APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 37


__ADS_3

Kedatangan Bian kerumah tentu membawa angin tersendiri. Benar saja, ternyata dia ingin membicarakan tentang kasu penculikan kemrin. Aku jelas keringat dingin mendengar penjelasan Bian. Apalagi bisa dipastikan kalau salah satu pelakunya adalah Safira, temanku sesama duta wisata dari Jombang.


Bian menanyaiku mengenai kedekatanku dengan Safira selama ini. Kak Niko yang memang pernah bertemu dengan Fira jels geram. Kita semakin dibuat penasaran ketika Bian bilang ada target utama di kasus ini.


“Assalamualaikum,” salam seseorang.


Kami semua melihat ke pintu, ternyata Kak Dio yang datang. Aku jadi serba salah gini. Kak Dio masuk dan menyalami semua orang, termasuk Bian. Setelah bersalaman Syahnaz mmeberi ruang pada Kak Dio untuk duduk disebelahku. Syahnaz sendiri memilih pindah dekat Kak Niko.


“Kenapa?” bisik Kak Dio sambil mengusap air mataku.


Terlihat pacarku ini khawatir, Aku hanya menggeleng. Aku nggak mungkin menceritakan sekarang, nanti Aku akan bercerita sendiri ke dia. 


AKu tersenyum, “Nggak apa-apa,”ujarku.


Aku melirik Bian, cowok itu sedang menatap ke arahku dan Kak Dio. Mungkin dari sini dia paham kalau Kak Dio adalah pacarku. Entah kenapa Aku jadi merasa bersalah ke Bian.


“Yang baru datang ini Dio, dia pacar Naraya. Dio, ini Nak Bian, beliau yang membantu mengurus kasus penculikan Raya kemarin. Dan Alhamdulilah salah satu pelakunya sudah tertangkap. Silahkan dilanjut nak Bian,” ucap Ayah memberitahukan garis besar kedatangan Bian. 


“Alhamdulilah, terimakasih,” ucap Kak Dio sambil mengangguk ke Bian.


Bian tersenyum maksa, “Sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban saya,” jawab Bian sambil menunduk, “Sampai mana saya tadi?” Bian bertanya sambil menggaruk rambutnya, sepertinya dia sedang tidak bisa fokus.


“Sampai ada target utama,” sahut Kak Niko yang terlihat serius. 


“Ah iya, Ehm… jadi sebenarnya pihak tersebut menargetkan orang lain, dan kebetulan di pikiran mereka orang itu dekat dengan Ara, jadi menurut mereka kalau mencelakai Ara akan membawa dampak buruk buat target.” terang Bian.


“Hah?” Aku dibuat kaget lagi dengan cerita Bian. Siapa orang yang dekat denganku dan membuatku mengalami semua ini. 


“Dan kebetulan pihak tersebut tahu kalau Safira mempunyai dendam ke Raya, jadi mereka bekerja sama, menculik Ara dan bahkan berniat untuk membunuhnya.” Cerita Bian dengan menatapku dalam. 


Mendengar ucapan Bian hatiku semakin diremas, Apa Kurangku? Apa Salahku? sampai ada orang yang berniat begitu buruk terhadapku. Kak Dio yang tahu kalau Aku kembali menangis, menarik badanku untuk bersandar di bahunya.

__ADS_1


Kak Dio mengusap bahuku, mencoba menenangkan. Dia juga membisikan kata-kata manis untuk menguatkanku.


“Target utama mereka orang yang dekat dengan Raya, siapa target utamanya?” Kak Niko terlihat begitu geram, dia menatapku dan Bian bergantian. 


Aku menegakkan kepalaku, Aku juga penasaran siapa target utama pelaku itu. Banyak nama yang terlintas di kepalaku, tapi rasanya Aku begitu pusing untuk memikirkan. Lebih baik Aku menunggu cerita Bian. 


Kini semua mata tertuju ke Bian, cowok itu menatap kami satu persatu. Dan terakhir matanya tertuju ke arahku. Kedua mata kita saling tatap dan mengunci. Aku tidak paham dengan arti tatapan Bian, tapi seperti ada rasa bersalah, kekecewaan dan putus asa disana.


“Target utama mereka adalah saya.” jawab Bian tegas dengan menatapku.


“Hah?” Aku kaget dan sampai menutup mulutku, kurasakan air mataku kembali deras. 


