APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 19


__ADS_3

Aku melirik ke cowok yang duduk anteng disebelahku. Ya cowok itu adalah Bian. Setelah dia tadi di godain habis-habisan sama ajudan sekaligus sahabatnya, Bian kini mulai terlihat santai. 


Kedua sahabatnya itu juga sedang fokus dengan tugas masing-masing. Yusman fokus menyetir, sedangkan Sakti sedang sibuk dengan ponselnya. Bian sendiri juga seperti sibuk dengan gadgetnya. 


"Kenapa Ra?" Tanya Bian tanpa menatapku. 


"Kamu pasti sibuk banget ya, maaf jadi ngrepotin." Ujarku dengan menunduk. 


Bian menoleh ke arahku, dia tersenyum samar, "Gak usah ngomong kayak gitu. Aku bertanggung jawab penuh atas event kemarin, kamu mengalami musibah di acara itu, secara pribadi Aku ngerasa bersalah. Alhamdulillah kamu menghubungi Aku, itu sangat membuatku tenang." Ujarnya dengan lembut. 


Aku menghadap depan dan menerawang jauh, "Sebenarnya aku sangat excited dengan acara ini, tapi entah kenapa sejak awal Aku ikut ada saja hal yang bikin Aku nggak nyaman, puncaknya ya kejadian kemarin," Aku kembali menunduk. 


Kalau ingat kejadian kemarin rasanya Aku pengen nangis, gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama Aku. Kenapa harus terjadi ke Aku, apa salahku, apa kurangku sampai ada orang yang begitu jahat terhadapku. 


Perlahan kurasakan sebuah tangan kekar menggenggam tanganku. Aku menoleh ke Bian, cowok ganteng itu tersenyum hangat ke arahku. 


"Maaf, kamu hebat Ra, kamu sudah sangat hebat karena bisa melewati semuanya." Bian mengusap tanganku dengan jempolnya. 


"Makasih," ujarku. 


Sentuhan tangan Bian membuat hatiku menghangat. Aku seperti mendapat secercah harapan untuk bisa melewati semuanya. Kalau dipikir memang Aku masih sangat beruntung bisa selamat dan sehat sampai detik ini. 


Sepanjang perjalanan Bian tidak melepas genggaman tangannya ke tanganku. Entah dia beneran mau menenangkan ku atau cuma mencari kesempatan, Aku sudah tidak peduli hal ini. Karena Aku sendiri merasa tenang dan nyaman ketika tangannya menggenggam erat tanganku. 


Ketika sudah keluar tol, hatiku langsung berdebar. Rasanya Aku sudah tidak sabar untuk bertemu keluargaku. Pasti mereka sangat khawatir, terlebih Bunda. Beliau tidak bisa melihat anaknya susah sedikit. Mendengar Aku hilang pasti beliau syok. 


"Ra, hilangin perasaan sedihmu, banyak orang yang sayang sama kamu. Kamu harus nunjukin kalau kamu kuat, jangan pernah ngerasa kalah oleh keadaan Ra." Pesan Bian ketika sudah dekat dengan rumahku. 

__ADS_1


Sampai di depan rumah, Aku melihat Bunda sudah dipeluk Ayah, mereka berdua meneteskan air mata. Kak Niko langsung maju ke depan, sepertinya dia tidak sabar untuk melihatku. Hal itu sontak membuatku haru dan langsung menangis. 


Bian terus mengusap punggungku, menyalurkan kekuatannya. 


Saat mobil berhenti, Kak Niko langsung membuka pintu. Dia menatapku dengan berkaca-kaca. Aku tau dia pengen nangis tapi nggak bisa. Aku langsung inget ucapan Bian untuk mencoba melawan keadaan. Aku tersenyum ke arahnya. 


"Lo nggak apa-apa?" Tanya nya khawatir saat Aku turun dari mobil. 


"Nggak apa-apa Kak," Jawabku sambil berusaha tersenyum. 


Kak Niko memelukku sekilas, dia memegang tanganku seperti Aku anak bayi yang baru bisa jalan. Dia membantuku untuk berjalan ke Bunda. Sampai di Bunda Aku tidak bisa menahan tangis. Aku dan Bunda berpelukan sambil menangis. Kita berdua sama-sama menangis tanpa ada sepatah katapun yang terucap. 


"Kamu nggak apa-apa sayang?" Tanya Bunda khawatir saat pelukan kami terlepas. 


