
Badanku terasa lemas, suhu badanku panas, perutku juga melilit nggak karuan. Aku sangat hafal kondisi badanku, kalau sudah seperti ini berarti lambungku bermasalah.
"Bun, kita bawa Raya ke rumah sakit!" Heboh Kak Niko.
"Nggak usah Kak," Jawabku dengan suara lemah.
"Lo nggak usah ngeyel, lambung lo kena nih, semalam kan gue udah bilang, makan yang banyak. Ini badannya panas Bun," Ucap Kak Niko yang memegang dahiku.
"Aku nggak mau kak," Tolak ku yang mencoba duduk dibantu Kak Niko.
"Ray, kalau sampai gue khawatir kayak gini berarti sudah parah. Gue juga ngerasain Ray!" Kesal Kak Niko.
"Udah kalian malah tengkar," Ucap Bunda, "Niko coba telpon Dokter Ryan."
Kak Niko langsung keluar kamarku. Sekarang tinggal Bunda dengan wajahnya yang terlihat khawatir. Beliau menggenggam tanganku.
"Bun," Panggilku.
"Ray, kamu jangan mikir macam-macam ya," Bunda merapikan rambutku.
"Tetep kepikiran Bun," Keluhku bersandar di bahu Bunda.
"Udah ya, masalah yang kemarin biar Ayah dan Niko yang urus. Kamu nggak usah pikirin." ucap Bunda mencoba menenangkan.
Tak lama Kak Niko balik ke kamar dengan wajah yang lebih fresh dan rambut basah. Sepertinya tadi dia mandi dulu. Dia membawakan ku eh hangat.
Kak Niko memang selalu perhatian kalau Aku sakit, dari kecil Aku memang lemah, sering sakit-sakitan. Dan tiap Aku sakit Kak Niko selalu bisa ngerasain. Begitulah anak kembar, kita lebih peka.
Dokter Ryan yang juga tetanggaku tak lama datang, beliau memeriksa keadaanku. Beliau ini sudah tau bagaimana riwayat sakitku. Tiap kali ketemu beliau selalu mewantiku untuk jaga pola makan.
"Raya, jangan bandel ya, makan di jaga. Sementara makan bubur dulu." Pesan Dokter Ryan.
Kak Niko ikut keluar kamar sekalian menebus resep di apotik. Bunda yang tadi bikin bubur, sekarang sedang nyuapin Aku.
"Ray, Bunda bukannya mau bela siapapun, kamu anak Bunda jelas Bunda selalu disisi kamu. Tapi ucapan kamu kemarin apa nggak keterlaluan?" Tanya Bunda pelan.
"Raya lagi nggak mau bahas Bun," Tolak ku karena memang tidak ada tenaga untuk mikir.
__ADS_1
Bunda menghela nafas panjang, "Yaudah, yang penting kamu sehat dulu ya,"
Bunda terus menyuapi ku dengan telaten.
Setelah makan dan minum obat Aku meminta waktu buat istirahat. Aku berpesan tidak mau ketemu siapapun. Termasuk Kak Dio dan Syahnaz. Aku ingin benar-benar sehat. Aku nggak mau down hanya karena masalah ini.
***
Sudah 3 hari Aku terbaring di kamar, selama 3 hari pula Aku menutup diriku dari dunia luar. Membiarkan ponselku mati. Hanya Kak Niko yang menjadi tanganku. Memberikan info pada Kak Dio atau teman-temanku.
Dan baru hari ini Aku mau bertemu dengan Syahnaz yang membawakan ku bubur Ayam. Dia menemaniku di kamar, bahkan nginep dirumah.
"Ray, lo nggak penasaran sama kejadian setelah lo masuk kamar?" Pancing Raya setelah kita makan.
"Gue malas Naz, bikin kesel aja." jawabku cuek.
"Beneran nih lo nggak penasaran, entar gue udah lupa lo nanya-nanya," Syahnaz masih terus mengompori.
Ku lirik Syahnaz yang rebahan sambil main ponsel. Aku jadi kepikiran sama kejadian kemarin. Bukannya penasaran sama Bian, tapi lebih ke kondisi saat Aku masuk kamar. Aku jadi kepikiran sama Kak Dio juga.
"Nas," Panggilku.
"Ceritain deh," Kataku akhirnya.
"Kebiasaan lu!" Kesal Syahnaz.
