APA KURANGKU!

APA KURANGKU!
CERITA 23


__ADS_3

"Kak Dio udah janji lo bakal prioritasin Aku," protes ku dengan menatapnya kesal. 


"Iya Beib, Aku minta maaf." ujar Kak Dio dengan putus asa. 


Aku mendengus kesal, dari kemarin Kak Dio selalu disibukkan dengan organisasi dan tugasnya. Hari ini dia mengingkari janjinya lagi untuk jalan denganku. Aku jelas kesal, tadi di depan Selly Kak Dio membatalkan janjinya. 


Cewek ulat bulu itu menempel terus ke pacarku dengan dalih urusan tugas atau Organisasi. Parahnya Kak Dio seperti tidak bisa menolak, pengen ku cakar saja wajah gantengnya. 


Dia baru mengejarku saat Aku tiba-tiba diam dan tidak membalas apapun omongannya. Aku hanya tersenyum sangat manis dan langsung pergi. Dia menyusulku dan mengajak ngobrol di mobilnya. 


"Kita janjian udah lama lo Kak, bahkan Kak Dio sendiri kan yang ngajak Aku," Aku kembali menyerang pacar gantengku. 


"Iya Beib, tapi Aku lupa kalau ada rapat penting, ditambah Aku juga harus ngerjain tugas. Anak-anak udah protes." Kak Dio mengunggah rambut ke belakang. 


"Yaudah sana pergi rapat, kerjain tugas nya, ngapain disini." Ketusku. 


"Aku gak bisa pergi kalau kamu marah kayak gini," Seru Kak Dio. 


"Kayaknya aku tuh cuma kakak jadiin status aja deh, tapi pacar asli kakak tuh organisasi, atau si Selly itu, " sindirku dengan bersedekap dada. 


"Beib, kamu kok ngomong gitu, pacarku cuma satu, kamu!" Sentaknya emosi. 


Aku berkaca-kaca karena kaget, baru kali ini Aku dibentak, apalagi dibentak sama Kak Dio. Aku menatapnya kesal, Kak Dio juga terlihat kaget. 


"Beib, Aku minta maaf, Aku cuma nggak mau kamu beranggapan macem-macem, pacarku cuma kamu Beib, please." Dia kelihatan frustasi. 


"Aku mau pulang," ucapku dan berniat keluar dari mobil. 


Kak Dio menahan tanganku dan langsung membawaku dalam pelukannya. Dia memelukku erat, dan mengusap punggungku. 


"Maaf," bisiknya di telingaku. 


Aku tidak menjawabnya hanya diam menahan kesal. Dan Aku benar-benar kesal ke Kak Dio juga cewek ulat bulu itu. Perlahan Kak Dio mengusap pipiku. 


"Aku sayank sama Kamu Ray," ucapnya. 


"Hmmm… " sahutku dengan menunduk. 


"Oke sekarang kita jalan, kamu mau kemana?" tanyanya dengan menangkup kedua pipiku. 


"Enggak, Aku mau pulang," jawabku. 

__ADS_1


"Masih ngambek?" Tanyaku. 


"Enggak, Aku gak mau egois aja, kan emang kakak ada rapat organisasi. Kita masih bisa jalan kapan-kapan." kataku beralasan. 


Kak Dio tersenyum, "Makasih udah ngertiin Aku Beib," ucapnya dengan mencium keningku. 


Kak Dio akhirnya mengantarku pulang kerumah, sepanjang jalan dia terus merayuku. Aku memang masih menunjukkan wajah jutek, biar aja dia kelabakan. Aku emang masih kesal karena kalah langkah dari si ulat bulu, awas aja entar. 


Sampai dirumah ternyata ada Kak Niko dan Bara yang sedang santai. Mereka main gitar dan nyanyi nggak jelas. Hari ini Syahnaz jaga cafe jadi dia nggak ikut kesini. Aku langsung menghempaskan tubuhku lesehan dibawah. 


"Kenapa lagi lo?" Tanya  Bara sambil main gitar, Aku nggak jawab karena malas. 


"Palingan juga tengkar sama Dio," ucap Kak Niko. 


"Beneran Ray?" Selidik Bara penasaran. 


"Iya," jawabku akhirnya. 


"Kalau nggak cocok putus aja lah, pacaran kok berantem terus," sindir Kak Niko. 


Aku melemparkan bantal sofa ke kakakku yang paling ganteng tapi juga ngeselin. 


Sembarangan nyuruh putus, perjuangan banget bisa pacaran sama Kak Dio. Aku makin badmood aja. 


"Biasa, kita udah janjian malah dibatalin gitu aja, kesel gue." curhatku sambil nyomot keripik pisang. 


