APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 09


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam rumah aku langsung ditodong banyak pertanyaan oleh Kak Niko. Sepertinya dari tadi dia sudah emosi. Dia terus ngomel-ngomel. 


"Gue telpon dari tadi kenapa nggak bisa?" Kesalnya dengan mengekori aku kedalam kamar. 


"Ponsel gue mati kak." Jawabku dengan meletakan tas. 


"Kebiasaan males lo tuh! Udah gue beliin power bank juga pasti nggak dibawa." Ujar Kak Niko sambil jitak kepalaku. 


Aku nyengir, "lupa kak!" 


"Terus cowok tadi siapa? Beneran driver taxi online?" Curiga Kak Niko. 


Aku menghendikkan bahu, "Nggak tau."


"Lah! Terus lo nemu tuh cowok songong dimana?" Cecar Kak Niko yang menatapku tajam. 


"Tadi awalnya ketemu di gedung YMS, terus pas nungguin kakak di Cafe ketemu lagi. Pas balik ponselku mati, setahuku dia driver yaudah gue minta anterin balik." Ceritaku. 


"Terus lo kenapa bilang takut? Dia macem-macem ke elo?" Selidik Kak Niko. 


"Enggak, tapi tadi kita berdua nyasar, ya aku takut aja dia mau berbuat macem-macem, apalagi tadi dia bercanda bilang mau nyulik gue, kan jadi parno." Jawabku dengan wajah lelah juga sedih. 


"Tapi dia nggak kurang ajar kan?" Kak Niko kelihatan masih khawatir. 


"Enggak Kak, cuma nyebelin aja." Imbuhku. 


"Yaudah. Lain kali jangan sembarangan minta anter orang, apalagi kita nggak kenal. Dan jangan lupa cek batre ponsel kamu! Bikin khawatir aja." Kesal Kak Niko. 


"Bunda sama Ayah nggak nyariin?" Tanyaku karena daritadi belum ketemu sama Bunda juga Ayah. 


"Nggak, tadi gue bilang lo lagi nemenin Syahnaz." Cerita Kak Niko, ternyata pinter juga dia berbohong. 


"Pinter!" Kataku dengan memberikan dia jempol untuknya. 


"Ck! Yauda sono mandi terus rehat. Jangan lupa kasih kabar Dio, daritadi dia ngrecokin gue mulu." Ujar Kak Niko dengan berjalan keluar kamar. 

__ADS_1


"Iya makasih!" Sahutku. 


Aku langsung pergi ke kamar mandi, hanya mandi bebek karena udah malam dan capek. Setelahnya aku langsung sholat isya dan rebahan. 


Hari ini memang akubngerasa capek. Dari pagi aku berangkat ngampus, dan baru pulang semalam ini. Sambil rebahan aku mulai mengingat kejadian yang aku alami seharian ini. 


Kebiasaan yang dari dulu selalu aku lakuin, instropeksi semua kegiatan yang terjadi selama satu hari ini. Dan itu semua membuatku tenang. 


Tapi satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiranku adalah cowok asing tadi. Selama bertahun-tahun di YMS aku belum pernah bertemu dengannya. Driver yang sering mangkal dideket situ kebanyakan juga aku tau, karena emang aku sering pake jasanya untuk nganter pulang. 


Dan kalau boleh jujur cowok itu tidak terlihat sebagai driver, gayanya, pakaian yang dia pakai, bahkan mobilnya yang mewah. Sangat mustahil kalau dia jadi driver. Tapi dia sendiri yang bilang kalau seorang driver. 


Dan entah kenapa Wajahnya yang ganteng juga seperti tidak mau menghilang dari pikiranku. Aku seperti tersedot dengan kharisma yang dia keluarkan. 


Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimana bisa aku memikirkan cowok lain ketika aku sudah punya pacar. Bisa di rujak Kak Dio kalau sampai dia tahu. 


Dengan badan yang sudah capai, juga pikiran yang semakin melayang tidak jelas, akhirnya aku tertidur, berharap bisa memimpikan driver tadi, eh salah, maksudku bisa memimpikan Kak Dio. 


***


Dirumah memang ada beberapa Art yang membantu Mama. Tapi untuk urusan dapur Mama memang lebih suka masak sendiri. Dan aku akuin masakan Mama memang juara. 


Dari dulu Mama selalu mengajariku untuk memasak. Beliau selalu bilang mau secantik, sepintar, sekaya dan sesukse apapun seorang perempuan, dia tetep harus jago masak. 


