
Hari ini aku merasa senang, sejak pagi hariku penuh warna. Kak Dio yang sekarang sudah resmi menjadi pacarku terus membuatku baper. Ada saja tingkahnya yang bikin aku tersenyum bahagia.
Siang hari setelah makan berdua, dia mengantarku ke YMS. Sore ini aku ada meeting bareng temen-temen. Akan ada event wisata di luar kota, dan nantinya beberapa orang dari kami akan dikirim untuk mengikuti event itu sebagai perwakilan dari Surabaya.
Aku datang lebih cepat dari jam yang ditentukan. Di aula masih ada tamu jadi aku memilih untuk ke tempat favoritku, yaitu mushola yang berada di pojok bangunan.
Untuk mengisi waktu aku memilih untuk video call bareng sahabatku, Syahnaz, Dian, dan Bara. Kebetulan kami memang sama-sama punya waktu luang.
"MasyaAllah!" Pekik seseorang yang membuatku langsung jantungan.
Saat ini posisiku sedang nggak karuan, aku duduk santai seperti di warung kopi dengan satu tangan memegang ponsel, satu lagi sedang garuk-garuk badanku yang gatal. Dan tiba-tiba ada seorang laki-laki memakai celana kain juga kemeja press body muncul.
Dia kaget aku makin kaget, tanpa banyak bicara aku langsung matiin ponselku dan memperbaiki duduk. Bisa rusak namaku kalau ketahuan duduk model kayak begini, preman banget.
Kita berdua saling tatap, kuakui dia ganteng, sangat ganteng. Hidungnya yang mancung, kulitnya yang bersih, postur tubuhnya yang tinggi. Dan aku langsung terpesona saat pertama melihat cowok itu.
"Ehm… " Dehemannya mengalihkan pandangan ku.
Aku langsung melengos karena kepergok dari tadi memandangnya. Aku jelas jadi salah tingkah. Pasti aku kelihatan aneh banget, udah tadi duduk kayak preman pasar, sekarang seperti orang begoo yang baru liat cowok bening.
"Maaf boleh numpang nggak?" Tanyanya.
"Owh silahkan, saya ini juga numpang." Jawabku yang masih salah tingkah.
Aku memilih langsung nunduk, pura-pura sibuk dengan ponselku. Daritadi anak-anak menelponku, mungkin mereka khawatir karena aku langsung memutus video call kami.
"Mbaknya kerja di sini?" Tanya cowok itu tiba-tiba.
"Iya." Jawabku singkat, rasanya aku tidak berani untuk melihat ke arahnya.
"Tempatnya bagus ya Mbak, gaya anak muda banget,cocok buat foto-foto. Apa itu Mbak sebutannya?" Pancingnya yang merasa sok kenal.
"Hah? Apa? Instagramable?" Tebakku seperti orang begoo.
"Nah iya. Bikin betah, apalagi orangnya disini cantik-cantik, kayak mbaknya." Ucapnya gombal banget.
Aku tersenyum maksa, "Masnya sendiri ada urusan apa disini?" Tanyaku basa basi.
__ADS_1
"Saya nganter orang-orang kunjungan disini." Jawabnya santai.
Aku mengernyit, "Masnya sopir?" Tanyaku sambil menatapnya.
Kita berdua kembali saling tatap, aku menunggu jawaban, sedangkan cowok itu seperti bingung. Dia menggaruk tengkuknya, mungkin merasa nggak nyaman dengan pertanyaanku.
"Eh Maaf," Aku menutup mulutku yang tadi asal nyeplos.
Cowok itu tersenyum maksa, "Iya saya driver."
Aku hanya mengangguk menanggapi jawaban cowok itu. Kemudian suasana menjadi hening. Kami sibuk dengan dunia masing-masing. Aku sibuk membalas chat Kak Dio, sedangkan Cowok itu sepertinya juga sibuk dengan ponselnya.
Tak lama suara adzan ashar berkumandang, aku merapikan bawaanku karena harus segera ke aula. Cowok itu juga berdiri.
"Kita sholat jamaah aja, sebentar saya ambil wudhu dulu." Ucapnya dan langsung berjalan ke arah tempat wudhu laki-laki.
Dan lagi aku terlihat begoo, beberapa detik aku masih bingung kudu ngapain. Sampai akhirnya aku memilih untuk ikut mengambil wudhu.
