
Aku begitu syok saat siuman pertama kali, dan yang kulihat hanya pohon dan pohon. Ini dimana, badanku terikat di pohon, mulutku di lakban. Rasanya begitu menyakitkan. Apa salahku sampai ada orang jahat yang memperlakukan Aku seperti ini. Apa Aku akan diberi kesempatan untuk menjalani hidup, entahlah.
Secerca harapan mulai muncul ketika samar Aku mendengar suara orang yang histeris ketika menemukanku. Ternyata di tempat ini masih ada manusia, bukan binatang liar yang dari tadi menari di bayanganku. Tapi nyatanya Aku kalah, dan pingsan lagi.
Siuman untuk kedua kalinya Aku sedikit lega karena bangun di sebuah rumah sederhana, dengan dikelilingi banyak orang. Sepertinya Aku di buang di pelosok yang orang-orangnya pun masih berlogat Jawa kental.
"Tolong hubungi Bian, Fabian Pradipta." Pintaku dengan air mata yang sudah menetes.
"Dia siapa mbak?" Tanya laki-laki berpeci.
"Dia kenalan saya, dia bekerja di pemerintahan, semua orang pasti kenal dia." Aku bingung, dan dipikiranku hanya Bian yang mungkin bisa aku jangkau untuk dimintai tolong di daerah ini.
Beberapa Warga yang berada di ruangan itu saling pandang dan berbisik-bisik. Sepertinya nama Fabian kurang menjual disini, karena mereka terlihat bingung. Tapi kemudian ada seorang ibu muda yang sepertinya bidan desa mendekat ke arahku.
"Apa maksud Mbak Nara Pak Fabian Pradipta? Anggota DPRD itu?" Selidik orang itu dengan memegang tanganku.
Aku mengangguk dan mengusap air mataku, "Iya benar, dia anggota DPR pasti ada yang kenal kan? Tolong telponkan dia." Seruku yang sudah nggak sabar.
"Saya pernah ikut seminar dan beliau jadi pembicara, tapi maaf saya tidak punya kontaknya." Bidan itu terlihat merasa bersalah.
Aku mendesah putus asa, harapanku rasanya sirna, jelas saja mereka tidak punya kontaknya, Fabian bukan orang sembarangan, hanya orang tertentu yang bisa mempunyai kontaknya.
"Apa kita lapor ke polisi saja, biar polisi yang menjemput Mbak Nara dan mengantarnya." Usul laki-laki berpeci.
"Jangan Pak Rt, Mbak ini diikat di pohon, saya takut kalau di luar sana masih ada orang jahat yang mengincarnya," Ujar ibu yang menolongku.
__ADS_1
"Benar Pak, untuk sementara hanya kita saja yang tahu, jangan sampai pihak kelurahan tahu, nanti urusannya panjang, kasihan juga sama Mbaknya." Bidan itu memberi saran.
"Mbak, Apa mbak tau siapa yang melakukan ini?" Tanya laki-laki berpeci, Aku menggeleng.
"Mbak Nara, apa Pak Fabian orang yang bisa dipercaya?" Tanya Bu bidan, Aku langsung mengangguk.
"Baik, besok saya akan ke kota, saya ada kenalan di pemerintahan, semoga bisa membantu untuk bertemu beliau, nanti coba mbak Nara tulis surat yang bisa saya tunjukan ke beliau, biar beliau yang jemput kesini. Untuk sementara mbak disini dulu nggak papa ya? Akan beresiko kalau kita yang bawa mbak keluar," Saran Bu bidan.
Aku mengangguk lemas, untuk saat ini memang Aku hanya bisa bergantung pada mereka, badanku juga terasa masih gemetaran, sepertinya belum kuat kalau harus pergi, Aku hanya butuh istirahat.
Setelah beberapa Warga itu berunding, mereka membubarkan diri. Semua yang ada disini sepakat kalau akan tutup mulut dengan keberadaanku, demi keselamatan bersama sampai Fabian datang. Untuk saat ini hanya Bian harapanku. Semoga semua dilancarkan.
Pemilik rumah yang merupakan pasangan suami istri itu mempersilahkan Aku tidur. Mereka memperlakukan Aku dengan sangat baik. Aku bersyukur masih ada orang baik yang bersedia membantuku.
"Sudah kok Bu, cuma tinggal pegal-pegal nya." Aku menjelaskan sambil duduk disamping Bu Minah yang sedang membersihkan sayur.
