
Kacau, sepertinya satu kata itu cukup untuk menggambarkan hatiku saat ini. Udahlah tadi kesal sama Ibra, eh malah sekarang mau di culik orang asing. Rasanya aku pengen nangis.
Ponsel juga mati, mau hubungin siapapun nggak bisa karena nggak pernah hafal nomernya. Orang ini juga makin aneh aja, aku mau turun nggak dibolehin. Pengen kucakar aja wajah gantengnya.
"Mbak, saya itu bukan orang jahat! Mana ada orang jahat wajahnya kayak saya!" Kesalnya yang juga emosi.
"Banyaak! Orang jahat kan sekarang ganteng-ganteng." Kataku nggak mau kalah.
Orang itu menahan senyum, "Jadi saya ganteng ya mbak?" Godanya.
"Enggak!" Teriakku. "Turunin saya dong, saya bukan cewek baik-baik, rugi kalau Masnya mau nyulik saya!" Erangku yang semakin meracau nggak jelas.
"Mbak kan cantik, kalau saya culik, bisa saya jadikan istri nanti." Godanya semakin kurang ajaar.
"Enak aja. Saya udah punya pacar." Kataku dengan menatapnya sinis.
"Masih pacar kan belum suami. Boleh boleh aja dong." Sahutnya santai masih dengan celingukan ngeliat jalan yang sepi.
"Nggak usah ngaco!" Teriakku. "Turunin!" Kataku penuh penekanan.
"Udah diem Mbak! Ini daerahnya sepi, yakin mau diturunin disini?" Gertaknya.
Aku langsung diem dan ikut celingukan, benar saja ini sepi banget daerahnya. Nggak ada orang yang bisa ditanyai. Dan tanpa permisi aku malah nangis. Cowok itu menoleh ke arahku dan langsung kaget.
"Eh, ngapain nangis?" Hebohnya.
"Saya takut, Masnya jahat mau nyulik saya. Mana sekarang disasarin kayak gini." Ujarku dengan sesenggukan seperti anak kecil. Entah kenapa hari ini aku begitu sensitif.
Dia menahan senyum, dengan sesekali melirik ku, Tiba-tiba dia berhentiin mobilnya, membuatku semakin jelas jedug nggak karuan. Kemudian dia menghadap ku.
"Nggak usah takut, Aku pastiin kamu aman sama saya, meskipun kita nggak saling kenal tapi InsyaAllah saya akan menjaga kamu, dan mengantar kamu sampai rumah dengan selamat." Ujarnya dengan memegang kedua bahuku.
Dan aku yang ditatap dan diperlakukan seperti itu berasa terhipnotis. "Tapi aku takut." Kataku dengan terus menatapnya.
Dia tersenyum, "Iya aku tahu, Percaya deh sama aku. Kita harus kerjasama. Kamu mau kan?"
"Mau." Jawabku ragu.
"Sekarang kamu cuma harus duduk dengan tenang, Percaya sama aku, Oke?" Ucapnya dengan menghapus air mata di pipiku.
"Iya." Jawabku yang mendadak manut.
"Gadis pintar." Dia mengacak rambutku, mendadak hatiku jadi berbunga-bunga.
"Oke sekarang kita mulai penjelajahan kita." Ucapnya dengan menyalakan mobil.
__ADS_1
Aku duduk menghadap depan, memainkan tanganku, "Penjelajahan apaan!" Gerutuku.
"Tenang, jangan ngedumel. Aku kasih tugas kamu buat baca GPS aja deh." Perintahnya sambil ngasih ponselnya padaku.
Aku menerima ponselnya, dan mulai mengarahkan sesuai rute yang ditunjukkan. Dari dulu aku paling nggak suka kalau harus nunjukin jalan. Jadi aku asal-asalan aja nunjukinnya.
"Yang bener dong kalau ngarahin." Protesnya ketika aku hanya menjawab asal-asalan.
"Ini juga udah bener, salahin aja mbah google." Ketusku nggak terima.
"Heran sama cewek jaman sekarang, pada nggak mau disalahin!" Sindirnya.
"Mana ada orang yang mau disalahin." Sahutku.
Cowok itu geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Jujur aku masih takut sama orang ini. Tapi disisi lain, untuk saat ini aku hanya bisa bergantung ke dia.
"Aku mau pulang!" Teriakku.
"Sama, aku juga capek pengen pulang." Sahutnya.
"Masnya kan driver taxi online! Nggak jelas banget sih. Malah kesasar, dulu bikin SIMnya nembak ya!" Tuduhku.
"Apa hubungannya mbak!" Selorohnya.
"Laporin Mbak, laporin aja." Dia malah nantang, bikin aku kesel.
