APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 25


__ADS_3

Siang ini terasa semakin gerah, cuaca di kota Surabaya benar-benar terasa panas. Apalagi saat ini Aku sedang dihadapkan dengan dua orang cowok yang sama-sama emosi. 


Bara dan Kak Dio saling berdebat adu argumen. Bara yang terus menyudutkan Kak Dio, dan Kak Dio yang terus membela diri tanpa mau mengalah. Saat suasana makin tegang datanglah seseorang yang menyiram kami dengan bensin, jadilah api semakin besar. 


"Dio, udah yuk jangan ditanggepi, Mending kita balik ke dalam aja," ucap Selly dengan tersenyum manis ke pacarku, dan jangan lupakan tangannya yang bergelayut di lengan Kak Dio. 


"Ulat bulu nimbrung juga," Sinisku. 


"Lo siapanya Dio?" tanya Bara ke Selly. 


"Aku temen deketnya," jawab Selly dengan gaya centil. 


Bara tersenyum meremehkan, "Gue cuma nganter dan nemenin Raya elo udah ngamuk, apa kabar elo? Digelendotin cewek kayak gitu lempeng aja. Kurang sabar apa si Raya?" sindirnya. 


Kak Dio langsung melepas tangan Selly, "Lo apa-apaan sih Sel," sentak Dio. 


"Kenapa sih? Biasanya juga kayak gini kan? Kamu kan janji mau nemenin aku seharian ini!" Rengek Selly dengan gaya manjanya. 


Aku tersenyum sinis, "Apa yang kakak rasain ketika ngeliat Aku sama Bara tadi, itu juga sama seperti yang Aku rasain tiap kali ngeliat kalian berdua. Paham kan?" geram ku dengan berkaca-kaca. 


"Beib Aku… " Kak Dio terlihat frustasi. 


"Kita pergi Bar," ajakku ke Bara. 


"Denger ya, kalau elo kayak gini terus, Siap-siap aja Raya ninggalin elo! Jadi cowok tuh harus teges bro, jangan jadi pengecut! Lo harus bisa bedain mana berlian, dan mana kerikil!" sindir Bara sambil ngelirik Selly. 


Aku sudah duduk anteng di dalam mobil, menunggu Bara yang entah masih ngomong apa sama Kak Dio. Aku benar-benar kesal, Aku berharap Kak Dio mengerti maksudku tadi. 


"Raya… kita ngobrol, turun, Beib… " Kak Dio menggedor jendela mobil, tapi Aku sama sekali tidak melihatnya, Aku hanya bergaya mengusap air mata yang sebenarnya tidak ada, hanya akting untuk membuatnya semakin merasa bersalah. 


Bara langsung masuk kedalam mobil, dan mengarahkan mobilnya pergi dari area cafe. Kulirik Kak Dio yang masih menatap ke arah kami. Setelah cukup jauh baru Aku ketawa. 


"Malah ketawa nih anak, gue kira lo tadi nangis," Sindir Bara. 


"Ck, udah kebal gue mah liat begituan. Udah bukan sedih lagi, tapi jatuhnya kesel pengen santet tuh ulat bulu!" Geram ku. 

__ADS_1


"Hahaha… kena mental tuh si Dio," Kelakar Bara dengan ketawa ringan. 


"Menurut lo gimana cowok gue?" tanyaku penasaran. 


Bara menghela nafas panjang, "Menurut gue, dia sebenarnya baik. Cuma kurang teges aja, suka gak tegaan ke cewek. Dia kelihatan sayang sih ke elo, malah sebenarnya dia risih ke cewek tadi tapi kayak gak bisa ngapa-ngapain." Bara mulai menggunakan ilmu sok taunya. 


Aku mencibir, "Moga aja kejadian tadi bikin dia mikir," Kataku dengan bersandar. 


"Harusnya sih tadi udah jadi pelajaran buat dia." Imbuh Bara, "ini fakultasnya sebelah mana?"


"Lurus aja mentok belok kiri, Syahnaz udah nunggu di depan." Aku masih sibuk balas chat Syahnaz. 


Aku menahan senyum ketika hampir semua mahasiswa melihat ke arah mobil Bara. Calon CEO satu ini pasti akan menggemparkan dunia perkampusanku. Bara ini setipe sama Kak Niko kalau tidak terpaksa dia malas menunjukan identitas aslinya. Kemana-mana selalu pake motor atau mobil sejuta umat. 


