APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 34


__ADS_3

Aku dan Kak Niko hari ini janjian bertemu dengan Bian di hotel tempatnya menginap. Kebetulan dia menginap di Lazard hotel, yang merupakan hotel keluarga kami. Rencananya kita akan membahas tentang proyek kerjasama mereka. 


Aku sendiri juga penasaran dengan proyeknya. Dan ternyata proyek membuat wahana sekaligus penginapan cukup menarik buatku. Dan kedepannya mereka memintaku untuk turut serta dalam proyek ini. 


Entah Aku yang GR atau memang Bian mempunyai perasaan lebih. Aku merasa dia selalu perhatian dan membuatku baper. Ditambah dengan godaan dari Kak Niko yang membenarkan kalau Bian memang ada rasa terhadapku. Sepanjang jalan kita berdua membicarakan tentang Bian. 


"Kak liat deh, itu kan… " Aku menggantung ucapanku sambil menunjuk ke satu arah. 


Terlihat Kak Niko mengikuti arah yang ku tunjukan, wajahnya langsung cuek. Disana terlihat Syahnaz sedang jalan bareng Riki, keponakan dari Nama tirinya, yang juga mantan Syahnaz waktu SMA. 


Syahnaz dan Riki ini temen sejak SMP, waktu mau masuk SMA mereka jadian, bahkan sampai Kelas 2. Tapi mereka baru tahu kalau ternyata masih saudara dari Mama tirinya. Karena entah alasan apa mereka berdua putus, tapi hubungan keduanya tetap baik, bahkan sering jalan bareng. 


"Kita samperin yuk kak," Ajakku. 


Kak Niko menoleh sekilas ke arahku, "Ngapain? Ogah!" tolak Kak Niko tegas. 


"Daripada dirumah nggak ada kerjaan, elo dari dulu sensi terus sama Riki," Ucapku menatapnya curiga. 


Sejak jaman sekolah dulu, Kak Niko memang selalu sensi ke Riki. Entah mereka berdua ada masalah apa. Setiap kali Aku nanya, dia nggak pernah jawab dan selalu ngeles. Aku sama Syahnaz sampai heran sendiri. 


Kak Niko terus melajukan mobilnya ke arah rumah. Kita berdua memang nggak ada rencana apa-apa lagi. Jadilah weekend kali ini kita habiskan dirumah saja, lagian Aku juga capek. 


***


"Beb, hari sabtu Aku pengen seharian sama kamu, kalau bisa sampe malam. Mau ya," Ucap Kak Dio saat kita lagi pulang bareng. 


Aku menatapnya, "tumben, kenapa?" Heran ku. 


"Kebetulan hari itu kita sama-sama kosong, nggak ada kegiatan, dan Aku udah siapin sesuatu," ujarnya penuh rahasia. 


"Apa sih?" Aku jelas penasaran. 


"Udah pokoknya kamu harus luangin waktu, batalin semua janji kamu hari sabtu. Pokoknya Aku udah booking kamu mulai pagi sampai malam." Tegasnya. 


Aku manyun, "Emang Aku cewek bookingan,"


"Hahaha… gemesh deh," Kak Dio mencubit mulutku yang daritadi manyun. 

__ADS_1


Hari berlalu begitu cepat, dan sekarang sudah hari sabtu pagi. Hari dimana Aku dan Kak Dio berencana jalan mulai pagi. Jauh-jauh hari Kak Dio sudah meminta ijin ke Bunda dan Ayah, bahkan ke Kak Niko. 


Seperti biasanya Kak Niko menanggapinya dengan cuek. Dia nggak memberi jawaban, tapi yang ada malah mengancam Kak Dio. Aku sampai geleng-geleng dengan tingkah Kakak gantengku ini. 


"Kamu bawa baju ganti kan?" Tanyanya. 


"Iya," Jawabku. "Kita mau kemana sih Kak? Aku nggak salah kostum kan?" 


"Enggak Beb, Ehm, sebenarnya Aku mau ngajak kamu ke Batu," Ujar Kak Dio yang masih fokus nyetir. 


"Hah? Batu Malang?" tanyaku kaget. 


"Iya mangkanya Aku ngajak pagi jalannya, jadi kita bisa puas main disana," Ujarnya semangat. 


Aku menelan saliva kasar, entah kenapa mendengar nama Malang pikiranku langsung tertuju ke Bian. Bagaimana kalau disana nanti Aku ketemu sama dia, pikiranku jadi macan-macam. 


"Beb? Kenapa? Kamu nggak suka Aku ajak kesana? Atau kita balik aja mumpung belum masuk tol?" Tanya Kak Dio yang melihatku tidak ada respon. 


