
Syahnaz terus menggodaku, bahkan dia sengaja menyebarkan statusku dengan Kak Dio yang sudah resmi pacaran. Aku sampai geleng-geleng kepala karena menurutku tingkah Syahnaz terlalu lebay.
"Ngapain sih Naz? Kurang kerjaan lo?" Sindir ku karena dia terus godain aku.
"Emang gue sengaja sih, biar kabar tentang elo sama Kak Dio viral. Lo tau kan banyak kaum hawa yang naksir Kak Dio. Kalau mereka tau pawangnya kak Dio itu lo, bakalan mingkem semua mereka." Ujar Syahnaz semangat.
"Emang cowok gue buaya kudu ada pawangnya?" Kesalku sambil mlengos.
"Hahaha… Emang buaya kan." Ejek Syahnaz.
"Enak aja! Mantan buaya, kudu di garis bawahi, MANTAN!" kataku penuh penekanan.
"Iya deh iya. Tapi beneran lo Ray, elo harus bener-bener ngejaga Kak Dio, teledor dikit diembat orang lo." Syahnaz nakut-nakutin.
"Nggak ya, dia udah berubah Naz. Dia bilang mau serius sama gue." Kataku semangat dengan senyum mengembang.
"Aamiin, pokoknya gue doain yang terbaik buat kalian, terutama elo." Kata Syahnaz sambil meluk aku.
Untung saat ini kita sedang nongkrong di taman, kebetulan memang hari ini cuma ada satu kelas, jadi bisa santai. Ngobrol sama Syahnaz itu memang nggak ada bosennya. Ada saja bahan yang diolah.
Aku juga suka nginep di apartemen Syahnaz kalau lagi bosen. Kadang Kak Niko juga ikutan nimbrung. Maklum kita bertiga sama-sama jomblo jadi kadang suka gabut dan memilih jalan bareng. Sayank Dian dan Bara lagi di luar kota, kalau mereka masih disini pasti bakal lebih seru.
“Sayank,” panggil Kak Dio yang tiba-tiba muncul di taman.
“Hay…” jawabku dengan tersenyum manis.
“Ehm… udah pake sayank-sayangan to.” sindir Syahnaz.
Aku mendelik kesal ke Syahnaz bisa-bisanya tuh anak masih ngegodain. Di depan Kak Dio lagi. Pasti pipiku sekarang merah karena malu.
“Jangan digodain terus dong Naz, liat tuh pipinya udah kayak kepiting rebus.” imbuh kak dio sambil ngusap pipiku, bikin aku makin baper.
“Adeh-adeh, bisa mati gaya gue kalau lama-lama disini. Dahlah gue mau cabut duluan.” Ujar Syahnaz sambil merapikan kuncirnya.
“Mau kemana lo?” protesku.
__ADS_1
Jujur aku ngerasa nggak enak karena biasanya kemana-mana kita selalu berdua. Meskipun Syahnaz asa kerjaan part time tapi diluar itu kita selalu bareng. Tapi sekarang dia harus berbagi waktu dengan Kak Dio.
“Mau ke apartemen, capek gue mau rehat bentar terus entar sore ke Cafe.” jelas Syahnaz.
“Mau bareng kta aja nggak Naz? makan dulu mungkin.” ajak Kak Dio, aku paham mungkin dia tahu apa yang aku rasain.
“Enggak, gampang gue. duluan ya. Titip Raya ya Kak.” pamit Syahnaz sambil berjalan pergi.
“Iya ati-ati.” jawab Kak Dio.
Aku menatap Kak Dio, dia juga balik menatapku. Kita berdua sama-sama tertawa. emang gini ya kalau baru jadian, rasanya salting banget. Mau ngapa-ngapain kayak grogi nggak jelas.
“Kamu ke Yayasan jam berapa?” tanyanya sambil liat jam.
“Meeting jam 3 sih.” jawabku.
“Masih ada banyak waktu, makan dulu yuk!” Ajaknya sambil tersenyum.
“Boleh, aku juga lapar.” kataku jujur.
Kita berdua jalan beriringan ke parkiran sambil terus ngobrol dan bercanda. tangan Kak Dio nggak pernah lepas. Kadang aku malu sendiri dengan sikapnya. Karena hampir setiap pasang mata melihat ke arah kami.
