
Kak Niko mengarahkan mobilnya ke Lazard hotel. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Sebenarnya Aku yang lebih banyak bercerita kalau Kak Niko dia hanya mendengarkan, sesekali dia akan menyahuti ceritaku.
Pergi berdua sama Kak Niko itu kadang bikin kesel, kita udah semangat dan heboh, eh dia lempeng aja. Bukannya kurang seru, tapi lebih ke kita kayak orang gila sendiri dan dia menatap kita dengan tatapan meremehkan dengan berkata, "Alay!" Kan kesel.
"Pagi," Sapa Bian saat menemui kami di Cafe hotel dekat kolam renang.
Aku mencibir, "Udah siang ini Pak," sahutku.
"Masa? Kalau kamu baru muncul ya pagi dong, kan kamu mentari, yang selalu menyinari hatiku," Goda Bian yang bikin Aku melongo.
"Dih, gombalan receh," Balas ku sambil melengos, tapi Aku yakin pipiku sekarang merah.
Ku lirik Kak Niko yang menyembunyikan tawanya, ku tabok saja tangannya. Dia protes dan mendelik kesal ke arahku, kubalas tatapannya dengan melotot.
"Udah pada sarapan?" Tanya Bian.
"Udah," jawab Kak Niko.
"Owh, pesan camilan sama minum aja ya kalau gitu, Ara pesenin dong, anggap hotel sendiri aja," sindirnya.
Aku hanya tersenyum tipis, "Mau minum apa? Biar Aku buatin." Aku menawarkan diri.
Kka Niko dan Bian Masing-masing menyebutkan pesanannya. Dan Aku langsung ke dapur Cafe menyiapkan. Hotel ini memang milik keluargaku, karena Papa adalah anak tunggal jadi semua diwariskan ke Papa.
Aku dan Kak Niko kadang juga bantu ngasih ide yang lebih fresh, termasuk Cafe ini. Ini murni ide ku, jadi Papa memintaku untuk mengurus operasionalnya.
"Wahana bermain?" Tanyaku.
"Iya, jadi kita mau bikin wahana permainan sekaligus disitu juga ada Lazard hotel versi villa. Untuk tanah Aku yang sediain. Untuk invest dan pengerjaanya kita bagi." Bian menjelaskan.
"Nanti kita pake Mas Valdy buat jadi arsiteknya," Imbuh Kak Niko.
"Eh bener," Seruku semangat.
Mas Valdy itu sepupuku, kebetulan dia tinggal di Malang. Dia seorang arsitek, rancangannya selalu keren. Bahkan Lazard hotel ini waktu renovasi dia semua yang bikin desainnya.
"Nah, Aku juga udah ada 2 temen yang mau gabung jadi investor." Imbuh Bian.
"Nah sip, tapi investornya bisa dipercaya kan?” selidik Kak Niko.
“InsyaAllah bisa, mereka orang dekat saya.” ucap Bian tegas.
Akhirnya kita bertiga membahas masalah proyek baru, dan sepertinya Aku tertarik untuk ikut gabung. Aku ikut menyumbangkan banyak ide baru di project ini, Kak Niko dan Bian menerima semua ideku. Kedepannya mereka menyuruhku ikut terjun langsung mengelola.
__ADS_1
“Langsung balik Malang nih?” tanya Kak Niko saat pembicaraan kita udah selesai.
“Iya, barang udah di mobil, ini aja mau langsung ke Bandara.” jawab Bian sambil liat jam tangan.
“Mau kemana?” tanyaku penasaran.
“Mau ke Sumatera, ada perjalanan dinas kesana,”jawabnya sambil melihatku.
Aku mengangguk, “Enak ya kerjanya jalan-jalan terus,” sindirku.
“Malah capek Ra, kenapa, mau ikut?” tanyanya dengan menatapku.
“Pengen jalan-jalannya, tapi kalau ikut nggak deh,” kataku sambil nyengir.
Kak Niko menjauh karena harus menerima telpon, sekarang tinggal Aku dan Bian yang jalan berdua ke arah parkiran.
“Kamu kalau lagi ke Malang, dan pengen jalan kasih tahu aku,” ucap Bian tiba-tiba.
“Kenapa?” tanyaku sambil mengernyit.
“Biar Aku bisa ikut,” jawabnya dengan tersenyum. “Makasih selama Aku disini kamu selalu nemenin.” ujar Bian dengan tatapan yang memabukkan.
“Kebetulan aja kan,” elakku karena salah tingkah.
“Ngomong apa sih,” Aku yakin pasti sekarang pipiku sedang memerah.
