
Sepulang dari kampus Kak Dio mengajak jalan. Dia mau beli kado untuk Mamanya yang ulang tahun. Sekalian Aku ingin menonton film di bioskop. Kak Dio dengan setia mengikuti segala inginku.
Dan sialnya kita bertemu dengan Selly disana, Aku sempat debat dengan dia. Tapi Aku mencoba tenang tidak terprovokasi.
Selesai jalan, Kak Dio mengantarku pulang. Sampai rumah kita melihat rumah yang ramai, seperti ada tamu. Bunda tidak bilang kalau mau ada tamu, dan Aku deg-degan, takut tamu yang datang itu adalah Bian. Karena memang biasanya yang bertamu malam-malam gini adalah Bian.
"Loh Beib itu kan…" Kak Dio menunjuk ke Kak Niko yang sedang ngobrol dengan seorang laki-laki yang menggendong anak kecil.
"Iya Kak Niko, sama siapa ya," Aku juga bertanya-tanya.
"Mungkin saudara kamu, Aku langsung balik aja ya, nggak enak," ujarnya.
Aku menatap Kak Dio, dia selalu menghindar ketika ada saudaraku di rumah. Dia bilang sungkan dan malu. Aku tidak bisa memaksa walaupun sebenarnya ada rasa kecewa. Aku juga ingin mengenalkan Kak Dio ke saudara-saudaraku.
"Iya," Aku tersenyum memaksa. "Yaudah Aku turun ya,"
"Iya makasih udah nemenin," ujarnya dan mengacak rambutku.
Aku turun dari mobil Kak Dio, ketika dia sudah pergi baru Aku masuk ke dalam. Aku tersenyum ketika tau siapa cowok yang lagi ngobrol sama Kak Niko.
"Elaang… " panggilku ke anak yang digendong.
"Aunty Aya… " sahut Elang dan merentangkan tangan minta gendong.
Aku tersenyum dan langsung menggendong bocah 2 tahun itu. Mencium pipinya yang gembul, bau minyak telon terasa segar di penciumanku.
"Baru pulang Ray?" tanya Mas Valdy.
"Raya mah baru pulang pacaran dia Mas," ledek Kak Niko.
Aku tersenyum dan langsung salim, mencium tangannya. "Udah lama Mas?" tanyaku.
"Udah dari tadi siang sih nyampek Surabaya, cuma ada kerjaan, dan baru kesini malam." jawab Mas Valdy.
Aku mengangguk, dan langsung menatap ke Elang, anak ini sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya benar-benar mirip dengan Mamanya, Mbak Zia.
Mas Valdy ini adalah sepupuku. Ayah Mas Valdy adalah kakak kandung Bunda. Mereka hanya dua bersaudara, tapi Ayah Kak Valdy yang merupakan seorang dokter sudah meninggal lama. Meskipun begitu kita memang dekat, hanya saja dia tinggal di Malang.
__ADS_1
Mas Valdy menikah dengan Mbak Zia 3 tahun lalu. Aku begitu takjub dengan cerita cinta mereka, seperti sebuah novel. Dan Aku begitu dekat dengan Mbak Zia, bahkan sejak mereka SMA dulu Aku sering diajakin jalan kalau liburan ke Malang.
"Mama dimana?" tanyaku ke Elang.
"Di dayam cama uti," jawab Elang dengan suara khas anak kecil.
"Owh ya? Kita ke dalam yuk!" ajakku.
Elang meminta turun dari gendongan ku, dan Aku menuntunnya masuk ke dalam. Kulihat Mbak Zia sedang ngobrol dengan Ayah dan Bunda. Aku tersenyum lebar dan langsung mendekat.
"Ini nih yang ditunggu, anak gadis gak pulang-pulang, pacaran ya," goda Mbak Zia.
Aku ketawa, "Iya dong, menikmati masa muda," sahutku sambil cipika cipiki dengan Mbak Zia.
Elang langsung berlari menjauh dan meminta di pangku Ayah. Ayah itu memang suka dengan anak kecil. Dari sejak lahir dia sudah memanjakan Elang seperti cucunya sendiri. Maklum di keluarga kami sudah lama tidak hadir seorang anak kecil.
Tak lama Kak Niko dan Mas Valdy ikut nimbrung di ruang tengah. Kita ngobrol dan bercanda sampai Elang tertidur. Dia kecapekan karena sejak tadi kami menggodanya.
