
Malam ini hati Bian sedikit sesak, kesempatan yang seharusnya ada untuk bertemu dengan Raya, lewat begitu saja. Mungkin itu karena ucapannya sendiri yang tidak ingin berhubungan sama sekali.
Tapi dia tidak bisa bohong, dia kangen dengan Raya. Jujur tadi ada rasa cemburu karena tahu Raya jalan sama pacarnya. Jadi sikap egois Bian muncul dan langsung pergi begitu saja.
Saat Bian sedang rebahan dan stalking sosmednya Raya, dia menemukan caption di postingan yang Bian yakin itu ditujukan untuknya. Tak lama ada telpon yang masuk di ponsel pribadinya. Bian tersenyum melihat si penelpon.
"Hallo," sapa Bian.
Bian menahan senyum karena tidak ada jawaban dari seberang. Dia sangat tahu siapa orang yang sedang nelpon tapi Bian pura-pura tidak tahu. Beberapa menit mereka hanya saling diam.
"Ra, I miss you," ucap Bian tiba-tiba, membuat jantung orang yang ada di seberang jedag jedug tidak karuan.
"Kok gak dijawab," pancing Bian.
"Miss you too Bi," jawab Raya dengan berkaca-kaca.
Bian tersenyum, ternyata benar kalau yang menelponnya adalah Raya dengan menggunakan nomor Niko. Karena Bian memang sengaja memblokir nomer Raya.
Di tempat lain Raya rasanya pengen nangis bisa denger suara Bian lagi. Dia kangen banget sama cowok ini.
"Eh, Ra! Lo ngapain pake ponsel gue?" protes Kak Niko yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apaan sih Kak, pinjem bentar doang." Raya membela diri.
"Heleh, lo sengaja ya ngintip chat gue," Tuduh Niko.
"Dih, nggak ya." sentak Raya.
"Balikin sini," Pinta Niko.
"Bentar doang Kak, pelit banget sih," rengek Raya.
"Lo ngapain sih? Nelpon siapa?" tanya Kak Niko sambil ngerebut Ponselnya.
Niko melihat nama si penelpon, dia menghela nafas dan menatap adiknya sambil geleng-geleng.
"Bentar aja kak," Pinta Raya dengan menggoyangkan tangan Niko.
"Udah dimatiin nih sama dia," ucap Niko sambil nunjukin layar ponselnya.
Raya menatap layar ponsel Niko dan terdiam. Tiba-tiba air matanya menetes, Raya langsung terduduk di pinggir ranjang.
Niko yang melihat bagaimana kondisi adiknya jadi ikut sedih. Selama ini Niko hanya bisa melihat dari jauh, dan mengawasi adiknya tanpa harus ikut campur. Sejak awal Niko sebenarnya tidak ada feeling dengan Dio. Dia merasa ada yang janggal. Tapi Niko tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah keputusan Raya.
Dan sejak muncul Bian, entah kenapa Niko langsung cocok meskipun saat awal ketemu mereka berdua hampir baku hantam karena salah paham. Dan makin kesini dia malah semakin dekat dengan Bian.
"Ray, lo jangan sedih gini lah, gue jadi stress liatnya," sindir Niko.
"Lo jahat banget sih kak, gue cuma pengen denger suara Bian," ujar Raya sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Tadi udah ngobrol kan? Toh dia sendiri yang matiin telponnya." Niko membela diri.
"Tadi belum ngobrol tau, cuma denger bentar." Raya masih terus memprotes.
"Terus mau lo gimana sekarang?" tantang Niko.
"Telponin dia lagi dong, gue pengen ngobrol sama dia," pinta Raya.
Niko mendengus kesal, dia kembali mengotak atik ponselnya. Mencoba menelpon Bian.
"Nggak diangkat," ucapnya.
"Tuh kan, dia udah tau kalau gue yang nelpon, mangkanya gak diangkat." Kesal Raya.
"Terus kenapa elo marah ke gue," sahut Niko.
"Kak Niko nyebelin emang, gak dukung gue," kesal ku.
"Itu kan karena elo sendiri Ray, coba elo lebih tegas." ujar Niko.
