APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 42


__ADS_3

Hari ini Aku ikut olah TKP, juga mendengarkan kesaksian langsung dari tersangka. Selama proses berlangsung Kak Dio selalu menemaniku. Dia tidak membiarkan Aku merasakan trauma lagi, dia terus menguatkanku. 


Selama olah TKP ada beberapa teman yang ikut menjadi saksi. Kita semua seperti reunian. Mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang Bian, membuatku malas. 


Bian sendiri tidak kelihatan barang hidungny, dia hanya mengirimkan Sakti untuk mengawasi juga mengawal proses olah TKP biar lancar. Aku sendiri bersyukur dia tidak datang, jadi Aku tidak perlu canggung. 


"Gue emang dendam sama Lo! Lo itu cuma cewek manja yang bisanya cuma godain cowok dengan fisik lo!" ucap Fira dengan berapi-api. 


Aku mengernyit ketika Fira dengan gamblangnya berbicara seperti itu. Bukan hanya Aku yang kaget, tapi semua orang terdekat ku jelas kaget. Sejak kapan Aku suka godain cowok. 


"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?" Itu bukan suaraku, tapi suara Kak Niko, Aku tahu dia marah ketika saudara kembarnya dituduh seperti itu. 


"Iya! Semua orang selalu memperhatikan Nara, dia selalu menjadi pusat perhatian, gara-gara dia posisiku tergeser, semua yang harusnya menjadi gelar dan milikku diambil!" ucapnya dengan menangis. 


"Maksud lo apa Fir, lo tau sendiri gue nggak pernah minta perhatian siapapun. Masalah gelar atau apapun itu kita lewatin semuanya dengan fair, penilaian pun jelas, bukan gue yang nentuin semuanya." Aku mencoba membela diri. 


"Kalau elo nggak ada, semuanya bakal lebih mudah buat gue!" Seringai Fira yang terlihat menyeramkan. 


Aku hanya bisa menatapnya tidak percaya. Fira terus menjelaskan alasannya ingin menghilangkan ku. Dia mengatakan dengan menangis, kadang juga tertawa. Membuatku merinding. 


Kak Dio terus menggenggam tanganku, dia juga terlihat geram dengan tingkah Fira. Semua orang dibuat marah dengan keterangannya. Sampai akhirnya pihak kepolisian menyudahi penyelidikan ini dan membawa Fira kembali ketahanan. 


"Sabar, jangan karena ucapan satu orang membuatmu merasa kalah. Orang yang sayang sama kamu lebih banyak," ucap Ayah menguatkanku. 


Aku menangis dalam pelukan Ayah. Rasanya begitu hancur melihat orang yang dulu dekat dengan kita sebagai teman, ternyata menusuk kita dari belakang. 


"Apa sikapku selama ini gak bener Yah? Apa secara nggak sadar Aku udah nyakitin banyak orang?" Tanyaku di sela tangisanku. 

__ADS_1


"Raya, selama ini Ayah dan Bunda didik kmu menjadi anak yang baik, seumur hidup kamu Ayah tidak pernah melihat kamu berbuat jahat. Kalau hanya kesalahan kecil itu wajar, semua orang juga pasti pernah melakukan." Ayah terus menasehatiku. 


"Tapi kenapa Fira bisa berpikiran seperti itu Yah?" Aku masih terus berfikir. 


"Sayang, di mana-mana orang baik dan benar itu akan banyak yang iri, akan banyak orang yang berprasangka jahat. Bukan kamu saja, semuanya. Cuma saat ini ujian kamu lebih berat dari orang lain." Ayah memberikan penjelasan padaku. 


Ayah, Kak Niko dan Kak Dio selalu memberiku support. Pengacara keluarga kami juga terus memantau keadaan. Setelah semua urusan selesai kami kembali ke Surabaya. 


"Gimana?" Tanya Bunda saat kami baru sampai rumah. 


Ternyata dirumah sudah ada Bunda, Syahnaz dan Mamanya Syahnaz. Mereka bertiga langsung heboh saat Aku datang. Ayah yang menceritakan semuanya. Kami yang lain hanya diam. Tadi Ayah berpesan hanya beliau saja yang boleh menjelaskan. 