"Nik, dokumen yang dari Bian tadi masih di laptop gue, entar ingetin ngirim ke elu," ujar Mas Valdy.
"Iya," sahut Kak Niko.
"Apa lo liat-liat?" sindir Kak Niko yang ngerasa kalau sedang Aku liatin.
"Kalian habis ketemu Bian?" tanyaku pelan.
"Iya, kita kesini juga dianterin sama dia," sahut Mas Valdy.
"Lama tadi dia disini?" tanyaku penasaran dan sedikit kecewa.
"Lumayan satu jam mungkin, sempet ngobrol sama Om juga," jawab Mas Valdy.
Aku jelas kecewa, kenapa nggak ada yang bilang kalau tadi Bian kerumah. Kan Aku bisa ketemu sama dia. Sudah beberapa minggu sejak kejadian di Bandung dan dia sama sekali nggak ngasih kabar, kan Aku kangen.
"Waktu lo nelpon Bunda tadi kan Bian udah disini," ujar Kak Niko.
"Kok Bunda nggak bilang kalau ada Bian sama Mbak Zia?" heran ku.
__ADS_1
"Lo kan tadi izin Bunda mau jalan sama Dio, ya udah dibiarin. Bunda tadi bilang ke Bian kalau kamu lagi jalan sama Dio," ujar Kak Niko santai.
Aku menelan salivaku kasar, dan Aku benar-benar merasa bersalah ke Bian. Pikiranku langsung kacau.
"Raya kenal juga sama Pak Bian?" Mbak Zia penasaran.
"Bukan kenal doang Mbak, udah sampe libatin perasaan mereka," imbuh Kak Niko yang langsung dapat hadiah timpukan bantal dariku.
"Eh serius? Raya sama Pak Bian? Wah bakal rame dong," Mbak Zia terlihat heboh.
"Itu juga kalau Bian sabar nungguin Raya," Ledek Kak Niko.
"Maksudnya?" Mbak Zia menoleh ke arahku, "Eh iya, Raya kan udah punya pacar," Mbak Zia menutup mulutnya.
"Maruk tuh mbak marahin, mainin perasaan orang," Kak Niko kompor, Aku mendelik ke arahnya.
"Yang dimainin hati calon bupati lagi, nggak kaleng-kaleng si Raya," Mas Valdy ikutan ngomong.
Aku manyun, ku peluk lengan Mbak Zia. Memberi tahu kalau Aku lagi galau. Pikiranku emang nggak tenang, mikir Bian pasti sakit hati karena tahu Aku jalan sama Kak Dio. Aku coba menghubungi jelas nggak bisa karena Akun di blokir.
"Cewek cantik mah gitu banyak yang rebutin, selow aja, kamu masih muda Ray, pilih yang terbaik. Dan yakin aja kalau jodoh nanti juga bakal disatuin, mbak sama Mas Valdy liat deh, pisah bertahun-tahun, eh nikah juga, meski prosesnya harus nangis-nangis dulu." ujar Mbak Zia menenangkan.
"Yang penting kita harus intropeksi diri Ray, memantaskan diri. Kalau kata orang pasangan itu cerminan diri kita," Mas Valdy menambahkan.
"Dengerin nih suhunya udah ngomong," sahut Kak Niko sambil menepuk bahu Mas Valdy.
"Suhu apanya, sejak SMP langsung nyangkut sama Mamanya Elang. Kurang menjelajah Aku, beda sama dia" ujar Mas Valdy sambil melirik Mbak Zia.
"Sono silahkan, nyindir-nyindir terus," sahut Mbak Zia yang memang Aku tau pernah pacaran sama beberapa cowok, bahkan sebelum nikah sama Mas Valdy dia udah pernah nikah.
"Hahaha… yakin? Entar cemburu, ngambek, Aku dikunciin di luar," goda Mas Valdy.
"Mbuh lah!" kesal Mbak Zia.
Aku dan Kak Niko saling lirik, kita sama-sama senyum. Dua orang ini emang panutanku banget. Sejak dulu emang sikap keduanya bikin Aku baper, sampe malu sendiri, Konyol pokoknya.
Aku tersenyum, "Aku galau mbak," ujarku dengan menyembunyikan kepala di punggungnya.
__ADS_1
***