
Aku dan Bian milih pergi ke Cafe, suasana di acara semakin lama semakin rame. Membuat Bian akhirnya mengajakku untuk pergi. Lama tidak bertemu membuatku semakin terpesona dengan sosok anggota Dewan ini.
Dari awal bertemu Bian memang dia selalu baik dan lembut, Aku aja yang selalu parno. Walaupun dia juga jahil bikin Aku kadang kesel.
"Ra Aku boleh ngomong sesuatu nggak?" Tanya Bian hati-hati.
"Apa?" tanyaku penasaran.
Kenapa Aku merasa deg-degan ya, Bian mau ngomong apa. Aku kok jadi mikir macem-macem, selama ini dia selalu nyerempet ngomong cinta-cintaan, apa dia mau jujur tentang perasaanya? Bisa cepet mati karena jantungan Aku.
"Ehm, Aku nggak bawa dompet, nanti pesanannya kamu dulu ya yang bayar, besok Aku ganti," ucap Bian dengan menggaruk tengkuknya.
"Hah?" Aku langsung syok.
Aku menghela nafas panjang, kirain mau ngomong sesuatu yang serius, benar-benar nggak sesuai ekspektasi. Aku jadi malu sendiri.
"Kenapa? Ehm, kalau kamu keberatan nanti biar Sakti aja yang bayar," ucap Bian ngerasa nggak enak.
Aku tertawa, "Santai aja lagi, tadi Aku kaget aja, kirain kamu mau ngomong apa," Aku mencibir.
Bian terkekeh, "Ngomong-ngomong Aku heran sama kamu,"
"Apalagi sekarang?" Tanyaku malas.
Bian ketawa, "Dari awal ketemu, kok cantik kamu konsisten sih," ucapnya.
Aku mengernyit, "Apa sih? Kamu mau gombal, gak cocok!" sindirku.
"Hahaha… kok nggak cocok, kenapa?" "Haiish, wajah kamu itu terlalu serius, jadi kalau ngegombal jadi garing," Protes ku.
"Kirain karena Wajahku terlalu ganteng, jadi nggak pantes buat ngegombal," Serunya sombong.
"Dasar narsis!" Ketusku.
Bian tersenyum, "Ra, kamu kuliah ambil komunikasi kan?"
"Iya kenapa? Mau gombal lagi?" Sentakku.
"Hahaha… nge gas terus, santai. Aku ini mau minta saran. Kita ngobrol serius dari hati ke hati nih," ujarnya dengan gaya santai.
"Aduh Aku kok rada takut ya kalau pak anggota dewan bilang mau ngomong serius," sindirku.
__ADS_1
"Astaga, anggap aja Aku masyarakat, udah nggak ngaruh jabatan kalau berdua kayak gini," Seloroh Bian sambil benerin duduknya.
"Oke, oke… Apa?" Aku balik tanya.
"Gimana sih cara ngeyakinin ke cewek kalau kita punya perasaan ke dia? Dari segi komunikasi itu kita harus ngomong gimana?" Tanya Bian dengan wajah serius.
"Kamu mau nembak cewek?" Tebak ku.
Bian menggaruk tengkuknya, cowok itu salah tingkah. Bikin Aku jadi mikir macem-macem. Apa dia lagi suka sama cewek? Nggak mungkin dia tanya ini, kalau dia suka ke Aku.
"Mengutarakan perasaan itu nembak ya namanya?" Bian balik nanya, entah dia tanya beneran atau cuma mancing bercanda Aku nggak tau.
"Nggak lucu ya kamu, lagian kamu kalau mau nembak ya nembak aja, ngapain pake konsultasi segala," Sewot ku.
Entah kenapa Aku jadi kesal ketika tahu kalau Bian ingin mengutarakan perasaan ke seorang cewek. Rasanya ada yang mengganjal, mungkin karena selama ini Bian selalu menggodaku, jadi Aku merasa dia sedikit mengistimewakan Aku.
"Nggak semudah itu dong, Aku belum pernah sama sekali nembak cewek, nggak lucu kan pertama nembak terus ditolak," Sahutnya.
"Serius belum pernah nembak cewek? Belum pernah pacaran dong?" Tanyaku heran.
"Belum pernah pacaran," Ujar Bian dengan nyengir.
"Wah membosankan sekali masa muda anda," Sindirku.
Kedua netra Bian lurus menatapku, dan ucapannya barusan membuatku langsung terdiam. Kenapa sekarang Aku merasa buruk ya. Aku langsung membuang muka ke samping.
