
Kedatangan Bian kerumah membuat orang-orang menggoda kami. Mereka bilang Bian seperti akan melamarku. Jujur ada sedikit desiran halus di dadaku ketika digoda seperti itu.
Terlebih saat melihat tatapan Bian yang selalu membuat jantungku lemah. Cowok itu memang selalu seperti ini, membuat dengan cepat merasa kalah.
‘Ingat Raya, kamu sudah punya Kak Dio, jaga kesetiaan kamu.’ batinku dalam hati.
Sesekali Aku memperhatikan Bian yang terlihat semakin ganteng hari ini. Dia memakai celana jeans, kaos berwarna putih polos dan jaket. tampilan Bian benar-benar sempurna.
“Sebenarnya kedatangan Saya kesini karena memang ada sesuatu yang penting,” ucap Bian dengan wajah serius.
Mendengar ucapan Bian membuatku jadi semakin penasaran, kira-kira apa yang membuatnya menyempatkan diri dari kesibukannya untuk datang kesini. Aku melirik semua orang yang juga seperti merasakan atmosfer yang sama.
“Tentang?” pancing Ayah yang juga penasaran.
“Tentang kasus Ara kemarin.” Bian menatapku.
Aku kaget, jujur Aku sendiri sudah lupa tentang kasus itu. lebih tepatnya mencoba melupakan. Karena mengingat itu hanya akan membuatku terpuruk.
“Apa sudah ada kemajuan kasusnya?” Kak Niko juga ikutan serius.
Aku merasakan semua orang yang tadi santai dan tersenyum, sekarang wajah mereka terlihat tegang dan serius. Syahnaz menggenggam tanganku erat. Dia tahu kalau Aku sedang gugup.
“Pelakunya sudah ditemukan,” Bunda nggak mau kalah bertanya.
“Sabar Bun, kasih kesempatan Bian buat bercerita.” Ayah mencoba menenangkan istrinya.
Wajah Bian terlihat berat untuk mengatakan sesuatu. Dia terlihat menghela nafas panjang. Sesekali dia juga menatap ke arahku. Mungkin dia ingin memastikan apakah aku baik-baik saja mendengar ceritanya.
Aku tersenyum dan mengangguk ke arah Bian. Aku ingin menunjukan kalau Aku sudah siap mendengar penjelasannya.
“Alhamdulilah tim kami sudah mendapatkan titik terang tentang kasus Ara kemarin.” ucap Bian memulai penjelasannya.
“Dan sepertinya dari awal memang Naraya sudah dijadikan target oleh mereka.” imbuh Bian dengan menatapku.
“Jadi maksudnya memang mereka sengaja menculik Raya? bukan karena random ke peserta?” Ayah mencoba memperjelas.
__ADS_1
“Dari keterangan yang kami dapatkan. Memang mereka menargetkan Raya.” jelas Bian sambil menatap kami satu persatu.
“Jadi mereka memang punya masalah sama Raya?” Kak Niko ikut ngomong.
“Sebenarnya kasu yang dialami Raya ini bukan sekedar penculikan, tapi memang ada sesuatu yang besar dibalik ini.” terang Bian yang sepertinya berat untuk bercerita.
Aku rasakan tanganku sudah dingin berkeringat. Jantungku juga berdegup kencang karena penasaran. Tapi disisi lain Aku juga takut mengetahui kebenarannya. Aku merasa ada sesuatu yang nanti akan menjatuhkanku.
“Sebelumnya saya ingin tanya ke Ara, apa kamu kenal dekat dengan Safira?” tanya Bian dengan menatapku dalam.
Deg…
Ditatap seperti ini oleh Bian membuatku salah tingkah. Bukan karena apa, tapi Aku merasakan tatapan Bian lain. Dia menanyakan Fira, apa feelingku selama ini tentang Fira benar.
“Safira jombang kan?” Aku memperjelas.
“Iya,” sahut Bina.
“Ehm… Kita kenal 2 tahun yang lalu, saat itu kita dipertemukan di acara provinsi. Kita memang sering ngobrol, dan beberapa kali ketemu. Tapi paling sering memang kita hanya bertukar chat aja.” jawabku dengan jujur.
“Kalau masalah seingetku nggak pernah ada. Bahkan di acara kemarin kita baik-baik saja dan sekama. Kalau saingan, dulu emang kita bersaing jadi Kakang Mbakyu Jawa timur kan, Aku runner up dan dia harapan berapa gitu aku lupa.” Ceritaku.
