APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 48


__ADS_3

Balik dari Bandung Aku jadi sedikit linglung. Aku masih kepikiran Bian, merasa bersalah karena pria itu benar-benar tidak menghubungiku. Ada sedikit kesal karena merasa diabaikan oleh Bian. 


Tapi Aku juga mengerti kalau posisi Bian memang serba salah. Dan setelah berpikir banyak hal, Aku memilih mengikuti saran Bian. Memang untuk sekarang yang terbaik adalah menjauh dari Bian. 


Walaupun kita sama-sama nggak tau bagaimana kedepannya, tapi setidaknya kita sudah tau kalau sama-sama punya perasaan. 


"Duh yang lagi galau," sindir Syahnaz. 


Saat ini Aku sedang berada di apartemen Syahnaz. Sejak pulang dari Bandung Aku memilih untuk mengasingkan diri di tempat Syahnaz. 


Aku manyun, "Aku benar-benar gak ngerti Naz. Ada rasa bersalah ke Bian, tapi Aku tau mungkin memang ini yang terbaik." 


Syahnaz menghela nafas, "Kalau menurutku, mending sekarang lo tenangin hati lo, dan lo harus pilih, mana cowok yang benar-benar ada di hati lo," Syahnaz memberi saran. 


"Percuma juga Naz, Bian sendiri udah mutusin kalau dia mundur." Aku kembali lemas. 


"Kan mundur buat sementara karena elo masih sama Kak Dio. Kalau elo udah putus sama Kak Dio, yakin deh dia langsung datang," seru Syahnaz. 


"Bian sih bilang kalau Aku putus dia mau langsung nikahin Aku," ceritaku ke Syahnaz. 


"Nah kurang apalagi coba," seru Syahnaz semangat. 


"Tetep aja, Aku juga mikir Kak Dio. Kasian dong dia," ucapku lemas. 


Syahnaz mendengus kesal, "Lo sih enak, ada dua cowok yang jelas ngarepin elo. Lah gue? Satu aja nggak ada," ujar Syahnaz. 


Aku menatap Syahnaz, jadi ingat kejadian waktu di Bandung kemarin. Setelah Bian datang Aku jadi lupa tentang kejadian itu. Tapi karena Syahnaz bahas Aku jadi semangat. 


"Eh Naz, waktu di Bandung kemarin lo nangkep sesuatu yang aneh gak?" pancing ku. 


"Apaan? Nggak, lo jangan aneh-aneh deh." sangkal Syahnaz. 


"Lo ada apa sama Bara? Kalian ada rasa?" todongku. 


Syahnaz kaget, "Lo gila ya!" semprot Syahnaz dengan melempar boneka ke arahku.


"Hahaha, pas kita nongkrong di Cafe tuh gue kayak lagi di tengah dua pasangan." seloroh ku. 


Syahnaz mengernyit, "Maksudnya gue sama Bara, dan Dian sama Niko?" syahnaz ingin diperjelas. 


Aku mengangguk, "Iya, gue ngerasanya gitu."


Syahnaz melengos, "Kalau gue jelas nggak ya, mana mungkin gue sama Bara. Tapi kalau Dian sama Niko nggak tau deh." 


Aku jadi menerawang, mengingat apakah ada moment Kak Niko dan Dian yang ganjil. Tapi semakin Aku ingat bayangan itu semakin menjauh, dan kayaknya nggak ada. 


"Gue jadi penasaran," ucapku. 

__ADS_1


"Niko nggak cerita apa-apa?" tanya Syahnaz. 


"Lo tau sendiri kak Niko kayak gimana, kalau nggak beneran di pancing mana mau dia cerita." ucapku yang sangat paham bagaimana sifat kak Niko. 


"Tapi Aku jadi kepikiran, gimana ya kalau Niko sama Dian beneran jadian? Lucu kali ya. Nikonya kayak kulkas, Diannya juga polos gitu. Palingan entar elo yang suka ngerecokin," ujar Syahnaz. 


"Tapi sering dong ya, kan kita udah sama-sama tau baik buruknya. Jadi nggak perlu takut." kataku. 


"Iya sih, lebih aman ya," imbuh Syahnaz. 


"Nah mangkanya elo sama Bara, kan pas tuh." Aku jelas semangat. 


"Hadeee… ogah deh, dia terlalu buruk buat gue," Canda Syahnaz. 


"Sombong amat! Kalau sama Bara, anak lo ntar auto sultan," godaku. 


"Iya, tapi rumah tangga gue entar kacau, tiap hari yang ada gue tengkar sama dia," jawab Syahnaz. 


Kita berdua terus bercanda membahas masalah apapun. Aku sendiri mencoba melupakan masalahku dengan Kak Dio dan Bian. Untuk sekarang biarlah semua berjalan sesuai alur. 


