APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 47


__ADS_3

Aku nggak nyangka liburanku ke Bandung kali ini benar-benar istimewa. Kedatangan Bian membuat hidupku langsung berubah. Dengan Bian Aku mulai menyadari sesuatu. Sebuah rasa yang selama ini Aku pendam sendiri. 


Dan saat ini Aku mulai meragukan perasaanku dengan Kak Dio. Bersama dia Aku memang senang, tapi rasanya beda, tidak seperti saat bersama Bian. 


Bersama Bian Aku benar-benar merasa menjadi diriku sendiri. Apa yang Aku rasakan murni sebuah perasaan cinta. Untuk saat ini Aku ingin egois, merasakan kebahagian sama Bian. Aku memang selingkuh, dan Aku nggak tau bagaimana kelanjutan hubungan kita nanti. 


"Aku jalan duluan ya," pamit ku ke anak-anak. 


"Nikmatin Ray nikmatin," sindir Syahnaz. 


"Nitip Raya ya Pak, pegangin tangannya entar kesandung lagi," goda Dian. 


Aku mengacungkan kepalan tanganku ke Syahnaz dan Dian, kedua sahabatku itu malah ketawa, bikin Aku makin salah tingkah. Kulirik Bian yang berjalan santai di sampingku. 


"Kenapa Ra? Aku ganteng ya?" tanya Bian tanpa melihatku. 


Aku manyun, "Apa sih, narsis amat." Aku memprotes ucapan Bian. Tapi memang Aku akui kalau dia hari ini terlihat semakin ganteng. 


Bian hanya memakai celana jeans, sweater dan topi. Postur tubuhnya yang tinggi menambah daya tarik laki-laki itu. Aku menunduk dengan tersenyum samar. 


Bian mengajak masuk ke dalam mobil, dia membukakan pintu, setelahnya dia masuk lewat pintu yang lain. 


"Kita mau kemana?" tanyaku penasaran. 


"Aku ajak ke KUA mau gak?" goda Bian dengan senyum renyah. 


Aku manyun, tapi senyum-senyum sendiri. Akhirnya Aku memilih untuk melihat pemandangan diluar jendela. Kurasakan tangan Bian terulur mengusap rambutku. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya. 


"Aku kurang tahu daerah sini, kita melipir ke tempat yang pernah Aku datengin gak papa?" tanya Bian. 


"Iya,"


"Atau kamu ada tempat yang pengen dikunjungi nggak?" tanya Bian sambil mencet layar di depan, mencari lokasi.


"Nggak ada, Aku ngikut kamu aja," ujarku. 


Sepanjang perjalanan Bian bercerita banyak hal tentang dirinya. Akupun sama, tapi lebih banyak kita bercanda. Bian itu dari luar memang kelihatan tegas dan kaku, tapi kalau lagi berdua gini dia lebih hangat, konyol, jahil, dan manja. 


Bian mengajakku ke Nimo Highland, tempat ini adalah perkebunan teh yang di atasnya dibangun sebuah jembatan berbentuk U.


"Indah gak?" tanya Rangga saat kita berjalan di atas jembatan. 


"Iya," 


"Tapi tetep nggak bisa ngalahin keindahan wajah kamu," goda Bian dengan menatapku jahil. 


"Hmmm… mulai deh!" RajukkuRa dengan memukul lengannya manja. 


Bian terkekeh, "Kenyataan Ra," ucapnya sambil menarik tanganku untuk digandeng. 


"Seger banget ya udaranya," ucapku sambil melihat ke sekeliling. 

__ADS_1


"Iya, bisa liat kebun teh, pegunungan, dan tuh liat sebelah sana, keliatan ada danau. Itu danau situ cileunca, danau buatan. Keren ya," ucap Bian sambil terus melihat kejauhan.


Aku mengikuti arah pandang Bian, ya memang begitu indah. Beberapa kali Bian mengambil fotoku. Kita juga foto berdua. Aku benar-benar menikmati kebersamaan ini. 


Bian memperlakukanku dengan sangat manis. Tangannya tidak pernah lepas menggenggam tanganku. Setelah puas berkeliling, Bian mengajakku untuk duduk bersantai di cafe yang ada di sana. 


"Ra, ini pertama kalinya Aku kencan berdua sama cewek, jadi maklumin ya kalau rada kaku dan gak romantis," ujar Bian saat kita duduk santai sambil menikmati pemandangan. 


Aku mencibir, "Pertama kali sama cewek? Emang Biasanya sama cowok ya?" sindirku bercanda. 


Bian mencubit hidungku, "Haish, Aku normal sayang," jawab Bian. 


Aku salah tingkah, "Apaan sih panggil sayang," rajukku yang aslinya seneng. 


"Kan hari ini kita pacaran," jawab Bian. 


"Bi, kata Kak Niko kamu mau nyalon jadi bupati?" tanyaku penasaran. 


"Iya," jawab Bian sambil nunduk. "Kamu ngijinin nggak?"


Aku mengernyit, "Kok minta ijin Aku?"


"Kan kamu calon pendampingku," seloroh Bian. 


Aku terkekeh, "Pinter banget ya kamu bikin Aku baper," 


Kita berdua kembali bercanda, setelah cukup puas disana Bian mengajakku pergi karena memang udah sore. Kita milih keliling Bandung. Menikmati suasana ramai orang berlibur. 


Bian mengajakku ke Caringin Tilu bukit Bintang. Bian mengajakku duduk di pojok yang sedikit jauh dari pengunjung yang lain. Kita duduk bersebelahan dengan menghadap ke hamparan lampu kota Bandung. 