Kita shalat jamaah berdua, dia begitu khusyuk beribadah. Sepertinya cowok ini cocok banget menjadi seorang imam. Nggak bayangin deh kalau aku punya imam alias suami seperti cowok ini. Rumah pasti rasanya adem.
Astaga, saat sedang sholat malah pikiranku melayang kemana-mana. Bagaimana mungkin aku berkhayal menjadi istri cowok ini. Sepertinya pikiranku sudah terkontaminasi dengan virus. Padahal kenal aja enggak dengan orang ini.
Selesai sholat dia pamit duluan, katanya sudah ditunggu. Aku sendiri bodo amat dan memilih touch up make up ku lebih dulu.
Dari mushola aku langsung menuju aula dan ternyata disana sudah banyak teman-teman yang datang. Aku bergabung di kursi yang kosong. Seperti biasa mereka sedang gosip.
"Gibahin siapa sih?" Tanyaku saat baru ikutan gabung.
"Tuh Mbak, tadi ada anggota DPRD masih muda, ganteng." Celetuk salah satu junior ku disana.
Aku mengernyit, "Masa?" Candaku dengan wajah kaget yang sengaja dibuat-buat.
"Iya. Ih Mbak Raya mah malah bercanda." Sahut junior yang lain.
"Hahaha… habis kalian heboh bener, sampe kedengeran dari luar." Kataku.
"Mbak Raya mana tertarik sama obrolan kita. Dia udah jadian kan sama Mas Dio." Imbuh salah satu adik tingkatku di kampus.
__ADS_1
"Hah! Beneran Mbak? Mas Dio anaknya Pak Salman?" Heboh yang lain.
"Iya, kalian cepet banget ya masalah kek gini." Sindirku.
"Iya dong, kalian cocok deh. Ganteng sama cantik klop. Bikin iri." Seloroh salah satu dari mereka.
"Apa sih. Doain deh." Kataku dengan senyum-senyum.
Obrolan kita masih lanjut sampai para pengurus Yayasan masuk aula. Seperti biasa kita membahas tentang event-event yang ada di bulan depan. Semua anggota dibagi agar kita bisa ikut partisipasi di tiap event itu.
Aku sendiri ditunjuk untuk mewakili Surabaya di event Pesona Pantai Malang Selatan. Aku jelas semangat karena memang aku sudah lama pengen mantai. Dari Surabaya ada dua orang yang berangkat. Aku dan Ibra. Sebenarnya aku sedikit risih karena dari dulu Ibra selalu nyari perhatianku, tapi bodo amat toh disana nanti banyak duta wisata lain.
Event yang nanti bakal aku datangi ini berlangsung minggu depan, selama 3 hari. Otomatis nanti aku menginap. Dari info yang aku dapat kita nanti akan menginap di pulau Sempu. Disana baru dibangun sebuah Villa. Kalau dilihat dari list kegiatannya, sepertinya bakal seru.
"Raya, nanti berangkatnya bareng pake mobilku aja ya." Ibra mulai menawari ku, seperti biasa dia akan cari perhatian.
"Nggak janji ya Bra, liat entar aja." Kataku berusaha tidak menyinggung.
"Dari sini kan kita cuma berdua, kamu mau berangkat sama siapa?" Dia terlihat mulai nggak sabaran. Sebenarnya Ibra ini anaknya sopan dan baik, dia juga selalu pakai Aku-kamu kalau ngobrol.
"Siapa tau nanti gue dianter Kak Niko atau pacar gue. Kan Weekend jadi sekalian jalan-jalan." Kataku beralasan.
"Kamu sudah punya pacar?" Tanyanya yang terlihat kaget.
"Iya sudah." Jawabku dengan tersenyum.
"Siapa, Dio anaknya Pak Salman?" Pancingnya.
"Iya."
"Kamu yakin Ray, dia playboy, kamu harus hati-hati sama dia." Ibra mencoba mengingatkanku.
Aku tau niat Ibra baik, tapi aku jelas nggak suka dia ngomong seperti itu tentang Kak Dio. Bagaimanapun dia adalah cowok ku, aku nggak suka kalau milikku direndahkan seperti itu.
"Cukup ya Bra, gue nggak suka lo ngomong kayak gitu tentang cowok gue. Dan ini semua bukan urusan lo!" Sentakku dan langsung pergi meninggalkannya.
***
__ADS_1