"Organisasi lagi?" Tebak Kak Niko. 


"Iya," Cicit ku. 


"Dia suruh pacaran sama organisasi aja," Celetuk Bara. 


"Tadi gue juga ngomong gitu," ucapku langsung menatap Bara. 


"Yaudah gak usah kesel, nonton aja yuk!" Ajak Bara. 


"Boleh yuk lah, daripada gue uring-uringan." Seruku semangat. 


"Syahnaz jaga cafe?" Tanya Bara. 


"Iya," Jawabku. 

__ADS_1


"Yaudah kita berdua aja, Niko mau ke kampus katanya," ujar Bara. 


"Ngapain ke kampus?" tanyaku curiga. 


"Gue ada kelas sore sampe malam, jadi gak ikutan," Kata Kak Niko. 


"Lo gak lagi ngecengin adik tingkat kan?" Godaku. 


"Gue nggak ada waktu buat gituan," Cuek Kak Niko. 


Setelah ngobrol cukup lama, akhirnya Aku dan Bara pergi ke Mall. Sepanjang jalan dia curhat tentang gebetannya. Mereka satu kampus tapi beda jurusan. Bara pernah ngasih liat fotonya ke kami. Dia cantik dan berhijab, kalau kata Bara dia bidadari surga. 


"Dia gak mau pacaran," Cerita Bara saat kita lagi makan. 


"Yaudah jangan pacaran, jaga aja dia dari jauh, entar kalau kalian udah lulus dan sama-sama kerja atau siap semuanya langsung lamar." kataku memberi saran. 


"Kalau gue nikahin dia sekarang gimana Ray?" Bara meminta pendapat. 


"Wooo… segitu sukanya lo? Emang lo udah siap? Nikah itu gak dibuat main-main, kudu siap mental, materi, keluarga lo gimana? Banyak hal yang harus dipikirin, jangan asal sat set aja lu!" Aku memberi saran. 


"Saingan gue banyak Ray, kalau keduluan gimana?" Bara kelihatan frustasi. 


"Pasrahin aja sih, kalau jodoh gak kemana, coba deh pake jalur langit, berdoa, tahajud," ucapku dengan santai. 


Tapi sedetik kemudian Aku tertegun, Jalur Langit. Aku jadi keinget sama Bian, gimana ya kabar tuh orang. Sudah satu minggu lebih dia nggak ada kabar. Kasus ku yang kemarin juga nggak ada kabar. Aku tersenyum simpul dan menunduk, kenapa malah kebayang sama wajahnya, bisa GR tuh orang. 


Aku dan Bara masuk ke dalam Mall dengan bergandengan tangan, hal seperti ini sudah biasa kita lakukan di tempat rame, apalagi setelah kejadian penculikan kemarin, semua orang jadi serba over protect ke Aku. 


Aku merengek minta dibelikan Bara baju dan beberapa novel. Bara sih manut aja, di usianya yang sekarang dia udah punya bisnis kecil-kecilan. Kalau cuma beliin baju dan novel aja sih kecil buat Bara. Aku yakin cewek yang nanti jadi pacar atau bahkan istri Bara gak bakal nyesel, dia royal abis. 


Seperti rencana awal, kita juga nonton bioskop. Film yang Bara pengen tonton genre action, padahal Aku lebih suka komedi romance, jadi tadi kita sempat drama. Akhirnya kita nonton dia film dalam satu hari. Bara itu paling nggak bisa kalau liat temen ceweknya bete, jadilah dia turutin semua. 


Kita juga main di gamezone, sebelum Bara balik Aku harus manfaatin dia. Kasian dong cowok seganteng dan setajir dia dianggurin. Capek muter di mall, kita akhirnya melipir ke Cafe tempat Syahnaz kerja. 


"Si Syahnaz daripada jadi pegawai gini kenapa gak buka Cafe sendiri aja sih?" tanya Bara sambil liat Syahnaz yang daritadi sibuk ngelayani pembeli. 


"Dia kan lagi mode demo ke Papanya, misi Syahnaz memang itu punya cafe sendiri. Tapi dia gengsi mau bilang ke Papanya. Jadilah dia kerja disini, tujuannya biar Papanya liat dan Cafe ini dibeli buat dia." Ceritaku. 


"Ribet amat ya jadi cewek, tinggal bilang juga pasti dituruti sama si Om, gengsi aja dipelihara," sindir Bara. 


"Gengs, kita jalankan rencananya besok!" Seru Syahnaz tiba-tiba. 

__ADS_1


"Rencana apa sih?" Aku dan Bara saling lirik, gak paham. 


***


__ADS_2