup lagi. Aku benar-benar menyesal karena telah memperlakukanmu dengan begitu jahat. Saat itu aku begitu benci pada diriku sendiri jadi berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pintanya lagi tapi Citra diam saja.


"Please, berikan aku waktu untuk memperbaikinya. Aku mencintaimu Sayang dan beri aku waktu untuk menunjukkan cintaku padamu."


"Bagaimana dengan pacarmu dan wanita yang sudah tidur denganmu?"


"Baiklah, kita perjelas semuanya sekarang," ucap William.


"Aku sudah lama putus dengan Lena dan aku tidak ada hubungan apapun dengan wanita yang aku kencani."


"Ck, kau pria menjijikan!" Citra melepaskan diri dan melangkah pergi meninggalkan William.


"Dua minggu," ucap William menghentikan langkah Citra.

__ADS_1


"Berikan aku waktu dua minggu untuk menunjukkan rasa cinta aku. Jika dalam dua minggu kamu tidak menyukai aku sama sekali maka aku akan menceraikan kamu dan kamu bisa bersama David atau pria mana pun yang kamu sukai," ucap William lagi.


Citra memutar langkahnya, apa William serius?


__ADS_2