APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 41


__ADS_3

Siang ini Aku sudah tersenyum lebar ketika tau kalau Kak Dio datang ke rumah. Aku ingin menjelaskan semuanya. Tapi saat ngobrol ternyata Kak Dio malah bahas yang lain dan ngajakin debat. 


Padahal saat kondisi ku kayak gini Aku pengennya diperhatikan dan dimanjain sama Kak Dio. Kalau seperti ini yang ada Aku makin emosi dan bisa-bisa Aku drop lagi. 


"Lagian Kak Dio datang kesini cuma mau marahin Aku doang? Nggak nanyain gimana kondisiku, nggak nanyain gimana perasaanku setelah kejadian kemarin, kakak sama sekali nggak ada perhatiannya ke Aku," Sentakku yang udah terlanjur emosi. 


Kak Dio menatapku, dia terlihat serba salah. Dia langsung menunduk dan menghela nafas. 


"Bukannya Aku nggak perhatian ke kamu, Aku khawatir ke kamu. Kamu boleh tanya ke Bunda, gimana Aku selalu telpon beliau, tiap hari nyempetin kesini. Tapi jujur Aku masih kesal, ditambah kamu juga nggak mau ngangkat telpon Aku." Kak Dio mulai sedikit merendahkan nada bicaranya. 


"Aku emang udah kebiasaan gitu kak kalau sakit, maaf." Cicit ku merasa bersalah. 


"Tadi Aku masih kebawa suasana yang kemarin aja, Aku cemburu denger pacarku deket sama cowok lain." Kak Dio menatapku dalam. 


"Iya maaf, Aku beneran nggak ada hubungan apa-apa sama dia." Aku mencoba jujur. 


"Beneran? Jangan bohongin Aku, Aku sayang sama kamu," ucap Kak Dio sambil menggenggam tanganku. 


"Beneran kak, Aku juga sayang sama kakak," Sahut ku dengan menatapnya. 


Kak Dio tersenyum, dia mengusap pipiku. "Sekarang gimana badan kamu? Masih ada yang sakit?" tanyanya lembut. 


"Udah mendingan. Maaf kemarin-kemarin nggak nemuin Kakak," Ucapku. 


"Iya, Bunda cerita kok kalau kamu pengen nenangin hati dulu." Kak Dio terus menatapku bikin salah tingkah. 


"Aku seneng Kak Dio datang kesini, Aku kangen diperhatiin dan dimanjain sama kamu." Aku mencoba jujur dengan perasaanku. 


Kak Dio terkekeh, "Iya, maaf ya tadi marah-marah," ucap Kak Dio sambil mengusap rambutku. 


Aku tersenyum lebar, Aku suka Kak Dio sudah berubah. Biasanya kalau dia emosi, sudah banget nurunin ya. Tapi sekarang dia sudah mulai menahan. Mungkin ini yang dimaksud Mama Kak Dio waktu itu, kalau sekarang dia sudah mulai banyak berubah. 


"Nempel terus," sindir Kak Niko.

__ADS_1


Aku baru saja mengantarkan Kak Dio pulang. Sejak siang tadi Aku memang berduaan terus sama dia di gazebo depan. Bahkan kita berdua makan pun disana. Rasanya seperti mau menebus waktu yang hilang kemarin. 


"Syirik aja sih," sahutku sambil duduk di sampingnya. 


"Lo gak mau ngobrol sama Bian? Dia nanyain terus tuh," pancing Kak Niko. 


"Ck, udah deh nggak usah ngomongin dia. Aku malas, Aku tadi sempat tengkar sama Kak Dio karena masalah kemarin. Dan Aku nggak mau gara-gara cowok itu Aku jadi tengkar lagi." Aku memberi pengertian ke Kak Niko. 


"Tapi lo juga gak boleh nyalahin Bian juga Ray," ucap Kak Niko. 


"Ck, kenapa sih pada belain dia. Denger ya kak, Aku gak mau lagi berurusan sama yang namanya Fabian Pradipta. Kalau kakak masih ada proyek sama dia silahkan, tapi jangan coba-coba kasih info tentang Aku ke dia," ancamku. 


Kak Niko menghela nafas, "Terserah elo Ray, gue cuma ngasih tau." ujarnya. 


"Hmmm…" sahut ku malas. 


