APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 38


__ADS_3

Aku benar-benar emosi ketika mendengar cerita Bian tentang alasanku diculik. Rasanya seperti tidak masuk akal. Kalau Fira melakukan itu karena dendam terhadapku Aku masih bisa berfikir memakai logika. 


Tapi ketika alasan penculikan itu karena Aku dekat dengan Bian, Aku ngerasa tidak bisa menerima. Kalau mereka memang ada masalah dan ingin menghancurkan Bian, kenapa harus Aku yang dijadikan sasaran. 


"Jangan pernah muncul lagi di hidupku!" Ucapku dengan nada rendah tapi pasti masuk ke hati. 


Bian menatapku dengan perasaan kecewa dan putus asa. Bisa dibilang ucapanku memang keterlaluan, tapi untuk apa Aku kenal dan hidup dengan orang yang akan membuatku celaka. 


"Raya, kamu tidak boleh ngomong seperti itu, Bian juga tidak mau semua ini terjadi." Ayah mencoba membela Bian. 


"Jangan ada yang belain dia, kalian semua nggak tau gimana rasanya jadi Aku! Aku yang ngerasain semuanya," bentak ku dengan menatap satu-satu orang yang ada diruangan. 


"Tenang Sayang," Bunda ikut menangis dan mengusap punggungku. 


"Aku yang ngerasain gimana takutnya waktu itu Bun, Aku seperti sudah tidak punya daya hidup. Aku diambang kematian Bun. Kalau waktu itu tidak ada orang yang baik hati menolongku, pasti sekarang Aku tidak ada diantara kalian." Ucapku dengan perasaan pilu. 


"Jangan pernah bicara seperti itu Ra, Aku pasti nolongin kamu," Bian mencoba bicara denganku. 


"Kalau waktu itu tidak ada Bidan yang nemuin kamu di kantor, kamu juga gak bakal datang. Apa arti hidupku buat kamu? Kalau memang kamu niat nolong harusnya kamu ada di lapangan, tapi nyatanya kamu sibuk kerja." Ketusku dengan air mata yang terus mengalir. 


"Naraya Lazuardi, jaga emosi kamu," Ayah mulai mengeluarkan ketegasannya. 


"Kamu! Penuhi janjimu untuk melakukan apapun yang aku minta, jangan muncul di hidupku!" Ucapku tegas dengan menatap Bian tajam. 


Bian menghela nafas panjang, "Tapi Aku harus tetap mengawal kasus kamu Ra, nggak mungkin Aku tidak muncul lagi di hidup kamu." Bian mencoba bicara baik-baik denganku. 


"Saya tidak peduli dan saya tidak mau berurusan lagi dengan Anda karena itu sama saja dengan saya bunuh diri!" Tegasku dan langsung pergi. 


"Ra, saya mohon, kita butuh ngobrol," Kudengar Bian masih berusaha ngomong denganku. 


"Tolong hargai keputusan pacar saya!" Tegas Kak Dio. 


Aku langsung masuk ke dalam kamar, tidak mau tahu lagi tentang pembicaraan mereka di depan. Hatiku benar-benar sakit. Bian, orang yang Aku kira dapat dipercaya, ternyata malah dia penyebab Aku celaka. 

__ADS_1


"Raya Sayank, bukain pintunya, ngobrol sama Bunda ya," rayu Bunda sambil mengetok pintu ku. 


"Iya Ray, gue temenin elo ya, jangan ngunci diri kayak gini, kita jadi khawatir Ray," Ucap Syahnaz juga terdengar. 


Aku milih untuk mengunci diri di dalam kamar, tidak peduli Syahnaz dan Bunda yang beberapa kali mengetuk pintu kamarku. Aku terus menangis karena rasanya seperti dikhianati.


"Apa kurangku sampai semua orang seperti memanfaatkan ku," Gumamku sambil terus menangis. 


Aku terus menangis, bayangan kejadian penculikan itu terus berputar. Di Sisi lain kenangan saat sama Bian juga muncul, Aku kembali histeris, rasanya benar-benar sakit. Rasa benci kita ke Bian kembali muncul. 


"Aku benci kamu Bi, benci!" Teriaku. 


Seharian Air mataku terus turun, sampai rasanya air mataku kering dan tidak bisa keluar lagi. Dan berganti tawa, Aku merasa pikiranku sudah tidak sinkron. Dan Aku tertidur. 