Pengalaman Ayah yang dulu bekerja sebagai pengacara jelas bisa memilah mana yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Bukan bermaksud apa-apa. Tapi lebih ke menjaga hati Bunda dan yang lain biar tidak terlalu sakit. 


"MasyaAllah, tante geram deh sama anak macam itu. Coba tadi tante ikut, tante robek mulutnya." ujar Mama tiri Syahnaz. 


"Dih, Mama kalau ikut kesana yang ada malah bikin masalah baru. Udah bener kita berdua disini nemenin Bunda," Sahut Syahnaz yang selalu tidak sejalan dengan Mama tirinya. 


"Mama do'ain Aku biar dijahatin orang?" Sewot Syahnaz. 


"Mama itu cuma ngingetin." jawab Mamanya. 


Aku hanya tersenyum melihat interaksi Mama dan anak itu. Selalu seperti itu, mereka menunjukan sikap peduli dan perhatian dengan caranya sendiri,  membuat Aku, Ayah dan Bunda selalu takjub. 


Kak Dio dan Kak Niko sendiri sejak datang memilih di gazebo luar. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi Aku sudah tidak terlalu khawatir karena sekarang keduanya sudah biasa tidak ada perselisihan seperti kemarin. 


***

__ADS_1


Masalah tentang penculikan ku ini berlangsung cukup ribet dan rumit. Ayah bilang itu karena Fira mempunyai dekengan orang besar. Mungkin orang ini yang kemarin dibilang sama Bian dalang dari semuanya. 


Aku tahu beberapa kali Ayah dan Kak Niko ketemuan sama Bian tentang masalahku. Tapi mereka tidak pernah bertemu di rumah, memilih di tempat lain. Mungkin karena tidak mau Aku marah kalau melihat Bian.


Aku sendiri memilih masa bodo, Aku pasrahkan semua urusan ke Ayah dan Kak Niko. Dan hasil terakhir yang Aku dengar, Fira dan pacarnya dihukum 5 tahun penjara, sedangkan orang yang menyuruh diberi hukuman 7 tahun penjara. 


Entahlah, Aku tidak terlalu paham dengan hukum. Aku juga tidak peduli mereka dihukum berapa lama, asal mereka tidak mengusikku lagi itu sudah cukup. Samar Akun mendengar Ayah dan Kak Niko yang masih tidak terima dengan lamanya hukuman mereka, ditambah dalang yang sebenarnya masih bebas berkeliaran. 


"Beib, kamu beneran mau ke Bandung?" tanya Kak Dio saat kita lagi jalan bareng. 


Aku tersenyum, "Iya Kak, ini udah mundur jauh dari rencana awal, kemarin sempat ketunda karena kasus ku. Aku juga udah kangen sama sahabatku." Aku mencoba memberi pengertian. 


Kak Dio mengerucutkan bibirnya, "Aku ditinggal?" rajuknya. 


Aku tersenyum geli setiap melihat tingkahnya yang manja seperti ini, "Cuma 4 hari aja Kak,"


"Kenapa barengan sama jadwal Aku sih Beib, kan Aku nggak bisa ikutan jadinya." Kak Dio terus merajuk. 


"Tiketnya udah pesan Kak, udah gak apa-apa, kakak bisa fokus sama pelatihan, Aku juga fokus liburan." Aku mencoba menghiburnya. 


Kak Dio mencibir, "Fokus apaan, yang ada Aku kepikiran, apalagi kamu disana sama Bara juga."


Aku ketawa, "Astaga Kak, Aku cuma temenan sama dia. Lagian ada Kak Niko juga kok," ujarku. 


Besok memang rencananya Aku, Kak Niko, Syahnaz dan Bara mau ke Bandung. Sedikit molor dari rencana awal. Tapi nggak masalah, yang penting kita bisa liburan bareng dan ketemu sama Dian. 


"Kakak tuh jangan nakal disini, entar Aku ke Bandung, kakak jalan sama cewek lain," sindirku.

__ADS_1


"Iyalah, salah sendiri Aku ditinggalin," sahutnya santai. 


***


__ADS_2