
Jantungku mendadak jedag jedug ketika mataku bertemu langsung dengan mata cowok yang sedang berdiri di atas panggung. Cowok anggota DPRD muda yang dari tadi terus dibanggakan sama Riska.
Bagaimana bisa cowok itu ada disana, Aku yang berasa nggak percaya sempat mengucek mataku berkali-kali. Rasanya pengen kabur atau pingsan aja. Apalagi dia terus melihat kearahku duduk. Aku yakin dia juga pasti mengenaliku.
Aku jelas mendadak nggak nyaman dengan situasi ini. Apalagi Riska, cewek disebelahku terus nyerocos memuji kegantengannya. Membuatku semakin gerah dan kesal.
"Emang namanya siapa?" Bisikku ke Riska.
"Fabian Pradipta." Sahutnya dengan tatapan penuh memuja ke arah cowok itu.
Kepalaku rasanya pening, kalau tau bakal kayak gini kejadiannya aku milih nggak ikut event ini. Pasti nanti ada waktu dimana aku bertemu dengan cowok itu, mau ditaruh dimana wajahku.
Aku kembali mengingat kejadian malam itu, coba kalau aku bisa menjaga sikap, pasti nggak bakal semalu saat ini. Padahal waktu pertama bertemu aku sudah punya nilai positif dengan sholat berjamaah.
Tapi malam harinya langsung ambyar, apalagi aku terus-terisan merengek nggak jelas. Kalau aku tahu dia seorang anggota DPRD mana berani baku bersikap seperti itu.
Terutama pada saat dia mengantarku sampai rumah, dan dengan sangat sopan Ka Niko mencengkeram kerah kaosnya. Dan aku memberikan selembar uang seratus ribu sebagai ongkos. Aku mendadak panas dingin.
"Driver apaan! Mampus gue!" Gumamku dengan menunduk dan menggelengkan kepala.
Sepanjang cowok itu, yang ternyata bernama Fabian berada di depan, pikiranku sangat kacau. Aku berharap beliau tidak ikut event ini dan hanya memberi sambutan. Bisa mati kutu kalau sampai kita sering bertemu.
"Dia itu masih berumur 25 tahun, dan bisa jadi anggota DPRD. Kayaknya sih anggota termuda dia. Keren kan?" Seru Riska yang tidak pernah bosan memujinya.
"Kamun kayaknya tau banyak tentang Bapak itu, kenal?" Pancing ku yang memang penasaran.
"Enggak kenal sih, cuma dia pernah kunjungan ke dinas pariwisata Lamongan, aku pernah ketemu. Dan sejak itu aku suka sama dia dan sering stalking akun media sosialnya." Ujar Riska panjang lebar.
"Owh, sepopuler itu ya emangnya?" Tanyaku dengan wajah nggak percaya.
"Populer banget, mulai dari remaja, orang tua sampe nenek-nenek juga banyak yang suka sama dia. Selain karena kinerjanya bagus, juga karena orangnya itu ramah, baik, tegas, dermawan dan yang pasti ganteng!" Puji Riska terus menerus.
Aku memutar mataku jengah, rasanya sudah bosan mendengar Riska yang terus memujanya. Dia nggak tau aja seberapa menjengkelkan Pak Fabian itu. Aku memilih diam dan tidak menanggapi, sehingga Riska akhirnya diam sendiri.
__ADS_1
Aku mengikuti acara pembukaan ini dengan pikiran yang bercabang. Di dalam hati aku selalu berdoa semoga tidak dipertemukan dengan driver abal-abal itu lagi.
Selesai acara pembukaan, kita diberi jeda waktu kurang lebih 15 menit untuk bersantai. Setelahnya dengan menaiki mobil yang sudah disediakan kita akan berangkat ke daerah Pantai yang dijadikan sebagai tempat event berlangsung.
Saat ada kesempatan aku milih kabur dari Ibra dan Riska. Kabur dari Ibra karena aku malas kalau dia mendadak jadi orang yang paling berhak sama aku. Kalau Riska, aku malas saja mendengar dia selalu heboh tentang driver abal-abal itu.
"Nara!" Panggil seseorang.