"Hah? Nggak apa-apa kok Kak, Aku nggak ada masalah kalau kesana, hayuk aja," Kataku dengan tersenyum. 


Kak Dio tersenyum dan mengusap kepalaku sayang. Aku juga membalas senyumannya. Kalau dipikir kenapa Aku mikirin Bian, kalau misal nanti disana ketemu, ya biarin aja. Kenapa Aku merasa seperti sedang selingkuh, jelas-jelas Kak Dio pacarku, Aku dan Bian juga tidak ada hubungan apa-apa. 


Sampai disana kita langsung ke Jawa Timur Park 2, secret zoo. Disana ada sebuah kebun binatang dan wahana permainan. Aku belum pernah kesini, jadi rasanya benar-benar menyenangkan. Apalagi bisa kesini bareng sama Kak Dio. 


Puas main di sana, Kak Dio mengajakku melipir ke Paralayang. Jadi kita naik ke gunung Banyak, menggunakan mobil. Disana kita bisa melihat view Kota Batu dari atas ketinggian, walaupun yang terlihat hanya bangunan seperti miniatur kota. Disana juga ada olahraga paralayang. 


"Naik paralayang yuk," Ajak Kak Dio ngotot. 


"Nggak Mau! Kakak aja yang naik. Aku bayangin aja udah merinding," Tolak ku yang memang takut. 


Dan Akhirnya Kak Dio juga nggak jadi naik, dia lebih milih menemaniku dan berfoto ria. Ternyata disana juga ada rumah pohon. Aku bayangin gimana rasanya menginap di tengah hutan di atas pohon. Meskipun fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap tapi tetap saja rasanya horor. 


Pulang dari paralayang, Kak Dio mengajakku mampir ke Villanya. Aku baru tahu kalau keluarga Kak Dio punya villa di Batu. Di sana kita cuma menumpang mandi dan makan malam. 


"Seneng?" Tanya Ka Dio di sela makan malam kami. 


"Iya," jawabku. 

__ADS_1


Hari ini Aku puas jalan bareng sama Kak Dio, cuma berdua. Dan nggak ada yang ganggu kita. Perhatiannya hanya tertuju padaku. Aku merasa semakin dekat dan sayang padanya. Kita ngobrol, main dan tertaaaaaaaw bersama, rasanya begitu menyenangkan.


“Capek?” tanyanya dengan merapikan rambutku.


“Capek tapi seneng,” jawabku dengan tersenyum lebar.


Dia ikut senyum, “Mau lanjut atau langsung balik aja?” tanyanya lagi.


Aku membenarkan duduk, “Mau lanjut kemana?”


“Ada Batu night Spectacular atau kita bisa ke Malang Night Paradise, gimana?” ajaknya yang terlihat semangat.


“Kalau BNS Aku udah pernah, Ke Malang Night Paradise aja ya,” jawabku.


“Boleh.” jawabnya.


Dan kita berdua kembali lanjut jalan ke Malang Night Paradise, menikmati suasana romantis disana. Kak Dio benar-benar mewujudkan suasana kencan yang berbeda. Seharian ini dia menuruti semua keinginanku. Dia selalu memanjakanku.


Puas jalan-jalan, kita berdua langsung lanjut balik pulang ke Surabaya. Karena kecapekan sepanjang jalan pulang Aku memilih untuk tidur. Membiarkan Kak Dio berjuang menyetir sendirian.


“Beib, bangun.” 


Samar kudengar Kak Dio membangunkanku. Dia mengusap pipiku lembut, terus mencoba membangunkanku dengan cara yang halus. Perlahan Aku membuka mata dan melihat dia tersenyum manis padaku.


“Udah sampai?” tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur, “Maaf Aku ketiduran.” Aku membenarkan posisi dudukku. Pasti sekarang wajahku jelek sekali.


“Nggak apa-apa, Kamu capek banget ya? Maaf seharian ngajak kamu jalan.” ucapnya dengan menggenggam tanganku.


“Nggak apa-apa dong Kak, Aku malah seneng banget bisa jalan berdua sama kakak,” ucapku tulus.


“Ray, Aku bahagia banget hari ini, terimakasih kamu sudah nemenin Aku.” ujarnya dengan menatapku dalam.


“Iya Kak, sama-sama,” jawabku.


“Aku sayang banget sama kamu,” ucapnya dengan mencium tanganku.


Kak Dio mencium tanganku cukup lama, dia sama sekali tidak melepas pandangan mata kami. mataku juga seperti terkunci oleh tatapannya. Wajah Kak Dio mendekat ke wajahku, jantungku berdetak tidak karuan. Aku seperti paham alur ini, bibirnya semakin mendekat, dan…

__ADS_1


Tok… tok… tok…


***


__ADS_2