
Hari ini Aku, Syahnaz, Kak Niko dan Ibra berangkat bareng ke Malang. Ibra yang awalnya mau berangkat bawa kendaraan sendiri akhirnya malah nebeng kita.
"Lo lagi marah ke Ibra?" Bisik Syahnaz.
Saat ini kita sedang dalam perjalanan ke Malang, dengan Ibra sebagai driver. Karena tadi kita berangkat setelah sholat subuh, Kak Niko milih molor selama perjalanan.
"Iya, kesel gue, pake acara ngehina Kak Dio, berasa dia manusia paling suci!" Kesal ku dengan berbisik juga.
Syahnaz mencibir, "Dia cemburu kali." Seloroh Syahnaz dengan cekikikan.
"Sembarangan!" Ku pukul lengan Syahnaz, membuatnya mengaduh kesakikan.
"Serius Ray, lo aja yang nggak peka!" Beritahu Syahnaz.
"Kalian berdua lagi ngobrolin apa sih pake bisik-bisik segala?" Tanya Ibra sambil melihat spion tengah.
"Lagi gosipin cowok!" Jawab Syahnaz.
"Jangan-jangan gosipin gue ya?" Pancing Ibra dengan sesekali melihat ke belakang.
"Udah lo nggak usah kepo! Sono nyetir yang bener, jangan sampe nyasar apalagi telat!" Ancamku dengan mendorong bahu Ibra.
"Ini udah sampe Malang?" Tanya Syahnaz dengan celingukan.
"Udah." Jawab Ibra.
"Udah deket pantainya?" Tanya Syahnaz yang kelihatan semangat.
"Kalau pantainya masih jauh. Lagian kita kan cuma ke pendopo kabupaten, terus entar ke pantainya pake mobil yang udah disediain." Terang Ibra santai.
"Hah? Jadi kita nggak ke pantai?" Tanya Syahnaz dengan melotot kearahku. Aku hanya nyengir dan pura-pura nggak denger.
"Enggak Naz, kita pembukaan dulu di pendopo." Terang Ibra yang masih belum tau situasi Syahnaz yang emosi ke aku.
"Terus gue ngapain ikut Ray? Kan gue pengen mantai!" Kesal Syahnaz sambil nyubit tanganku.
"Hahaha… gue emang sengaja boong, biar lo ikut nganter gue." Kelakar ku sambil ngakak.
__ADS_1
"Nyebelin banget sih lu!" Protes Syahnaz dengan bibir manyun.
"Entar mantai sama gue, repot amat!" Celetuk Kak Niko yang tiba-tiba udah bangun aja.
"Beneran ya! Awas lo boong kayak Raya, gue botakin lu!" Ancam Syahnaz dengan mencondongkan badan ke Kak Niko.
"Iya iya, berisik amat!" Sahut Kak Niko sambil lanjut rebahan.
Kak Niko itu tipe cowok yang males ribet, dia emang orangnya lempeng. Gak terlalu suka keramaian. Dan nggak gampang akrab sama orang asing. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dekat dan memahami kakakku yang ganteng ini.
"Ray, entar lo deket gue aja biar nggak ada yang gangguin." Celetuk Ibra tiba-tiba.
"Kayak gue bocah aja kudu deket sama bapaknya. Gue bisa jaga diri kali Bra, lagian udah banyak yang kenal juga kan." Protes ku nggak Terima kalau diatur-atur.
"Nggak gitu, lo kan tau nanti banyak orang gede juga, takutnya elo di godain. Inget kan kejadian si Fira, dia dipepet terus sama orang pemprov." Ibra masih kekeh mengingatkan.
"Iya gue tau, tapi nggak harus gue sama elo aja kan," Jujur aku masih malas sama Ibra.
"Ya terserah kamu, aku cuma ngingetin. Gimanapun juga kan kita berangkat berdua, secara nggak langsung kamu tanggung jawabku." Ibra masih ngotot.
Kadang kalau lagi acara cuma berdua sama Ibra kayak gini yang bikin bete. Aku paham sebagai cowok dia merasa
Harus tanggung jawab ke teman satu timnya. Tapi menurutku Ibra terlalu lebay. Padahal kalau ke temen-temen yang lain nggak segitunya.
Aku jadi kepikiran sama ucapan Syahnaz tadi. Apa iya Ibra naksir sama aku, dan cemburu kalau aku deket sama cowok lain. Kalau emang bener kayak gitu aku jadi makin males sama Ibra. Bukannya apa, tapi hubungan kerja yang dicampur sama perasaan ujungnya pasti nggak enak. Bikin canggung dan jadi tidak profesional, aku tidak suka situasi seperti itu.