“Mungkin itu jadi salah satu pemicu juga,” timpal Bian.
“Tapi itu sudah lama, Aku kelas 2 SMA kalau nggak salah,” elakku yang masih nggak percaya Fira terlibat.
“Jadi benar Fira juga terlibat? Fira itu yang pernah ketemu sama kita dulu kan Ray?” tanya Kak Niko.
“Iya kak,” jawabku yang sudah berkaca-kaca.
Sejak event pemilihan duta wisata jawa timur, au memang sudah dekat dengan Fira. Dulu pernah kita janji ketemuan di Tunjungan Plaza, kebetulan Aku sama Kak NIko, jadi Kak Niko juga kenal.
“Salah satu pelakunya memang Safira, dia jadi sasaran kami setelah Ara bercerita kalau Fira memintanya menemani ke toilet. Dari situ jelas Fira yang jadi target utama kami.” Terang Bian.
“Dugaan kami semakin kuat, karena ketika kami datangi rumahnya, Fira ternyata sudah pergi. Dan sejak itu dia dijadikan buronan oleh polisi.” Ucap Bian sambil menatapku.
__ADS_1
Aku sendiri sudah mulai menangis, rasanya masih belum menyangka. Fira yang selama ini selalu ceria, selalu berbagi cerita dan tawa denganku, ternyata bisa berbuat jahat kepadaku.
“Apa dia sudah ditangkap?” Kak Niko penasaran.
Bian mengangguk,” Setelah hampir satu bulan pencarian, dia ditangkap di daerah semarang. Dan dari keterangan yang di dapat polisi, Fira ini mempunyai dendam pribadi kepada Ara.” jawab Bian dengan wajah yang sulit Aku gambarkan.
“MasyaAllah Fira,” gumamku dengan menangis, jujur Aku masih syok.
“Untuk saat ini pihak kepolisian masih terus menginterogasi Fira dan pacarnya. Dan secepatnya pihak kepolisian juga akan memanggil Naraya untuk dijadikan saksi. Jadi saya pikir penting untuk memberitahukan kabar ini lebih dulu sebelum surat dari pihak kepolisian datang,” terang Bian.
“Jadi penculikan kemarin itu otak pelakunya si Fira itu?” Ayah ingin meminta penjelasan ulang.
“Ehm, sebenarnya bisa dibilang kalau Fira ini cuma dijadikan sebagai Pion atau pelaku yang disuruh.” ujar Bian dengan menatap kami bergantian.
“Jadi masih ada pelaku lain?” tanya Ayah yang mulai hanyut dalam masalah ini.
“Iya. Dan dia otak dibalik semua ini, tapi sampai saat ini baik pihak kepolisian atau dari Tim kami belum ada yang bisa menyentuh dia.” terang Bian dengan wajah merasa sangat bersalah.
“Bentar, maksudnya gimana ini? kok Om masih belum paham ya.” Ayah mencoba memperbaiki duduknya, dia seperti sedang gelisah.
“Iya Om, jadi dendam Safira ke Naraya ini dimanfaatkan oleh satu pihak. Dan pihak ini menggunakan masalah Fira demi satu tujuan yang lebih besar. Dan sepertinya orang itu salah target dan Raya yang jadi korbannya.” terang Bian.
“Bisa dijelaskan lebih lengkap Bian?” pinta Bunda yang dari tadi diam, tapi Aku yakin Bunda juga sedang tidak baik-baik saja.
“Iya tante.” ucap Bian sambil mengangguk, “Jadi sampai sekarang Fira dan pacarnya, atau cowok yang kemarin diceritakan Ara mukul kepala bagian belakangnya itu. Mereka dibayar oleh seseorang, Tapi orang yang membayar mereka itu sebenarnya juga orang suruhan.
Mereka menculik Ara karena berpikir hal itu bisa menjatuhkan target utama mereka.” terang Bian.
Aku semakin tidak paham dengan ucapan Bian, Aku pikir dendam Fira itu inti masalahnya, tapi nyatanya Bian bilang dibalik itu ada masalah yang lebih besar lagi.
“target utama? siapa target utama mereka?” Ayah penasaran.
“Assalamualaikum,” salam seseorang.
***
__ADS_1