***


"Beib, gimana liburannya?" tanya Kak Dio setelah kita ketemu.


"Menyenangkan," jawabku singkat.


Aku senyum, "Ada dirumah, nanti kamu mampir dulu," 


"Kamu nggak kangen sama Aku?" pancingnya. 


Aku menoleh, "Kangen dong. Kamu sibuk terus, Aku datang katanya mau jemput." rajukku. 


Kak Dio menggaruk tengkuknya, "Maaf Beib, Aku ada urusan dadakan."


Aku manyun, pura-pura marah. "Sibuk terus," 


"Kemarin doang Beib, sekarang udah nggak sibuk, kapanpun kamu mau jalan Aku siap," ucapnya merasa bersalah. 


"Kak, Kakak serius nggak sama Aku?" pancingku. 


"Maksudnya?" Kak Dio bingung. 


"Ya maksudnya hubungan kita ini mau dibawa kemana?" tanyaku. 


Aku ingin tahu bagaimana pendapat Kak Dio tentang suatu hubungan. Apapun jawaban Kak Dio nanti, Aku yakin itu akan menjadi bahan pertimbangan ku kedepannya. 


Kak Dio menggenggam tanganku, "Ehm… Ya Aku pengennya sih langgeng terus sama kamu Beib, bakal bahagia kalau sampai menikah." 

__ADS_1


"Kamu kok kayak ogah-ogahan gitu jawabnya," protesku. 


Aku ngerasa jawaban Kak Dio tidak mantap, dia terkesan mencari nyaman dan jawabannya itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana bisa Aku memegang ucapan yang seperti itu. 


"Beib, jalan kita masih panjang, Aku jelas pengen nikah sama kamu, tapi tentu Aku nggak bisa janjiin apa-apa." ucapnya. 


"Iya," jawabku dengan tersenyum. 


"Aku hanya bisa berharap semoga nanti kita bisa menikah," imbuh Kak Dio. 


"Iya Kak," balasku.


Aku menatap cowok ganteng itu, tidak seharusnya Aku membandingkan antara Kak Dio dan Bian. Mereka adalah dua lelaki yang beda, dan Aku harus mengerti itu. 


Aku mencoba bersikap biasa, Kak Dio adalah pacarku. Akan tidak adil kalau Aku memikirkan hal lain ketika bersama dia. Saat ini jalanku adalah bersama Kak Dio, dan Aku akan menjalaninya dengan baik. Apapun hasilnya nanti, Aku harus siap. 


Kak Dio mengantarku pulang. Kita ngobrol dan bercanda seperti biasa. Kak Dio pun terlihat biasa tidak curiga apapun. 


"Masih sama Dio?" sindir Kak Niko saat Aku baru pulang. 


"Ya Iyalah sama Kak Dio, kan dia masih pacarku." jawabku santai. 


"Kirain tadi putus karena udah ada Bian," Dia kembali menyindir. 


"Ck, Bian minta Aku fokus dulu sama Kak Dio." jawabku sambil menatapnya. 


"Dan elo nurut aja dia ngomong kayak gitu?" tanya Kak Niko. 


"La terus?" Aku malah bingung. 


"Lo nggak ada kepikiran, Bian ngomong kayak gitu siapa tau aja dia mancing elo. Setelah kalian sama-sama ngakuin perasaan, lo masih lanjut nggak sama Dio. Kalau masih lanjut ngapain Bian ngarepin elo? Cowok kayak Bian itu pantang ngerebut cewek orang, jadi dia memilih nunggu," ujar Kak Niko panjang lebar. 


Aku jadi kepikiran, apa bener ya yang Kak Niko omongin. Kenapa Aku nggak ada pikiran ke situ. Tapi memang omongan Kak Niko benar. Apalagi Bian bilang setelah Aku nggak sama Kak Dio dia bakal langsung nikahin Aku. Kan Aku jadi bingung apa maksudnya, mana sekarang gantian nomerku yang diblokir Bian, sial!


"Masa kayak gitu sih kak?" Aku kembali bertanya. 


"Lo di kasih tau nggak percaya, lo kudu milih salah satu, jangan mainin perasaan cowok." Kak Niko terus memprovokasi. 


"Aku bingung Kak," rengekku manja. 


"Ck, kudu tegas Ray, saran gue sih lo sama Bian aja, putusin tuh cowok kayak Dio." ujarnya santai. 


"Nggak bisa gitu dong, itu nggak adil buat Kak Dio. Kak Niko nih kayak dendam banget sama dia." tuduhku nggak terima. 


"Emang," jawabnya dan langsung nyelonong pergi. 


Aku menatap kepergian Kak Niko dengan diam. Ucapannya barusan tentu meninggalkan bekas buatku. Jadi Aku harus tetap memilih keduanya sekarang. Pilihan yang sulit. 

__ADS_1


***


__ADS_2