
Setiap orang akan merasa lega kalau kita sudah jujur. Mungkin itu yang dirasakan Bian. Dia tidak mengharap jawaban apapun dariku, karena dia tahu Aku sudah punya pacar. Bian hanya ingin jujur dengan perasaannya.
Dan Aku sangat menghargai itu, rasa kesal dan marah yang beberapa waktu kemarin menyelimuti hatiku, mendadak terkikis ketika Aku menatap wajahnya. Aku juga tidak bisa berbohong, bahwa Aku merindukan kehadiran Bian.
"Bian, sebenarnya Aku juga ngerasa aneh," ucapku yang masih setia dalam dekapannya.
"Maksudnya?" Bian terdengar bingung.
"Aku nyaman sama kamu, kalau boleh jujur ketika dekat sama kamu Aku juga ngerasain deg-degan. Tapi Aku minta maaf Bi, Aku udah punya Kak Dio disampingku. Aku nggak mungkin ninggalin dia," ucapku jujur.
Bian melepas pelukan kami, dia memegang kedua bahuku, "Aku ngerti Ra, Aku juga sadar itu. Tapi kamu serius nyaman sama Aku? Deg-degan saat kita deketan gini?" tanya Bian dengan wajah berbinar.
Aku hanya mengangguk, tanpa menjawab. Wajahku sekarang pasti merah merona karena malu. Bian menarik dahulu ke atas.
"Ra, liat Aku. Kamu juga ngerasain perasaan itu kan?" tanya Bian lagi.
"Iya," jawabku sambil melihat ke arah lain.
"Ra, liat Aku." pintanya.
Aku manyun dan balas menatap matanya, "Iya Bian," kataku akhirnya.
Bian tersenyum lebar, dia seperti sedang menahan luapan kebahagiaan. "Aku boleh peluk lagi?" ijinnya.
Aku hanya mengangguk, tanpa menunggu lama Bian langsung menarikku dalam pelukannya. Aku pun membalas pelukan ini. Rasanya lebih bahagia daripada saat Aku menerima perasaan Kak Dio dulu.
"Makasih Ra, terimakasih," ucap Bian dengan mencium kepalaku berkali-kali.
"Bi, tapi Aku nggak bisa janjiin apa-apa ke kamu, saat ini statusku… " ucapku dan langsung dipotong Bian.
"Aku tau Ra, Aku nggak menuntut apapun. Cukup tau kalau kamu punya perasaan yang sama itu sudah cukup," ujarnya dan melepas pelukan kami.
Bian mencubit hidungku, dia tersenyum sangat manis, Aku juga ikut senyum. Kita berdua jadi salah tingkah.
Diluar hujan juga semakin deras, padahal tadi cerah. Bian melepas jaketnya, dan memakaikan ke tubuhku.
"Disini dingin, kamu kebiasaan nggak bawa jaket," ucapnya dengan merapikan rambutku.
"Makasih," jawabku gugup dan merapatkan jaket milik Bian.
"Cantik," Celetuknya yang sukses bikin Aku salah tingkah.
"Kamu jangan gombal deh," rajukku dengan memantulkan bibir.
"Ra, saat ini Aku bakal ngalah, tapi suatu saat kalau cowok itu berani nyakitin kamu, Aku bakal langsung datang dan nikahin kamu," ucap Bian dengan menatapku.
__ADS_1
"Kalau dia nggak nyakitin Aku?" pancingku ingin mendengar jawabannya.
"Mungkin selamanya Aku bakal hidup sendiri," jawabnya santai.
Aku berdecak, "Ck, nggak bisa kayak gitu dong, kamu juga harus bahagia." kataku dengan tersenyum lembut ke arahnya.
"Tapi Aku bisa bahagia kalau cuma sama kamu," balasnya.
"Gombal banget, sekarang ngomong gitu, entar juga beda lagi," sindirku.
"Hahaha… Aku seneng deh bisa deket gini lagi sama kamu, kemarin Aku kayak orang gila yang kehilangan tujuan hidup Ra," ucapnya dengan menyatukan dahi kami.
Perlahan kuberanikan diri mengusap kepala Bian, dihatiku seperti ada kupu-kupu terbang, geli geli gimana gitu saat Bian jadi manja gini. Dan Aku seneng. Maaf ya Kak Dio, sekali ini Aku ingin ngerasain bahagia sama Bian.
"Maaf," cicit ku.
Bian menggeleng, "Kamu nggak salah, Aku yang harusnya lebih bisa jagain semuanya."
Aku menjauhkan diri dari Bian, kutatap wajahnya, dan kuusap rahang Bian lembut, "Maaf kalau Aku kemarin nyalahin kamu, tapi jangan pernah ngerasa bersalah Bi, itu bukan salah kamu." Aku ingin menguatkannya.
