APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 40


__ADS_3

Aku kaget saat denger cerita dari Syahnaz tentang kejadian malam itu. Aku sepertinya terlalu khusyuk menangis, sampai tidak dengar apapun. Aku juga sedang diliputi emosi jadilah tidak peduli. 


Sekarang Aku jadi merasa bersalah, karena Aku yang tidak bisa menahan emosi, semua jadi kacau. Bagaimana bisa Kak Dio dan Bian sampai mau baku hantam. 


"Jujur sama gue, lo ada rasakan sama Bian?" Selidik Syahnaz dengan menatapku tajam. 


Aku kaget mendengar pertanyaan Syahnaz, bagaimana bisa dia mempunyai pikiran seperti ini. 


"Lo ngaco deh, gue udah punya pacar, Kak Dio, aneh banget pertanyaan lo!" Sungut ku malas. 


"Ck, elo tuh soalnya aneh Ray, sikap lo kentara banget, pas Kak Dio dateng lo kayak langsung salah tingkah, ibaratnya elo kayak ke gap lagi selingkuh. Cara mikir dan omongan lo juga kayak gak sinkron." Sindir Syahnaz. 


"Gak usah ngarang, gue kemarin kayak gitu karena udah emosi tentang penculikan itu," Geram Raya. 


"Yaudah terserah elo aja deh! Cuma saran gue, coba lo ngobrol sama Bian, kasian tau Raya dia." bujuk Syahnaz. 


Aku langsung menoleh, "Nggak mau! Dia penyebab gue celaka, ngapain gue ngobrol sama dia, lo pengen gue celaka lagi?" Sentakku. 


"Ray, ini kan bukan salah Bian, dia juga gak tau kalau kejadiannya bakal kayak gini. Lo jangan egois gitu." Syahnaz mencoba memberi pengertian. 


"Gue egois! Dia yang egois!" Bentak ku. 


"Oke oke, tapi nggak ada salahnya kan ngomong baik-baik sama dia," Bujuk Syahnaz. 


"Nggak! Gue nggak mau, sampai kapanpun gue gak bakal mau ketemu apalagi ngobrol sama Bian!" Ucapku tegas. 


"Dih, ngomong lo gitu amat, ati-ati karma, benci jadi cinta, hahaha," Ledek Syahnaz. 


"Nggak lucu!" Sentakku bikin Syahnaz makin ngakak. 


Aku kesal ketika Syahnaz terus mengompori, bodo amat kalau Bian keliatan kacau. Dia juga udah ngancurin hidupku. Rasa kesal dan emosi ku ke dia masih menumpuk. Tidak semudah itu untuk bisa melupakan. 


Selesai ngobrol sama Syahnaz, kita milih untuk video call bareng sama Bara dan Dian. Kedua sahabat ku itu juga khawatir. Mereka memberika masukan dan motivasi buatku. 


Obrolan mereka yang nggak jelas juga membuatku terhibur, setidaknya Aku tahu mau seterpuruk apa Aku, ada keluarga dan sahabat yang selalu mendukungku, selalu ada bersamaku. 


"Ray, ada Dio tuh, mau ditemuin nggak?" tanya Kak Niko sambil membuka pintu kamarku. 

__ADS_1


Aku yang lagi santai rebahan baca novel, langsung menoleh ke arah Kak Niko. Aku menghela nafas panjang, dan akhirnya mengangguk. Aku langsung merapikan penampilanku dan memoles wajahku dengan make up flawless. 


"Hay kak," panggilku saat menemui Kak Dio di gazebo depan. 


Kak Dio tersenyum samar, dia menyuruhku duduk disebelahnya. Kak Dio menelisik wajahku yang Aku yakin masih sedikit pucat. 


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Kak Dio datar. 


"Udah mendingan," Jawabku sambil nunduk. 


"Aku hubungin kamu nggak bisa," Ujarnya. 


"Iya selama sakit Aku nggak pegang ponsel," ucapku jujur. 


"Kenapa?" Tanyanya lagi. 


"Lagi mau fokus ke kesehatan aja, jadi gak mau diganggu" Jawabku asal ceplos. 


"Termasuk Aku? Jadi selama ini Aku gangguin kamu?" Tuduhnya dengan wajah jutek. 


"Kok Kak Dio ngomong gitu?" Selidik ku. 


"Kamu sendiri kan yang bilang," Sungutnya. 