Aku tersenyum, ketika digenggam Bian rasanya memang hangat. Secepat kilat dia malah mencium tanganku. Dan kemudian dia terkekeh karena melihat Aku yang kaget. 


"Ra, Aku nggak tau gimana kita selanjutnya, Aku hanya berharap suatu saat kita bisa disatukan, dan saat itu terjadi Aku ingin langsung ngajak kamu nikah," ucap Bian terdengar begitu tulus. 


"Maaf ya Bi," jujur Aku merasa bersalah, ku sandarkan kepalaku di bahunya. 


"Aku yang minta maaf karena hadir saat kamu sedang bersama orang lain," Bian memainkan jariku. 


"Aku egois ya, udah punya pacar, tapi juga sayang sama kamu. Kata Syahnaz Aku maruk," ceritaku. 


Bian terkekeh, "Untuk sekarang mungkin hari ini terakhir kali kita bisa bareng seperti ini," ucap Bian dengan menunduk. 


Aku langsung menjauhkan tubuhku dan menghadap Bian, "Maksud kamu?"


Bian balas menatapku, diciumnya kembali tanganku, "Setelah ini Aku nggak bakal nemuin kamu Ra, sampai kita benar-benar bisa bersama."


Aku menggeleng, "Aku gak ngerti Bi,"


Bian merapikan rambutku ke belakang telinga, "Aku gak bisa ganggu hubungan kalian, dan untuk kebaikan kamu lebih baik kita nggak ketemu sama sekali Ra,"


"Bi, kamu kok ngomong gitu," protesku. 

__ADS_1


"Ra, kamu tau Aku mau nyalon, dan Aku nggak mau bahayain kamu lagi Ra. Aku benar-benar bisa gila kalau kamu 


kenapa-napa." Bian terlihat frustasi. 


"Tapi pelaku yang kemarin udah ketangkep kan?" Aku masih nggak paham. 


"Pelaku kemarin memang ketangkap, tapi orang dibalik itu semua masih mengawasi hidupku Ra, Aku nggak mau mereka manfaatin hubungan kita dan nyakitin kamu." Bian semakin erat menggenggam tanganku. 


"Jadi maksud kamu, setelah ini kita nggak bakal ketemu lagi? Sampai kapan? Apa ini karena Aku masih sama Kak Dio?" Aku memojokan Bian. 


Bian menunduk, "Kalau kamu nggak sama Dio, hari ini juga Aku bakal nikahin kamu, jadi Aku bisa benar-benar jagain kamu. Tapi Aku sadar kalau itu semua nggak mungkin, Aku nggak mau egois, dan memaksakan semuanya."


Aku mulai menangis, "Setelah kamu bikin Aku sadar sama perasaanku, sekarang kamu tinggalin Aku gini aja?" 


Bian menutup matanya, "Ra, please. Jangan pernah mikir kayak gitu, Aku nggak pernah ninggalin kamu. Seperti yang Aku bilang kemarin kita pisah sementara. Anggap saja kita sekarang sedang dipingit, ini demi keselamatan kamu Ra," 


Aku langsung memeluk Bian, "Jadi apa yang kemarin kamu bilang bener, kita nggak bakal ketemu lagi?"


Bian mengusap rambutku, "Iya, kamu kembali ke hidup kamu bersama Dio, begitupun juga Aku. Aku ingin mastiin semua benar-benar aman Ra, maaf." 


"Kalau Aku kangen sama kamu gimana?" Tanyaku. 


"Berdoa aja Ra, semoga kita cepat


 disatukan," jawabnya tegas. 


"Kita masih komunikasi kan?" Aku masih ngeyel. 


Bian menggeleng, "Kita benar-benar nggak berhubungan Ra, tapi kalau kita nggak sengaja ketemu berarti itu bonus,"


"Nanti kamu kenal sama cewek lain dan lupain Aku," rengekku. 


Bian terkekeh, "Kamu kali yang kayak gitu," sindirnya. 


"Tragis banget nasib cinta kita," ujarku dengan cemberut. 


"Tapi Aku seneng, punya kesempatan jujur sama kamu." Bian mencium keningku.


"Makasih Bi," ucapku dengan menatapnya. 


"Ra, kamu jaga diri kamu baik-baik, Aku berharap kamu selalu bahagia meskipun nggak ada Aku disampingmu." Bian terlihat berkaca-kaca. 


"Kamu juga, semoga apapun akhir cerita kita nanti, itu yang terbaik," balas ku dengan tersenyum. 


Bian menghela nafas panjang, "Udah ah, Aku gak mau kita sedih gini, Aku pengen bikin kamu senyum terus." Bian menghapus air mataku. 


Aku tersenyum, "Iya,"


Dan hari ini adalah momen terindahku bersama Bian. Dia mengantarku kembali ke penginapan tengah malam. Dan itu benar-benar terakhir Aku ketemu Bian. 


Subuh dia harus pergi ke Bandara. Cowok itu hanya ninggalin sebuah boneka buatku. Aku tentu nangis, tapi Aku juga harus sadar karena ini semua sebenarnya karena Aku masih ada Kak Dio. 

__ADS_1


Bener kata Bian, untuk saat ini Aku memang masih berhubungan dengan Kak Dio. Jodoh kita tidak ada yang tahu, Kak Dio juga sayang padaku, tidak mungkin Aku meninggalkan dia. 


***


__ADS_2