
Menjadi seseorang yang digunjingkan adalah sesuatu yang sangat aku benci, dan dua hari di event ini membuatku merasa kesal. Acara yang dari awal sudah sangat aku tunggu karena digadang-gadang akan menyenangkan, nyatanya malah bikin Aku uring-uringan.
Dari awal Aku memang semangat ikut, yang pertama karena lokasinya yang dekat pantai, jadi aku yakin pasti seru bisa mantai ke pantai. Yang kedua karena orang-orang yang ikut acara ini banyak yang Aku kenal, jadi berasa reuni.
Tapi pagi ini Aku jadi malas untuk melakukan semua kegiatan, dan semua itu karena Bian. Kemarin aku sudah baik-baik saja dan mulai melihat dia dari sisi lain. Tapi sekarang, baru ada yang menyebut namanya sudah membuat mood ku awut-awutan.
“Gosip tentang lo sama Pak Bian makin rame tuh Na,” ujar Rima saat baru balik dari ruang panitia.
“Sialaan emang, bikin gue kesel aja.” Aku menggerutu terus daritadi.
“Tapi lo beneran nggak ada hubungan apa-apa kan Ba sama Pak Bian?” Fira kembali bertanya.
“Hubungan apa sih? Nggak gengs, kalian tau kan gue udah punya pacar,” Aku memberikan klarifikasi.
Untuk saat ini hanya kepada mereka bertiga AKu bisa percaya untuk berbagi cerita. Kita sudah kenal dari 2 tahun yang lalu, meskipun jarang ketemu tapi komunikasi masih intens. Kadang kita juga saling mengunjungi tempat tinggal masing-masing kalau sedang di kota yang sama.
“Tapi semalam tuh emang kalian keliatan banget kayak punya hubungan, bener nggak sih?” tanya Aida yang dari tadi diam.
Aku menatap satu-satu teman sekamarku itu, Rima dan Fira mengangguk, membenarkan ucapan Aida. Dan hal itu membuatku mendesah kesal.
Semalam kita semua mengadakan acara Api unggun dan malam akrab, banyak dari teman-teman yang menunjukan bakat nyanyinya disana. Tanpa disangka Bian duduk mendekat ke arahku. Sebenarnya dia mengajak ngobrol biasa, malah dia menanyakan Kak Niko karena Aku bilang Kak Niko sedang kuliah jurusan Arsitek.
Aku juga tidak sadar kalau obrolan kita itu menarik perhatian banyak orang, bahkan saat Bian diminta menyanyi dengan sengaja dia menarik tanganku untuk berduet. Setelah itu munculah rumor-rumor nggak jelas tentang kami.
“Menurut kalian gimana? mana yang julid tuh jahat banget ngomongnya!” geramku ketika tak sengaja mendengar selentingan omongan tentangnya.
Mereka bilang Aku lagi pansos, sengaja menggoda dewan muda itu untuk mendapatkan panggung. Padahal kalau dipikir tanpa adanya Bianpun Aku sudah punya panggung sendiri, dari dulu tiap ada event apapun itu Aku memang selalu berusaha membawa nama kotaku. Dan tentunya tanpa drama seperti ini.
“Gila emang, orang yang udah lama kenal sama lo juga pasti tahu siapa Naraya Lazuardi, cewek muda multitalenta yang jiwa kompetitif nya gede banget. Mau ngejar harta? eh gila lo Nara nggak kerja aja uang udah ngalir.” Rima terlihat menggebu membela sahabatnya.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Rima, cewek asal kota Malang itu terlihat kesal juga dengan berita ini. Diantara kita emang Rima itu yang paling vokal, rasa solidaritasnya ke temen juga jempolan. Kala Ada, dia dari kabupaten Malang, diantara kita dia yang paling kalem, cewek berhijab itu selalu menenangkan kita.
“Udah kamu nggak usah emosi dulu Na, nanti pelan-pelan kita coba jelaskan kondisi sebenarnya.” Aida mengusap bahuku menenangkan.
Aku menghela nafas kasar, “Ada yang punya nomor tuh orang nggak?” tanyaku ke ketiga cewek cantik ini.
Semuanya menggeleng, aku mendesah, rencananya kalau emang ada yang punya nomor Bian, Aku akan menghubunginya dan meminta untuk membantu klarifikasi, Aku malas saja tersebar rumor yang nggak jelas kayak gini. Tapi nomor ponsel Bian pasti sesuatu yang sulit kita dapat mengingat dia adalah anggota dewan.