Kita sampai di pendopo Kabupaten Malang tepat beberapa menit sebelum acara dimulai. Setelah pamitan dan berbasa-basi dengan Syahnaz dan Kak Niko, kita masuk dengan menunjukan undangan serta tanda pengenal.
Acara ini diikuti oleh utusan duta wisata se provinsi Jawa timur.
Di jawa timur ada 29 kabupaten dan 9 kota. Masing-masing daerah mengirimkan dua pasang duta wisata, kurang lebih ada sekitar 76 peserta. Itupun kalau semua mengirimkan duta wisatanya.
Belum lagi ada duta wisata dari tuan rumah yang biasanya ikut meramaikan, dan juga jadi panitia. Pasti acaranya seru dan rame. Karena aku sendiri baru pertama ikut event Seperti Ini apalagi sampai menginap di daerah pantai.
Setelah memberi undangan, kita diberikan sebuah tas, mungkin berisi info dan souvenir dari kegiatan ini. Aku dan Ibra diarahkan untuk duduk di kursi yang disediakan. Kami mulai bergabung dengan peserta lain.
Aku tersenyum ketika melihat ada beberapa teman dari daerah lain yang aku kenal. Beberapa kali kami ikut event bareng seperti ini, jadi sudah seperti teman dekat. Bahkan ada satu teman yang berasal dari Jombang, dia sudah melambaikan tangan dari tadi. Event kali ini sepertinya seru.
__ADS_1
"Aku Riska Lamongan, Mbak dari mana?" Tanya seseorang di sebelahku mengajak kenalan.
Aku tersenyum dan menjabat tangannya, "Aku Naraya, bisa panggil Nara aja.dari Surabaya." Jawabku cukup sopan.
Aku memang selalu menggunakan nama Nara ketika jumpa dengan orang baru. Hanya orang-orang terdekat saja yang lebih suka memanggil Raya. Aku dan Riska mengobrol sambil menunggu acara dimulai.
Ternyata umurnya dua tahun diatasku. Kita saling tukar informasi dan mulai bercanda. Sesekali aku melirik Ibra yang duduk disamping kananku. Aku memang sengaja cuekin dia, bukan apa-apa, biar dia juga sibuk dengan orang lain, nggak melulu ngurusin aku.
"Acara cukup keren ya Na," Bisik Riska sambil melihat tarian yang disajikan sebagai pembuka acara.
"Iya. Baru pembukaan udah meriah gini." Sahutku yang memang mengakui ucapan Riska tadi.
"Yang aku denger nih Na, ketua penyelenggara nya itu orang DPR, komisi II, aku udah baca info tentang beliau. Masih muda, jadi ide-ide yang beliau kasih selalu fresh dan out of the box. Denger-denger orangnya juga ganteng." Bisik Riska dengan senyum malu-malu.
Aku perhatiin cewek cantik disampingku ini. Dia terlihat sangat bersemangat ketika menceritakan tentang orang itu. Membuatku penasaran seperti apa rupa anggota DPRD yang juga jadi ketua penyelenggara event ini.
"Yang mana sih?" Tanyaku sambil celingukan ke arah bangku depan, biasanya kan orang penting memang duduknya di barisan depan.
"Sabar, nanti juga nongol, Aku tadi udah liat dia pas baru datang. Lumayan dapat vitamin pagi-pagi." Kelakar Riska yang membuatku tersenyum.
"Seganteng itu kah dia? Ganteng mana sama cowok di sebelahku." Pancing ku sambil melirik Ibra.
Aku hanya sekedar bercanda, Ibra memang ganteng. Dulu dia menjadi Cak Surabaya terfavorit. Banyak cewek menggandrungi wajah Ibra yang hitam manis. Tapi buatku Ibra jelas masih kalah dengan Kak Dio, bagiku dia yang paling ganteng, hehehe.
"Maaf ya bukan menghina, tapi kalau menurutku gantengan Pak DPR." Jawab Riska dengan gaya senyum-senyum.
Aku mencibir, jadi semakin penasaran. Cewek secantik Riska pasti seleranya level tinggi. Sekelas Ibra aja bisa kalah.
"Ganteng pake banget dong?" Seloroh ku dengan wajah kurang percaya.
"Ganteng poll pokoknya, nah nah itu dia ngasih sambutan." Seru Riska dengan menunjuk ke depan.
Aku mengikuti arah yang ditunjukan Riska. Aku memicingkan mata, seperti pernah melihat orang itu sebelumnya. Mataku langsung melotot ketika mata kita berdua saling bertemu.
"Hah! Dia kan…" Pekikku dengan suara tertahan.
***
__ADS_1