Aku menoleh dan tersenyum, tanpa pikir panjang langsung mendekat kearah Aida dan Rima. Mereka ini adalah dua orang yang sering ketemu sama aku saat ada event keluar kota seperti ini. Aida berasal dari Jombang, sedangkan Rima dari Kabupaten Malang.
Aku bersalaman dan cipika cipiki sama mereka berdua. Memang sudah lama kita tidak bertemu, hanya sering komunikasi di media sosial. Tiap ada event kita emang sering barengan kayak gini.
"Nggak sama Dandy?" Tanya Rima sambil celingukan.
Aku tersenyum tipis, Dandy itu gebetan Rima dari dulu, dia juga temenku di duta Wisata. "Enggak, gue lagi sama Ibra." Jawabku santai.
"Ck, padahal gue udah semangat waktu tau elo yang ikut. Tumben nggak sama Dandy?" Pancing Rima yang terlihat kecewa.
"Dandy lagi sibuk sama KKN, Nggak bisa diganggu." Jawabku.
"Sekalian bilangin Na, Rima mintanya langsung dinikahin, nggak mau pacaran." Sahut Aida yang daritadi cuma diem memperhatikan.
"Hahaha.,. Bener-bener, gue maunya yang satu set aja." Seloroh Rima dengan tertawa.
"Gaya lu! Kayak yang udah siap nikah aja." Sindirku.
Kita bertiga ketawa bareng, selama kenal dengan mereka berdua nggak pernah aku merasa sakit hati. Keduanya banyak mengajarkan aku banyak hal. Keduanya berhijab tapi sikap dan sifat mereka menyenangkan, aku pun juga sering curhat sama mereka.
"Gue ke toilet bentar deh." Pamit ku ke mereka.
"Koper lo udah masuk mobil belum?" Tanya Aida memastikan.
"Udah, tadi Ibra yang urusin." Kataku dan langsung beranjak dari mereka berdua.
__ADS_1
Aku berjalan sendirian mencari toilet, mendadak aku pengen buang air kecil, sekalian benerin make up ku yang daritadi terasa berkeringat. Memang cukup lama aku di toilet karena tadi Kak Dio juga nelpon.
Braak…
Aku mendengus kesal, lalu mengambil bolpoin dan buku catatan ku yang jatuh. Tadi aku memang tidak lihat jalan karena ingin menulia sesuatu, alhasil nabrak orang dan barangku jatuh.
"Maaf tadi saya buru-buru." Ucap orang yang menabrak ku.
Mataku melotot, jantungku kembali berjedug-jedug ria. Entah kenapa aku begitu hafal dengan suara ini, suara dari orang yang daritadi terus aku hindari.
"Iya." Jawabku singkat, berharap dia tidak mengenaliku. Aku terus menunduk.
"Ternyata kamu, kita ketemu lagi, jodoh kali ya." Serunya yang terdengar ringan banget waktu ngomong.
Aku langsung mendelik kesal ketika mendengar ucapannya, aku mencoba mengatur wajah senatural mungkin. Dan mendongak ke arahnya. "Enggak." Jawabku.
Cowok itu yang ternyata Fabian terkekeh, "Owh iya kan kamu udah punya pacar." Kelakarnya.
Kita berdua sama-sama berdiri, mendadak aku jadi salah tingkah di deket orang ini.
"Iya Pak, saya permisi dulu." Pamit ku mencoba sopan dan langsung segera pergi dari sana.
Aku menetralkan jantungku saat sudah lumayan jauh dari tempat tadi. Tapi aku kembali jedag jedug karena melihat semua bisa mini sudah berangkat ke lokasi.
"Mbak darimana saja kok bisa ketinggalan?" Sela salah satu panitia ketika aku menanyakan diriku yang ketinggalan rombongan.
"Saya dari toilet, lagian masa pada nggak ngeh kalau ada yang belum berangkat, kan ada liat peserta." Kataku nggak mau kalah.
"Ada apa?" Suara Fabian kembali muncul, membuatku mendesah pelan.
"Ini Pak, mbaknya ketinggalan rombongan. Semua mobil sudah berangkat." Jawab salah satu panitia yang tadi sempat debat denganku.
"Yaudah berangkat sama aku aja."
__ADS_1
***