APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 16


__ADS_3

Pagi ini Aku bangun dengan pikiran yang cukup tenang. Sejak donor darah kemarin siang, Bian sama sekali tidak terlihat batang hidungnya, Aida bilang dia ada urusan mendadak jadi harus meninggalkan lokasi. 


"Riska lamongan? Lo kok gak bilang sih Na, mau gue bejek-bejek rasanya. Gayanya tuh emang sombong, dari awal gue udah gak cocok sama dia." Rima terus menggerutu setelah Aku cerita kejadian semalam. 


"Biarin lah, bodo amat gue, ini kan udah hari terakhir, entar siang udah penutupan acara. Jadi gak penting banget ngurusin orang gak jelas." Kataku mencoba bersikap santai. 


"Setuju sih sama Nara, mending sekarang kita seneng-seneng. Acara hari ini full pantai kan." Imbuh Fira. 


"Outbond kan sekarang, seru tuh pasti." Sahutku. 


Hari ini memang hari terakhir event, nanti siang adalah acara penutupan. Untuk acara pagi sampai siang adalah outbond. Kita dibagi menjadi beberapa tim. Tema outbond kali ini adalah kekompakan dalam permainan jadul. 


Panitia sudah menyiapkan permainan seperti gobak sodor, lompat tali, gobak sodor, engklek dll. Semua permainan itu terdengar asing bagi sebagian anak. Tapi panitia membungkus permainan itu jadi lebih fresh dan menyenangkan. 


Aku satu kelompok sama Fira teman sekamarku , dan beberapa anak lain. Dari awal permainan kita memang dituntut untuk kompak. Karena pesertanya banyak kita semua jadi pada heboh. 


Apalagi permainan ini di lakukan di pinggir  pantai, jadi terasa lebih menyenangkan walaupun kita sambil panas-panasan. Aku akuin sih panitia event ini keren, selain silaturahmi dan mengenalkan wilayah pantai selatan yang mempunyai banyak pantai, disini kita juga dikenalkan kembali permainan tradisional yang dibungkus dengan nuansa modern. 


Semua peserta lebur dengan canda tawa dan rasa kebersamaan. Orang-orang yang julid padaku kemarin juga berangsur biasa. Terlebih Sudah tidak ada Bian di sekitar kami. Jadi tidak ada lagi bahan gibahan buat mereka. 


Aku jadi berpikir apa Bian pergi dari acara ini karena sikapku kemaren. Ada sedikit rasa bersalah bagaimana pun juga Bian juga seorang korban, dia tidak tau apapun tentang masalah ini. 


Lagian kalau dipikir kenapa Aku memusingkan gibahan mereka, kita hanya bertemu di acara ini. Setelah acara selesai semua juga pasti melupakan ini semua. Dan dengan berpikir begitu Aku jadi lebih nyaman untuk berinteraksi dengan mereka. 


Dalam permainan tradisional tim kuasa banyak memenangkan pertandingan, dengan cepat kita bisa saling bekerjasama dan kompak. Aku sebagai ketua tim jelas bangga, terlebih banyak yang memuji ketangkasan dan kelincahan ku saat bermain. 


Sebagai manusia biasa wajar dong kalau Aku GR, dan merasa bangga. Karena itu adalah caraku untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan memberi penghargaan pada diri sendiri. 


"Kamu hebat Naraya, kamu sudah melakukan yang terbaik." Gumamku pada diri sendiri. Dan Aku tersenyum setelah mengatakan itu. 

__ADS_1


"Na, anterin gue ke toilet dong." Pinta Fira yang mendekatiku. 


"Yuk, bilang yang lain dulu nanti pada nyariin." Aku mengingatkan Fira. 


"Gue udah bilang kok tadi, buruan Na gue udah gak tahan." Fira menarik tanganku menjauh dari yang lain. 


Saat ini kita sedang melakukan kegiatan di pantai, kalau mau ke toilet kita harus berjalan lumayan jauh. Sebenarnya tadi ada toilet umum, tapi Fira menolak disana dan milih ke villa. Untuk sampai di villa kita melewati sedikit hutan. 


Fira menyuruhku untuk berjalan di depan, Aku menurut saja karena memang Aku lebih hafal jalan dibanding Fira. Temenku satu ini paling sulit kalau disuruh menghafal jalan. 


