APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 21


__ADS_3

Hari-hariku semakin berwarna, kejadian penculikan itu memang sebuah musibah yang siapapun tidak akan pernah mau mengalaminya. Begitu juga dengan Aku, kejadian buruk itu membuatku jadi lebih waspada dan selektif dalam memilih teman.


Fira, temanku dari jombang, sejak awal bertemu kita memang langsung akrab. Dia termasuk cewek supel yang enak diajak ngobrol. Sudah cukup lama Aku mengenal dia, selama itu pula tidak ada hal mencurigakan atau keburukan yang dia lakukan, semua berjalan baik-baik saja.


Tapi kejadian kemarin membuatku berfikir, Jelas Fira yang memintaku untuk menemaninya ke toilet. Tapi kenapa hanya Aku yang mengalami kejadian itu, sedangkan Fira kembali ke pantai dengan biasa. Bahkan dia terang-terangan bilang kalau tidak melihatku.


Hal itu sudah Aku sampaikan ke Bian, dan Aku dapat info dari Kak Niko kalau saat ini Fira nggak kedengeran kabarnya, alias dia menghilang. sepulang dari event waktu itu, Fira pamit ke orang tuanya kalau dia ada urusan keluar kota. Tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya, bahkan nomornya tidak bisa dihubungi.


Bian berpesan padaku untuk lebih hati-hati karena sampai saat ini pelaku belum ketemu. Keluargaku sekarang juga lebih protek, Aku diberikan supir pribadi, tidak boleh kemanapun tanpa ada yang menemani.


Tapi yang bikin Aku bahagia, Kak Dio sekarang jadi lebih perhatian. Setiap hari dia akan antar jemput Aku. kalau lagi senggang dia juga milih menemaniku. Aku jelas kaget, Kak Dio itu orang super sibuk di organisasi, tapi sekarang keliatan bucin banget ke Aku.


“Beib, nanti jalan yuk!” ajak Kak Dio saat kita berangkat ke kampus.


“Kakak nggak sibuk?” tanyaku ngerasa nggak enak.


“tenang, Aku juga lagi bosan butuh hiburan.” ujarnya beralasan.


“Tapi entar Aku di demo sama temen-temen kakak,” rajukku dengan bibir manyun.


“Enggak kok, apa urusan mereka, Aku yang tanggung jawab, mau ya?” pintanya dengan wajah melas.


“Iya mau,” jawabku semangat.


Memang tidak ada teman kak Dio yang protes ke Aku secara langsung. Tapi Aku pernah dengar selentingan, teman-teman kak Dio protes karena sekarang cowok itu jarang ngumpul di sekretariat BEM, diajak nongkrong juga jarang bisa. Kemana-mana selalu sama Aku. 


Aku malas nanggepin hal nggak penting kayak gitu, cuma kadang kalau ketemu sama temen Kak Dio dan wajah mereka kelihatan sinis ke Aku jelas bikin Aku kesel dong. Apalagi teman-teman yang cewek, pengen Aku jambak aja rambutnya.


“Kak Selly tuh naksir ya sama Kak Dio?” tanyaku saat kita lagi makan di foodcourt salah satu mall.


Kak Dio mengernyit, “Selly? nggak dong Beib, dia sahabat aja, kita sekelas sejak semester pertama, kebetulan sama-sama di organisasi jadilah kita deket.” 


“Yakin? tiap kali ketemu dia sinis gitu ke Aku.” pancingku.


Selly ini memang teman dekat Kak Dio, tapi yang Aku dengar dia sebenarnya naksir Kak Dio, mereka terjebak di friendzone. aku sendiri memang nggak suka ke dia, sejak Aku dekat dengan Kak Dio dia selalu menatapku sinis. Dan Aku ngerasa dia seperti sengaja bikin Kak Dio sibuk biar kita jarang ketemu. Secara nggak langsung dia mau menguasai pacarku, enak aja.

__ADS_1


“Selly emang kayak gitu Beib, kalau nggak kenal mikirnya dia sinis, tapi dia baik kok, baik banget malah, suka ngerjain tugasku,” jawab Kak Dio sambil nyengir.


Aku mencibir, “Dia bantuin kamu karena ada maunya, dia suka tuh sama kamu ” sindirku dengan bibir mengerucut.


Kak Dio terkekeh, “Pacar cantikku kenapa sih? cemburu?” Kak Dia meremas bibirku gemas.