"Alhamdulilah, Tadi Bu bidan kesini, beliau sudah berangkat ke kota, semoga beliau bisa ketemu sama Pak DPR itu ya mbak," Imbuh Bu Minah sambil sesekali menatapku.
"Aamiin Bu, maaf sudah merepotkan semuanya," Ujarku dengan menunduk.
"Jangan bilang begitu Mbak, kita memang harus saling bantu, keluarganya Mbak Nara juga pasti kebingungan. Tapi Mbak dari Surabaya kok bisa nyampe sini? Semalam kami mau bertanya tapi mbak Nara masih terlihat lemas." Kata Bu Minah hati-hati.
Aku mulai menceritakan semua, sekilas tentang identitas ku, juga event yang aku ikuti, saat menceritakan kejadian kemarin sebelum tragedi ini Aku mulai menitikkan air mata, Bu Minah yang mendengar itu juga ikutan menangis.
Untuk mengalihkan rasa sedihku, Aku mulai bertanya tentang Bu Minah dan keluarganya, dalam hati Aku berjanji tidak akan melupakan balas budi beliau.
__ADS_1
"Anak saya dua Mbak, tidak pernah dirumah. Keduanya di pesantren, yang satu mungkin seumuran sama Mbak Nara, perempuan, dia sekarang bantu-bantu di pesantren, jaga koperasi, sebenarnya dia ingin bekerja diluar tapi sama Bapaknya nggak diijinin. Kalau adiknya, laki-laki masih SMA juga di pesantren sana." Cerita Bu Minah.
" Anak-anak ibu pasti nanti jadi orang hebat, seperti orang tuanya." Puji ku tulus.
"Mbak Nara bisa saja, sebagai orang desa saya nggak bisa memberikan apa-apa ke anak saya, hanya ilmu mbak, bapak dan saya sepakat bagaimanapun kondisinya, pendidikan itu yang utama." Terang Bu Minah yang membuatku trenyuh.
Obrolan ku dengan Bu Minah mengalir, setidaknya ada seseorang yang bisa kamu ajak ngobrol sebagai pelipur kesedihanku. Setelah ngobrol kita sarapan berdua, suami Bu Minah masih ke kebun, setiap hari memang mereka berdua bekerja di kebun.
"Kalau dari sini ke kota jauh ya Bu?" Tanyaku saat sedang membantu Bu Minah membersihkan hasil panen singkong.
"Jauh Mbak, jarak ke kantor desa 2 kilo, ke kecamatan 10 kilo lebih. Mungkin kalau ke kabupaten kurang lebih 4 jam." Bu Minah mulai mengira-ngira.
"Sejauh itu Bu? Terus ibu kalau butuh ke kota dan membeli sesuatu gimana?" Heran ku sambil melihat hasil panen.
Bu Minah tersenyum, "Tiga hari sekali ada truk yang akan ke kota, saya sama Bapak kesana sambil menaruh hasil panen ke pengepul, sekalian disana saya beli keperluan untuk beberapa hari." Terang Bu Minah.
Aku baru sadar, ternyata di sini masih ada daerah terpencil, akses kemana-mana masih susah. Harusnya Aku bersyukur dengan hidupku yang selalu dimudahkan. Dan Aku mengingat kejadian yang menimpa ku, Apa tujuan mereka, mereka membuangku di tengah hutan, jauh dari pemukiman, Apa mereka memang sengaja mau membunuhku. Aku bergidik ngeri membayangkannya.
Bu Minah memintaku untuk beristirahat karena kata Bu Bidan tubuhku masih lemah dan butuh banyak istirahat serta minum obat. Tapi di dalam kamar Aku kembali menangis sendiri, merenungi segala kejadian yang Aku alami.
Aku terbangun ketika samar kudengar suara mobil diluar, mataku mengerjap karena kesadaranku belum pulih sempurna. Sampai samar kudengar suara orang ngobrol di luar kamar. Jujur ada rasa khawatir, takut orang yang datang kesini adalah pelaku yang membuangku.
Aku teringat kejadian di film yang Kutonton beberapa waktu lalu. Para penjahat itu tahu kalau Aku masih hidup, jadi mereka mencariku dan Akan membawaku kembali untuk disiksa. Mendadak tubuhku bergetar, badanku menggigil, dadaku juga ikut sesak.
***
__ADS_1