Siang ini kegiatan berada di outdoor, kita menyantuni keluarga kurang mampu yang berada di pesisir pantai, ada juga donor darah, cek kesehatan untuk lansia, posyandu, dan penyuluhan kesehatan untuk para remaja. Jadwal kita dari pagi sampai malam full.
“Ra,” panggil Bian yang membuatku mendesah kesal.
“Iya Pak.” Aku yang lagi membantu di bagian donor darah jelas kesal, orang ini terus saja menggangguku, apa dia nggak sadar kalau sekarang kita sedang digosipkan.
“Aku donor dong,” ujarnya sambil menggulung lengan bajunya.
“Ya donor aja, pake laporan segala.” gerutuku pelan.
Kebetulan di mobil donor ini cuma ada Aku, Bian dan dua orang petugas medis yang bertugas. Jadi Aku sedikit bebas berekspresi menjadi diriku sendiri. Aku mulai mendata diri Bian, meskipun Aku nggak melihat tapi Aku ngerasa dia terus memperhatikanku.
“Bapak jangan dekat-dekat saya deh, saya kesal kalau digosipin terus sama Bapak,” kataku mengeluarkan unek-unek.
“Digosipin?” dia terlihat kaget.
“Iya, masa kita digosipin lagi punya hubungan spesial, dibilang saya pansos, ganjen cuma manfaatin jabatan situ. Maaf ya Pak, saya nggak butuh,” kataku menegaskan.
Bian tersenyum, “Nggak usah di dengerin Ra, mereka iri aja ngeliat kita.” Bian mencoba bijak.
“Tapi saya nggak suka, mana mereka jelekin saya tapi belain Bapak, nggak adil, ketahuan banget kalau yang nyebarin gosip itu fans beratnya Bapak.” Cerocosku nggak mau tenang.
__ADS_1
“Maaf kalau itu mengganggu kamu, nanti saya akan coba lurusin.” ujar Bian.
“Harus!” ketusku.
Bian hanya tersenyum menanggapi ocehanku. Setelah menyelesaikan donor darahnya Bian langsung pergi tanpa berbasa basi dulu padaku, dia hanya pamit ke dua petugas itu. Padaku dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Malam harinya kita kembali mengadakan malam akrab tapi kali ini panitia mengajak main games. Cukup seru menurutku, dengan begitu banyak peserta yang hadir membuat games ini semakin rame.
“Nggak liat Pak Fabian, dia kemana Na?” tanya Riska yang tiba-tiba udah disampingku.
Aku melirik sekilas ke Riska, dia ini salah satu penggemar Bian, dan Aku sempat curiga kalau dia ini yang nyebarin gosip tentang Aku dan Bian.
“Mana Aku tau Ris, Aku bukan emaknya,” jawabku malas.
“Bukan emaknya tapi teman tapi mesranya.” sindir Riska yang membuatku heran.
“Maksudnya apa?” pancingku.
“Semua juga tau kali Na, gimana deketnya elo sama Pak Bian. Munafik banget, kemaren aja kayak orang nggak kenal, eh mendadak viral.” Riska kembali menyindirku.
“Asal lo tau ya Ris, sebelum acara ini gue emang udah kenal sama Bian, cuma gue nggak tau kalau dia itu anggota dewan yang elo maksud.” Aku mencoba menjelaskan dan ingin membela diri.
Riska tersenyum miring, “Owh jadi manggilnya udah nama aja nih, nggak pake embel-embel Pak, udah sedeket itu?” dia kembali nyinyir.
“Mau lo apa sih? Mau gue panggil apa terserah dong. Pasti lo ya tukang gosipnya!” tuduhku dengan menatapnya tajam.
“Kok jadi gue? asal lo tau ya, gue selama ini diem. Jadi elo harus sadar kalau disini banyak yang nggak suka sama lo!” ketus Riska dan langsung pergi.
Aku mengepalkan tanganku, merasa gemas dengan ucapan Riska. dari awal aku yakin kalau ini ulah dia, tapi tadi dengan jelas dia bilang kalau hanya diem. Terus siapa dalangnya. Ck, padahal acara ini cuma 3 hari, tapi kenapa aku bersa lama amat, Aku pengen pulang, kangen Kak Dio.
__ADS_1
***