
Hari ini Aku berangkat ke kampus numpang Ayah Bunda. Beliau mau ada acara, sedangkan Kak Niko harus berangkat pagi-pagi karena mengantar Bara ke bandara.
Diperjalanan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda. Aku menceritakan niatku untuk kembali aktif di organisasi. Mereka berdua jelas mendukung. Dari dulu mereka memang selalu mendukung segala kegiatanku, asal positif.
"Kamu gimana bisa ngobrol sama Bian? Ketemu?" Tanya Bunda penasaran.
Aku senyum, "Nggak, semalam dia telpon Kak Niko, kebetulan ada Aku jadilah kita ngobrol." Terangku.
"Owh, kirain kamu diam-diam selingkuh sama Bian," Tuduh Bunda dengan senyum jahil.
"Haiiish… Bunda apaan sih," Rajukku salah tingkah.
"Hahaha… Anaknya Bunda banyak yang rebutin nih," Goda Bunda.
"Kalau dari sikapnya Ayah lebih suka Bian sih," Sahut Ayah.
"Dih Ayah, kan Aku udah punya pacar kak Dio, ngapain coba ngomong gitu," Kataku sambil manyun.
"Jodoh gak ada yang tau Ray," Imbuh Ayah membuatku geleng-geleng.
***
Siang ini ada meeting di yayasan, semalem Kak Lulu sendiri yang menelpon dan memintaku ikut gabung. Setelah mendapat izin dari Ayah Bunda Aku jadi lebih semangat. Apalagi Kak Dio juga mendukung.
"Beib, jangan mikir apapun ya, kalau bayangan kejadian itu kembali muncul harus kamu lawan," ucap Kak Dio saat megantarku ke kantor YMS.
"Iya kak, tenang aja," Kataku menenangkan.
"Tapi temen kamu di yayasan nggak ada yang julid kan?" Tanyanya lagi.
"Enggak kok, semua baik." Jawabku.
"Tapi kamu harus tetep waspada lo yank, nggak semua orang disekitar kita itu punya hati yang baik, kejadian kemarin jadiin pelajaran, kamu harus lebih hati-hati bergaul." Pesan Kak Dio.
"Siap bos!" Seruku dengan tersenyum lebar.
Kak Dio tersenyum, "Aku tungguin aja ya," Ujarnya ngotot.
__ADS_1
Aku menoleh, "Nggak perlu Kak, belum jelas juga Aku baliknya jam berapa,"
"Tapi nanti kamu telpon Aku ya kalau udah selesai, Kamu pulangnya sama Aku," Ujarnya.
"Iya Kak," kataku dengan tersenyum manis.
Akhir-akhir ini Kak Dio sudah menunjukan banyak perubahan. Dia jadi lebih perhatian dan juga romantis. Waktunya bersamaku juga lebih banyak. Kegiatan di organisasi dia kurangi, toh sekarang kuliahnya semakin padat.
Aku sendiri jelas senang dengan perubahan Kak Dio, semoga dia selalu seperti itu. Si Selly sekarang juga nggak kelihatan nempelin Kak Dio lagi. Membuatku penasaran apa penyebabnya.
"Kak… " Panggilku.
"Si ulat bulu jarang keliatan nempel ke kamu, tumben?" Pancingku penasaran.
Kak Dio menoleh sekilas ke arahku, "Setelah kejadian di Cafe waktu itu, kita tengkar." Terang Kak Dio.
"Bertengkar? Kenapa?" Heran ku.
"Dia jelek-jelekin kamu, Aku jelas nggak Terima. Biasanya Aku cuma diam kalau dia ngomong apapun tentang kamu, tapi Dia semakin keterlaluan. Jadi yaudah Aku marahin, Aku bentak-bentak. Dan Aku bilang nggak mau ketemu sama dia. Sejak itu dia jaga jarak, mungkin kesinggung." Cerita Kak Dio panjang lebar.
Aku mengangguk, "Kamu nggak kangen sama dia?" Godaku dengan terus menatapnya.
Aku tertawa, "iya iya maaf," Ujarku dengan tersenyum bahagia.
Aku begitu bahagia, rasanya benar-benar bebas jalan sama Kak Dio. Sudah nggak ada yang recokin. Kak Dio juga terlihat santai nggak ada beban.
