
Badanku mendadak gemetar, dadaku terasa sesak. Tiba-tiba muncul ketakutan yang tidak biasa. Aku memang orangnya parnoan, ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan badanku akan mendadak linglung. Belum sampai Aku bisa menetralkan hati dan pikiranku, pintu kamar terbuka.
Terlihat Bu Minah dan Bu bidan di ambang pintu, dan ada seorang laki-laki yang menyeruak diantara mereka. Bian, itu Fabian. Aku langsung menangis ketika melihat dia berada disini dengan pakaian dinasnya.
Bian minta ijin untuk masuk dan mendekat ke arahku. Cowok itu terlihat trenyuh melihat kondisi ku. Dia duduk di samping ranjang, kedua mata kami terus bertemu.
"Ra," Panggilnya yang terdengar begitu lembut ditelingaku.
Aku langsung memeluk Bian tanpa ragu, Aku menangis didadanya. Bian membalas pelukanku. Dia mengusap punggungku untuk menenangkan.
"Kamu nggak papa?" Tanyanya.
"Aku takut," Lirih ku.
"Ada Aku Ra, Kamu aman sekarang," ujarnya kurasakan bibir seksi Bian mencium kepalaku beberapa kali.
"Maaf karena Aku tidak dilokasi saat kamu mengalami hal ini." Bian merasa bersalah.
Ada perasaan hangat dan nyaman disana. Kehadiran Bian seperti sebuah lentera bagiku. Bian terus memberi sugesti padaku, dia menyalurkan kekuatan dengan ucapan. Perlahan Aku melepas pelukannya.
"Terimakasih sudah mau datang," Ucapku dengan menatapnya.
Bian mengusap air mata yang tersisa di pipiku, dia tersenyum begitu manis.
"Itu sudah kewajibanku Ra, makasih kamu inget buat hubungi Aku." Bian membenarkan rambutku dengan mata kami yang terus bertautan.
"Ehm… " Deheman Bu Minah membuyarkan semuanya.
Aku dan Bian sama-sama menoleh, ternyata diluar sana sudah ada beberapa warga yang semalem membantuku. Bian memapahku untuk berjalan keluar.
Cukup lama kita berbincang disana. Di depan Bian dan semua orang Aku menceritakan kejadian kemaren. Bian terus menggenggam tanganku. Pegangannya semakin erat ketika Aku cerita tentang kepalaku yang dipukul dan pingsan. Ku lirik rahang Bian mengeras.
"Saya pamit dulu, terimakasih sudah menolong saya, saya tidak Akan melupakannya. Bu Minah… " Aku menggantung ucapanku dan langsung memeluk perempuan paruh baya yang daritadi menangis.
"Terimakasih Bu sudah menemukan dan menolong saya… " Ucapku kembali menangis.
"Sama-sama Mbak, Mbak Nara harus jaga diri, baik-baik ya Mbak disana, semoga tidak ada lagi orang jahat yang berniat buruk ke Mbak Nara." Doanya tulus.
"Aamiin"
Setelah perpisahan yang haru itu Aku naik ke mobil Bian. Ternyata dia bersama seorang laki-laki yang umurnya mungkin sebaya. Dia yang membawa mobil, sedangkan Bian menemaniku duduk di mobil belakang.
"Sak, kamu udah rekam pernyataan Ara dan warga tadi?" Tanya Bian ke temannya.
"Aman." Sahut cowok yang duduk di depan.
"Selidiki tanpa tahu orang luar, kita harus nemuin pelakunya. Feelingku ini udah direncanain. Lokasi tadi sangat jauh villa" Perintah Bian.
__ADS_1
"Siap." Sahut cowok itu.
"Dia Sakti, sahabat sekaligus orang kepercayaan ku." Bian mengenalkan.
Aku menggangguk dan tersenyum tipis ke Sakti. Aku kembali menoleh ke Bian.
"Menurut kamu orang itu emang udah rencana buat nyelakain Aku?" Aku masih belum percaya.
"Iya, kamu bilang pergi sama temen kamu kan? Tapi tidak ada peserta lain yang hilang, cuma kamu. Dan tidak ada yang tahu saat kamu pergi." Jelas Bian.
"Hah? Tapi Fira bilang dia sudah ijin ke panitia." Heran ku sambil terus menatap Bian.
Dia mengangguk, "Sakti selidiki juga Safira, dia dari Jombang. Retas ponselnya, cari tahu kemaren dia komunikasi dengan siapa saja." Titah Bian.
"Siap."
"Kita kerumah sakit dulu?" Bian menawari.
"Enggak,kemarin udah diperiksa bidan." Jawabku.
Seperti kata Bu Minah, perjalanan ke kota lumayan cukup jauh, tempat tadi benar-benar pelosok. Untuk komunikasi pun sulit. Aku tidak bisa bayangin kalau sampai waktu itu tidak bertemu Bu Minah, mungkin Aku matipun mayat ku tidak ketemu.
"Istirahat sini, ini masih lama," ujar Bian lembut sambil menepuk bahunya.
"Ehm, Pak bos curi kesempatan," sindir Sakti.
"Berisik!" Seru Bian dengan melengos.
"Ra, bangun dulu… " ucap Bian sambil menepuk pipiku pelan.