"Ehm… Yaudah kamu langsung minta aja ke orang tuanya, gak perlu nembak deh, Aku pernah baca artikel tentang taaruf, kamu bisa tuh pake sistem itu. Jadi urusannya nanti langsung ke keluarganya." Aku memberi ide.
"Keluarganya udah ngasih sinyal setuju, masalahnya cewek itu udah punya pasangan." Cerita Bian.
"Astaga Fabian Pradipta, kamu itu ganteng, mapan, baik, masa iya naksir cewek orang, cari yang lain deh, cewek nggak cuma dia kok, entar dia malah kepedean lagi direbutin kamu!" Ujarku mulai ngegas.
Cowok disampingku terlihat mikir, mungkin dia sedang mencerna ucapanku. Tak lama dia mengangguk dan tersenyum.
"Kamu ada teman yang bisa dikenalin ke Aku nggak?" Pancingnya menggoda.
"Nggak ada!" Jawabku tegas.
Bian mencibir, "Pelit!"
Kita berdua akhirnya ngobrol hal lain, ternyata Bian orangnya enak. Wawasannya luas, tapi dia bukan tipe orang yang kaku. Bahkan jokes yang dia lontarkan cukup menghibur dan bikin ngakak.
__ADS_1
"Dicariin malah kencan disini si bos!" Sindir Sakti yang langsung duduk di sampingku.
"Kan tadi gue udah bilang disini," Sahut Bian.
"Eh Mbak Nara, makin bening aja oey," Goda Yusman.
"Dikira kaca bening," balas ku dengan melengos.
Kita ngobrol-ngobrol sebentar, Mas Sakti dan Mas Yusman ini orangnya konyol. Kalau kata Bian, mereka itu seperti bunglon, bisa tegas, kamu, tapi juga konyol.
Bian mengantarku pulang kerumah dikawal Sakti dan Yusman. Karena konser sudah mendekati akhir acara, jalanan mulai macet, tapi untung Sakti sedikit tahu jalanan kota Surabaya. Jadi kita bisa sampai rumah lumayan cepat.
***
Keesokan paginya Bunda menginterogasi ku tentang kejadian semalam. Beliau menanyakan dengan detail, mungkin Bunda takut kalau Bian macam-macam terhadapku.
"Dio tahu kamu pulang sama Bian?" Tanya Bunda sambil nyiapin sarapan.
"Enggak, Aku nggak pernah cerita tentang Bian ke Kak Dio Bun, jadi Aku bilang kalau semalam dijemput Pak Slamet," Jawabku sambil nyengir.
"Bohong dong," Sindir Bunda.
"Nggak apa-apa Bun, daripada terjadi huru hara, tau sendiri sekarang Kak Dio cemburuan, Aku malas jelasinnya. Toh Aku sama Bian juga nggak ada hubungan apa-apa, jadi lebih aman kalau dia tidak tahu sama sekali, hehehe." Ujarku menjelaskan.
Bunda menghela nafas, "Yaudah, harusnya sih kamu jujur, tidak usah ditutupi. Tapi terserah kamu, yang penting kamu tau resikonya." Bunda mengingatkan.
"Iya Bun,"
Tak lama Ayah dan Kak Niko ikut gabung di meja makan, kita sarapan bareng. Hari ini hari libur, Bunda sama Ayah mau datang ke acara reunian. Sedangkan Aku memilih ikut Kak Niko nemuin Bian.
Daripada hanya bengong sendirian dirumah, Kak Dio masih ada acara di kampus, Syahnaz hari ini pulang kerumah orang tuanya karena neneknya datang. Kalau sudah seperti itu nggak ada yang bisa Aku gangguin selain Kak Niko.
"Ray, lo daripada sama Dio lebih cocok sama Fabian dah," Ucap Kak Niko saat diperjalanan.
"Lo ngomong apa sih Kak? Aneh deh," Aku mengelak, gak lucu kalau Kak Niko tau Aku sedang salah tingkah.
"Dio sama cewek itu udah nggak pernah hubungan?" Selidik Kak Niko yang sepertinya masih nggak suka ke Kak Dio.
"Udah nggak Kak, di kampus juga udah nggak pernah jalan bareng, tau sendiri sekarang Kak Dio lebih sering jalan sama Aku," Aku jelas membela Kak Dio.
"Lo tetep kudu waspada, feeling gue nggak enak soal cewek itu."
__ADS_1
***