APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 20


__ADS_3

Malam ini terasa begitu beda, biasanya Aku akan santai kalau tidur sendirian, tapi setelah kejadian kemaren rasanya Aku takut, bayangan ditinggal sendirian dihutan dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat membuatku gemetar. Bhkan malam ini aku ngotot minta ditemani Bunda tidur.


Benar kata Bian, Sepertinya Aku butuh ditemani seorang psikolog untuk sekarang. Takutnya Aku mendapatkan trauma dengan kejadian kemaren. Sebelum traumaku menjadi parah, konsul lebih awal sepertinya memang Aku butuhkan.


“Kamu kenal dengan Bian?” tanya Bunda saat menemaniku tidur.


“Sebelum event ini kita pernah ketemu di YMS, tapi Aku nggak tau siapa dia, malah dia ngakunya drivel taxi online, jadi waktu itu dia ngantr Aku pulang.” Aku mulai bercerita ke Mama.


“Oh ya?” Mama terlihat kaget.


Aku senyum samar, “Iya Bun, saat tahu siapa dia Raya sempet ngerasa nggak enak, karena waktu nganter dulu kita sering debat.”


“Sepertinya dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Apalagi diusianya yang begitu muda sudah menjadi anggota dewan.” uji Bunda yang memang merasa kagum dengan Bian.


“Iya Bun, tadi Raya juga diajak mampir kerumahnya. Ketemu Mama sama Adiknya. Saat dirumah Bian seperti melepas jabatannya, dan menjadi seorang anak biasa, sering debat juga sama adiknya, sama kayak Aku dan Kak Niko.” ceritaku sambil membayangkan kejadian tadi.


“Semua anak pasti akan kembali menjadi anak ketika sudah dirumah. Mungkin Bian juga capek dengan kerjaanya, berat lo kak tugas dan tanggungjawab Bian.” Bunda membelai rambutku.


“Sebelum tadi Bian pernah ketemu sama Ayah Bunda?” tanyaku penasaran.


“Iya, waktu kejadian kamu hilang Bian yang datang langsung kerumah dan memberitahu. Bian terlihat begitu khawatir. Dia dan Niko pergi ke lokasi langsung. Kata Niko Bian orang yang tegas, dia sendiri yang memimpin pencarian kamu.” cerita Bunda.


Ternyata memang mereka pernah bertemu, pantas kalau Bian terlihat mengenal keluargaku. Aku jadi ngerasa nggak enak, disisi lain Aku juga makin respect sama dia.


“Iya Bun, ehm… Menurut Bunda Raya butuh konseling nggak sih? kayak yang disarankan Bian tadi?” Aku mencari pendapat Bunda.


Bunda terus mengusap rambutku, “Nggak ada salahnya dengan konseling Kak, kita bisa coba, Bunda bakal terus dampingi kamu.”


“Tapi Raya bakal baik-baik saja kan Bun?” Aku jadi merasa insecure.


“Emang kamu kenapa? jelas baik-baik saja dong. Inget pesan Bian tadi kan? Kamu harus kuat. Kok Bunda ngerasa perhatian Bian ke kamu beda ya?” pancing Bunda dengan tersenyum jahil.


“Maksud Bunda?” Aku jadi salah tingkah.

__ADS_1


“ya gitu deh, tapi kan kamu udah ada Dio, dia dan Syahnaz seharian nemenin Bunda.” ujar Bunda.


“Kenapa Kak Dio nggak bantu nyari Aku?” jujur Aku sedikit kecewa. 


“sejak malam dia sudah ingin ikut berangkat. Tapi Niko melarang karena Dio juga nggak tahu medan, dia diminta menemani Mama dan menunggu kabar disini. Jangan marah atau kecewa ke Dio, dia juga sangat mengkhawatirkan kamu.” Mama memberi pengertian.


Aku menghela nafas panjang, tadi Kak Dio menelphonku, dia ingin datang k rumah, tapi karena sudah larut malam juga Aku melarangnya. Jujur Aku memang merasa kesal ke KAk Dio, dia pacarku tapi kayak nggak peduli, tapi setelah dijelaskan Mama tadi Aku jadi paham dan mengerti.


Keesokan harinya, pagi sekali Syahnaz sudah rebahan di kamarku, setelah sholat subuh tadi Aku memang tidur lagi. Saat bangun ternyata Syahnaz sudah di kamarku, melihatku bangun Syahnaz langsung memelukku sambil menangis.


“Lo nggak papa kan Ray?" Tanya Syanaz disela nangisnya. 


