APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 45


__ADS_3

Liburan kali ini terasa begitu berbeda, tentu saja karena kita pergi ke Bandung mengunjungi Dian. Setelah memberi kejutan di kampusnya, kita langsung menculik Dian.


Setelah makan dan nongkrong di Cafe, kita langsung pergi ke tempat Glamping di daerah Lembang. Kita sengaja memilih daerah Lembang karena banyak destinasi wisata disini. Glamping yang dipilih Kak Niko juga terdapat di daerah perbukitan, jadi suasana begitu nyaman.


“Hay Ra,” sapa seseorang dengan tersenyum sangat tampan.


Aku jelas kaget ketika laki-laki itu menoleh, bagaimana bisa cowok sesibuk dia ada di disini. Aku yang masih kesal jelas malas ketemu dia, dan Aku langsung berbalik ingin masuk ke dalam kamar.


Tapi tangannya dengan cepat menarik tanganku, sampai badanku ikut tertarik dan menubruk badannya. Kedua mata kita bertemu dengan jarak yang begitu dekat.


“Lepas,” sentakku.


“Ah ya, Maaf,” ucapnya. Dia melepas genggaman tangannya, “Apa kabar Ra?”


“Kabar buruk,” sahutku ketus.


Bian tersenyum sambil menunduk, “Maaf kalau Aku lancang nemuin kamu disini, tapi Aku pikir ini satu-satunya kesempatanku buat ngomong sama kamu,” 


Ya, cowok itu adalah Fabian Pradipta,  dia terlihat sedikit kacau, ada kumis tipis dan rambutnya yang terlihat sedikit gondrong menurutku. Dari matanya juga terlihat kalau dia begitu lelah.


“Ngomong apa lagi, elo nggak inget gue bilang jangan muncul lagi?” kesalku.


Bian tersenyum, "Please Ra, sekali aja. Setelah ini kalau emang kamu gak mau ngomong atau ketemu, Aku bakal turutin," Ucap Bian dengan menatap Raya dalam. 


Raya balas menatap Bian, terlihat sebuah keputusasaan disana. Apa Aku terlalu egois, kalau dipikir secara jernih memang ini bukan kesalahan Bian. Dia juga tidak tahu kalau bakal ada kejadian seperti itu. 


"Oke, tapi cuma bentar," ujarku akhirnya. 


Bian tersenyum, dia menarik tanganku untuk duduk di sofa depan kamar. Kita duduk berdekatan, suasana disini juga sangat sepi, membuatku sedikit gugup.


"Aku sengaja datang kesini cuma buat nemuin kamu, Aku minta maaf kalau sikapku ini membuatmu nggak nyaman," ucapnya dengan terus menatapku. 


"Kak Niko sama yang lain kemana?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. 


"Niko sama Teman-teman kamu lagi pergi nyari jagung bakar katanya," jawab Bian santai. 


"Kamu udah sekongkol ya sama mereka," Tuduhku. 


Bian terkekeh, "Enggak, tadi Aku cuma bilang mau ngobrol sama kamu, terus Aku kasih tau mereka ada jagung bakar enak dekat sini, eh mereka langsung bilang mau kesana," terang Bian. 


Aku mencibir, pintar sekali dia beralibi. Dan sekarang Aku hanya berdua di tempat yang romantis seperti ini. Duh kenapa jantungku nggak bisa diem sih, apa karena kesal mangkanya kayak gini. 


"Aku minta maaf, udah bahayain kamu. Kalau boleh milih, biar Aku yang ngalamin kejadian itu. Kamu tau Ra, setelah lama berfikir, Aku tetep nggak bisa jauhin kamu," ujarnya dengan lembut. 

__ADS_1


"Udahlah, kejadiannya udah lalu." kataku malas. 


"Kamu masih marah ke Aku?" tanyanya. 


Kukirim dia sekilas, sejak tadi Aku nggak berani menatap matanya. Aku takut kena hipnotis, dan terpesona sama Bian. 


"Nggak!" ketusku. 


"Itu tandanya kamu masih marah," desahnya frustasi. 


"Aku emang masih kesel, coba kamu nggak deket-deket sama Aku, pasti penculikan itu nggak bakal terjadi," kesalku.


Bian menatapku dalam, "Maaf," ucapnya dengan begitu lembut. 


Aduh, kenapa sih Bian kayak gini, kan Aku jadi nggak bisa marah. Aku sengaja menghindar biar gak terjerumus dalam pesonanya, eh malah dia nemuin kesini. 


