APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 27


__ADS_3

Setelah ngobrol berdua dan merawat luka Kak Dio, Aku memilih untuk memaafkan Kak Dio. Kita berdua ngobrol dari hati ke hati. Kak Dio menyadari kesalahannya. Dia janji padaku untuk menjaga jarak dengan Selly. 


"Kalau Kak Dio masih aja lebih nurut ke dia, ya udah pacaran aja sama dia. Gak usah sama pacaran sama Aku lagi," ancam ku serius. 


"Jangan dong Beib, Aku itu sayang sama kamu, nyaman banget, maaf ya," ujarnya dengan menggenggam tanganku. 


"Terus tadi kenapa berantem sama Kak Niko? Kalian ada masalah apa?" tanyaku penasaran. 


Kak Dio menghela nafas panjang, "Setelah kamu pergi tadi, Aku terus nyari kamu. Sampai akhirnya Aku mutusin buat kesini. Niko nemenin Aku ngobrol, dia mancing Aku, nanya kita ada masalah apa," cerita Kak Dio. 


"Terus kakak cerita?" tanyaku. 


"Iya Aku ceritain semuanya, Aku pikir Niko bisa jadi teman curhatku. Tapi dia tiba-tiba malah mukul Aku." Kak Dio menunduk. 


Aku menahan senyum, "Jelaslah dia marah, kan Aku adik nya, kamu udah nyakitin Aku, mangkanya dia marah dan mukul kamu." kataku membela Kak Niko. 


"Iya, Aku emang sadar kalau salah, mangkanya Aku gak balas dia," ucap Kak Dio. 


"Iya, maafin Kak Niko ya," ucapKu ke Kak Dio. 


"Iya Beib, Aku yang salah," Ujarnya menyesal. 


"Kita gabung di depan yuk!" Ajakku. 


Kak Dio ragu, dia mengusap tengkuknya, "jadi canggung Beib ke Niko, apalagi ada sahabat kamu itu," Ujar Kak Dio ragu. 


Aku tersenyum, "nggak apa-apa kak, mereka santai kok orangnya, tuh udah ketawa lagi," Kataku menenangkan. 


Kak Dio menghela nafas panjang, "Iya,"


Aku dan Kak Dio beranjak ke ruang tengah. Disana Kak Niko, Syahnaz dan Bara sedang ngobrol. Melihat kami datang mereka mendadak diam. Aku hanya geleng-geleng. 


"Udah sih biasa aja, Kak Dio udah ngaku salah. Dia janji nggak bakal ngulangin lagi, kalau dia masih ndablek kita ku kirim aja dia," Candaku dengan tersenyum miring. 


"Denger tuh! Lo itu beruntung bisa dapetin dia, lo bakal nyesel kalau sia-sia ini Raya," Imbuh Bara. 


"Ck, apaan sih Bara, lo ngomong gitu kayak gue nggak pernah salah aja, gue kan jadi GR," seloroh ku. 


"Iya, Gue minta maaf, gue sadar kalau salah, gue sayang sama Raya, dia nggak bakal aku lepas," ucap Kak Dio sambil mengusap rambutku. 

__ADS_1


Aku menunduk sambil senyum-senyum, diperlakukan seperti itu oleh pasangan di depan umum jelas bikin Aku meleleh. 


"Awas aja lo berani ngulangin lagi, untung adek gue sayang ke elo, kalau enggak udah gue habisin," ujar Kak Niko yang langsung berdiri pergi ke kamar. 


Aku melirik Kak Dio yang terlihat ngerasa bersalah dan nggak enak ke Kak Niko. Dia pasti sekarang menyesal banget. Aku jadi nggak tega, kugapit lengannya dan kuajak duduk. 


"Tenang aja, Kak Niko capek aja itu, mau istirahat. Nanti sikapnya juga balik santai lagi kok," Hiburku dengan mengusap lengannya. 


"Lo udah tau kan, bodyguardnya Raya tuh banyak, jadi kalau mau sakitin dia pikir-pikir dulu," Celetuk Bara. 


"Iya," Sahut Kak Dio. 


Kita berempat lanjut ngobrol, awalnya agak canggung. Tapi lama kelamaan suasana jadi cair. Bara juga sudah tidak menggebu kalau ngomong, udah kembali ke model awal. 