"Raya nggak apa-apa Bun," Jawabku, Bunda menghapus air mataku. 


Aku kembali menangis dan memeluk Ayah, "Maafin Raya udah bikin Ayah dan semuanya sedih." Ucapku dalam dekapannya. 


"Enggak sayang, Ayah yang harusnya minta maaf karena nggak bisa jagain kamu." Ucapnya dengan mencium keningku. 


Kami masih di depan rumah, tapi suasana haru masih jelas menyelimuti. Kita semua memang sedih karena kejadian kemarin. Tapi sekarang kita sedang menangis bahagia karena Aku telah selamat dan kembali di tengah keluarga ini. 


Benar kata orang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Sejauh apapun kita pergi, seberat apapun masalah yang kita hadapi, hanya keluargalah tempat kita pulang. Hanya keluarga yang paling bisa mengerti bagaimana kondisi kita. 


Aku sangat bersyukur mempunyai keluarga kecil yang sangat peduli dan sayang padaku. Bagiku apapun masalahnya, dimanapun Aku berada, asal ada mereka itu sudah cukup. 


"Ayo masuk dulu, Pak Bian Ayo mari silahkan," Ajak Papa mempersilahkan kami masuk. 

__ADS_1


Kami semua masuk ke dalam rumah, Aku duduk disebelah Bunda dan Ayah. Bunda terus menggenggam tanganku dengan mendekap kepalaku ke dadanya. Hal yang selalu Bunda lakukan ketika Aku dan Kak Niko sedang sedih atau mendapat masalah. 


Di ruangan itu Aku sama sekali tidak ikut berbicara, Bian yang memang sudah paham kronologi kejadiannya, yang menceritakan dan menjelaskan. Dari sini Aku bisa mengambil kesimpulan kalau Bian sudah pernah bertemu dengan keluargaku sebelumnya. 


Bahkan Kak Niko yang awalnya pernah bersitegang dengan Bian, kini terlihat akrab dan ngobrol. Rasanya Aku masih malas untuk berbicara, hanya ingin merasakan dekapan Bunda. 


Cukup lama Bian ngobrol dengan keluargaku. Aku sudah malas untuk mendengar. Tapi sesekali Aku melirik ke Bian yang sedang menjelaskan sesuatu. 


Cowok itu seperti tidak ada capeknya, Aku baru tahu kalau sejak kemarin Bian terus memantau pencarianku di lokasi, baru tadi siang balik ke kantor. Dan baru beberapa jam dia sudah harus balik untuk menjemputku. Dan sampai sekarang dia terus bersamaku, tanpa istirahat. 


Tak sengaja kedua mata kami saling bertemu, wajah Bian berubah hangat. Dia seperti memberi kode dan bilang kalau kamu kuat dan dia akan selalu ada buatku. 


"Saya akan mengawal kasus ini sampai tuntas, Ara sudah menjadi tanggung jawab saya." Ucap Bian dengan terus menatapku. 


"Maksudnya?" Ayah memastikan takut salah dengar. 


"Ehm… " Bian berdeham, "Maksud saya, Naraya mengalami kejadian ini di event kami, dan saya selalu penanggung jawab event itu jelas harus bertanggung jawab terhadap Naraya." ucap Bian yang terlihat salah tingkah. 


Entah kenapa Aku jadi ingin tersenyum mendengar ucapannya. Begitu juga dengan Sakti dan Yusman yang kulirik sedang menahan senyum. Entah kenapa Aku jadi merasa dekat dengan Bian, apalagi setelah di perjalanan kita tadi. 


Setelah selesai ngobrol, Bian minta ijin pamit. Dia harus langsung balik ke Malang, karena besok pagi dia ada dinas ke Kalimantan. Bian dan sahabatnya berpamitan ke keluargaku. Terlihat Ayah memeluk Bian, keduanya berbicara hangat. 


"Ra, Maaf ya kamu jadi ngalamin kejadian ini. Aku percaya kamu kuat dan hebat, jangan pernah mikir berlebihan ya, semua baik-baik saja. Secepatnya Aku bakal temuin pelakunya." Pesan Bian saat dia pamit padaku. 


Aku mengangguk, dan yang bikin Aku kaget sekaligus baper ketika dia mengacak rambutku di hadapan semua orang. Aku yakin pipiku pasti memerah mendapat perlakuan seperti ini. 


***

__ADS_1


__ADS_2