
Siang ini Aku berdandan lain dari hari-hari biasanya. Aku ingin tampil beda, biasanya kalau ke kampus Aku lebih suka memakai celana jeans dan kemeja, tapi sekarang Aku sengaja pakai gaun yang ditutup blazer.
Meskipun Aku tidak memakai make up seperti kebanyakan teman yang lain tapi Aku yakin penampilanku sudah mencuri perhatian.
Bunda dan Kak Niko yang lagi santai di teras aja sampai kaget dengan penampilanku. Aku tersenyum sangat manis ke arah mereka berdua.
"Tumben?" sindir Niko.
"Iya dong, dahlah Kak Niko gak paham." Ucapku dengan mengibaskan rambut hitam legam ku.
"Gaya lu!" Semprot Kak Niko dengan mendorong bahuku.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari arah luar.
Aku tersenyum lebar ketika cowok itu datang, dan ku akui pagi ini dia terlihat begitu mempesona. Pasti Syahnaz nih yang udah ngatur semuanya. Dia memakai celana jeans, kemeja lengan panjang yang kancingnya terbuka semua, serta dalaman kaos putih polos.
"Waalaikumsalam," Jawab kita semua.
"Ngapain lo kesini," Selidik Kak Niko menatap heran ke Bara.
"Mau jemput kesayangan gue dong," jawab Bara dengan tersenyum jahil ke Niko.
Kak Niko langsung menoleh ke arahku, Aku tertawa melihat kakakku itu yang terlihat kaget serta bingung.
"Nggak ada akhlak emang kalian berdua," Seru Niko sambil berkacak pinggang.
"Hahaha… Bunda Aku berangkat dulu ya," pamit ku dan langsung salim, tak lupa kucium pipi kanan kiri Bunda.
"Berangkat sama Bara?" Bunda kembali memastikan.
"Iya Bunda, saya pinjem anaknya ya, mau bikin rusuh dulu di kampus orang," jawab Bara yang mengikutiku salim ke Bunda.
Aku dan Bara ketawa denger protesan dan Bunda dan Kak Niko. Kita berdua milih langsung pergi dan tidak menanggapi omongan mereka.
"Ck,lo pacaran sama gue aja lah Ray, gue gak rela elo pacaran sama cowok itu," celetuk Bara saat kita dalam perjalanan ke kampus.
"Dih ogah! Senyebelinnya Kak Dio, gue tetep sayang sama dia, lo tau kan dia gebetan gue sejak lama," Aku membela diri.
"Iya, tapi kalau ujungnya elo sakit hati terus, kenapa dilanjut, buang-buang energi," sindir Bara.
__ADS_1
"Sialaan! Terus gue kudu gimana?" tanyaku sambil ninju lengannya.
"Jangan pacaran deh, entar langsung nikah aja," Bara mulai mengomporiku.
"Ck, omongan lo udah kayak Kak Niko aja, kalian sekongkol ya?" Kesalku.
"Iyalah, itu karena kita sayang peduli sama elo," Bara masih kekeh.
"Nggak, gue yakin sih kalau Kak Dio ini beda, kita juga udah punya misi sampai ke jenjang pernikahan kok, cuma emang ada ulat bulu nih yang suka nempel ke cowok gue." Aku mengepalkan tangan.
"Terserah dah, awas aja tuh cowok kalau bikin elo sakit hati terus, gue sama Niko bakal habisin dia," ancam Bara.
"Posesif," Cibir ku dengan menatap kesal ke Bara.
Bara mengarahkan mobilnya ke parkiran Cafe yang berhadapan dengan gerbang kampusku. Dari info yang Syahnaz beri saat ini Kak Dio dan teman-temannya sedang di Cafe itu.
Bara keluar lebih dulu dari mobil, aku yakin mobil sport mewah yang jarang keluar dari garasi keluarga Adijaya ini menarik perhatian penghuni Cafe yang kebanyakan anak kampusku.
"Tuh cewek ulat bulu matanya bisa juling kalau liatnya model gitu," Gumamku dengan senyum sinis saat radarku menangkap Selly memperhatikan Bara.
"Silahkan cantik," seru Bara sambil mengulurkan tangan.
