
"Beib, nanti temenin Aku nyari kado buat Mama ya," pinta Kak Dio saat menjemputku.
Saat ini kita berdua sedang perjalanan ke kampus. Seperti biasa Kak Dio akan mengantar jemput ku. Terkadang sikapnya yang seperti ini yang membuatku makin sayang.
Maksudku, Awal dulu Kak Dio begitu santai, dan lebih sibuk dengan teman-temannya. Tapi setelah Aku protes semakin kesini dia sudah berubah dan lebih dahulu ini Aku.
Dia bisa berubah lebih baik, dan memperlakukanku seperti ratu, bagaimana bisa Aku meninggalkan dia begitu saja. Aku sadar kalau dulu dia pernah nyakitin Aku, tapi sekarang dia jelas sudah berubah.
"Mama ulang tahun?" tanyaku penasaran.
"Iya, dua hari lagi, nggak ada acara sih, cuma makan malam bareng, kamu datang ya? Mama pasti senang," ucap Kak Dio merayuku.
"Aku malu," Cicit ku pelan.
"Malu sama siapa? Aneh kamu. Pokoknya Aku jemput." Kekeh Kak Dio.
"Iya," jawabku sambil senyum.
"Beib, kamu tau nggak Mama tuh sayang sama kamu, dia excited banget kalau Aku cerita tentang kamu. Dia selalu belain kamu, bahkan Aku ngerasa jadi anak pungut kalau disandingin sama kamu," rajuk Kak Dio kepadaku.
Aku tersenyum, "Mana ada yang seperti itu kak, lebay ih,"
"Beneran Beib," Desahnya frustasi.
Seperti rencana kami, pulang ngampus Aku langsung jalan sama Kak Dio. Sekalian kita mau nonton film. Kebetulan ada film yang dari dulu sudah Aku tunggu. Kak Dio manut aja mengikutiku.
Kita milih nonton dulu, karena memang ceritanya komedi romantis Kak Dio ternyata juga suka. Kita berdua ketawa ngakak bareng, dan sepanjang film berlangsung, Kak Dio terus menggenggam tanganku. Sesekali dia akan mencium tanganku.
Aku akui Kak Dio begitu kuat dalam menahan godaan. Selama beberapa bulan pacaran dia hanya sebatas cium pipi. Aku jadi inget Bian, dia baru ngungkapin perasaan tapi udah nyuri ciuman pertamaku.
Rasanya pengen ku getok kepalanya kalau inget. Tapi Aku nggak bisa bohong kalau Aku juga menikmati Ciuman Bian itu. Munafik sekali kan diriku ini.
Setelah nonton, kita pergi keliling Mall. Mencari kado untuk Mama Kak Dio. Dan Kak Dio milih memberi kado sebuah tas branded, mengingat Kak Dio sering menghadiri acara resmi menemani Papanya yang seorang anggota DPR.
"Dio," sapa seseorang dari arah belakang.
Dari suaranya Aku seperti kenal, dan itu pasti adalah Selly. Teman Kak Dio yang dari dulu membuatku meradang.
"Eh Sel, sama siapa?" tanya Kak Dio kaget.
__ADS_1
Kak Dio melirik ku, Aku mencoba santai. Malas juga kalau terlihat kesal di depan cewek ini.
"Sama temenku," jawabnya, "Aku duluan ya, entar ada yang ngamuk lagi," sindirnya dengan melirik ku.
Aku menatap kepergian cewek itu dengan kesal. Bahkan dia sama sekali tidak menyapaku, dasar cewek ulat bulu.
"Udah Beib jangan kesel gitu dong, dia cuma nyapa kok," Kak Dio menenangkan ku.
"Iya," jawabku sedikit sewot.
"Makan yuk!" ajaknya dengan menarik tanganku.
Kita milih makan di foodcourt, lumayan ramai karena memang jam makan malam. Sambil menunggu pesanan Aku izin mau ke toilet sebentar, sekedar merapikan tampilan ku.
"Cewek sok cantik," celetuk seseorang.
Aku yang lagi cuci tangan jelas mendongak, dari pantulan kaca Aku bisa melihat sosok Selly berdiri disampingku. Tapi dia tidak menatapku, dia juga sedang cuci tangan. Tapi Aku jelas tahu kalau celetukan itu ditujukan kepadaku.
"Ada suara nggak ada rupa, Fix setan kurang kerjaan sih ini," gumamku dengan lanjut mencuci tangan.
"Heh! Lo nggak usah sok ya!" ucapnya dengan mendorong bahuku.