Saat sedang berjalan tiba-tiba tengkuk ku dipukul dari belakang. Aku yang kaget masih sempat menoleh, kulihat ada seorang laki-laki yang memegang kayu dengan ukuran cukup besar, dia tersenyum meremehkan. Itu adalah pemandangan terakhir sebelum Aku menutup mata karena pingsan. 


Perlahan Aku mengerjapkan mata, mulai memicingkan mata ketika melihat cahaya yang begitu terang. Kepalaku masih sedikit pusing, Aku kaget karena ternyata badanku diikat di sebuah pohon besar, dan mulutku dilakban. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang sama sekali, Aku benar-benar sendirian di sini. 


Fira dan laki-laki yang membawa kayu tadi juga tidak terlihat, Aku mulai menjerit tapi suaraku tidak keluar karena mulutku dilakban. Disaat kondisi ku seperti ini Aku juga mengkhawatirkan Fira, dimana dia, bagaimna kondisinya, apa dia juga diikat seperti ini. 


Aku mulai mencoba melepaskan ikatan itu tapi begitu sulit karena ikatannya sangat kuat. Aku hanya bisa menangis dan berdoa dalam suasana hutan yang sepi. Sepertinya sudah lama Aku berada disini, kulihat Langit mulai menunjukan warna jingga.


"Ya Allah kita tolong buk…" Ujar laki-laki di sampingnya. 


Badanku terasa sudah lemas, tadi Aku hanya sarapan dengan roti karena lauk yang disediakan adalah seafood, sedangkan Aku alergi seafood. Setelah itu Aku tidak makan apapun lagi sampai sekarang, tadi juga sudah terkuras energiku karena permainan yang cukup banyak. 


Saat kedua orang itu mendekat rasanya badanku sudah nggak kuat. Mereka berdua memanggilku, menepuk-nepuk pipiku dan melepas lakban yang menutup mulutku. 


"Mbak bangun Mbak… ya Allah… " Histeris Ibu-ibu itu. 


"Tolong… " Gumamku lirih dan langsung menutup mata. Untuk kedua kalinya Aku pingsan dan tidak sadarkan diri. 


Perlahan mataku mulai terbuka, kutatap ada beberapa orang disekitarku. Tidak ada satupun dari mereka yang Aku kenal. Mereka terlihat bersyukur karena Aku sudah sadar. 

__ADS_1


"Alhamdulillah… Akhirnya mbak sadar juga," ucap Ibu-ibu yang kuingat tadi telah menolongku. 


Aku segera mengumpulkan kesadaranku, dibantu dengan ibu tadi Aku mencoba untuk duduk. Mereka tidak menanyai ku apapun, tapi mereka memberi makanan dan minuman. Karena memang lapar Aku mencoba memakannya walaupun sedikit. 


"Nama Mbak siapa?" Tanya lelaki paruh baya yang memakai peci. 


"Naraya Lazuardi," Ucapku lemah. 


"Mbak berasal dari mana?kami tidak menemukan identitas Mbak," Tanyanya lagi. 


"Surabaya," jawabku sambil nunduk.


Saat acara tadi Aku memang sengaja tidak bawa tas dan ponsel, karena kupikir rawan kena air pantai. Dan sialnya Aku tidak hafal nomor siapapun, bahkan nomerku sendiri Aku tidak mengingatnya. 


"MasyaAllah jauh sekali, kok bisa sampai disini mbak?" Cecar ibu yang menolongku. 


Terdengar bisik-bisik orang yang berada di dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini. Melihat dari rumahnya, sepertinya Aku dibawa ke rumah salah satu penduduk, dinding rumah ini masih dibuat dari bambu. 


"Ini sudah malam, untuk sementara mbak tinggal disini dulu, Insya Allah aman." Ujar laki-laki berpeci. 


"Ini dimana?" Tanyaku dengan menatap mereka satu persatu. 


"Sumbermanjing Mbak," Jawab Salah seorang yang berada di ruangan ini. 


"Masih daerah Malang kan?" Aku seperti punya harapan. 


"Iya masih ikut kabupaten Malang," Jawab laki-laki berpeci yang mungkin kepala desa sini. 


"Tolong hubungi Bian, Fabian Pradipta,"

__ADS_1


***


__ADS_2