***


Beberapa hari setelah itu datang surat dari pihak kepolisian, mereka memintaku menjadi saksi. Aku sebenarnya sudah malas untuk mengurusi itu, tapi Ayah yang dulu seorang pengacara memberi tahu banyak hal sehingga saat ini Aku berasa di Polres Malang. 


"Iya Kak," jawabku dengan tersenyum. 


Saat ini Aku sedang di Malang, di lokasi dimana kejadian penculikan itu terjadi. Disana Aku juga bertemu dengan Fira yang sudah memakai baju berwarna oranye khas baju tersangka. 


Disana juga ada beberapa teman yang dulu ikut event, mereka semua ikut menjadi saksi. Saat pertama bertemu denganku mereka menanyakan kabarku, beberapa juga sampai menangis. Terutama Aida dan Rima. 


"Aduh Na, gue tuh khawatir sama elo, gue minta maaf ya gak bisa bantuan apa-apa waktu kejadian," ujar Aida. 


"Santai Da, nggak ada yang nyangka juga bakal ada kejadian kayak gitu," ujarku menenangkan. 


"Gedek gue sama Fira, bisa-bisanya dia kayak gitu. Ada masalah apa coba dia," Kesal Rima. 


"Dia mah sakit jiwa!" Umpat Aida. 

__ADS_1


Rima mengangguk, Aku hanya tersenyum samar. Teman-teman yang lain juga ikut memberi support, kita saling bercerita. 


"Eh, gue kok gak liat Pak Bian," ujar Rima tiba-tiba 


Membuatku memutar mata jengah. Untung Kak Dio sedang ngobrol dengan Ayah, jadi dia gak denger kalau teman-temannya pada bahas Bian. 


"Iya, padahal dulu sejak denger elo ilang dia yang paling heboh. Semua orang kena marah sama dia. Bahkan gue denger saat pencarian dia semalam suntuk ikut nyari di lapangan." cerita Aida. 


Aku masih tertegun ketika mereka menceritakan tentang Bian, tapi Aku memilih masa bodo. Hanya mendengarkan tanpa mau menyahuti. 


"Na, itu pacar lo?" Selidik Rima sambil nunjuk Kak Dio yang sedang ngobrol sama Kak Niko dan Ayah. 


"Iya, yang kaos putih pake jaket itu Kak Dio pacar gue, yang pakai hoodie itu Kak Niko kembaran gue, yang disebelahnya itu Ayah gue." Jelasku.


"Aduh, lo dikelilingi sama orang keren Na, pantes banyak yang iri kayak si Fira tuh," sindir Rima sambil ketawa. 


Acara olah TKP berlangsung cukup lama, ternyata lokasi saat Aku di pukul dengan lokasi saat Aku ditemukan cukup jauh. Semua orang jelas heran, tapi urusan hari ini berlangsung lancar.


Aku juga tidak melihat Bian disana, malah Sakti yang terlihat mengawasi dan mengawal urusan olah TKP. Aku sendiri tidak terlalu peduli, toh di sampingku ada Kak Dio yang selalu menguatkanku. 


"Pak Bian gak keliatan Mas Sakti?" tanya Ayah saat Aku tidak sengaja dengar. 


"Beliau minta maaf tidak bisa datang. Pak Bian sedang sakit Pak, kalau dipaksa kesini takut sakitnya makin parah," ujar Sakti sambil melirik ke arahku. 


"Sakit apa?" Ayah terdengar masih penasaran. 


"Sakit hati Pak, hehehe." jawab Sakti. 


Aku mencibir, entah itu hanya candaan atau beneran. Tapi Aku merasa Sakti seperti menyindir ku. Aku pura-pura sibuk main ponsel, tidak memperdulikan mereka lagi. 


Setelah dari TKP, Aku dan rombongan ikut ke Polres Malang. Rencananya di sana Aku akan dipertemukan dengan Fira dan pacarnya untuk mendengar pengakuan dari Fira secara langsung. 


Sebenarnya Aku sudah malas untuk bertemu atau mendengar alasan Fira. Aku hanya ingin cepat pulang dan masalah ini segera selesai. 

__ADS_1


"Gue emang dendam sama Lo! Lo itu cuma cewek manja yang bisanya cuma godain cowok dengan fisik lo!" ucap Fira dengan berapi-api. 


***


__ADS_2