
Aku merapatkan bibirku saat mendengar Bian menjawab salamku. Ada getar tersendiri ketika mendengar suaranya. Begitu hangat tapi tegas, duh kenapa Aku jadi salah tingkah sendiri. Ku lirik Kak Niko yang sibuk ganti channel tv, untung dia gak liat tingkah absurdku.
"Gimana kabarnya Ra?" tanya Bian yang membuatku menahan senyum.
"Baik, kamu sendiri gimana?" Aku balik nanya.
"Baik juga, kamu amankan? Nggak ada yang gangguin?" Tanyanya terdengar khawatir.
"Aman kok," jawabku. "Belum ada titik terang masalah yang kemarin?"
"Belum, sabar ya, Anak-anak lagi berusaha, tapi Aku udah ada bayangan, cuma butuh memastikan lagi," Cerita Bian.
Aku mengangguk, "Semoga segera ketemu deh, biar Aku juga ngerasa nyaman. Fira udah ada kabar?" Tanyaku.
"Masih dalam pencarian," Jawabnya.
"Owh, ngomong-ngomong sering ya komunikasi sama Kak Niko?" tanyaku yang bingung mau ngobrol apa
"Lumayan, Aku mau ada project sama Niko, masih rencana sih," jawab Bian.
Aku melirik Kak Niko yang lagi anteng nonton televisi. Aku kesal, kenapa dia nggak bilang sama Aku kalau ada project sama Bian, kan Aku bisa ikutan nimbrung.
Elah, kenapa Aku jadi kegenitan gini sama Bian.
"Project apa? Kak Niko belum ada cerita." Aku mengadu.
"Masih rencana kok, Aku mau pake jasa dia buat bikin usaha, kerjasama gitu, tapi belum pasti juga." Terang Bian.
"Owh, iya-iya." Aku mengangguk.
"Eh Ra, masih aktif di organisasi kan?" Tanya Bian tiba-tiba.
"Sejak kejadian itu belum pernah ke YMS sih, masih ada sedikit rasa malas, hehehe," jawabku sambil nyengir.
"Gabung lagi dong, itu kan kegiatan positif, bentar lagi Surabaya punya gawe kan? Pasti pada butuh kamu," Rayunya.
"Iya, beberapa kali teman-teman pada ngajak, lagi banyak event emang. Tapi kalau ikut Aku takut bayangan Aku diculik muncul lagi," ceritaku sambil duduk di sofa kamar Kak Niko.
"Emang masih sering kebayang?" Bian terdengar khawatir.
"Sering sih enggak, saat tertentu saja." Aku mencoba berbicara jujur ke Bian.
Kadang memang bayangan ketakutan itu kembali muncul. Dadaku mendadak sesak ketika bayangan itu kembali muncul. Sejak itu Aku nggak berani pergi sendirian, harus ada yang nemenin.
"Harus dilawan ya Ra, jangan sampai kamu trauma. Udah coba konsul?" Tanya Bian.
"Belum, udah ada rencana sih, tapi sejauh ini Aku ngerasa baik-baik saja, jadi kayaknya masih belum perlu," Jelasku.
__ADS_1
"Salah, harusnya setelah kejadian itu kamu langsung konsul, biar bayangan itu sama sekali hilang. Mau Aku temenin?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Hah? Temenin apa?" Aku bingung.
"Temenin konsulah, mau?" Suara Bian terlihat lembut.
Haduh, hatiku langsung meleleh mendengar suara Bian yang seperti ini. Mendadak Aku teringat ketika dia memelukku dan saat tidur bersandar di bahunya. Pasti cewek yang jadi istrinya bakal seneng, Bian itu pelukable banget menurutku.
"Ra? Masih disitu kan?" Tanya Bian.
Suara Bian membuyarkan lamunan gilaku. Bisa-bisanya Aku bayangin saat lagi sama Bian. Padahal Aku sudah punya Kak Dio. Dosa banget rasanya.
"Eh iya,"
"Iya apa? Iya mau ditemenin?" Desak Bian.
"Hah? Nggak perlu, kamu pasti juga sibuk. Gampang nanti kalau uda siap Aku bisa minta anter yang lain," jawabku dengan senyum samar.
"Diantar sama pacar?" Tebaknya.
"Enggak, sama Bunda atau Kak Niko." jawabku.
"Owh kirain. Kamu masih pacaran?" Tanyanya.
"Masih," jawabku cepat.
Aku menahan senyum, "Emang doanya apa?"
