
Hari ini begitu sempurna buatku, seharian bisa jalan bareng sama Kak Dio. Impian yang dari dulu Aku inginkan. Kak Dio benar-benar jadi milikku seharian ini.
Kita sampai di rumahku sudah larut malam. Kita berdua ngobrol sebentar di dalam rumah. Mengungkapkan rasa bahagia karena saling memiliki. Sampai akhirnya Kak Dio mulai mendekatkan wajahnya ke arahku, Aku paham tujuan kita nanti pasti ciuman, jantungku sudah berdetak sangat cepat, bibir kak Dio hanya berjarak beberapa senti ketika ada yang mengetuk jendela.
Tok… Tok… Tok…
Aku reflek langsung mendorong tubuh Kak Dio, jantungku semakin nggak karuan karena ketahuan mau ciuman.
Orang yang rese seperti ini pasti Kak Niko. Tapi karena kaca jendela yang gelap Aku nggak bisa lihat. Kuturunkan kaca mobil, dan wajah Pak Slamet, supir pribadi Ayah muncul dengan nyengir.
“Pak Slamet,” ucapku ragu.
“Hehehe… Iya Mbak, saya pikir kenapa kok nggak turun-turun, saya jadi khawatir.” ujarnya dengan wajah polos.
“Nggak apa-apa kok Pak, lagi ngobrol aja.” jawabku dengan tersenyum.
“yaudah kalau gitu saya masuk dulu Mbak,” pamitnya.
“Iya,” jawabku.
Kulirik Kak Dio, cowok itu bersandar di kursi mobil dengan memejamkan mata. Aku menahan senyum, dia membuka satu matanya, wajahnya memerah menahan malu.
“Aku masuk dulu ya,” pamitku.
Kak Dio mengangguk, “Besok Aku nggak ada acara, kalau kamu mu ditemenin jalan kabari ya,” pesannya.
“Iya,”
Setelah Aku masuk gerbang Kak Dio langsung lanjut jalan, Aku menunduk dan tersenyum mengingat tingkah konyol kita tadi yang hampir ketahuan Pak Slamet.
Saat masuk rumah ternyata Kak Dio dan Ayah lagi nongkrong di ruang tivi nonton bola. Mereka kelihatan heboh sendiri. Aku jalan mendekat dan mencium tangan Ayah.
“Kok sampai malam?” selidik Ayah.
“Iya, tadi kita ke Malang,” jawabku.
“Jauh amat!” sindir Kak Niko.
Aku hanya diam tidak menanggapi, Aku memilih ke dapur dan mengambil tempat untuk meletakkan oleh-oleh yang tadi Aku beli dengan Kak Dio. Ada Apel Batu dan brownies Apel. Setelah meletakkan beberapa oleh-oleh di meja depan Ayah dan Kak Niko Aku langsung ke kamar.
__ADS_1
Hari ini masih libur, waktuku untuk bermalas-malasan dirumah. Badanku rasanya masih capek setelah kencan sama Kak Dio kemarin. Aku juga nggak ada rencana apapun hari ini.
“Ray, buruan ganti baju.” pinta Bunda saat masuk ke dalam kamarku.
Aku mengernyit, “Mau kemana Bun?” heranku.
“Di depan ada Bian, mau ketemu kamu.” ujar Bunda.
Aku yang awalnya rebahan langsung duduk ketika mendengar nama Bian disebut. Rasanya masih nggak percaya, atau jangan-jangan Bunda cuma lagi bercanda, lagian ngapain Bian datang kerumah dan minta ketemu Aku.
“Beneran Bian? bukan Kak Dio?” Aku ingin memperjelas.
“Bian Ray, itu lagi ngobrol sama Ayah dan NIko.” jawab Bunda dan langsung keluar kamar.
Aku masih bengong, Bian? ngapain dia kesini. Aku cek lagi ponselku, nggak ada dia ngasih kabar kalau mau datang kerumah. Apa ada urusan tentang proyek kemarin, mangkanya minta ketemu Aku juga.
Aku menghendikkan bahu, ada sedikit senyum yang terbit di bibirku. Kemarin saat jalan ke Malang, Aku sempat berfikir bagaimana kalau Aku nggak sengaja bertemu Bian, pasti heboh.
Aku langsung ganti baju dan merapikan tampilanku. Aku ingat pesan Bunda, anak perawan nggak boleh kelihatan kucel. Nanti cowok pada kabur. Tapi sekarang Aku kok ngerasa genit banget.
“Ray.” panggil Syahnaz yang masuk ke kamarku.