“Iyalah, siapa yang gak cemburu, sebagai teman dia itu terlalu menguasai kamu tau nggak. Apalagi kalau tau kamu bakal jalan sama Aku kayak tadi. Ada aja caranya bikin kamu sibuk.” Aku mulai mengeluarkan uneg-unegku.


Kak Dio tersenyum, “Tadi itu emang rencananya kita mau cari bahan buat tugas Beib, Aku yang lupa.”


“Ck! bela aja terus.” Kesalku.


“Udah dong Beib, yang penting kan sekarang Aku jalan sama kamu.” Kak Dio mencubit hidungku,


“Awas aja kalau dia telpon terus nyuruh kamu nemuin dia kayak biasanya, dan kamu turutin. Aku bakal marah!” ancamku.


Kak Dio tertawa, “Iya Beib. Owh iya Mama nanyain kapan kamu bisa main kerumah.”


“Uhuuk… kerumah kamu?” Aku yang kaget sampai terbatuk.


“Aduh, Aku kok jadi adem panas dingin Kak,” kataku lebay.


“Apa Sih, cuma disuruh main kerumah Beib, bukan disuruh nikah.” kelakar Kak Dio yang bikin Aku senyum.


Seperti janjinya, Kak Dio hari ini menemaniku seharian penuh. Kita berdua nonton, belanja dan main di gamezone. Hari ini kita melakukan banyak hal bareng-bareng. Dan Aku juga jadi tahu Kak Dio lebih banyak. 


Sebenarnya tadi beberapa kali Selly menghubunginya, tapi Aku menyuruhnya untuk tidak menggubris. Alhasil Kak Dio milih silent ponselnya, dan hanya memperhatikanku. Bodo amatlah kalau dibilang Aku pacar posesif. Pacar model Kak Dio kalau nggak diginiin bahaya, Pelakor dimana-mana, mereka pada ganas semua.


“Makasih buat hari ini,” ucapku saat mobil Kak Dio berhenti di depan rumah.


“Sama-sama Beib, seneng nggak?” tanya Kak Dio dengan merapikan rambutku.


“Seneng,” jawabku dengan malu-malu.


Kak Dio terkekeh, “Aku juga seneng bisa sama kamu terus, kayaknya kita harus sering kencan deh. Mau?" Tanya kak Dio dengan mengusap pipiku. 

__ADS_1


"Mauuu," Jawabku semangat. 


Kak Dio tertawa, "Kalau Aku mulai sok sibuk ingetin ya." Kak Dio tersenyum. 


"Siap Kak." sahutku. 


"Ck, kamu tuh panggil Kak terus, kasih panggilan sayang dong." Sindirnya.


"Iya Beib," Ucapku malu-malu. 


"Pinter," Ujarnya sambil mengacak rambutku. 


"Yaudah turun gih, udah malam." Kata Kak Dio. 


"Aku diusir," Aku mencebik. 


"Hahaha." Kak Dio tertawa. 


Saat Aku membuka pintu mobil, kak Dio menahan tanganku. Aku kaget dan langsung menoleh. Rasa kaget ku semakin bertambah ketika bibir Kak Dio mencium pipiku. 


Blussh… 


Pipiku langsung merona. Kita berdua saling tatap. Aku bahagia, tapi juga malu. Kak Dio merapatkan bibir dan mengusap tengkuknya. 


"Mimpi indah," Pesannya. 


Aku hanya mengangguk dan langsung turun dari mobil. Jantungku sudah nggak karuan, badanku seperti terbakar, keringetan nggak jelas. Saat Aku menutup gerbang mobil Kak Dio baru pergi. 


Aku melangkah cepat dengan memegang pipi yang tadi di sosor Kak Dio. Aku tersenyum sendiri. Mataku tertuju ke mobil yang parkir di halaman. Aku tidak mengenal mobil itu. 


Sama-samar dari ruang tamu Aku mendengar suara orang bercanda. Aku semakin menajamkan pendengaran kurang. 


Mataku membola, Aku mulai mengenal suara itu. Suara yang sering Aku dengar tapi sulit Aku jangkau. Kini dia datang kesini. Aku tersenyum lebar, dan langsung berlari masuk ke dalam rumah. Aku berhenti di pintu, menetralkan nafas dan terus melihat tamu yang sedang ngobrol dengan Kak Niko, Bunda dan Ayah. 


"Nah ini yang dari tadi kita tunggu," Seru Ayah saat melihatku. 

__ADS_1


***


__ADS_2