Kak Dio mengantarkan ku ke yayasan. Setelah menurunkan ku dia bilang mau ke rumah temannya. Sebelum masuk Aku menatap gedung yang berdiri kokoh di depan ku. Banyak kenangan yang Aku buat di gedung ini. Sejak SMA gedung ini seperti rumah kedua buatku.
"Nara," Teriak seseorang dari arah belakang.
Aku menoleh, ternyata Ibra sedang berjalan ke arahku. Sepertinya dia baru datang dan parkir motor. Aku tersenyum, sejak kejadian penculikan itu Ibra sering datang kerumah dan selalu minta maaf. Dia merasa bersalah karena hal itu terjadi padaku. Dia ngerasa nggak bisa jagain Aku.
Sebenarnya bukan salah Ibra, toh dari awal emang Aku udah ngehindar dan jaga jarak dari dia. Coba kalau Aku nurut sama ucapan dia, nggak boleh kemana-mana kecuali sama dia. Ibra pernah bilang jangan percaya siapapun disana, karena emang dasarnya kita nggak ada yang kenal. Dasar Aku aja yang nggak bisa dibilangin.
"Hay… " Sapaku.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu muncul juga, kirain beneran mau berenti." Sindir Ibra.
__ADS_1
"Gak dong, udah sejauh ini, sayang banget kalau di lepas. Masih butuh denger dan lihat kekonyolan anak-anak." Candaku.
Ibra tersenyum, kita berdua jalan beriringan masuk kedalam gedung. Ternyata sudah ada beberapa anak yang datang. Mereka heboh saat melihat kedatanganku.
Rasanya Aku seperti seorang anak yang baru saja pergi merantau dan baru pulang kampung. Sambutan mereka sangat hangat. Aku sampai terharu, ternyata Aku baru sadar kalau kehadiranku memang ditunggu disini.
Kegiatan di yayasan baru selesai sekitar jam 8 malam, memang saat ini kita banyak acara. Sebentar lagi adalah hari jadi Kota Surabaya. Tentu mulai sekarang kita sudah nyiapin untuk event. Dan hari pertama gabung Aku sudah diserahi banyak tanggung jawab, bikin kepala pusing.
"Capek?" Tanya Kak Dio saat Aku baru masuk mobil.
Aku senyum dan ngangguk, "banget," Jawabku dengan nada manja.
Kak Dio terkekeh, dia mengusap rambutku, "Makan dulu yuk," ajak Kak Dio.
"Kak Dio belum makan?" Tanyaku sambil melihat jam tangan, sudah lebih dari jam makan malam.
"Tadi beli bakso sama anak-anak, sekarang pengen jajan aja sama kamu," Rayunya.
Malam ini Aku kembali kencan sama Kak Dio, kebetulan ada pasar malam, jadilah kita mampir kesana sekalian nyari kulineran. Dan lagi-lagi Kak Dio begitu perhatian padaku, dia memperlakukan ku seperti seorang putri, membuatku baper parah.
***
Setiap hari Aku semakin sibuk di yayasan, dan setiap hari juga Kak Dio selalu mengantar jemput ku. Dia sekarang seperti gak punya kesibukan. Kadang Aku ngerasa nggk enak, takut dikira Aku terlalu mengekang, tapi dia terlihat santai-santai saja.
Dan hari ini Aku sengaja meluangkan waktuku untuk menuruti keinginan Kak Dio. Keinginan yang dari dulu selalu Aku tunda. Sejak pagi Aku sudah siap-siap, memilih pakaian terbaik dengan make up flawless.
Berkali-kali Aku melihat cermin, memperbaiki segala hal yang kurang menurutku. Hari ini Aku harus tampil maksimal. Mentalku juga udah Aku siapin jauh-jauh hari. Harusnya hari ini berjalan dengan lancar dan manis, sesuai dengan doaku.
Kak Dio tersenyum lebar saat melihat ku pertama kali, bikin Aku makin deg-degan aja. Tatapannya juga membuatku salah tingkah. Dia menggenggam tanganku, telapak tangannya terasa hangat, membuatku nyaman.
"Cantik," Puji Kak Dio saat menjemputku.
Aku mencibir, "Aku takut," Cicit ku dengan malu-malu.
***
JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMENTAR YA GENGES…
__ADS_1
MAKASIH…