
HAY gengs… Ada yg nanyain cerita tentang Valdy dan Zia, pada penasaran kan???
Valdy dan Zia, baca cerita mereka di 'Triangel'.
Baca juga karya Author yang lain ya..
Ada Danis dan Anjas di 'Hidup dan Mati', juga Alma dan Kenzo di 'Sahabatkah?'
Terimakasih…
***
— POV AUTHOR —
Seorang laki-laki sedang berdiri di sebuah balkon rumah lantai dua. Dia menghisap rokok dan menghembuskan asapnya. Mendongak ke atas, menatap Langit malam yang begitu cantik dengan hiasan bintang dan bulannya.
Fabian Pradipta, cowok itu tersenyum kecut ketika mengingat kisah kasihnya. Bian adalah cowok yang susah sekali jatuh cinta, didikan kedua orang tuanya sejak kecil untuk menjaga jarak dengan lawan jenis ternyata kebawa sampai sekarang.
"Bi, mau nggak Mama jodohin sama anak temen Mama, dia seorang dokter, cantik, baik. Pasti cocok sama kamu," ujar Mama Bian suatu hari.
Bukannya Bian tidak kepikiran untuk menikah, tapi dia merasa belum ada yang pas. Dia tidak mau hanya karena tekanan dari orang lain membuatnya terpaksa menikah, dan tidak ada yang menjamin Bian bahagia.
Hatinya mulai bergetar ketika bertemu dengan seorang perempuan cantik di Mushola. Dimata Bian cewek itu terlihat menggemaskan. Mereka juga sempat sholat jamaah berdua.
Keduanya kembali bertemu dan Bian mengantar pulang karena di anggap driver. Sejak hari itu hati Bian tertuju pada Naraya Lazuardi.
Berbagai kejadian membuat keduanya sering bertemu. Dan beberapa minggu kemarin perasaannya terbalaskan. Ara juga bilang kalau sayang ke Bian, hanya saja kondisi Ara saat ini sudah mempunyai pacar.
"Raya sedang jalan sama pacarnya, Dio. Ini tadi bilang mau pulang terlambat." ujar Bunda Risma setelah menerima telpon dari Raya.
Hati Bian mencelos, dia memang menyuruh Raya untuk melanjutkan hubungan dengan Dio, dan dia sendiri memilih mundur sementara. Tapi tidak bisa Bian pungkiri kalau dia cemburu.
"Aku kangen kamu Ra," gumam Bian dengan menunduk.
Pikiran Bian sekarang sedang penuh, hatinya juga sedang tidak baik-baik saja. Rasanya dia sedang lelah, tapi kembali lagi Bian harus kuat. Apalagi saat ini dia sedang dalam masa kampanye, banyak tekanan yang harus dia terima.
Kalau boleh egois, dia ingin merebut Raya dan memintanya untuk hanya menjadi miliknya. Apalagi saat suasana kampanye kayak gini, Bian butuh seseorang yang menguatkan dan mendampinginya.
__ADS_1
Tapi Bian dituntut tidak boleh egois, Raya masih terikat status pacar dengan cowok lain. Ditambah saat ini keamanan Raya dipertaruhkan kalau berdekatan dengannya. Musuh tak terlihat Bian ada di mana-mana. Dia akan sangat menyesal kalau sampai untuk kedua kalinya Raya celaka karenanya.
"Bos, galau mulu." Sakti datang dan langsung menyindir sang atasan yang juga sahabatnya itu.
"Siapa yang galau? Gue lagi mikir," elak Bian sambil duduk di samping Sakti.
"Iya mikirin Raya," imbuh Sakti sambil senyum jahil.
"Sialaan!" Bian terkekeh. "Enggak Sak, lagi mikir hal lain,"
"Apalagi yang bikin lo malem-malem berdiri disini, inget umur, udah tua entar masuk angin," sindir Sakti.
"Kampreet, kita tuh seumuran." Bian menyanggah ucapan Sakti.
"Tadi kenapa nggak nungguin Raya? Kan lumayan ngobatin kangen, daripada galau gini," sindir Sakti dengan melirik sahabatnya.
"Lo nggak denger tadi kalau Raya lagi jalan sama pacarnya." Bian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Lagian kenapa lo ngalah sih, kan Raya juga suka sama lo, pepet aja. Langsung lamar, gue yakin sih bakal diterima." Sakti mengompori.
