APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 07


__ADS_3

Aku begitu kesal ke Ibra, seenaknya saja dia mengatai Kak Dio. Memang dia siapa bisa menghakimi orang begitu saja. Aku tau, sangat tau Ka Dio Playboy. Sebenarnya bukan playboy, tapi lebih ke banyak yang menyukainya. Dan yang aku tau Kak Dio tidak pernah menanggapi. 


Kalaupun dia playboy dia sudah bilang padaku akan memperbaiki semuanya. 


Lagian cowok seganteng Kak Dio pasti memang jadi target para cewek. Bahkan aku sendiri dari awal sudah menargetkan dia jadi cowokku. 


Rasanya masih kesal ketika mengingat semua tuduhan Ibra ke kak Dio tadi. Padahal aku berencana menunggu Kak Niko di lobi yayasan. Tapi sekarang jadi malas. Dan akhirnya aku melipir ke Cafe dekat YMS. 


Tadi aku memang minta di jemput sama Kak Niko, kebetulan dia masih ada acara di kampus jadi bisa sejalan. Sebenarnya Kak Dio tadi menawari untuk menjemputku, tapi dia masih ada rapat, kasihan kalau harus bolak balik. 


"Sendirian aja?" Tanya seseorang tiba-tiba. 


Aku menoleh ke arah suara, ternyata imamku yang menyapa. Eh, maksudku cowok yang tadi menjadi imamku saat sholat. 


"Iya." Jawabku agak kaku. 



Cowok itu terlihat lebih muda dan fresh. Dia sudah memakai pakaian santai. Celana jeans dengan kaos oblong. Terasa semakin ganteng dan mempesona. Ya aku akui dia sangat ganteng. Aku yakin banyak pasang mata yang mencuri pandang ke arahnya. 


"Boleh gabung nggak? Nggak enak kalau sendirian." Ujarnya yang langsung duduk di depanku. 


"Belum diijinin udah duduk aja." Gerutuku. 


"Eh sorry-sorry, saya udah PD aja langsung duduk. Boleh nggak nih?" Dia kelihatan salah tingkah dan ngerasa nggak enak. 


Aku Tersenyum, "Duduk aja Pak." Kataku akhirnya. 


Dia merapatkan kedua bibirnya dan mengangguk, "Baru balik dari yayasan Mbak?" Tanyanya sok akrab. 


"Iya lagi nunggu jemputan." Kataku tanpa melihat ke arahnya. 


Jujur aku sedikit malas menanggapi orang asing. Reflek aja untuk membatasi diri. Meskipun ganteng tapi kan dia masih belum jelas baik atau enggak. Apalagi dia driver, setahuku cerita dari teman-teman, kebanyakan driver itu cabul, kan aku jadi takut. 


"Mau saya anterin nggak?" Dia menawari. 


Sontak aku langsung menoleh ke arahnya, ternyata dia sedang menatapku, ditambah dengan menaik turunkan alisnya, sepertinya dia sedang melancarkan aksinya untuk menggodaku. Mendadak aku jadi ilfeel. 


"Masnya driver taxi online juga?" Tanyaku penasaran. 


Cowok itu kembali menggaruk tengkuknya, dia senyum maksa. "Iya, sampingan mbak." 

__ADS_1


Aku menelisik penampilannya dari atas sampai bawah, pakaiannya branded. Masa iya driver taxi online. Tapi bisa juga, zaman sekarang orang kalau lagi gabut suka aneh-aneh. Ada tuh di aplikasi tok tok, Sultan lagi gabut juga jadi driver taxi online. 


Saat bersamaan Kak Niko nelpon. Sepertinya dia sudah sampai, tanpa menunggu lama aku langsung mengangkat teleponnya. Dan wajahku langsung berubah kesal ketika dia bilang nggak bisa jemput karena ada urusan mendadak. 


Moodku langsung ambyar kalau udah kayak gini, tau gitu aku iyain aja tadi saat Mbak Lulu ngajakin pulang bareng. Padahal aku udah nunggu lama disini. Tanpa menunggu lama aku langsung pergi setelah pamit basa basi ke cowok itu. 


Sampai di pinggir jalan ternyata ponselku malah mati, dan aku tidak bisa pesan ojol atau taxi online. Mau naik angkot juga udah malam, rasanya nggak mungkin.  Aku jadi pengen nangis. 


"Loh kok masih disini?" Tanya seseorang. 