Perlahan Aku membuka mataku, dan orang pertama yang Aku lihat adalah Bian. Dia tersenyum ke arahku, tangannya mengusap pipiku lembut. Aku mulai menegakkan badanku.
"Bangun dulu, Mamaku ngotot nyuruh kamu makan dirumah. Mau ya, mampir sebentar." Ucapnya dengan suara lembut.
Aku celingukan, Sakti sudah tidak ada di kursinya, dan kulihat kita sekarang sedang berada di sebuah rumah minimalis yang cukup mewah.
"Tapi nanti kamu anterin aku pulang kan?" Tanyaku dengan penuh harap.
"Pastilah," Dia mengacak rambutku.
Bian menuntunku untuk masuk kedalam rumahnya. Ada beberapa orang seperti bodyguard yang berjaga disekitar rumah Bian, mereka semua menunduk ke Bian dengan hormat. Bian langsung mengajakku untuk masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum," Salam Bian waktu masuk rumah.
"Waalaikumsalam, MasyaAllah… ini yang namanya Naraya? Cantik sekali, kamu tidak apa-apa sayang?" Wanita paruh baya yang Aku perkirakan adalah Nama Bian menyambutku.
Aku salim ke beliau, beliau langsung cipika cipiki dan langsung memelukku. Mengusap punggungku.
__ADS_1
"Bagaimana, ada yang sakit?" Mama Bian terlihat khawatir.
"Tidak apa apa tante, Alhamdulillah saya baik-baik saja," ujarku mencoba sopan.
Tak lama seorang anak gadis yang mungkin masih SMA keluar, dia juga langsung berlari ke arahku.
"Ini kakak yang hilang? Alhamdulillah, Aku sama Mama ikut khawatir lo kak." Cewek itu terlihat heboh.
"Fio, coba kamu ajak kak Raya istirahat dulu." Perintah Mama Bian.
Aku melirik ke Bian, cowok itu tersenyum dan mengangguk mengerti maksudku.
"Ma, kita langsung makan aja ya, Ara cuma mampir buat makan malam, dia ingin langsung pulang ke Surabaya." Bian memberi tahu Mamanya.
"Loh nggak nginep? Yakin udah kuat sayang?" Tanya Mama Bian dengan mengusap lenganku.
"Sudah tante."
Akhirnya kita berempat makan malam bareng, selama makan mereka sama sekali tidak menanyakan tentang kejadian kemaren, mungkin mereka merasa itu akan menambah bebanku. Saat makan lebih banyak diisi dengan perdebatan antara Bian dan Fiola, adiknya.
"Raya, kamu yang kuat ya, sabar. Jangan diinget lagi kejadian kemaren. Lupakan, InsyaAllah sekarang sudah aman. Jangan sampai ada trauma. Pilih orang yang tepat untuk berbagi keluh kesah. Kamu sudah hebat sayang." Pesan Mama Bian sambil mengusap rambutku.
"Iya, makasih tante." sahutku.
Mama Bian langsung membawaku dalam pelukannya. Beliau menangis, Aku jadi ikutan menangis. Pamitan seperti ini yang Aku gak suka, jadi sedih.
Setelah berpamitan dengan keluarga Bian, Aku melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Kali ini Sakti ditemani satu orang lagi, sedangkan Bian masih setia duduk disebelahku. Ketiga cowok ini saling bercanda seperti sahabat biasa, tidak ada perbedaan level atau jabatan. Dan ternyata Bian cukup jahil dan konyol juga, nggak sekali bayanganku.
"Ra, kepulangan kamu ini gak aku sebarin. Tadi Sakti cuma menghubungi orang tua kamu, mereka sudah menunggu dirumah. Untuk sementara kamu jangan pergi sendirian. Kita belum tahu motif orang ini, memng sengaja nargetin kamu, atau random. Dengan tujuan ngancurin event kemaren." Terang Bian dengan hati-hati.
"Iya."
"Saya mewakili teman-teman yang lain minta maaf, karena kamu sampai mengalami kejadian seperti ini. Kami siap kapanpun kamu butuhkan. Dan kami juga akan mengawal kasus ini sampai tuntas," ujar Bian dengan tulus.
"Makasih, untuk saat ini Aku masih belum bisa mikir." Aku memang masih bingung kudu gimana.
"Kamu gak perlu mikir apa-apa, sudah ada tim sendiri untuk masalah ini. Yang penting kamu sehat, dan jaga diri baik-baik. Hubungi Aku kalau perlu bantuan." Bian kembali mengingatkan.
"Kalau mau curhat sama Pak Bian juga boleh. Jomblo dia," Sahut Sakti.
"Hussh gak sopan! Tapi kalian berdua emang cocok sih," Imbuh teman satunya.
"Jangan dengerin mereka Ra… Ara ini udah punya pacar, saya sudah kalah sebelum berperang." ucap Bian yang membuatku tersenyum samar.
"Tikung pakai jalur Langit dong Bos," sahut Sakti.
"Setuju, saya bantu kasih doa, nanti saya bilangin Bu bos deh, beliau kayaknya juga udah sreg sama Mbak Nara, doa Bu bos kan manjur." Kata temannya.
__ADS_1
"Udah udah, kalian hobi sekali mempermalukan saya." Geram Bian.
***