“Aku balik dulu ya, kamu hati-hati, jaga diri baik-baik,” pamit Bian dengan mengacak rambutku.
Aku sedikit kaget dengan tingkahnya, Cowok ganteng itu tersenyum, dan dia lanjut jalan mendekat ke Kak Niko. Mereka berdua ngobrol. Dan jantungku masih berdetak nggak jelas karena tingkah Bian barusan.
***
“Menurut lo gimana Bian?” tanya Kak Niko saat kita perjalanan pulang ke rumah.
“Da baik, tegas, bisa dipercaya. Kalau kita kerjasama bareng dia, kemungkinan kalau dia curang kayaknya sedikit.” kataku sambil menerawang ke depan.
“Kalau dari segi kepribadian?” pancingnya.
“Bian itu orang yang hangat, dia paling bisa menenangkan saat kita terpuruk, dia punya daya tarik sendiri dan bisa diandalkan dalam banyak hal.” pujiku dengan membayangkan sosok Bian.
Kak Niko senyum, “Kayaknya lo deket sama dia,” selidiknya.
“Ya deket karena masalah event itu, jadi sering ngobrol.” jawabku santai.
__ADS_1
“Kata Bunda semalam elo juga diantar sama dia.” Kak Niko menoleh sekilas ke arahku dengan wajah jahilnya.
Aku manyun, “Semalem nggak sengaja ketemu, karena suasana mulai rame dan Aku sendirian akhirnya Aku ikut dia. Telpon Bunda, dan Bunda minta tolong Bian buat antar ke rumah.” ceritaku tanpa melihatnya.
“Percaya nggak kalau gue bilang dia suka sama elo!” serunya yang membuatku langsung noleh.
“Ck, nggak!” jawabku agak grogi.
Kak Niko ketawa, “Semalem Bian nelphon gue, nanyain elo. Gue bilang aja elo lagi di acara itu. Dan tadi Sakti cerita, semalam Bian muter-muter nyariin elo, dia khawatir ke lo,” cerita Kak Niko.
“Khawatir bukan berarti suka kan kak. mungkin dia khawatir karena kejadian yang kemarin, takut ada yang nyulik Aku lagi,” kataku mengelak.
“Itu mungkin saja, tapi masa segitunya. Dia anggota dewan Ry, orang sibuk, apalagi dia juga nyalon jadi bupati Malang, urusan lo itu bisakah di handle bawahannya.” ucap Kak Niko.
“Kak Niko nggak usah ngaco deh, sekelas Fabian itu mana ada naksir Aku,” Aku mencoba terus mengelak takut GR.
“Perasaan orang siapa yang tau Ray, lagian gue lebih suka lo sama Bian daripada Dio,” serunya dengan nada santai.
“Ck, nggak usah gitu deh, kak Niko tuh sensi banget sama kak Dio,” kesalku.
“Iyalah, dia udah sekali bikin kesalahan, gampang banget mengulang kesalahan lagi.” tuduh Kak Niko.
“Nggak gitu juga dong Kak, dia udah berubah kok.” Aku masih membela Kak Dio.
“Ya ya, terserah lo, yang penting gue udah ingetin.” ujar Kak Niko akhirnya.
Aku melengos, masih kesal kalau Kak Niko memojokkan Kak Dio. Sebenarnya dia nggak salah. Siapa sih Kakak yang nggak marah kalau adiknya disakitin sama cowok. Dan jelas itu membekas banget.
Dan sekarang Aku malah jadi kepikiran sama ucapan Kak Niko tentang Bian. Masa iya dia suka sama Aku. Pertanyaan Bian semalam tentang nembak seorang cewek jadi kembali memenuhi pikiranku.
“Ngomong-ngomong Bian cerita kalau dia mau maju jadi Bupati?” tanyaku setelah kita berdua saling diam.
“Iya, dia bikin project itu salah satunya emang buat kampanye. kalau paslon lain kampanye hambur-hamburkan uang, kalau dia uangnya dibikin hal yang bermanfaat.” jelas Kak NIko.
“Tapi project kita nggak ada hubungannya sama partai kan?” selidiku khawatir.
“Nggak aman kalau itu, dari awal dia udah bilang itu dana pribadi, nggak ada hubungannya sama partai.” jawab Kak Niko.
Aku mengangguk dan mulai mengalihkan pandanganku ke jalanan, dan mataku langsung tertuju ke satu titik.
“Kak liat deh, itu kan…” seruku sambil nunjuk ke satu arah.
***
__ADS_1