Syahnaz duduk sandar di headboard. Aku memilih menghadap dia dengan memangku boneka monyet kesukaanku. Aku menunggu Syahnaz bercerita, nih anak kalau lagi ditungguin malah suka malas-malasan, bikin kesal.
"Buruan Naz," Kesal ku nggak sabar.
Syahnaz mencibir, "Jadi setelah elo masuk tuh semua pada kaget, suasana jadi canggung kan. Yang keliatan khawatir Bian, dia kayak gelisah dan ngotot pengen ngajak elo ngobrol. Ayah sama Niko yang nenangin. Tapi tetep tuh Bian minta kesempatan buat dikasih waktu ngobrol sama elo. Dan… " Syahnaz menggantungkan kalimatnya.
"Apa? Elo kalau cerita yang bener!" Aku penasaran.
"Kak Dio ngamuk," ujar Syahnaz.
"Kak Dio? Kenapa?" Aku makin penasaran.
__ADS_1
"Kayaknya sih dia cemburu, secara Pak Bian ngotot banget, dia ngerasa bersalah sama elo, cuma pengen ngomong ngejelasin dan minta maaf. Kak Dio emosi, bahkan mereka berdua sempet mau baku hantam." Cerita Syahnaz drama.
"Serius? Kak Dio sama Bian?" Aku jelas kaget.
"Iya Ray, rame deh malam itu, semua pada panik elo marah. Eh ditambah tuh dua laki pada emosi adu mulut dan mau baku hantam." Ujar Syahnaz lagi.
"Terus?"
"Kak Niko sama temen-temen Bian yang ngelerai. Tapi tetap aja mereka masih emosi. Dan akhirnya Ayah yang turun tangan. Sumpah Ray, seumur-umur baru kali ini gue liat si Ayah marah. Keren! Semua langsung pada diem," Cerita Syahnaz.
"Ayah gue emang keren, dia nggak suka marah-marah, kalem, tapi sekalinya marah langsung pada takut." Sahut ku.
"Iya lo Ray, Kak Dio sama Bian di bentak-bentak sama Ayah. Terus keduanya disuruh pulang, di usir Ray," Cerita Maya.
Aku bengong, apa segitu parahnya kemarin, kok Aku nggak denger apa-apa, apa Aku terlalu menghayati saat menangis, jadi huru hara di luar kamar nggak kedengeran.
“Lo nggak lagi ngarang cerita kan Naz?” selidik ku yang masih ragu.
“Astaga Ray, buat apa sih gue ngarang soal beginian, apa untungnya buat gue?” Syahnaz balik nanya.
“Nggak gitu, soalnya gue beneran nggak tau kalau seheboh itu.” ujarku sambil nunduk.
“Emang Kak Niko atau Bunda nggak ada yang cerita?” Tanya Syahnaz.
Aku menggeleng, “Gue sengaja minta mereka nggak bahas masalah waktu itu.”
Syahnaz menghela nafas, “Menurut gue keduanya nggak ada yang salah sih, maksudnya kita paham Bian tuh ngerasa bersalah banget ke elo, dan Kak Dio juga cemburu sama kalian berdua. Jadi emang malam itu suasananya benar-benar horor sih,” ujar Syahnaz sambil menatapku.
“Terus menurut lo, gue harus gimana Naz?” tanyaku dengan meremas boneka monyet.
Syahnaz menghela nafas panjang, “Gue paham banget posisi elo, gue bisa ngerasain gimana takutnya lo waktu tu, kecewaanya elo, kita paham, Tapi Ray, menurut gue sikap lo ke Bian waktu itu sedikit berlebihan sih, gue nggak paham kenapa elo bisa sampai ngomong kayak gitu.” Syahnaz mengungkapkan pendapatnya.
“Tapi gue bener-bener kesel, emosi.” Aku membela diri.
“Iya, tapi gue kenal elo, se emosinya seorang Raya, nggak kayak gitu. Mangkanya kita pada kaget, jangankan gue, Bunda, Ayah, Niko pun kaget sama sikap lo.” tutur Syahnaz.
“Gue kemarin benar-benar kayak ada di satu titik yang nggak bisa mikir Naz, semua buntu, dan cuma bisa emosi, jadi kata-kata itu langsung keluar.” ceritaku.
__ADS_1
“Jujur sama gue Ray, Elo ada rasa kan sama Bian?” todong Syahnaz.
***