Dan entah siapa yang mulai, kedua bibir kami sudah saling bertautan. Bian begitu lembut memanjakan bibirku, tidak ada ciuman yang menuntut. Hanya kelembutan dan rasa penuh sayang yang Bian berikan padaku.
Aku tidak menolak ciuman Bian, karena Aku juga merasakan hal yang sama. Ini pertama buatku, tapi Bian bisa membawaku untuk menikmatinya.
"Manis," ucapnya sambil mengusap bibirku.
"Awww… Kamu juga nyuri keperjakaan bibirku," selorohnya.
Aku tersenyum, kukalungkan tanganku di lehernya. Entah kenapa Aku jadi senakal ini dengan Bian. Padahal kalau dengan Kak Dio Aku selalu menghindar saat dia ingin menciumku. Dan memang Bian yang mencuri ciuman pertamaku.
Bian kembali menarikku dalam dekapannya, mengusap punggungku, menyalurkan rasa nyaman.
"Aku sayang sama kamu Ra, sayang banget," bisiknya di telingaku yang membuat bulu kudukku merinding.
Aku tidak membalas ucapan Bian, Aku hanya semakin menyerukan kepala ke pelukan Bian, tempat ternyaman untukku bersandar.
"Ra, hujannya sudah reda, berdua sama kamu dikamar gini jadi pengen ngelakuin yang enak enak terus. Keluar aja ya, Aku takut nggak bisa nahan," ucapnya dengan senyum.
Aku manyun, "Mesum banget sih kamu," kesalku.
"Aku cowok normal Ra, apa kita incip-incip lagi aja," goda Bian dengan menaik turunkan alisnya.
"Jangan berani ya Fabian Pradipta!" Seruku.
Aku langsung turun dari meja dan berlari keluar kamar. Diluar memang hujan sudah reda, dan suasana jadi semakin dingin. Aku melirik ke arah Bian yang tidak memakai jaket, hanya kaos lengan panjang dengan celana jeans.
__ADS_1
"Kamu kedinginan?" tanyaku khawatir.
"Iya, kayaknya kalau meluk kamu dingin nya langsung ilang," jahil Bian.
"Haiishh… Kamu ikut liburan disini kan?" tanyaku saat kita berdiri bersebelahan di teras, sambil melihat pemandangan.
"Cuma sampai besok, lusa Aku harus ke lombok." jawab Bian tanpa menatapku.
Aku menghela nafas, kesempatanku bersama Bian cuma sampai besok. Setelah Aku balik ke Surabaya Aku tidak bisa memastikan apapun, ada Kak Dio yang selalu bersamamu.
Aku tau ini salah, bisa dibilang Aku sedang selingkuh dengan Bian. Tapi Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Bersama Bian Aku merasakan kebahagiaan, hanya dia yang bisa menjungkir balikan perasaanku.
"Kamu mau nggak kalau seharian besok Aku culik?" tanya Bian tiba-tiba.
"Hah?"
Bian menoleh ke arahku, "Kita sama-sama nggak tau gimana selanjutnya, Aku cuma pengen ngabisin waktu seharian sama kamu, boleh?" pinta Bian.
"Tapi Aku liburan sama temen-temenku, nggak enak sama mereka." ujarku yang ngerasa bingung.
"Mereka urusanku Ra, Aku yakin mereka juga ngerti kok. Aku pengen sehari aja pacaran sama kamu, Mau ya?" mohon Bian dengan menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, "Iya Aku mau," jawabku tanpa pikir panjang.
"Satu lagi, ini yang paling penting. Aku minta kamu lepas blokiran nomerku," pintanya. Aku ketawa dan mengangguk.
Tak lama Kak Niko dan yang lain datang. Mereka mergokin Aku dan Bian yang sedang saling tatap dengan berpegangan tangan. Sontak saja Dian dan Syahnaz heboh. Kak Niko yang Aku pikir bakal marah ternyata dia santai.
Para cowok memilih merokok dan ngobrol di luar. Sedangkan Aku, Dian dan Syahnaz memilih masuk di kamar karena memang cuaca yang dingin.
"Ecieeee yang lagi selingkuh," goda Syahnaz dengan mendorong bahuku.
"Dosa nggak sih gue," gumamku dengan rebahan.
"Dosa dong, lo khianatin Dio. Yakin lo bakal jalan sama dua-duanya?" tanya Dian yang duduk disebelahku.
"Nggak ngerti, dua-duanya tuh punya tempat sendiri Di," kataku dengan menatap langit-langit.
"Maruk lu! Kemarin aja sok sokan gak mau ketemu Bian," protes Syahnaz.
"Hahaha… Habisnya gue nggak bisa nolak pesona Bian gitu aja. Sumpah Naz, Bian itu ternyata sweet banget." Aku kembali mengingat kejadian tadi.
"Kalian tadi ngapain aja hujan-hujan berdua," goda Dian.
"Ehm… RAHASIA!" ujarku sambil nutup muka dengan bantal.
__ADS_1
***