APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
PROMO SEKILAS


__ADS_3

“seru kali ya, ngerasain nyepi di Bali” kata Gilang di sela-sela obrolan kami. 


Namaku adalah Alia, sahabatku sering manggil aku Adek Kecil, ini karena meskipun sekarang umurku 20 tahun, tapi badanku mungil. Saat ini aku dan keempat sahabatku, Hena, Gilang, Ilma dan Arga lagi nongkrong di kantin kampus. Awalnya kita mau nongkrong sambil browsing materi kuliah, tapi alhasil malah bercanda dan ngobrol ngalor-ngidul. 


“Nyepi di Bali? Jelas sepi kan? Nggak ada yang berjemur di kuta, nggak ada yang ajeb-ajeb di legian. Bali terasa kota mati” jawabku sambil manyun. Hari raya Nyepi adalah hari raya bagi agama Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Semua umat Hindu di Bali melakukan perenungan untuk kembali suci. Warga yang tidak beragama Hindu pun bertoleransi untuk tidak keluar rumah. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, kecuali Rumah Sakit. 


“Lah maka dari itu dek, disini kan kita nggak pernah ngerasain Nyepi, kalau kita waktu nyepi ada di Bali, kita bisa ikut ngerasain atmosfer Bali yang asli. Keren nggak?jarang-jarang tuh” kata Gilang semangat.


 “tapi kan kita nggak bisa kemana-mana, trus ngapain disana?”


“apapun yang akan kita lakuin disana, pasti istimewa. Setiap perjalanan punya cerita” kata Arga sok bijak “ Aku setuju berangkat Bali.”

__ADS_1


Beberapa hari kemudian kami benar-benar berangkat ke Bali, H-3 Nyepi. Kami berangkat bertujuh orang yaitu Aku, Gilang, Arga, Ilma, Hena, Hilda dan Ican. Perjalanan dari Malang ke Bali kira-kira sekitar 12 jam. Perjalanan yang cukup panjang, tapi kami selalu menikmati perjalanan darat ini, karena bisa menikmati setiap keindahan yang ditawarakan oleh alam. Kami sampai di Bali sudah tengah malam. Rencananya besok baru kita jalan-jalan. 


Tujuan utama kami adalah ke Uluwatu, menikmati pantai dari atas tebing. Sebelum melihat keindahan pantai, kita harus berjalan kaki melewati hutan kecil yang dihuni banyak monyet. Tempat ini suci karena juga ada pura. Setiap orang yang kesini harus memakai kain yang disediakan oleh pengelola.


“Alia, awas!”kata Arga mengagetkanku, sambil memegang kedua pundakku dari belakang. dia memang lagi bercanda, jahil banget tuh anak tau aja kalau q emang lagi merinding di antara banyak monyet disini, soalnya asal samber aja monyetnya. 


“ngapain sih? Tuh godain aja Hilda, bukannya kalian deket?” kataku balik ngledek Arga, wajah Arga terlihat manyun,kami semua tertawa, aku melihat sekilas ke Hilda yang jalan di depan bersama Ilma. Menurut gosip yang beredar Arga dulu pernah ngedeketin Hilda, tapi nggak tahu kenapa sekarang Arga malah ngejauhin Hilda, padahal keliatan kalau sebenarnya Hilda suka sama Arga. 


“Arga temenin Hilda dong, dia mau ketemuan sama sahabatnya tuh.” Rengek Ilma


“kamu aja temenin, aku mau jalan sama anak-anak, ayok Al!” kata Arga sambil menarik tanganku mengejar teman-teman yang lain. Hilda dan Ilma masih berdiri di depan gapura masuk ke pantai kuta. Hilda ada janji mau ketemu sama sahabatnya di kuta. Sahabatnya cowok, mungkin Arga cemburu.

__ADS_1


“kamu cemburu ya Ar? Gegara si Hilda mau jalan sama temennya?”tanyaku saat aku dan Arga lagi jalan berdua di pinggir pantai.