Dorongannya tidak kuat sih tapi karena Aku tidak siap jadi Aku sempat mundur beberapa langkah. Aku menatap dia datar, Selly terlihat sudah emosi.
Selly mendengus kesal, tangannya bersedekap dada, "Gue bilangin ya, untuk saat ini gue biarin Dio jalan sama elo, tapi suatu saat gue bakal rebut dia,"
Aku tersenyum meremehkan, "Mau sekarang atau kapanpun Kak Dio tetep jadi milik gue, jadi elo nggak usah mimpi!" sergahku.
"Lo jangan sombong! Lo pikir Dio bakal betah sama cewek sok suci kayak elo!" sindirnya dengan menatapku remeh.
"Maksud lo apa?" Aku jadi kepancing.
Selly tertawa, "Lo pikir aja sendiri. Harusnya saat diculik itu lo ilang aja sekalian, nggak usah balik kesini." ujar Selly menyebalkan.
"Tapi buktinya gue masih sehat, tambah cantik dan tambah disayang Kak Dio. Elo cewek yang bisanya cuma ngiri doang mending intropeksi diri deh, pantes sih kalau Kak Dio nggak suka sama elo, tingkah lo itu nggak banget!" ucapku yang sengaja mengejeknya.
Selly terlihat makin kesal, "Lo!" Selly menggantung ucapannya.
Dia tidak melanjutkan karena ada dua orang perempuan yang masuk ke toilet, keduanya menatap kami bingung.
__ADS_1
"Awas ya! Gue bakal bikin lo nyesel!" ancam Selly.
"Nggak usah bacot doang, buktiin!" Aku balik menantang Selly.
Kita berdua saling tatap, tapi kemudian Selly langsung pergi. Sepertinya dia sedang emosi tingkat tinggi, tapi karena ada orang lain dia memilih pergi. Mungkin takut diviralkan.
Aku tersenyum ke arah dua orang perempuan yang baru datang, mereka juga tersenyum maksa.
"Kenapa Mbak?" tanya salah satu dari mereka.
"Biasa Mbak, cewek tukang halu, bisanya cuma ngomel-ngomel," jawabku santai.
Setelah cuci tangan dan merapikan riasanku Aku balik ke meja ku tadi. Terlihat Kak Dio sudah mulai makan.
"Beib, kok lama?" tanyanya.
"Tadi Aku ketemu kecoa di toilet, jadi Aku ladenin bentar tadi." jawabku asal.
Kak Dio mengernyit, "di Mall sebesar ini ada kecoa? Ngaco kamu," Kelakarnya.
Aku hanya tersenyum dan memakan pesananku. Debat dengan Selly membuatku lapar.
Ku lihat Kak Dio yang terlihat santai makan, sesekali dia menggoda dengan mengambil makananku. Kita berdua makan dengan bercanda.
Aku memilih merahasiakan pertemuanku dengan Selly. Aku anggap tadi hanya luapan emosi seorang perempuan yang sedang cemburu.
Sebenarnya Aku tahu kalau Selly suka dengan Kak Dio sudah lama, mungkin sejak mereka sama-sama jadi Maba. Terlebih mereka satu jurusan, satu kelas dan gabung di satu organisasi yang sama.
Tapi Kak Dio memang dari awal nggak ada rasa, hanya menganggap Selly sebagai teman. Dasarnya dia memang baik, dan suka nggak tegaan sama teman. Jadi kalau Selly minta tolong dia akan nurutin.
Aku juga sering menggoda Kak Dio, menanyakan perasaannya ke Selly. Dan dia berani sumpah kalau hanya menganggap Selly sebagai teman.
Aku tidak mau ambil pusing lagi masalah ini, yang penting Aku tau Kak Dio nggak ada rasa sama dia. Dan Aku percaya itu. Apalagi sekarang Kak Dio sudah mulai ngerjain skripsi, sudah tidak terlalu sibuk di Organisasi. Bahkan Aku sekarang yang lebih sering nemenin dia.
"Beib, sepertinya ada tamu," ujar Kak Dio saat mengantarku pulang.
"Iya," jawabku sambil celingukan.
Hal pertama yang Aku lihat adalah mobil, jujur Aku deg-degan, takut yang datang kesini adalah Bian. Bukannya Aku gak suka kalau Bian datang. Aku jelas sangat bahagia, tapi masalahnya kan ada Kak Dio. Aku nggak mau suasana kembali panas.
__ADS_1
"Loh Beib, itu bukannya… "
***