APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 10


__ADS_3

"Hay cantik." Sapa Kak Dio saat aku masuk ke dalam mobilnya. 


Aku tersenyum malu-malu, selalu merasa baper kalau digombalin Kak Dio. Dan aku akui Kak Dio itu tukang gombal parah, membuatku selalu salah tingkah sendiri. 


"Maaf semalem nggak jemput kamu, pasti kamu takut banget." Ujarnya dengan mengusap rambutku. 


Aku menoleh dan tersenyum, "Nggak papa Kak, emang sih aku takut, tapi itu karena aku yang parno sendiri. Toh drivernya biasa aja, cuma agak nyebelin." Kataku. 


Tadi pagi saat Kak Dio menelpon aku memang menceritakan kejadian yang aku alami semalam. Dan dia merasa bersalah karena nggak bisa jemput aku. 


"Wajar kok beb, mulai sekarang kamu jangan sungkan buat minta antar jemput aku ya." Katanya sambil terus mengemudikan mobilnya. 


"Nanti ngerepotin kamu, kan kamu juga sibuk di BEM." Kataku yang memang merasa nggak enak. 


"Sesibuk-sibuknya aku, kalau kamu yang minta pasti bakal aku tinggalin dong. Kamu yang lebih penting." Ujarnya dengan menoleh sekilas ke arahku. 


Tuh kan diomongin kayak gitu aja hatiku sudah meleleh. Emang kalau pacaran sama mantan biaya ya gini, tiap hari dibikin baper terus. 


"Owh iya Kak, minggu depan aku ada event di Malang selama 3 hari." Kataku sekedar memberi info. 


"Pas weekend? Kita nggak bisa kencan dong beb?" Rajuk Kak Dio dengan wajah melas yang dibuat-buat. 


Aku terkekeh, dan memukul lengannya, "Apaan sih wajahnya kayak gitu, geli amat dah." Ejek ku. 


"Hahaha… emang kamu sering ya acara luar kota gitu?" Tanyanya. 


"Enggak juga sih, lebih banyak acara di Surabaya aja. Cuma kebetulan kita ada undangan khusus," Kataku menjelaskan. 


"Owh… kamu jangan nakal ya beb disana." Pesan Kak Dio. 


"Nakal apaan! Nggak lah." Elakku. 


"Terus nanti nginepnya dimana? Bikin tenda gitu?" Tanyanya. 


Sepertinya Kak Dio merasa khawatir dengan kepergianku. Wajar sih toh kita memang baru jadian, dia belum terlalu paham dengan kegiatanku di yayasan. 

__ADS_1


"Dari briefingnya tadi, acaranya tuh di daerah pantai. Kebetulan disana ada villa yang baru dibangun sama pihak pemkab, jadi nanti kita nginep disana." Terangku. 


"Owh… hati-hati kalau disana, jangan cuekin aku ya, pasti bakal kesepian, nggak ada yang bisa aku godain, entar kalau aku godain cewek lain gimana." Rajuknya lagi. 


"Jangan dong, tega banget kamu sama aku." Kini malah aku yang ngambek. 


Aku langsung membuang muka ke jendela sampingku. Bercanda aja, pengen tau gimana responnya. 


"Eh kok malah kamu yang ngambek sih? Aku cuma bercanda beb, nggak bakal deh godain cewek lain, jangankan godain liat cewek lain aja nggak berani Beb. Cuma kamu aja udah sangat cukup buatku." Dia kembali melancarkan rayuannya. 


"Bener ya! Awas aja kamu. " Ancamku dengan melotot ke arahnya. 


Bukannya marah dia malah ketawa mendengar ancaman ku. Kak Dio mengacak rambutku gemas. 


Sampai di kampus kita berdua milih langsung pisah, kebetulan kita berdua sama-sama ada kelas. Daripada telat dan kena omel dosen, jadi kita cari aman aja. 


***


Semakin hari aku disibukkan  dengan persiapan event. Kebetulan sebentar lagi kota Surabaya akan mengadakan event lomba fashion show, dan kostum yang digunakan berasal dari limbah plastik yang didaur ulang. 


Lomba ini diikuti oleh seluruh SMK/SMA/MA Seluruh kota Surabaya. Tiap hari kita berkeliling mendatangi para peserta. Dan aku begitu bersemangat, karena dari beberapa sekolah yang kudatangi, mereka membuat baju dengan begitu bagus, aku jadi tidak sabar dengan hasilnya nanti. 