“Jadi maksud kamu, target utama mereka adalah kamu, dan karena kamu dekat dengan Raya membuat mereka mencelakai Raya?” Ayah ingin penjelasan.


Bian menunduk, “Iya, saya pribadi minta maaf soal itu.” ujar Bian dengan penuh rasa bersalah.


“Tapi bagaimana bisa?” Selidik Kak Niko ynag membuatku dan Bian kembali saling tatap.


“Ara, apa boleh saya bercerita disini?” tanya Bian sambil melirik Kak Dio.


“Ya,” jawabku singkat.


Bian menghela nafas panjang, “Sebenarnya saya dan Ara sudah kenal sebelum event kemarin, dan di event kemarin boleh dibilang kami dekat, bahkan semua orang membicarakan kedekatan kami. Mungkin dari situ rencana penculikan dan pembunuhan Ara dibuat.”


“Dengan tujuan menghancurkan kamu?” imbuh Kak Niko.


“Iya, mereka pikir dengan menghancurkan Ara itu sama saja dengan menghancurkan saya.” jawab Bian sambil menunduk.


“Tapi bagaimana bisa? Saya masih tidak habis pikir.” geram Ayah.


“Dari pandangan mereka, Ara adalah orang spesial bagi saya, dan tujuan mereka memang menghancurkan semua orang yang spesial di hidup saya,” jawab Bian dengan mata yang terus memandangku.

__ADS_1


“Apa Raya memang spesial bagi anda?” celetuk Kak Dio.


Celetukan Kak Dio membuat semua orang diam, Kulihat Bian endiri juga tidak bisa menjawab, dan suasana membuatku jadi semakin kesal.


“Aku dan Bian sama sekali tidak dekat, kita juga hanya berteman biasa. Bagaimana bisa  pelaku punya pikiran seperti itu.” ucapku dengan nada tinggi.


Suasana jadi tegang, Bunda yang ada didekatku mengusap punggungku menenangkan. Semua orang juga diam tidak ada yang bersuara. Dan saat ini perasaanku begitu sesak, Aku merasa seperti semuanya sedang menyudutkanku. Terlebih ada Bian dan Ka Dio di sini, membutaku semakin terasa nggak nyaman.


“Aku minta maaf Ra, kalau waktu itu Aku mendengar pesan kamu untuk menjauh mungkin semua ini nggak akan kejadian. Terlebih mereka tahu kalau saat itu Aku nggak ada buat jagain kamu,” ucap Bian dengan lembut.


Ucapan Bian barusan membuat perasaanku semakin campur aduk, “Jadi semua ini karena kamu Bi, karena kedekatan kita, ada orang yang menculik bahkan mau bunuh Aku!” geramku.


“Raya, kamu nggak bisa ngomong kayak gitu,” Ayah mencoba menenangkanku.


“Tapi memang seperti itu faktanya Yah, kalian nggak ngerti, saat event itu semua orang gosipin Aku macem-macem. Bahkan ada yang bilang Aku sengaja menggoda Bian dengan tubuhku. Semua orang menyudutkanku.” seruku dengan air mata yang kembali turun.


“Raya…” Bunda mengusap punggungku mencoba menenangkan. 


"Aku minta maaf Ra," Ujar Bian lagi. 


"Kamu pikir dengan minta maaf semua masalah selesai Bi? Kamu nggak ngerti gimana takutnya Aku waktu diculik, gimana rasanya seharian diikat di hutan. Kamu nggak tau rasanya!" Sentakku yang terdengar begitu menyedihkan. 


Entah kenapa Aku langsung emosi, bayangan kejadian saat penculikan kembali berkelebat di kepalaku. Kejadian itu akan terus tertancap di memori ku, dan semua ini penyebabnya adalah Fabian Pradipta.


"Raya, jaga emosi kamu, kita bisa bicarakan dengan baik-baik," Ucap Bunda lagi. 


"Aku sangat bersalah soal itu Ra, Aku bakal lakuin apapun untuk menebus kesalahanku." Ucap Bian dengan terus mengiba. 


"Kamu mau lakuin apapun?" Tanyaku dengan menatapnya sengit. 


"Iya," Ujar Bian. 

__ADS_1


"Jangan pernah lagi muncul di hidupku!"


***


__ADS_2