"Terus rencana lo gimana?" tanya Sakti.
Bian menghendikan bahunya, "Ikutin alur aja Sak, kalau emang jodoh pasti nanti dia bakal sama gue."
Sakti mengangguk, "Terus desakan dari bupati Lamongan yang mau jodohin elu sama anaknya?" selidik Sakti.
Bian menghela nafas panjang, "Dari awal gue udah menolak,"
"Tapi para petinggi partai juga mendukung Bi, bahkan wacana itu sudah ramai. Mereka berasumsi kalau elu jadi sama Anak tuh Bupati, kans elo buat jadi bupati bakal lebih besar." Sakti mulai menceritakan apa yang dia dengar.
"Itu juga yang lagi gue pikirin Sak, pasti semua orang kembali nekan gue dengan cara itu," Keluh Bian.
"Ibu gimana?" tanya Sakti penasaran.
Buan menghela nafas panjang, "Ibu secara nggak langsung juga nyuruh cepet nikah, kalau masalah calon beliau nggak pernah ikut campur, yang penting gue cocok," cerita Bian dengan menerawang jauh.
"Hidup lo ribet ya Bos. Karir Oke, jodohnya belum nongol-nongol," ledek Sakti.
__ADS_1
"Heleh… ngaca! Lo sendiri gimana, pacaran gonta ganti gak ada lanjutannya. Emang baju dicoba, pasangan kok coba-coba," balas Bian.
"Hahaha… Bacotnya Pak Bupati sadis amat," jawab Sakti dengan ketawa.
"Husst… Belum jadi, entar kalau sebelah denger, bisa rame lagi," ujar Bian.
Sakti ketawa ngakak, "Betewe, tadi Yusman tanya, keamanan perlu ditambah nggak?"
Bian menoleh sekilas ke Sakti, "Iya Mama, Fio dan keluarga Mbak Fella. Ehm, sama Raya kayaknya juga perlu, gue masih khawatir aja mereka nargetin dia,"
Sakti mengangguk, "Lo udah ngobrol sama bokapnya kan?"
"Iya, beliau setuju. Dan beliau juga bilang setelah kejadian kemarin, Raya dalam pengawasan mereka juga," cerita Bian.
"Syukur deh, gue beneran greget banget sama mereka." kesal Sakti.
Bian tersenyum, jujur di dalam hatinya juga ada rasa kesal dan dendam. Dia masih belum paham kenapa musuhnya itu menargetkan keluarga juga orang-orang terdekatnya. Apa sebenarnya masalah mereka.
Bian tau siapa musuhnya, tapi dia yakin di belakang orang itu ada musuh yang lebih besar lagi. Dia sendiri ragu bisa mengatasi orang itu. Makanya saat ini Bian lebih memilih untuk tenang. Sambil menyelidiki lebih lanjut.
Bian dan Sakti kembali ngobrol, mulai dari masalah pribadi sampai tentang hal politik. Selama ini memang hanya Sakti orang yang paling dia percaya. Keduanya sudah kenal sejak kecil, sudah saling melengkapi seperti saudara kembar.
Sampai larut malam keduanya ngobrol, dan akhirnya Bian minta ijin untuk istirahat dan masuk kamar, begitupun dengan Sakti. Cowok itu memang tinggal di rumah Bian.
Seperti biasa, sebelum tidur Bian akan stalking sosmed sang pujaan, Raya. Bian memang munafik, dia bilang tidak komunikasi sama sekali, tapi diam-diam dia masih stalking sosmed Raya. Bahkan saat ketemu Niko tadi dia banyak bertanya tentang cewek itu.
Hati Bian berdebar ketika dia melihat status sosmed Raya. Cewek itu memposting fotonya dan saudara sepupunya yang sedang ngumpul bareng. Caption Raya yang sedikit membuat Bian tersenyum.
HARUSNYA AKU DIRUMAH SEJAK TADI, DAN BERKUMPUL BERSAMA 'KALIAN'. MAAF…
Bian sangat tahu kalau kata-kata itu ditujukan kepadanya. Bian sedikit berbunga, dia yakin pasti Raya juga kangen ingin bertemu.
Saat sedang asyik melamun, ada telpon yang masuk di ponsel pribadi Bian, dengan sedikit senyum Bian mengangkat telepon itu.
"Hallo…."
***
__ADS_1