APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 43


__ADS_3

Siang ini rencananya Aku, Kak Niko, Bara dan Syahnaz akan berangkat ke Bandung. Kita sengaja tidak memberi kabar pada Dian, biar saja ini jadi kejutan. Rasanya sudah sangat lama tidak bertemu dengan Dian, kita jelas kangen. 


Diantara kami, Dian itu cewek yang paling kalem dan juga paling pintar. Dia langganan juara di sekolah. Dan saat dia memutuskan mengambil beasiswa full di Bandung jelas kita sedih. Tapi itu sudah jadi cita-cita Dian sejak lama. 


Sejak kuliah di Bandung 2 tahun yang lalu, Dian hanya sekali pulang ke Malang. Itu pun karena dijemput Bara. Kondisi keuangan keluarga Dian membuat dia harus pintar-pintar berhemat. 


"Barang kalian dikit amat?" sindir Bara ketika mereka sampai di stasiun. 


"Sengaja nggak bawa baju, nanti biar bisa beli disana, hehehe," jawabku sambil nyengir. 


Bara melengos, "kebiasaan!"


Aku dan Syahnaz memang dari dulu kalau liburan sengaja gak bawa baju. Jadi nanti pulang baju kita baru semua. Moto kami ngapain ribet kemana-mana bawa baju. 


Liburan kali ini kita sengaja berangkat menggunakan kereta api. Kita ingin sesuatu yang beda. Dan sepertinya naik kereta api menyenangkan juga.


“Ray, list tempat yang kita kunjungi udah ada?” tanya Bara saat kereta kita mulai jalan.


“Belum bikin, gue nggak sempet, sibuk.” Aku menjawab pertanyaan Bara dengan santai.


“Sibuk apa lu. Sibuk pacaran mulu,” sindir Kak Niko.


“Iya dong,” balasku dengan ketawa.


“Ck, belum putus juga lo? buruan putus gih,” celetuk Bara membuatku kesal.


“Sahabat macam apa lo nggak dukung gue,” kesalku dengan menatapnya tajam.


“Gue sahabat yang baik, mangkannya nyuruh elo putus.” Bara terlihat santai. Karena kesal, ku tendang saja kursinya. 


“Bar-bar amat sih nih cewek, nyesel gue dulu pernah suka sama lo,” sungut Bara sambil menoleh ke arahku.


“Dih, apalagi gue, kayaknya dulu gue pelet elo deh,’’ sahutku.


Syahnaz dan kak Niko yang dengar perdebatan nggak jelas kami hanya geleng-geleng. Mereka berdua sudah bosan dan muak dengan perdebatan yang ujung-ujungnya nyangkut aib kita di masa lalu.


“Si Dian pasang status lagi ada acara kampus nih,” ujar Syahnaz yang lagi liat status sosmed Dian.


“Iya, kapan itu dia cerita kalau hari ini dan besok mau bantuin adik tingkatnya bikin jurnal apa gitu,” ceritaku.

__ADS_1


“Lah terus?” tanya Syahnaz sambil menoleh ke bangkuku yang ada dibelakangnya.


Saat ini posisi duduk kita, Syahnaz berdampingan dengan Kak NIko sedangkan Aku berdampingan sama Bara. Kedua laki-laki posesif itu takut kalau membiarkan Aku duduk sama Syahnaz, kita kan nggak tahu kejahatan disekitar kita 


“Kita culik di kampusnya lah,” seruku dengan semangat membara. 


“Eh, ngomong-ngomong Dian pernah cerita nggak sih dia lagi naksir siapa gitu?” selidikku yang sudah mulai sesi ghibah dengan Bara.


Bara itu teman Dian sejak kecil, mereka dulu satu SD. jadi hubungan keduanya itu lebih erat. Bahkan waktu Aku naksir Bara dulu, Aku sempet cemburu dengan kedekatan keduanya.


Cowok itu menghendikkan bahu, “Dia nggak pernah cerita, lo tau sendiri Dian tuh paling suka main rahasiaan. Apalagi kita jauh gini, susah mantaunya.” Bara mulai menjelaskan.


Aku mengangguk, tanda setuju dengan ucapannya, “Tapi status IG dia tuh kayak sering galau, sekilas tuh kayak lagi kangen sama seseorang lo Bar,” ujarku memberi tahu.