"Rahasialah!" Terdengar suara Bian yang tersenyum.
"Ck, udah minta do'ain Mama belum?" Godaku yang paham arah omongan Bian.
"Sudah dong! Langsung di acc sama Mama," jawabnya sambil tertawa.
Aku juga ikutan ketawa, Aku baru sadar kalau ngobrol sama Bian itu selalu seru, ada aja bahasannya. Kita sampai lupa waktu.
"Ehm… udah malem woy," sindir Kak Niko tanpa melihatku.
Aku mencibir, "Udah dulu ya Bi, yang punya ponsel pelit," Kataku menyindir Kak Bian.
Bian terdengar ketawa, "Yaudah, baik-baik ya Ra, Semoga kita bisa ketemu lagi ya," Harap Bian.
"Aamiin, kalau ke Surabaya mampir aja," kataku.
"InsyaAllah, takut ketahuan pacar kamu, entar dilabrak Aku," Candanya.
"Tenang aja, dia santai kok orangnya." kataku.
__ADS_1
"Iya. Yaudah Assalamualaikum," Pamitnya.
"Waalaikumsalam," sahutku.
Aku mengembalikan ponsel ke Kak Niko, mencibirnya yang julid. Kulempar dia dengan guling. Dan Aku langsung kabur karena dia pasti ngomel-ngomel.
"Raya! Kebiasaan!" Teriak Kak Niko.
Aku ketawa ngakak dan langsung berlari ke dalam kamar. Suasana di luar sudah sepi. Bunda dan Ayah jam segini juga udah masuk kamar.
Sampai di kamar Aku langsung bersih-bersih diri, memakai cream dan langsung duduk bersandar di headboard. Aku mengecek ponselku, ternyata banyak chat grup, ada juga chat dari Kak Dio. Memberi kabar kalau dia sudah sampai rumah.
Aku saling balas pesan dengan Kak Dio, kebiasaan yang selalu kita lakukan, chat sebelum tidur. Saat mau tidur ada satu chat yang masuk ke ponselku dengan nomor baru.
081xxx : Seneng bisa denger suara kamu lagi, akhirnya malam ini bisa mimpi indah. Selamat istirahat Ra,
Bian. Ini pasti chat dari Fabian. Aku senyum-senyum sendiri saat baca chat dari Bian. Bisa-bisanya anggota Dewan satu ini malam-malam malah ngegombal. Aku nggak ada niat untuk balas chat, biar saja.
081xxx : Istirahat Ra, jangan senyum-senyum aja
Aku mengernyit, gimana bisa orang ini tahu kalau Aku sedang senyum-senyum. Aku melihat ke sekitar bebas dari jangkauan cctv. Masa iya Bian bisa melihatku dengan jarak sejauh ini. Ck, tuh orang bikin Aku merinding aja.
***
Pagi ini Kak Niko berangkat duluan. Dia mau mengantar Bara ke bandara. Dia Mau balik ke jogjakarta. Aku sebenarnya mau ikut tapi tadi Aku bangun kesiangan, jadilah Aku ditinggal.
Saat ini kita sedang sarapan bertiga. Bunda dan Ayah mau pergi karena ada meeting, dan Bunda diminta Ayah untuk menemani. Jadilah pagi ini kita sarapan dengan buru-buru.
Aku berangkat kuliah dengan menebeng keduanya. Ayah duduk di depan, sedangkan Bunda menemaniku di bangku belakang. Kita ngobrol santai.
"Bun, kalau misal Aku kembali aktif di organisasi gimana?" Tanyaku hati-hati.
"Kok tumben kamu tiba-tiba tanya," Tanya Bunda penasaran.
"Semalam Aku ngobrol sama Bian dia nyaranin Aku buat aktif lagi di organisasi," Ceritaku.
"Bian? Pak Fabian yang anggota dewan itu?" Selidik Ayah sambil menoleh ke arahku.
"Iya," Jawabku dengan senyum.
Bunda tersenyum, "Bunda juga setuju kamu aktif lagi," Ujar Bunda dengan mengusap kepalaku.
"Ayah juga setuju, kejadian kemarin jangan bikin kamu mundur. Disana kan banyak hal positif Ray," Ujar Ayah memberi semangat.
"Iya yah, Anak-anak juga banyak yang nyariin sih, Aku pikir juga kayaknya Aku kangen sibuk-sibuk di yayasan," Curhatku.
"Ngomong-ngomong kamu kok bisa ngobrol sama Bian? Ketemu?" Bunda penasaran.
__ADS_1
***