Terlebih kalau nanti sudah menikah dan menjadi istri serta Ibu. Kesehatan itu yang utama, dan makanan yang dimasak dengan cinta itu adalah salah satu kunci kesehatan keluarga tersebut. 


Meskipun tidak jago, tapi aku masih terhitung bisa memasak. Setidaknya aku masih bisa bedain gula dan garam. Dan Kak Niko adalah orang pertama yang protes kalau aku mengambil alih masakan di dapur.


Dia bilang, "Gue tau elo nggak jago masak, tapi setidaknya jangan racunin keluarga kita." Ucapnya. 


Entah itu hanya candaan atau memang serius. Tapi yang jelas aku masa bodo, kalau lagi pengen masak aku akan tetep masak. Kalau semua orang nggak mau makan, aku akan makan sendiri masakanku, tentu saja dengan ngedumel. 


Pagi ini Bunda memasak nasi goreng sebagai sarapan. Dan kita hanya makan bertiga karena Ayah sudah pagi tadi berangkat ke hotel. Katanya ada urusan mendadak. 


Saat berangkat ngampus aku juga diberi amanah oleh Bunda untuk mampir lebih dulu ke hotel. Mengantarkan makan siang untuk Ayah. 

__ADS_1


Ayahku sendiri sebenarnya cukup rewel untuk makanan. Dia tidak suka masakan orang lain, bagaimanapun kondisinya dia selalu berusaha makan masakan Bunda. Kalau terpaksa dan ada acara baru dia makan diluar. 


Aku berangkat nebeng Kak Niko, dia menurunkan aku di hotel, dan dia lanjut jalan ke kampusnya. Seperti biasa sebelum masuk ke dalam hotel, aku selalu berdiri di depan hotel agak lama. 


Bertahun-tahun setelah hotel ini dhabis-habisani rombak habis-habisan, aku sama sekali tidak pernah bosan menatapnya. Aku selalu suka dengan desain hotel ini. Terlebih di hotel ini aku banyak menghabiskan kenangan dengan almarhum kakek. 


Dengan langkah tegap aku langsung berjalan ke ruangan Ayah. Tapi saat melewati resto dan Cafe yang ada di lantai pertama, sekelebat aku seperti melihat driver itu. Dia memakai baju batik dan terlihat sangat tampan. 


Aku menggelengkan kepalaku, bagaimana bisa aku kepikiran terus sama cowok itu. Padahal sikapnya selalu membuatku kesal. Aku langsung meneruskan jalan keruangan Ayah. 


"Yah… " Panggilku saat masuk dalam ruangannya. 


Ternyata Ayah masih telpon, dia memberi isyarat padaku untuk diam dan menunggu. Aku langsung duduk di sofa sambil menata makanan yang aku bawa ke atas meja. Rencananya aku akan menemani Ayah untuk makan siang lebih dulu. Sebelum nanti dijemput Kak Dio. 


"Makasih ya udah anterin makanan buat Ayah." Ucap Ayah di sela-sela makan siang kami. 


"Iya Yah, sekalian nemenin Ayah."


"Kamu ke kampus diantar Pak Slamet aja." Kata Ayah. 


"Enggak, aku dijemput Kak Dio." Jawabku. 


Ayah mengangguk, "Ray, meskipun Ayah dan Bunda sudah mengenal Dio, tetep saja kamu harus hati-hati, jaman sekarang itu banyak cowok yang cuma manfaatin cewek, nyakitin cewek. Ayah nggak mau anak Ayah ini dikecewain." Ujar Ayah panjang lebar. 


"Iya, Ayah tenang aja pokoknya. Aku bisa jaga diri. Kalau Kak Dio macan-macan bisa ku tendang ke luar angkasa dia." Kelakar ku. 


Ayah tertawa, "Nggak rugi dong ya dulu kamu ikut karate." Sindir Ayah. 


"Ayah ngejek terus nih." Kesal ku dengan memanyunkan bibir. 


"Hahaha…" Ayah tertawa. 


Sejak kecil aku dan Kak Niko diikutkan karate sama Ayah. Tapi aku selalu asal-asalan saat latihan. Dan ujungnya aku selalu dihukum sama pelatih ku. Tiap pulang kerumah selalu nangis, dan akhirnya aku mogok nggak mau ikut karate lagi. 


***

__ADS_1


__ADS_2