APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 22


__ADS_3

Hari ini Aku benar-benar bahagia, seharian bisa kencan bareng Kak Dio. Dia memperlakukan Aku dengan sangat manis. Yang bikin Aku puas, dia mengabaikan Selly, temannya yang selalu ingin menjauhkan Kak Dio dariku. 


Aku sangat senang, dan puncaknya saat dia mengantarku pulang, tanpa kusangka Kak Dio mencium pipiku. Memang hanya ciuman pipi tapi itu sudah membuatku melayang. Aku tidak akan melupakan hari ini, kencan sederhana yang membuatku menjadi cewek teristimewa. 


Sampai dirumah Aku dikejutkan dengan tamu yang datang kerumah. Aku penasaran siapa yang bertamu di jam yang seluruh ini. Tapi saat mendengar suaranya Aku bisa menebak siapa orang itu. Dengan langkah lebar dan senyum yang mengembang Aku masuk kedalam rumah. 


"Akhirnya yang kita tunggu datang juga," Seru Ayah saat melihatku. 


Akun tersenyum dan langsung masuk kedalam rumah. Aku mencium tangan Bunda dan Ayah. Aku bertos ria dengan Kak Niko dan Bara. Ya Bara, sahabat ku sejak SMA yang kuliah di luar kota. 


"Kapan datang? Kok nggak ada kabar sih?" Semprot ku yang memilih duduk disamping Bara. 


"Tadi habis maghrib, gue langsung kesini, katanya elo lagi kencan gak enak dong kalau gue ganggu." Sindir Bara. 


Aku memukul badannya, "Apa sih?" Sahutku malu-malu. 


Bara ini sebenarnya cinta pertama alias cinta monyetku. Sejak kelas 1 SMA kita sudah dekat. Dia cowok pertama yang jadi temanku. Karena pertemanan itu kita menjadi dekat dan ada perasaan lain. Tapi makin kesini kita ngerasa nyaman menjadi sahabat. Kalau dipaksakan menjadi pacar jatuhnya akan canggung. Dan benar, kita bisa awet sahabatan sampai sekarang. 


"Yaudah kalian lanjutkan ngobrol, Bunda sama Ayah masuk dulu. Bara, jangan sungkan-sungkan" pamit Ayah. 


"Iya, siap Om. Terimakasih." Jawab Bara dengan tersenyum lebar. 


Selepas Ayah dan Bunda yang masuk kamar, kita bertiga mulai ngobrol dan bercanda. Bara ini gak kalah ganteng dari Kak Dio, badannya atletis dengan potongan cepak. Kalau orang yang baru lihat dikira dia adalah seorang polisi atau tentara. 


Sebenarnya Bara memang bercita-cita jadi tentara seperti Papanya. Tapi Mama Bara melarang karena khawatir dia akan mengalami nasib yang sama dengan sang Papa. Papa Bara gugur dalam tugas, jadi Mama Bara ada trauma tersendiri.


"Kapan traktiran? Pacar baru harus ada syukurannya dong, mumpung gue disini." Sindir Bara. 


Aku mencibir, " Lo sampai kapan disini?" 


"Empat harian," Jawab Bara. 


"Sip, entar kita jalan bareng." Kataku dengan tersenyum lebar. 


"Betewe elo gak apa-apa?" Tanya Bara yang kelihatan khawatir. 


"Gak apa-apa kok, aman." Aku menjawab dengan semangat. 


"Seriusan deh Ray, mulai sekarang lo jangan percaya gitu aja ke orang. Kita gak tau busuknya hati mereka." Pesan Bara. 

__ADS_1


"Berarti gue juga gak boleh percaya ke elo," Sindirku sambil tersenyum renyah. 


"Ck, rugi kalau elo gak percaya ke gue, gue kan bawa banyak manfaat buat elo," Bara mendorong badanku. 


"Apanya? Yang ada elo nyusahin gue." Semprot ku. 


"Hadeeh, kalian ini dulu aja saling suka, sekarang pada gontok-gontokan," Seloroh Kak Niko. 


Aku dan Bara saling lirik, tapi sedetik kemudian kita menatap tajam ke Kak Niko. Aku dan Bara sama-sama gak suka kalau diingatkan tentang masa lalu. Mungkin karena kita sama-sama malu kalau aib dibongkar. 


"Kita apain nih teman gak ada akhlak?" Canda Bara. 


"Kita iket di pohon depan rumah deh, biar kerubutin sama emak-emak komplek, kan banyak yang ngefans sama dia," Komporku sambil tersenyum miring. 