Beberapa hari yang lalu Kak Dio sedikit protes karena waktu kami berdua sangat sedikit. Aku sibuk, Kak Dio juga sibuk jadinya nggak pernah ketemu selama seminggu ini. 


Besok aku harus berangkat ke Malang, pengenku hari ini mau kencan dulu sama Kak Dio. Tapi ternyata dia ada acara di kampus dan nggak bisa ditinggalin. 


Aku sempat uring-uringan, bukannya aku nggak ngertiin dia. Tapi siapa coba yang nggak kesal, kita sudah rencanain ini jauh-jauh hari. Bahkan tadi pagi dia masih bilang siang ini bakal jemput aku. 


Tapi tiba-tiba dia nelpon dan bilang nggak bisa nemuin aku karena ada acara dadakan. Padahal aku sedang kangen sama dia. Setiap hari kita memang masih chat dan telpon. Bahkan Kak Dio sering video call juga, tapi tetep aja rasanya beda kalau ketemu langsung. 


"Ngapain sih muka lo cemberut gitu. Masih kesel sama Kak Dio?" Tanya Syahnaz yang lagi nyari rambut. 


"Iyalah, udah nggak pernah ketemu, eh janjian malah dibatalin gitu aja. Punya pacar tapi berasa jomblo." Curhatku dengan rebahan dan mainin boneka monyet. 


Syahnaz ketawa, "Resiko punya pacar sok sibuk ya gitu." 

__ADS_1


"Ck, Emang dia nggak kangen sama gue? Gue aja kangen banget." Kataku dengan suara yang sengaja dibuat-buat. 


"Dih jijay gue dengerin lo. Ray, lagian gengsi lo tuh tinggi banget, kalau memang dia lagi sibuk, ya elo yang samperin." Syahnaz mencoba menasehati ku. 


Aku mendengus kesal, "Dia tuh suka nongkrong sama temen-temennya. Belum lagi kalau dia lagi di sekretariat BEM, Rame bener, malu lah dikira gue yang ngebet banget." Ceritaku sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. 


"Kan emang elo ngebet banget ke dia." Sindir Syahnaz. 


"Ck. Tapi kan sekarang kita udah jadian." Aku masih saja kekeh nggak mau disalahin. 


"Dahlah nggak usah bahas Kak Dio, yang ada elo makin kesal." Ucap Syahnaz mencoba menenangkan ku. 


"Iya juga sih." Sahutku. 


Kulihat Syahnaz udah selesai mencatok rambutnya. Dia sekarang sedang mengambil ponsel dan ikut rebahan di sebelahku. 


"Lo besok jadi berangkat sama siapa?" Tanya Syahnaz. 


"Gue minta antar Kak Niko, malas kalau harus berangkat berdua sama Ibra." Ceritaku dengan membuka akun sosmed. 


"Niko bawa mobil kan? Gue ikut dong." Pinta Syahnaz sambil goyangin tanganku. 


"Emang elo nggak ke Cafe?" Tanyaku, biasanya kalau weekend Syahnaz suka lembur di Cafe. 


"Gampang, gue bisa tukar jadwal sama anak-anak. Lagian gue lagi bosen, pengen liburan. Nganternya ke Pantai langsung kan? Sekalian bisa refreshing gue. Lumayan nikmatin vitamin sea.hehehe." Seru Syahnaz yang mulai terlihat semangat. 


"Oke. Lo nginep sini aja berarti ya, kita berangkat habis subuh. Soalnya acara dibuka jam 8 pagi." Kataku menjelaskan.


"Siap boss! Tapi gue pinjem baju lo ya." Ujar Syahnaz dengan senyum sok manis. 


"Kebiasaan lo! Ntar balikinnya harus baju yang baru ya." Candaku. 


"Hadeh, lo tuh ya." Syahnaz mendorong badanku. 


Akhirnya hari ini aku ngabisin waktu bareng Syahnaz. Kita pilih perawatan di rumah. Bertiga bareng sama Bunda. Kita ngobrol juga bercanda. Syahnaz itu sudah seperti anak bagi Bunda dan Ayah. 

__ADS_1


"Astagaaa!" Pekik Kak Niko. 


***


__ADS_2