Bara tersenyum sangat manis, kalau nggak inget gimana hinanya nih cowok, Aku pasti juga masuk perangkapnya. Setelah Aku keluar dari mobil, Bara tiba-tiba merapikan rambut yang menutupi wajahku.
"Jangan baper," Cibir Bara.
"Rugi banget baper ke elo," balas ku pelan tapi dengan tersenyum lebar.
"Cowok lo ada nggak, gue nggak sabar mau adu bacot sama dia," Ujar Bara sambil mencondongkan badannya ke arahku.
Kita berdua terus ngobrol, yang kita obrolin cuma hal-hal sepele, tapi Aku yakin siapapun yang melihat kita pasti mengira kalau kita sepasang kekasih. Aku udah nggak sabar melihat Kak Dio terbakar.
"Beib… " panggil Kak Dio dari arah belakangku, aku tersenyum miring. Pertunjukan dimulai.
Aku menoleh dan tersenyum manis, "Kak Dio, kok disini? Katanya mau rapat?" sindirku.
"Iya, anak-anak ngajak rapat disini," jawabnya, "Siapa?" tanya Kak Dio dengan melirik Bara.
"Temanku," jawabku santai. "Kenalin dong, Bara ini Kak Dio, dan Kak Dio ini Bara temanku sejak SMA,"
__ADS_1
Kedua cowok itu saling berjabat tangan, tatapan keduanya terlihat sengit, ada aura permusuhan disana. Aku juga melihat kalau Kak Dio sangat kesal dan menahan emosi.
"Ray, Aku mau ngomong," ucap Kak Dio sambil pegang tanganku memberi kode kalau mengajakku pergi.
"Ngomong disini aja Kak, Bara orangnya santai kok." Aku berusaha meniru ucapan dan tingkah Kak Dio dan Selly.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau mau kesini? Kan bisa Aku jemput nggak perlu sama dia." Kak Dio mulai mengungkapkan unek-unek nya.
"Yakin? Bukannya tadi Kak Dio bilang hari ini sibuk banget nggak bisa ketemu apalagi jemput Aku." serang ku.
"Iya, tapi kamu nggak bilang kalau mau sama dia," Kesal Kak Dio.
"Aku kan udah bilang mau jalan dan ketemu sama temen, temenku ya Bara ini." Aku masih berusaha santai.
"Tapi dia cowok Ray," ucap Kak Dio menekan ucapannya.
"Emang kenapa? Kak Dio juga suka jalan sama Selly, bahkan setiap hari, kedoknya aja ngerjain tugas atau urusan organisasi." sindirku.
"Aku sama Selly beda dong Ray." Sentak Kak Dio mulai emosi.
"Apa bedanya? Aku cuma sekali jalan berdua sama Bara karena dia kuliah di luar kota, sedangkan Kakak?" Aku balas emosi.
"Egois!" Celetuk Bara, singkat tapi ngena.
"Elo jangan ikut campur," Seru Kak Dio dengan menatap Bara tajam.
"Gue punya telinga, dan Raya ini sahabat gue, masalah yang kalian debatkan juga ada sangkut pautnya sama gue, jelas gue ikut campur," Ucap Bara terlihat tenang tapi mematikan.
"Lo bisa kan diam aja," Sentak Kak Dio.
"Nggak bisa, sebelum Raya kenal sama elo gue udah kenal dia duluan. Gue nggak rela kalau sahabat gue diginiin. Sadar nggak lo sebagai cowok lo itu egois, pengecut!" balas Bara masih dengan gaya tenangnya.
"Diam ya bacot lo! Kalau elo nggak tau apa-apa mending diam!" Kak Dio menatap tajam ke Bara.
Bara tersenyum remeh, "Gue emang gak tau, lo harusnya bersyukur selama ini Raya diem punya cowok model kayak elo, sekali aja gue liat, gue udah tau seberapa egois dan arogannya elo, harusnya lo sadar Raya diem karena dia nganggep elo pacar yang dia sayang, kalau Niko tau gue yakin sih lo bakal habis ditangan dia" sindir Bara.
"Dio… "
***
__ADS_1