Aku terbangun ketika suasana kamar sudah gelap. Bahkan Aku sempat kaget, apa mataku tidak bisa melihat lagi, karena hanya gelap di mana-mana. Tapi ternyata ini sudah larut malam dan Aku belum menyalakan lampu. 


"Jam berapa ini," Gumamku sambil mencari ponsel. 


Ternyata sudah jam 1 malam, Aku menghela nafas. Cukup lama ternyata Aku tertidur, dan kepalaku terasa pusing. Aku cek ponselku, banyak panggilan tak terjawab dan chat yang masuk. 


Aku mencoba berjalan mencari saklar, dan menyalakannya. Rasanya benar-benar silau. Aku membuka kunci kamar dan keluar, sudah sepi, tapi samar Aku mendengar suara televisi. Ternyata Kak Niko sedang duduk sambil nonton bola. Aku berjalan ke arahnya. 


"Kepala lo pusing?" Tebak Kak Niko. 


Aku hanya mengangguk lemah, dan duduk disebelahnya. Kak Niko menatapku khawatir. Dia tidak bertanya apa-apa, hanya melihat kondisi ku. Aku menyandarkan kepala di bahunya. Dia hanya mengusap kepalaku lembut. 


"Laper? Mau makan apa?" tanya Kak Niko perhatian. 


"Laper tapi malas mau makan," Rengekku. 


"Jangan kayak gitu, lo bikin kita semua khawatir." Ucap Kak Niko. 


Aku hanya menghela nafas panjang. Aku tau badanku sekarang sedang nggak baik-baik saja. Kepalaku berat dan pusing, perutku terasa lapar tapi tidak ada nafsu makan, bayangin makanan saja rasanya sudah mual. 

__ADS_1


"Pengen roti sama teh anget aja deh kak," jawabku. 


Kak Niko dengan telaten membuatkan ku teh hangat dan roti. Ini adalah makanan andalanku ketika tidak nafsu makan. Selama Aku makan Kak Niko menemaniku. 


Kita berdua adalah anak kembar, ketika salah satu kita sakit yang lain juga kerasa. Ketika ada hal buruk pun salah satu dari kita akan kerasa. Dan Kak Niko memang orang yang paling peka, terutama tentang kondisi ku. 


Selama ada Kak Niko, Ayah dan Bunda tidak terlalu khawatir. Selama ini memang Kak Niko selalu menjagaku. Ketika Aku sakit pun Kak Niko yang lebih bisa mengerti keinginanku. 


"Pilihan Kak Niko kali ini salah!" Celetukku.


"Hah? Maksudnya?" Kak Niko bingung.


“Kak Niko bilang Bian lebih baik dari Kak Dio, buktinya Bian yang nyakitin Aku sampai kayak gini,” kataku mengadu.


“Maaf, gue nggak tau kalau keadaannya bakal kayak gini. Tapi gue yakin Ray, Dio juga belum tentu baik buat lo.” ucap Kak Niko meyakinkan.


Aku mencibir, “Faktanya nggak tuh,” kataku dan langsung nyelonong pergi ke kamar.


Sampai di kamar Aku kembali teringat kejadian tadi, rasa sesak dan emosi itu kembali muncul. Tapi sudah tidak ada lagi air mata yang keluar.


drrrrtt…drrrtt…


Bian Calling…


Aku mendengus kesal, Aku langsung reject telponnya. Tak lama ada notifikasi chat yang masuk, dari Bian, Aku hanya membaca sekilas karena muncul di jendela notif.


Bian : Ra, Maafin Aku, jaga kesehatan ya, Aku bakal pergi dan nggak gangguin kamu lagi. Terimakasih buat semua kenangan indahnya.


Aku mengambil ponsel dan langsung menghapus semua pesan dari Bian, bahkan Aku belum membaca pesannya yang tadi dia kirim. Rasanya Aku sudah muak dengan nama itu. Tak lupa Aku juga langsung memblokir nomor itu. Aku langsung kembali tidur karena merasa badanku sudah tidak kuat.


Keesokan paginya badanku benar-benar lemas, suhu badanku juga panas, kepalaku pusing nggak karuan. Perutku juga terasa perih. Aku hanya bisa menatap langit kamar diam. Nggak kuat ngapa-ngapain. 


Tak lama pintu kamarku dibuka dari luar dengan keras, Kak Niko langsung muncul dengan rambut berantakan dan wajah bangun tidur. Kelihatan sekali dia khawatir, diikuti Bunda yang berlari di belakangnya.

__ADS_1


“Bun, kita bawa Raya ke rumah sakit!”


***


__ADS_2