Kalau boleh dibilang kita berdua memang cukup banyak dikenal di kampus ini. Kita sama-sama aktif di kegiatan kampus. Apalagi tampang kita berdua yang bening, jelas banyak yang terjerumus dalam pesona kami.
Kata Syahnaz tadi, hari ini adalah hari patah hati sekampus karena Aku dan Kak Dio jadian. Aku geli sendiri kalau ingat itu. AKu sangat tahu kalau banyak yang menyukai Kak Dio, begitupun sebaliknya.
Apalagi latar belakang Kak Dio yang anak seorang anggota DPR, pasti itu menambah daya tarik tersendiri. Sebelum jadian aku pernah beberapa kali bertemu dengan orang tua Kak Dio, saat tahu kalau aku sekampus dengan Kak Dio mereka begitu antusias mau menjodohkan kami, boleh dong kalau aku GR.
Aku dan Kak Dio makan siang di sebuah Cafe tak jauh dari kampus. Ini adalah salah satu Cafe favoritku, karena tempatnya yang begitu nyaman juga makanannya yang enak. Bahkan sejak SMA aku sudah sering nongkrong di sana.
Selesai makan siang Kak Dio nganter aku ke Yayasan Mahkota Surabaya, atau kita biasa nyebut YMS. YMS ini adalah wadah bagi para pelaku wisata, terutama para pemuda yang bergerak aktif untuk mengenalkan wisata Surabaya.
Aku sendiri yang saat ini menjabat sebagai Duta Wisata Surabaya jelas mempunyai peran penting disini. Kebanyakan hari-hariku aku habiskan disini.
Sejak SMA aku sudah terpilih menjadi Cak Ning SMA 1 Surabaya. Lulus SMA Aku iseng ikut pemilihan Cak Ning Surabaya, dan menjadi juara pertama. Dan sampai sekarang kami yang dulu ikut di pemilihan Cak Ning secara langsung gabung di Yayasan Mahkota. Bagiku mereka juga sudah seperti saudara.
__ADS_1
Aku yang dari dulu memang suka travelling jelas sangat suka gabung di Yayasan ini. Rasanya hobi travelling ku benar-benar tersalurkan, belum lagi kalau ada kunjungan ke luar kota, bisa liburan gratis.
Setelah nganter aku ke YMS, Kak Dio langsung balik ke kampus. Dia masih ada kelas sore. Ditambah nanti masih ada rapat BEM. Sok sibuk banget dia.
"Siang Mbak Lala," Sapaku ke salah satu pengurus Yayasan.
"Hay, rajin banget nih uda datang." Katanya sambil liat jam tangan.
Aku senyum, "tadi dari kampus langsung kesini, nebeng temen soalnya." Kataku beralasan. "Kayak rame Mbak, ada kunjungan?" Tanyaku karena tadi parkiran cukup penuh.
"Iya, ada beberapa anggota DPRD yang main kesini." Jelasnya sambil bolak balik berkas.
"Pantesan, Aku mau ngumpet dibelakang deh Mbak, malas kalau ketahuan Bu Rini, bisa auto ribet aku entar." Kataku mau kabur.
"Dasar! Jangan kelamaan." Pesannya.
"Nggak janji, kalau lama berarti ketiduran." Candaku sambil berlalu pergi.
Aku langsung berjalan ke mushola yang ada di pojok belakang Yayasan. Tempat ini adalah favoritku, selain sepi karena jarang yang kesini, juga tempatnya menurutku sangat nyaman dan cantik.
Disini aku merasa bebas melakukan apapun, biasanya aku baca novel, dengerin musik, bahkan video call sama anak-anak. Seperti yang aku lakuin sekarang.
Aku sedang video call bareng Syahnaz, Dian dan Bara. Kebetulan mereka sedang senggang jadilah bisa ngobrol bareng.
Topik utama ghibah sekarang jelas statusku yang sudah menjadi pacar Kak Dio. Mereka begitu puas menggodaku. Bersama mereka aku benar-benar bisa bebas, mau tertawa, nangis, aku nggak pernah baik kalau sama mereka.
"Aura pasangan baru emang beda, baunya itu lo sampe sini." Goda Dian.
"Bau apa?" Heranku.
"Bau-bau traktiran!" Seluruh Dian.
Aku jelas ngakak, "hahaha… "
"MasyaAllah!" Pekik seseorang.
__ADS_1
***