"Lo nggak tau yang gue rasain Kak, gue juga bingung. Gue sayang sama Dio tapi juga Sayang sama Bian." kata Raya mengadu.
"Gak ada ceritanya kayak gitu Ray, hati itu nggak mungkin bercabang," Ucap Kak Niko.
"Tapi itu yang Aku rasain,"
"Ray, coba pikir, kalau menurutku kamu ke Dio itu cuma sekedar obsesi." Niko mengingatkan.
"Coba deh kamu sholat istikharah, pilih orang yang benar-benar kamu sayang, jangan sampai kamu malah kehilangan orang yang beneran kamu sayang, parahnya kamu malah kehilangan dua-duanya." Kak Niko memperingatkan.
Raya hanya bisa diam. Dia tidak bisa memungkiri kalau apa yang diucapkan kakak kembarnya memang benar.
Dan Raya kembali galau. Ingin rasanya dia kabur dari sini.
Dengan wajah menunduk Raya kembali ke kamarnya. Hatinya benar-benar sesak. Ada rasa bersalah karena tadi tidak bisa bertemu dengan Bian, ditambah Bian tahu kalau dia jalan dengan Dio.
Raya sadar kalau dia sayang dengan Bian, tapi dia juga nggak bisa meninggalkan Kak Dio begitu saja. Kebersamaan mereka beberapa bulan ini jelas mempunyai kesan tersendiri. Dan Raya menikmati ini.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi Raya sudah mewek karena Valdy, Zia dan Elang balik ke ke Malang. Rasanya Raya masih pengen ngumpul sama keluarga kecil itu. Terutama Elang yang terlihat sangat lucu menggemaskan.
Apalagi Raya sekarang memang sedang galau. Dia butuh orang yang bisa menghiburnya. Kemarin waktu ada Zia, Raya bisa ngobrol banyak hal.
"Aunty cengeng," sindir Elang dengan gayanya yang menggemaskan.
"Soalnya Aunty sedih ditinggal Elang pulang," ujar Raya dengan memantulkan bibirnya.
"Aunty tinggal cama Elang aja dicana," ajak Elang.
__ADS_1
"Emang boleh?" tanya Raya bercanda.
"Boyeh dong," sahut Elang dengan senyum mengembang.
"Ok, nanti Aunty bakal pindah dan tinggal sama Elang," ujar Raya dengan mencium pipi gembul Elang.
Setelah mereka pulang Aku memilih rebahan di kamar. Hari ini tidak ada jam kuliah, jadi Aku ingin santai di kamar. Menikmati hari kebebasan dan bermalasan sepuasnya.
Iseng dia membuka grup chat Kakang Mbak yu, ternyata banyak obrolan disana. Ini adalah grup yang isinya teman-teman yang ikut event di Malang kemarin. Aku memang tidak pernah membuka grup ini. Karena tiap kali buka ada rasa sakit disana.
Dina : Ada gosip heboh gengs
Sinta : Apa nih, bikin heboh aja
Dina : Masih inget dong sama Pak ketua acara kemarin
Sari : Pak calon bupati?
Dina : Yups
Fitri : Kenapa nih?
Dina : Gosip dari sumber yang dipercaya bilang beliau secepatnya akan menikah.
Jantung Raya berdegup kencang, dia sangat paham siapa yang menjadi bahan gosipan. Tentu saja itu adalah Bian. Dan mereka bilang Bian mau menikah, sama siapa?
Sari : iya iya, gue juga denger tuh. Tapi sama siapa?
Fitri : Siapa?
Kinan : Nyimak
Dina : Sama anggota grup sini dong.
Raya melotot, dia jelas kaget dan penasaran, siapa yang dimaksud. Apakah dirinya yang sedang diomongin. Mendadak pipi Raya memerah.
Sari : siapa? Penasaran.
Dina : tebak lah
Fitri : Naraya sih kayaknya
Kinan : Setuju
Dina : Salah dong, cluenya dia anak bupati Lamongan
Sinta : Bupati Lamongan? Riska? Serius?
Dina : Yups, perjodohan partai hahaha
__ADS_1
Raya seperti tersengat listrik, bagaimana bisa ada gosip Bian akan menikah. Dan itu dengan Riska, hati Raya rasanya benar-benar remuk.
***