Akhirnya aku milih diem, tapi di dalam hati aku mengutuk cowok ganteng ini. Sebagai seorang driver dia jelas nggak profesional. Bagaimana bisa dia malah kesasar saat bawa penumpang.
Aku bersorak ketika kita sudah berada di jalan yang ramai. Terlebih aku sudah tau tentang daerah ini. Jadi kalau cowok ini macem-macem aku bisa teriak.
"Di sebelah mana ini?" Tanyanya yang sudah keliatan bete.
"Terus aja lurus. Entar ada perumahan Royal Permata, belok deh." Kataku menjelaskan.
Di dalam hati aku bersorak senang, sebentar lagi sudah sampai dirumah. Dan aku nggak jadi diculik. Ku lirik cowok itu, dia kelihatan lelah. Aku jadi berpikir, apa sejak tadi aku sudah keterlaluan. Menuduh dia macam-macam.
Aku jadi merasa bersalah, padahal kan sejak tadi dia sudah sabar nanggapi aku. Kalau boleh dibilang malah dia nolongin aku.
Setelah masuk dalam perumahan aku mengarahkan dia. Memberi tahu arah ke rumahku. Dari kejauhan aku melihat Kak Niko berdiri di pinggir jalan depan rumah. Dia pasti lagi nungguin aku. Khawatir karena aku belum pulang dan tidak bisa dihubungi.
Cowok itu berhentiin aku di depan rumah, tepat di sebelah Kak Niko yang sedang fokus sama ponselnya. Saat mobil berhenti aku langsung turun dan reflek berlari lalu meluk Kak Niko.
"Aku takut." Rengekku saat dalam pelukan Kak Niko.
"Kenapa?" Tanya Kak Niko dengan suara yang aku tahu kalau dia nahan emosi.
__ADS_1
"Ehm…" Suara deheman dari cowok itu menyadarkanku kalau aku belum bayar taxi nya.
Reflek aku langsung melepas pelukanku dan berdiri di belakang Kak Niko. Entah kenapa aku selalu was-was sama orang ini. Karena sejak kita sholat bareng jantungku selalu nggak aman kalau dekat sama dia.
"Siapa lo! Lo apain adek gue sampe ketakutan kayak gini!" Bentak Kak Niko sambil mencengkram baju cowok itu.
"Eh eh sabar dulu Mas!" Cowok itu gelagapan. "Mbak tolongin, malah bengong!" Seru cowok itu dengan melihat ke arahku.
"Kak Niko, udah." Aku maju dan melerai Kak Niko yang sepertinya udah geram pengen ngehajar cowok itu.
"Lo diapain sama dia!" Sentak Kak Niko dengan menatapku.
"Enggak kak, dia driver taxi online. Meskipun dia nyebelin dan mau nyulik aku tapi dia baik kok." Kataku mengadu.
"Nyulik?" Kak Niko melotot dan kembali mau melayangkan pukulannya ke cowok itu.
"Eh eh kalem dong bro!" Cowok itu menghindar agak jauh. "Jelasinnya yang bener dong Mbak! Bikin repot saya aja!" Ucap cowok itu dengan menatapku kesal.
"Saya kan ngejelasin fakta, tadi Masnya bilang mau nyulik saya!" Aku juga ikutan nyolot.
"Kan bercanda Mbak!" Geram cowok itu.
Aku mendengus kesal, dan langsung nahan tangan Kak Niko. "Udah deh kak jangan diladenin. Yang penting aku udah sampe rumah dengan selamat!" Kataku dengan merogoh dompet.
"Awas kalau sampai adek gue kenapa-napa!" Ancam Kak Niko sambil nunjuk wajah cowok itu.
"Betah amat Mas punya adek kayak gini, nggak mau ditukar tambah aja!" Sindir cowok itu yang membuatku semakin kesal.
"Mulutnya bisa dijaga nggak!" Sentakku. "Ini uangnya. Terimakasih. Saran saya Masnya berhenti aja jadi driver." Kataku dengan memberikan satu lembar uang seratus ribuan.
"Ck! Saya ikhlas nolongin. Saya tadi turun cuma mau mastiin ini beneran rumah mbak atau bukan. Kalau gitu saya permisi," Kata cowok itu dan mau pergi.
"Eh uangnya Mas!" Seruku mau mengejarnya.
"Nggak perlu. Buat cewek nyebelin kayak Mbak saya kasih gratis! Assalamu'alaikum!" Katanya dan berlalu masuk dalam mobil.
"Waalaikumsalam." Gumamku pelan.
"Songong banget sih!" Kesal Kak Niko.
Tin…
Cowok itu membunyikan klakson, tanda dia pamit. Aku menelan salivaku kasar. Rasanya masih kesal dengan cowok itu. Tapi aku bersyukur berkat dia aku bisa sampai rumah.
***
__ADS_1