"Jangan salah paham Kak, Aku kalau sakit dari dulu emang nggak pernah nyentuh ponsel. Bukan cuma ke Kakak, ke Syahnaz bahkan Ayah kalau lagi kerja dan gak bisa hubungin Aku tanya ke Kak Niko." Aku mencoba menjelaskan. 


Kak Dio mendengus kesal, "Iya," jawabnya singkat. 


Aku melirik Kak Dio yang terlihat kesal, wajahnya juga dingin, membuatnya jadi merasa bersalah. 


"Kak Dio Aku minta maaf kalau sikapku nyinggung kakak, Aku juga minta maaf soal kejadian malam itu." Ucapku lirih. 


"Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama laki-laki itu?" Selidiknya. 


"Aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama Bian kak, kita kenal karena event itu." Terangku. 


"Tapi dia bilang sebelum event itu kalian juga dekat, nggak mungkin juga kamu digosipin sama dia kalau nggak ada penyebabnya." desak Kak Dio. 

__ADS_1


"Sebelum event itu kita pernah ketemu, tapi biasa. Aku juga nggak tau kenapa digosipin, mungkin karena diantara peserta lain Aku yang sering ngobrol sama dia." Jelasku.


"Aku juga dapat info, acara puncak HUT kemarin kamu juga jalan kan sama dia?" Tanya Kak Dio dengan menatapku tajam. 


Aku gelagapan mendengar pertanyaan Kak Dio, "Waktu itu nggak sengaja ketemu Kak, kebetulan aja, karena sudah malam akhirnya dia nganter Aku pulang." Aku mencoba menjelaskan. 


"Kenapa kamu nggak pernah bilang ke Aku?" Kak Dio memojokanku. 


"Karena menurutku itu nggak penting, mangkannya nggak cerita ke Kakak," Aku mencoba membela diri. 


"Alasan! Kamu nggak mau bilang karena takut ketahuan kalau selingkuh kan!" Tuduh Kak Dio. 


"Aku nggak selingkuh kak!" Sentakku. 


"Nggak selingkuh tapi sering jalan sama cowok lain. Kamu selalu protes ketika Aku jalan sama Shelly, padahal dia jelas-jelas temenku. Tapi coba kamu lihat diri kamu!" Sengitnya. 


Aku mulai berkaca-kaca, kenapa malah larinya kesana sih. Aku tahu kalau Aku salah, tapi Aku beneran nggak selingkuh. Kenapa sakit banget dituduh seperti ini. 


"Kak, Aku minta maaf kalau nggak jujur. Tapi Aku sama Bian nggak ada hubungan apa-apa. Kalau kakak bandingin Bian dan Selly, jelas beda. Aku nggak pernah sengaja ketemuan sama Bian, murni kebetulan itupun cuma beberapa kali, sedangkan kakak sama Selly? Hampir tiap hari kalian bareng, bahkan Kakak lebih punya banyak waktu buat Selly daripada Aku!" Protes ku nggak Terima. 


"Sama aja Ray, yang jelas kamu udah selingkuh dan bohongin Aku. Apa bedanya?" tantang Kak DioDio dengan menatapku tajam. 


Aku tersenyum miris, "Kak Dio egois, Kakak mencari pembenaran tentang diri kakak, dan nyalahin orang lain." Kesalku. 


"Aku nggak benerin diriku Ra, Aku sadar kemarin salah, buktinya Aku berubah kan, Aku juga udah nggak pernah jalan sama Selly. Tapi kamu?" Kak Dio terus memojokkanku. 


"Aku juga udah bilang nggak bakal nemuin Bian lagi kan!" Sahutku dengan menatapnya tajam. Aku juga kesal dituduh terus. 


"Aku nggak suka kamu nyebut nama laki-laki brengseek itu!" Sungut Kak Dio. 


"Gitu banget sih Kak Dio, cuma nyebut nama, nggak ngelakuin apa-apa juga!" Aku membela diri. 


"Tetep aja Aku nggak suka!" Sinisnya. 


"Lagian ya, Kak Dio datang kesini cuma mau marahin Aku doang? Kakak nggak kangen sama Aku? Nggak nanyain gimana perasaanku setelah tau kenyataan kemarin. Kakak nggak ada perhatiannya ke Aku!" Ketusku. 


***

__ADS_1


__ADS_2