"Iya iya," kataku akhirnya. 


Bian tersenyum, "Beneran maafin atau cuma terpaksa nih?"


"Terpaksa," jawabku singkat. 


Bian tersenyum, dan tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, "Ra, beneran kamu nggak mau ketemu Aku lagi?"


"Kamu jutek terus, katanya udah maafin," sindirnya.


Aku menoleh, " Aku maafin, tapi Aku masih kesel," Gerutuku. 


"Yaudah kamu mau Aku ngapain biar kamu nggak kesel, asal jangan bilang nggak boleh ketemu," rajuknya dengan gaya manja, bibirnya dimanyunin. 


Aku ketawa liat ekspresi Bian, anggota dewan satu ini ternyata bisa semenggemaskan ini. Kan Aku jadi pengen nyubit. 


Bian tersenyum, "Kok malah ketawa?" Herannya. 


"Kamu kenapa jadi lebay gini sih? Anggota dewan kudu teges dong, apaan," sindirku.


"Kalau sama kamu bawaanya pengen manja-manja, gimana dong," balasnya. 


"Ck, alasan." Aku menghela nafas, "Aku minta maaf juga kemarin sempat marah-marah ke kamu, Aku sadar sih itu bukan salah kamu, cuma ya itu kalau inget kesel aja," ucapku sambil nunduk. 


"Aku paham, jadi kita baikan ya?" ucapnya sambil ngasih jari kelingking, Aku tertawa tapi juga menyambutnya. 


"Dih, kok ujan," Ucapku kaget, "Eh makin deres!" 

__ADS_1


Aku langsung menarik Bian untuk masuk ke dalam kamar. Kalau kita masih di luar yang ada kita basah, karena memang tidak ada atapnya. Aku sengaja membuka pintu, takut ada yang mikir macem-macem. 


Aku memilih duduk di meja yang ada di pojok ruangan, sedangkan Bian milih berdiri. Di kamar memang nggak ada sofa. Masa Aku ngajak Rangga duduk di ranjang, entar pikiranya jadi traveling. 


"Ra, Aku boleh jujur nggak?" ucap Bian dengan menatapku. 


"Apa?" tanyaku gugup. 


"Setiap kali deket sama kamu, Aku selalu gugup, deg-degan. Aku nggak pernah ngerasain ini, awalnya Aku pikir kena serangan jantung, tapi sekarang Aku sadar… " ucapnya menggantung. 


Kita berdua saling tatap, entah kenapa Aku jadi seneng dan makin deg-degan. Bian meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. 


"Ini pertama kalinya Aku ngerasain jatuh cinta, dan orang itu adalah kamu," ucap Bian dan langsung mencium tanganku. 


"Bi, tapi… " Aku jelas kaget. 


Bian menggeleng, "Aku tahu kamu sudah punya pacar, Aku cuma ingin jujur sama kamu," ucapnya dengan lembut. 


Aku menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Perasaanku menghangat ketika Bian mengutarakan perasaanya. 


"Ra," panggil Bian, Aku mendongak menatap kedua matanya. 


"Love you," ucap Bian dengan tersenyum. 


Aku menatap Bian dengan berkaca-kaca. Dan Aku meleleh dengan sikap Bian, cowok ini begitu gentle dan sangat manis. Tanpa sadar Aku malah meneteskan air mata. 


"Hey, kenapa nangis?" Bian mengusap air mataku. 


"Kamu kenapa ngomong gitu sih?" racauku dengan memukul dadanya. 


Aku merasa serba salah, dan ada rasa sakit ketika tahu kalau Aku tidak bisa membalas perasaannya. Dan Bian langsung menarikku dalam pelukannya. 


"Maaf udah bikin kamu nangis lagi," ucap Bian terdengar frustasi. 


"Aku nggak tau harus jawab gimana Bi," ujarku dengan menyembunyikan kepalaku di dadanya. 


"Aku nggak butuh jawaban kamu Ra, Aku cuma pengen kamu tau," ucapnya sambil mencium kepalaku. 


Kita berdua sama-sama diam dalam pelukan. Setiap Bian memelukku, selalu ada kenyamanan disana. Aku tidak paham perasaan apa ini, yang jelas Aku tidak ingin waktu cepat berlalu. 


"Bian, sebenarnya Aku… " 


***

__ADS_1


__ADS_2