Tanpa menoleh rasanya aku sudah hafal dengan suara ini. Dia sudah berdiri dibelakangku dengan melihat jam tangannya. 


Aku jadi ikutan melihat jam tanganku, sudah jam 9 malam. Coba tadi aku mau dijemput Kak Dio, aku jadi berandai-andai sendiri. Rasanya pengen nangis kalau kayak gini,  pikiranku kacau. Aku melirik cowok itu yang kini sedang menatapku. 


"Masnya driver taxi online kan?" Tanyaku ragu-ragu. 


"Hah? Iya." Dia seperti bingung. 


"Saya pesan offline ya, ponsel saya mati." Kataku ragu. 


"Ehm… boleh." Katanya tegas. 


"Tenang, Mbaknya aman sama saya. Bisa dihujat se-Indonesia saya kalau macam-macam." Katanya dan langsung berjalan ke arah mobilnya. 


Cowok itu membukakan pintu depan untukku, dan aku mendadak diam. Ini adalah salah satu jenis mobil  mewah, masa iya dia pake mobil ini buat taxi online. Fix, pasti dia Sultan yang gabut. 


"Ayo, udah malam ini malah bengong." Serunya membuyarkan lamunanku. 


Dengan membaca doa akhirnya aku masuk ke dalam mobil itu. Setelah menutup pintu mobil cowok itu berjalan dengan membuka pintu sampingku. 


"Ini kemana?" Tanyanya dengan menyetel GPS di dalam mobil. 


Aku menyebutkan alamat rumahku. Dia mulai menjalankan mobil mengikuti arahan GPS. Dan ternyata ada macet panjang, katanya ada kecelakaan. Dan kita diarahkan untuk melewati jalan lain. 


Karena bukan jalan yang biasanya aku lewati, aku jadi sedikit khawatir. Ku lirik cowok itu yang juga beberapa kali tengak tengok, sepertinya dia juga gak paham jalan ini. 


"Kamu tau jalan ini?" Tanyanya. 


"Enggak." Jawabku jujur. 


"Lah, kan jalan ke rumah kamu, masa nggak tau." Sindirnya. 

__ADS_1


"Tapi kan saya emang nggak pernah lewat sini. Masnya kan driver, masa nggak tau jalan." Aku balik menyindirnya. 


"Saya juga nggak pernah lewat sini." Ujarnya dengan masih mengikuti arahan GPS. 


"Masnya driver abal-abal ya? Sengaja mau nyulik saya!" Sentakku yang dari tadi sudah curiga. 


"Eh sembarangan! Nggak, Mbak tenang aja, saya amanah kok!" Katanya menenangkanku. 


"Modus! Pake ngomong amanah segala!" Kataku yang mulai bingung. 


"Lah ini kenapa malah muter nggak jelas gini." Dia jadi heboh sendiri saat ngecek layar GPS. 


"Tuh kan! Turunin saya disini aja deh." Bentak ku sambil mencak-mencak. 


"Eh nggak bisa, saya harus tanggung jawab nganter sampe rumah. Mana mungkin saya tinggalin di jalan gini." Tolaknya. 


"Kok maksa gitu! Aneh banget sih! Mau nyulik saya ya. Tolooong!" Teriakku dengan berusaha membuka jendela mobil. 


"Eh eh Mbak, jangan gitu dong, bikin heboh aja." Dia mengunci jendela. 


"Lepasin saya! Jangan culik saya!" Aku udah parno dan teriak-teriak sendiri. 


"Mbaknya apa-apaan sih! Saya bukan penculik," Bentaknya. 


Tangan cowok itu menahan badanku supaya diam. Tapi itu justru membuatku semakin heboh. Entah kenapa malam ini aku jadi parno kayak gini. 


"Mas bentak saya!" Aku balik membentaknya, rasanya nggak Terima. 


"Aduuh salah lagi. Nggak Mbak, saya cuma nyuruh Mbak biar diem, kan bahaya kalau di jalan heboh gini." Katanya menjelaskan. 


"Pokoknya Saya nggak Terima dibentak bentak! Udah turunin aja saya disini!" Teriakku dengan memukul lengannya. 


"Mbak! mbak diem dong! Ini bahaya, bisa nyungsep kita." Kesal cowok itu. 


"Bodo amat! Turunin saya! Tolooooong!" Teriakku semakin heboh. 


"Astaga nih cewek, nyusahin amat! Bisa diem nggak!" Dia ikutan teriak. 


"Enggak!"


***

__ADS_1


__ADS_2