“Iya tau, tapi tiap gue nanya ngeles mulu tuh anak,” jawab Bara.


Setelah beberapa jam kita menikmati perjalana kereta, akhirnya kita sampai juga di stasiun. Bara memilih jasa rentcar, daripada kita bingung dengan kendaraan. Kalau ada Bara sama Kak Niko, Aku dan Syahnaz terima beres pokoknya.


“Di, lo dimana?” tanyaku saat menghubungi Dian.


“Masih di kampus, kenapa?” tanya Dian yang memang samar terdengar ramai orang.


“Lagi bantuin adik tingkat di UKM.” jawabnya santai, Dian emang selalu polos.


“Owh lagi di gedung UKM, ya ya.” sahutku.


“Emang kenapa sih, aneh deh.” seru Dian.


“Hahaha… enggak, tadi mau ajakin vicall bareng, tapi nanti deh, Bara sama Syahnaz juga masih di jalan katanya, yaudah lo lanjutin, bye!” pamitku dan langsung menutup telepon.


“Fix langsung kesana nih berarti?” tanya Bara sambil nyetir.


“Mampir ke toko baju dulu lah, masa iya kita mau nongkrong di kampus orang kucel gini.” protesku sambil liat penampilan.


“Ck, tuhkan repot deh!” kesal Bara.


Akhirnya kita berempat mampir ke toko baju, membeli beberapa stel baju, dan langsung mencari masjid untuk sholat sekalian numpang mandi.


“Mana sih gedungnya?di google map sih daerah sini,” kesal Bara.

__ADS_1


“tanya dong Pak,” seruku.


Kita akhirnya muter-muter keliling sambil liat kampus Dian, meskipun liburan masih banyak mahasiswa yang doyan nongkrong di kampus. Setelah tanya sana sini, akhirnya mereka menemukan gedung UKM.


Keempat orang itu langsung turun dari mobil, mereka bak artis yang mencuri perhatian beberapa orang disana. 


Duo lelaki, Kak Niko dan Bara lagi nunjukin aksinya, mereka pergi masuk ke gedung untuk menculik Dian. Sedangkan Aku dan Syahnaz memilih nunggu sambil bersandar di mobil.


“Cowok Bandung pasti banyak yang ganteng nih, comot satu Naz,” komporku.


“Susah sis, mana bisa gue LDR, baru pendekatan sudah emosi aja bawaanya,” sungut Syahnaz yang membuatku ketawa.


Aku ketawa ketika dari kejauhan terlihat Bara dan Kak Niko kejar-kejaran sama Dian. Pasti duo cowok itu bikin ulah di dalam sana. Dian terlihat marah tapi juga ada binar kebahagiaan disana.


“Raya… Syahnaz…” teriak Dian yang langsung menghambur ke kita, dia terlihat menitikkan air mata.


“Di, gue kangen,” seruku dan langsung memeluknya.


Kita bertiga langsung berpelukan seperti teletubies. Setahun lebih nggak bertemu jelas rasa rindu itu gede banget. Apalagi dulu kita itu seperti kembar tiga yang tak terpisahkan.


“Heh pacar, kita nggak dipeluk?” sindir Bara.


Dian langsung melepas pelukannya, dia melirik tajam ke arah Bara. “Sini, biar gue rujak lo!” kesal Dian yang berjalan ke arah Bara.


“Mau dong dirujak senior cantik,” sahut Kak Niko menggodamenggoda Dian. 


“Astaga Niko, lo jangan ketularan gesrek kayak Bara deh.” sungut Dian dengan berkacak pinggang, menatap Bara dan Kak Niko bergantian. 


Kak Niko mengacak rambut Dian, “Apa kabar?” tanyanya.


Dian manyun, “Baik dan seneng banget. Kalian bikin gue mewek,” rengek Dian. “Kenapa nggak bilang sih?”


“Kejutan dong sis,” sahut Syahnaz.


“jadi Raya nelphon tadi karena mau kesini. duh kalian bikin gue nangis.” ujar Dian sambil mengusap air matanya. “Mana nih duo laki bikin heboh satu gedung, duh.” Dian jingkrak-jingkrak.


Kita ketawa bareng, Kak Niko dan Bara ngakak sambil ber high five, “Emang mereka ngapain?” tanyaku.


***

__ADS_1


 


__ADS_2