"Nggak papa Naz," Jawabku tapi mataku masih berkaca-kaca. 


"Gimana ceritanya sih Ray, lo kemana kok bisa ilang?" Raya melepas pelukan kami. 


Aku mulai menceritakan ke Syahnaz tentang kejadian waktu itu. Tak ada yang terlewat sama sekali. Syahnaz kelihatan geram, dia mulai memberikan beberapa argumen tentang kejadian kemarin. 


Saat asyik bercerita dengan Syahnaz, Kak Niko memberi tahu kalau di depan ada Dio mau ketemu. Aku mendadak deg-degan, rasanya seperti sudah lama tidak bertemu Kak Dio. Dengan dibantu Syahnaz Aku mulai merapikan penampilan. 


Dia langsung berdiri dan menghampiriku. Senyumnya mengembang, matanya berkaca-kaca. Dia mencengkeram kedua bahuku, cowok ganteng ini terlihat khawatir. 


"Kamu nggak apa-apa?" Tanyanya dengan menatapku. 


Aku tersenyum, "Aku nggak apa-apa Kak," jawabku. 


Kak Dio tersenyum dan mengusap pipiku, "Aku khawatir banget Ray, Maaf ya nggak bisa jagain kamu." Dia terlihat merasa bersalah. 


"Bukan salah Kakak lah," kataku. 


Aku menarik tangan Kak Dio untuk duduk di sebelahku. Kak Dio jelas nurut, dia terus menggenggam tanganku, Aku jadi inget sama Bian, halah. Kenapa malah larinya ke Bian sih. Padahal Kak Dio yang sekarang disampingku dan menjadi pacarku. 


"Pelakunya udah ketangkep?" Tanya Kak Dio dengan melihat ke arah Kak Niko. 

__ADS_1


"Belum, lagi diselidikin Bian sama yang lain," kak Niko menjawab tanpa mengalihkan wajahnya dari ponsel. 


Kak Dio menatapku, "Bian?" 


"Anggota DPR yang kemarin nyari aku," Aku menjawab pertanyaan kak Dio. 


"Owh… " Sahut Kak Dio. 


Kami berempat ngobrol banyak hal hari ini, Aku menceritakan kronologi kejadian. Syahnaz selalu heboh setelah Aku selesai bercerita. Kota semua membahas tentang siapa sebenernya yang bisa menjadi pelaku. 


Sekitar sore hari, beberapa anak dari YMS datang. Mereka semua terlihat heboh saat Aku bercerita tentang kejadian yang aku alamin saat ini..


Ketua YMS yang juga ikut dalam kesempatan ini juga banyak ngajak ngobrol, mereka membuka pikiran kita semua tentang hal baik dan buruk yang terjadi saat aku mengalami ini. Kita semua saling menguatkan dan menghibur. 


Setelah semua orang pulang, tinggal Aku, Syahnaz, Kak Niko dan Kak Dio. Bunda dan Ayah sedang pergi kondangan. Mereka tak hentinya terus menghiburku, terutama Kak Dio, membuatku jadi sedikit melupakan kejadian buruk waktu itu.


"Nik, beli Bakso yuk!" rengek Syahnaz.


"Boleh tuh, gue bungkusin dong, yang pedes." ujarku ikut merayu Kak Niko.


Akhirnya Syahnaz dan Kak Niko pergi berdua naik motor. Tinggal Aku dan Kak Dio yang berada dirumah. Dan jantungku mendadak disco nggak karuan.


"Ray," panggil Kak Dio dengan menggenggam tanganku.


Aku melihat ke arah tangan dan wajahnya bergantian, "ya?"


"Maaf ya, Aku ngerasa selama ini sering nyuekin kamu, sibuk sama organisasi, dan kejadian kemarin bener-bener nampar Aku Ra. Mulai sekarang, tanpa Aku atau Niko kamu jangan pergi sendiri ya. Kemanapun kamu pergi Aku bakal anterin." ucapnya sambil mengusap pipiku.


"Tapi Kak Dio kan sibuk, Aku gak enak ngerepotin." cicit ku basa basi, padahal berharap banget bisa sama dia.


"Kamu prioritas Aku Ra," tegasnya sambil menatapku.


Kak Dio tersenyum, membuatku meleleh, tanpa basa basi dia menarik badanku dalam pelukannya. Aku jelas kaget, tapi kemudian Aku tersenyum dalam dekapannya. Benar kata orang, selalu ada hikmah di balik musibah.

__ADS_1


***


__ADS_2