"Haissh… sialaan kalian," Umpat Kak Niko sambil bergidik ngeri. Gimana nggak ngeri emak-emak itu suka nggak tau malu, masa Kak Niko yang udah segede ini suka dicubitin dan dicium-cium. 


***


Keesokan harinya, Aku, Syahnaz, Kak Niko dan Bara jalan bareng. Mereka berdua jemput kita di Kampus. Momen seperti ini yang Aku rindukan. Bisa kumpul dengan formasi lengkap. 


Dulu saat masih SMA kita suka nongkrong bareng, gak harus di cafe, kadang kita lebih suka ngopi lesehan di pinggir jalan. Jajan jagung bakar, minum es teh atau cappucino. Ngobrol, bercanda, kadang kalau Bara lagi bawa gitar kita nyanyi-nyanyi bareng sampai dikira pengamen. Seseru itu kita dulu. 


Hari ini Aku juga nggak bisa ketemuan sama Kak Dio, tadi saat di kampus dia nemuin Aku. Dia bilang hari ini harus nyari bahan tugas. Aku sebenarnya kesal karena ini pasti ulah Selly. Tapi percuma juga, tuh cewek ulat bulu pasti punya banyak alasan buat nahan Kak Dio supaya nggak bisa jalan sama Aku. 


"Udah kali, cemberut aja nih anak. Gue jauh-jauh dari di jogja cuma dikasih muka kecut, nyesel dah." Sindir Bara yang duduk di bangku depan sama Kak Niko. 


Aku menendang bangku yang diduduki Bara, "Berantem Yuk Bar!" sahutku. 


Syahnaz ketawa, "Bener tau Ray kata Bara, dah lah lupain dulu Kak Dio, besok kita kasih pelajaran tuh kakak tingkat yang kecentilan." ujar Syahnaz sambil tersenyum jahil. 


"Bener ya lo bantuin." Todongku ke Syahnaz. 


"Santuy Ray, mumpung ada Bara juga. Kita bikin huru hara di kampus." Imbuh Syahnaz. 


"Kesel gue sama tuh ulat bulu, baru juga kemaren Kak Dio bilang bakal prioritaskan gue!" Sungut ku. 


"Berantem sono,jambak-jambakan!" Sahut Kak Niko. 


"Putus aja putus!" Imbuh Bara. 

__ADS_1


Kak Niko dan Bara tertawa ngakak, bahkan keduanya saling ber high five membuatku kesal. Rasanya pengen Aku botakin aja dua cowok ini. 


"Awas ya kalian!" Geram ku sambil jewer telinga keduanya. 


"Adoow! Pedes amat jeweran lo Ray!" Keluh Bara. 


"Tangan kuli nih, preman pasar!" Sindir Kak Niko sambil ngusap telinganya. 


"Rasain!" Kataku dengan tersenyum puas. 


"Hahaha… Gue kangen tau momen kayak gini, kurang Dian aja nih," Seru Syahnaz tiba-tiba. 


"Kapan sih dia balik? Sejak semester pertama nggak pernah pulang kampung." Kataku dengan mengerucutkan bibir. 


Sejak Dian mutusin kuliah di Bandung dia memang belum pulang ke Surabaya sama sekali. Dia bilang pengen cepet-cepet nyelesain kuliahnya. Aku jadi penasaran sesibuk apa sih tuh anak. 


"Kalau dia nggak balik, ya kalian dong yang susulin kesana," Celetuk Kak Niko. 


"Eh bener, kita ke Bandung yuk meet up sama Dian," Seru Syahnaz heboh. 


"Boleh, gue setuju, kapan? Bukan depan gimana? Seingat ku ada libur panjang." Sahutku sambil membuka kalender di ponsel. 


"Lo atur deh Ray jadwalnya, kalian kudu ikut ya." Ujar Syahnaz sambil nodong dua cowok di depannya. 


"Nggak perlu lo tanyain Naz, mereka emang wajib ikut. Ya kali kita berangkat sendiri, kalau gue diculik lagi gimana?" Tanyaku dengan sedikit mengancam mereka. 


"Pemaksaan!" Kata Kak Niko. 


"Pemaksaan yang menyenangkan sih Ko, siapa tau entar ada cewek Bandung yang nyantol," Ujar Bara semangat. 


"Gampang, entar gue suruh Dian kenalin temen kampusnya." Tambahku biar mereka mau ikut. 


"Sip kalau gitu. Segera kita agendakan Ray!" Ujar Syahnaz semangat. 


***


Hay hay... makasih udah baca karyaku.. jangan lupa kasih vote dan hadiah juga dong... eits, kritik dan saran dari kalian juga Aku tunggu lo...


SELAMAT MEMBACA...

__ADS_1


__ADS_2