“Ngapain juga cemburu? Daripada nganter Hilda ketemuan mending Jalan sama kamu” katanya sambil nyengir nggak jelas.


Nih anak nggak peka kali ya. Mungkin emang dia cemburu atau malah beneran nggak suka sama Hilda. Tapi sikapnya itu keliatan banget kalau ngehindar dari Hilda, kan kasian. Kalau kayak gini malah aku yang serba salah ke Hilda. Aku nendang kaki Arga pelan. Aku memang dekat sama Arga, banyak yang bilang kalau kita pacaran, tapi ya beginilah, aku sama Arga sampai sekarang emang Cuma sahabatan. 


Hilda pergi dengan sahabatnya, nanti malam langsung balik ke hotel. aku jadi ngerasa tenang, kadang aku juga agak nggak suka ke Hilda kalau dia kecentilan ke Arga, tapi kadang juga kasihan kalau Arga ngehindar dan nggak mau deket-deket Hilda. Sore ini kita berenam masih stay di kuta. Kami emang nggak punya tujuan pasti mau keliling Liburan kemana setelah ini. tapi yang jelas dari awal kita memang pengen menikmati sunset di kuta sepuasnya. Setelah capek main di pantai kita duduk di pasir. Karena aku yang paling kecil di antara mereka, dengan semena-mena mereka mengubur aku dengan pasir sampai dada. Banyak orang yang melihat dan tertawa ke arahku kebetulan posisiku memang duduk, dan ini membuatku benar-benar terlihat konyol. Tapi aku menikmati bully –an mereka ini. kita bercanda dan tertawa, aku suka moment seperti ini, serasa tak punya beban. 


Saat keluar dari pantai kuta suasana sudah gelap, karena sudah capek dan lapar, akhirnya kita milih balik ke hotel. Nanti malam rencananya mau jalan lagi menikmati malam di Bali, melihat suasana bali di H-2 Nyepi, sebelum jalan-jalan kita mampir dulu di tempat kos temennya Ilma. Tapi pulang dari tempat kos itu kami merubah semua rencana kami. Awalnya kita semangat banget mau ngabisin waktu Nyepi di Bali, tapi diluar dugaan kami, temannya Ilma memberi saran kita untuk balik ke Jawa sebelum Nyepi, H-1 pagi. Karena biasanya saat Nyepi banyak orang yang milih liburan di Jawa, pelabuhan akan antri panjang, dan kalau kita pada hari itu tidak bisa nyebrang kita akan menghabiskan waktu dipelabuhan. Begitu juga kalau kita pulang setelah Nyepi, belum tentu kapal penyebrangan beroperasi dengan maksimal. Akhirnya kami mutusin besok pagi-pagi balik ke Jawa. Walaupun kecewa tidak menikmati Nyepi di Bali, tapi kita akan lebih kecewa kalau tidak balik ke Jawa secepatnya.


Sekitar pukul 11 kita sudah sampai di pelabuhan ketapang. Ada perasaan lega dan kecewa. Hilda punya usul untuk main di pantai pasir putih atau ke kawah Ijen. Berhubung kami semua belum pernah ke kawah Ijen akhirnya kita mutusin buat kesana. Kawah Ijen adalah danau Kawah yang berada di puncak gunung Ijen, masuk dalam wilayah  Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa timur. Perjalanan menuju Paltuding (pintu masuk kawah Ijen) cukup panjang. Kanan kiri hanya hutan. Kita sempet khawatir kalau bensin mobil kita habis. Sama sekali nggak ada rumah dan sepi. Walaupun hari masih siang tapi serasa udah sore aja, kabut dimana-mana. karena kita sama sekali belum pernah ada yang kesini, Kita seperti masuk di hutan dan tersesat, nggak tau kapan kita sampai di Paltuding. 

__ADS_1


__ADS_2