Aku hanya menoleh sekilas dan lanjut menyisir rambut, “Dari mana lo?” tanyaku.
“Gue nggak tau ada berapa tamu disana, tapi salah satunya ada Fabian, anggota dewan yang pernah gue ceritain.” jawabku dengan memakai lip balm.
“Gue yakin Fabian tuh cowok yang tadi paling ganteng. ELo mau kemana?” tanyanya penasaran.
“Ke depan lah nemuin dia.” jawabku santai.
“Ck, ganjen! mentang-mentang ketemu cowok cakep make up kayak gini, haiiish…” sindir Syahnaz.
“Syirik aja lo.” sahutku yang mau jalan keluar.
“Inget woy udah ada Kak Dio, yang ini kasih gue napa,” minta Syahnaz.
“Ogah!” candaku dan langsung keluar kamar.
Saat Aku keluar kamar, semua orang menatapku, seperti Aku adalah pemeran utama yang sedang ditunggu-tunggu, kan aku jadi malu. Aku langsung duduk disebelah Bunda, diikuti Syahnaz yang langsung duduk di sebelahku.
__ADS_1
Aku menatap Bian yang dari tadi juga menatapku, Aku menyapanya dengan menganggukan kepala juga tersenyum. Dia membalas senyumanku. Dan selalu, saat Bian tersenyum rasanya Aku meleleh, dan jantungku berdetak begitu cepat.
Ternyata Bian datang dengan formasi lengkap, ada Sakti dan Yusman yang selalu menemani. Mereka ini seperti tiga serangkai yang kemana-mana selalu bareng.
“Ini yang ditunggu, lama sekali.” sindir Ayah.
“Ya kan tadi nggak tau kalau ada tamu, jadi siap-siap dulu.” jawabku dengan tersipu malu.
“Lo kayak mau dilamar aja pake dandan dulu,” sindir Kak Niko.
Aku mendelik kesal mendapat sindiran seperti itu dari Kak Niko. Aku lirik ke orang-orang yang ada disitu, semua seperti menahan tawa. Aku beneran malu, dasar Kak Niko nggak punya akhlak.
“Iya ya, kok kayak kita lagi mengantar Pak Fabian ngelamar Mbak Raya.” sahut Yusman.
Semua orang akhirnya tertawa mendengar candaan Yusman, Aku malah manyun karena malu. Kulirik Bian yang sedang menatapku dengan tersenyum.
“Ngomong Ngomong Raya kemarin jalan-jalan ke Malang lo Bian,” ucap Ayah tiba-tiba.
“Owh ya? Kok nggak bilang?” todong Bian sambil menatapku.
“Hah? iya kemarin dadakan kesananya.” jawabku.
“Sama siapa?” pancing Bian dengan terus menatapku.
Suasana mendadak hening, kenapa Aku merasa sekarang sedang di introgasi sama pasangan sih. Ini juga kenapa semua orang seperti senang memojokkanku. Aku menoleh ke Bunda, beliau mengangguk, tanda Aku harus jujur.
“Ehm, sama pacar.” jawabku ragu, Aku balik menatap Bian, terlihat ada gurat kecewa di matanya.
“Waduh, belum juga berjuang, eh si bos udah di usir secara halus,” sindir Sakti yang lagi-lagi mengundang gelak tawa orang-orang, bikin Aku jadi makin malu dan ngerasa nggak enak.
“Owh ya bagaimana kabar proyek kalian?” tanya Ayah yang mencoba mengalihkan perhatian.
“Ehm, alhamdulilah mulai berjalan pelan-pelan sih Om, sekarang lagi dalam pantauan Mas Valdy sebagai arsiteknya.” jawab Bian.
Akhirnya kita membahas tentang proyek wahana dan hotel yang akan kita jalankan di Malang. Ayah dan Bunda terlihat sangat antusias mendengar penjelasan dari Bian. Aku sendiri juga kagum dengan cara Bin menjelaskan. caranya seperti bisa menarik orang untuk masuk dan membayangkan bagaimana keren dan serunya tempat itu.
“Owh ya Bi, lo bilang mau ada perlu sama Raya?” pancing Kak NIko yang membuatku langsung menoleh ke dia.
Dan disini Aku baru tahu kalau ternyata Bian mau menyampaikan hal lain. bukan tentang proyek seperti dugaanku. Aku mengalihkan pandangan ke Bian. Dia terlihat sedikit merubah wajahnya jadi serius.
__ADS_1
“Iya, sebenarnya saya mau ngomong sesuatu yang cukup penting,” ucap Bian dengan nada serius.
***