Dari jauh terlihat Raya yang ketawa-tawa, dia pasti udah nyiapin bahan buat mengolok-olok Bara. Mereka berdua ini paling tajir, tapi selalu saja nyamar dan pekerjaannya selalu tengkar. 


Bara memarkirkan mobilnya di depan Raya, cowok itu membuka pintu sambil memakai kacamata. Dia berjalan mendekati Syahnaz dan seperti biasa dia akan mengacak rambut syahnaz dan membukakan pintu untuknya. 


"Wah gilak sih Bara, besok gue bakal viral nih digosipin." Gerutu Syahnaz saat masuk mobil, Aku udah ngakak di bangku bagian belakang. 


"Mobil lo masih jauh aja udah banyak yang bisik-bisik, lo turun tadi pada heboh mereka. Eh terus gimana Kak Dio?" tanya Syahnaz heboh. 


Sebenarnya semua ini ide Syahnaz, dia yang memaksa Bara jemput dan memakai mobil ini. Sampai kata-katanya pun Syahnaz udah rencanain kemarin. Aku dan Bara cuma aktris yang nurut kata sutradara. 


"Persis kayak dugaan elo, dan si ulat bulu ikut nimbrung, bikin gue makin panas," ceritaku. 


"Terus dia lebih milih jalan sama ulat bulu ketimbang ngejar elo?" Pancing Syahnaz. 


"Dia sih kelihatan ngerasa bersalah, nyuruh gue turun, nih daritadi chat sama telphonnya gue anggurin," kataku sambil nunjukin ponsel. 


Syahnaz rebut ponselku dan memasukkannya ke dalam tas, "Ponsel lo gue sita, biar aja Kak Dio kelabakan, sekali-kali kudu di kasih syok terapi dia," ucap Syahnaz. 


"Manut dah!" sahutku. 


"Terus sekarang kita kemana?" tanya Bara yang sepertinya mulai bete karena tidak ada tujuan. 

__ADS_1


"Kita jajan depan SMA yuk! terus nongkrong di warung kopinya Bang kumis gimana?" usul ku karena pengen makan pedes-pedes. 


"Setuju!" Seru Syahnaz. 


"Gue jadi makin kangen sama Dini," ucapku sendu. 


"Dua minggu lagi kita samperin tuh anak, tenang aja," ucap Bara menenangkan. 


"Jangan ada yang kasih tau dia ya, biar aja jadi kejutan," usul Syahnaz. 


"Iya, Eh Nas, ingetin sebelum ke Bandung kita ke rumah Dini dulu, sapa tau Ibu mau nitip sesuatu ke Dini," kataku mengingatkan. 


"Siap."


Akhirnya kita bertiga milih jajan di depan sekolah. Karena emang belum waktunya istirahat atau jam pulang jadi masih sepi. Kita bebas mau beli jajanan tanpa antri. Setelah puas borong, kita langsung pergi ke warung kopinya Bang Kumis, gak jauh dari sekolah. 


"Mimpi apa saya kedatangan pembeli yang cantik kayak bidadari," Puji Bang Kumis. 


"Termasuk saya gak nih Bang?" Goda Bara sambil nyengir. 


"Kalau Mas Bara yo ganteng tah," sahut Bang Kumis. 


"Hahaha… Gimana kabarnya Bang?" tanya Bara sambil bersalaman. 


"Baik Mas, tambah gemuk ini, kamu ini makin gagah, kendaraan juga keren, hebat!" Puji Bang Kumis. 


Kita ngobrol basa basi sebentar dengan Bang Kumis, sejak SMA kita emang sering nongkrong disini. Bahkan anak-anak suka bolos dan ngumpet di halaman belakang rumah Bang Kumis. Aku dan anak-anak jadi kayak nostalgia jaman SMA dulu. 


Bara hari ini benar-benar jadi artis dadakan. Setelah tadi bikin huru hara di Cafe, jadi bahan gosipan anak-anak kampus. Sekarang dia jadi bulan-bulanan adek kelas di SMA. Aku dan Syahnaz jelas bahagia melihat Bara yang kesal karena ada beberapa siswa yang motret dia diam-diam. Bara itu tipe cowok yang anti foto, dia paling suka dibalik layar, yang bawa kamera. 


Drrr… drttt… 


"Bunda nelphon," ujar Bara dengan melihatku. 


***

__ADS_1


__ADS_2