Sekitar pukul 9 malam mereka semua pulang ke rumah. Bahkan Ayah dan Bunda ikut ngobrol dengan kami. Hanya Kak Niko yang sejak tadi mengurung diri di kamar. Aku jadi ngerasa nggak enak sama Kak Dio, dia pasti ngerasa bersalah banget. Tapi nggak apa-apa, biar dia kapok. 


Tok… tok… tok… 


"Kak, Aku masuk ya," pintaku dan langsung membuka pintu kamar Kak Niko. 


Dia sedang bersandar di headboard sambil main game. Aku mendekatinya dan duduk di ranjang samping Kak Niko. 


"Kenapa lo nggak bilang ke gue?" Todong Kak Niko. 


"Bukannya nggak mau bilang, tapi Aku pikir cuma masalah sepele ini. Kebetulan aja Bara datang dan kita pengen ngasih pelajaran aja ke Kak Dio," ucapku jujur. 


"Tapi tetep aja gue kesel karena tau dari orang lain, berasa nggak dianggap." Ketusnya. 


"Apa Sih Kak ngomong kayak gitu, udah nggak usah diperpanjang, toh dia tadi udah kakak hajar, kasian lo," kataku sambil mendorong badannya. 


"Biar kapok!" Sinisnya. 


Aku ketawa, "Makasih ya Kak, udah dibelain sampe segitunya, Kak Niko kakak terbaik pokoknya," Puji ku sambil memukul lengannya pelan. 


"Lo beneran sayang sama dia?" Tanya Kak Niko tiba-tiba. 


Aku senyum, "Awalnya Aku emang sekedar suka karena ganteng, tapi beberapa kali ada event sama dia, dan ternyata dia baik aku mendadak kepikiran terus. Setelah dia putus dan kita dekat Aku makin melihat banyak hal baik di Kak Dio, Aku sayang sama dia Kak, bukan cuma karena parasnya, tapi karena dia baik dan juga sayang sama Aku." Ceritaku panjang lebar. 


"Tapi dia lebih milih temen ceweknya itu," Pancing Kak Niko. 

__ADS_1


"Si ulat bulu? Dulu Kak Dio putus sama pacarnya juga karena Selly, Aku nggak mau kalah sama dia. Aku yakin mereka nggak ada hubungan. Selagi interaksi mereka wajar Aku bisa maklum, tapi kalau udah berlebihan Aku nggak bakal diem kayak kemarin lagi," kataku dengan senyum. 


"Jangan terlalu sayang, biar kamu nggak terlalu sakit," ucap Kak Niko. 


"Iya Kak, tenang aja. Kakak bersikap biasa dong ke dia. Kasihan tau dia ngerasa bersalah dan takut ke kakak," Rayuku. 


"Iya, masih males aja tadi," kata Kak Niko. 


Aku bersyukur mempunyai kembaran seperti Kak Niko, dia kakak yang selalu ada buat Aku. Meskipun kadang kita masih suka tengkar, dan kalau minta tolong kudu drama dulu, tapi dia Kakak terbaik buatku. Ya Iyalah orang cuma punya kakak satu. 


Dia itu jarang ngomong, bawaanya suka serius. Kita berdua juga jarang curhat-curhatan kayak gini. Tapi dia memang selalu bisa diandalkan dalam situasi apapun. 


Drrt… drttt… 


"Bentar," Ucapnya padaku, "Assalamu'alaikum Mas Bian," Sapa Kak Niko. 


Aku menoleh ke Kak Niko, apa ini Bian? Fabian? Kenapa Kak Niko punya nomernya? Apa selama ini mereka masih suka komunikasi. Kan Aku jadi kepo gini. 


"(---)"


"Iya aman Mas, sampai sejauh ini tidak ada yang mencurigakan." ujar Kak Niko sambil melirik ku. 


"(---)"


"Gimana Mas? Belum ada kemajuan kasusnya?" tanya Kak Niko. 


"(---)"


"Oke siap. Saya selalu tunggu kabarnya." 


"(---)"


"Baik kok, ini dia lagi sama saya, mau ngomong?" pancing Kak Niko sambil menatapku. 


Aku mengernyit, sepertinya Aku paham arah pembicaraan Kak Niko. Tak lama dia menyerahkan ponselnya ke arahku, awalnya Aku ngerasa canggung. Dan jangan tanya jantungku, auto mendadak deg-degan nggak jelas. . 


"Assalamu'alaikum," sapaku. 


***

__ADS_1


__ADS_2