
"Yaudah berangkat sama aku aja." Ujar Fabian yang terdengar santai.
Tapi bagiku itu seperti sebuah petir yang menggelegar. Bagaimana bisa aku kembali satu mobil dengan beliau, bisa beneran mati kutu aku. Semoga panitia punya solusi yang lain.
"Nggak merepotkan Pak?" Tanya panitia itu ragu-ragu.
"Enggak! Kan saya juga mau ke lokasi, sekalian jalan." Ujar Fabian, nggak tau aja dia kalau aku sudah panas dingin nggak karuan.
"Yasudah kalau gitu Pak, soalnya kami harus beresin disini, baru bisa ke lokasi nanti sore." Jawab panitia itu yang semakin membuatku ingin kabur saja dari sini.
"Iya, kalian selesaikan aja tugas kalian. Mari Mbak ikut saya." Ujarnya dengan menyeringai samar.
Aku bergidik sendiri melihat seringai yang terlihat dari wajah Pak Fabian. Dan dengan sangat terpaksa aku mengekorinya menuju parkiran. Mobil yang dia tuju adalah mobil yang sama ketika kejadian malam itu.
Dia kembali membukakan pintu depan untukku, dan aku merasa dejavu akan hal ini. Dengan ragu aku masuk ke dalam mobil mewah itu untuk kedua kalinya. Setelah aku masuk baru dia masuk lewat pintu sampingku.
"Dipakai sabuk pengamannya, apa perlu saya yang pakein." Godanya setelah menyalakan mobil.
Dengan gelagapan aku benerin sabuk pengaman. Entah kenapa aku merasa semakin kesini cowok ini semakin menyebalkan.
"Ehm, maaf Pak, kita cuma berangkat berdua?" Tanyaku ragu, karena aku pikir dia akan berangkat sama driver atau dengan staf yang lain.
"Iya cuma berdua." Jawabnya santai, "Kenapa? Kamu takut kita kesasar lagi? Tenang aja, ini daerah saya, jelas saya hafal jalannya."
"Iya." Cicit ku pelan. Aku merasa tertampar dengan ucapan dia tadi, seakan-akan dia sedang menyindirku. Menit pertama kita berdua sama-sama diam karena canggung, jujur aku sangat gugup sekarang. Tapi kemudian dia memutar musik, membuatku sedikit lebih rileks.
"Kamu kelihatan gugup gitu?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh sekilas kearahnya, ternyata dia juga sedang menoleh ke arahku. Terlihat Pak Fabian tersenyum samar, senyuman biasa yang bisa membuat para cewek meleleh, termasuk aku, haduuuh…
"Saya minta maaf Pak." Gumamku.
"Maaf kenapa?" Dia mengernyit heran.
"Maaf buat kejadian malam itu, saya tidak tahu kalau Bapak anggota DPR." Jawabku dengan memainkan jari karena gugup.
Pak Fabian tersenyum, "Jadi karena sekarang kamu tau profesi saya mangkannya kamu minta maaf dan bersikap seperti ini?" Pancingnya dengan gaya yang santai.
"Saya ngerasa nggak sopan aja. Udah nganggap Bapak driver, menuduh yang bukan-bukan, belum juga Kakak saya yang mau nge hajar Bapak." Kataku ngerasa nggak enak.
Laki-laki itu tersenyum, "Bukan salah kamu, karena memang saya yang mengaku sebagai driver, kamu menuduh saya juga karena saya yang nggak bener bawa mobilnya sampai kita kesasar. Kakak kamu bersikap seperti itu juga karena dia peduli dan sayang sama adiknya." Ujarnya dengan sesekali menoleh ke arahku.
Aku tersenyum sambil menunduk rasanya begitu canggung. Pikiranku mulai melayang kemana-mana.
__ADS_1
"Kamu kenapa diem aja, kayaknya kemaren suka heboh?" Godanya membuatku semakin salah tingkah.
"Saya memang kayak gini Pak orangnya, pemalu, kemarin saya bersikap kayak gitu karena lagi gugup aja." Ujarku beralasan.
"Yakin pemalu?" Sindirnya dengan ngangguk-ngangguk.
Tuh kan orang ini memang benar-benar menyebalkan. Untung ganteng, kalau tidak pasti banyak yang menghujatnya. Terlebih dia seorang pejabat pemerintahan. Aku jadi heran sendiri sama Riska kenapa bisa tergila-gila sama cowok seperti ini. Kalau dia tahu aku semobil sama Pak Fabian auto mencak-mencak dia.
Aku melengos, dan akhirnya memilih diam sambil melihat pemandangan di luar. Lagian apes banget sih aku hari ini, kalau tau bakal kayak gini aku nggak bakalan ikut event. Mending ngurusin acara yang buat bulan depan aja.
Saat aku sedang melamun, cowok itu mengulurkan tangannya, "Aku Fabian." Ujarnya.
Dengan perasaan gugup aku membalas uluran tangan itu, "Naraya." Sahutku, tak lama kita saling melepas uluran tangan itu.
Dia ngangguk-ngangguk, "Naraya, ehm… Ada yang manggil Ara nggak?" Tanyanya.
"Hah? Enggak ada, palingan manggil Nara atau Raya." Jawabku.
"Oke kalau begitu aku panggil kamu Ara aja, boleh nggak?" Tanyanya dengan sesekali menoleh ke arahku.
"Iya." Jawabku pasrah.
"Kamu juga boleh panggil aku apapun, terserah." Ujarnya.
"Apa?" Tanyanya karena memang mungkin dia nggak denger.
Aku nyengir, "Enggak, saya manggil Pak Fabian aja." Kataku mencari aman.
Dia menahan senyum, "Kalau berdua gini nggak usah pake Pak lah, kesannya tua amat," Protesnya.
"Terus?"
"Khusus buat kamu panggil Bian aja." Serunya.
"Pak Bian, oke." Sahutku.
"Nggak pake Pak Ra, panggil Bian aja." Protesnya lagi.
"Nggak berani ah, nanti saya kena protokoler." Tolak ku yang jelas merasa enggan.
"Kan sekarang cuma berdua, dan aku sendiri yang nyuruh. Udah santai aja. Saya kan juga pengen hidup santai kayak kamu, menikmati hidup sebagai seorang pemuda." Ceritanya.
"Emang selama ini Pak Bian nggak menikmati hidup?" Pancing ku mencoba mencari tahu.
__ADS_1
Dia menghendikkan bahu, "Menikmati, tapi kan nggak sebebas kamu."
"Emangnya Bapak… "
"Bian Ra, panggil aku Bian, kita ngobrol santai aja. Nggak ada orang ini." Potongnya nggak Terima.
"Iya, emang apa yang bikin kamu milih jadi anggota DPR di usia yang masih muda?" Tanyaku hati-hati.
"Papa dulu juga anggota dewan, dan almarhum pengen anaknya juga ada yang jadi anggota meneruskan perjuangan beliau." Ceritanya dengan wajah sendu.
"Maaf, aku nggak bermaksud." Kataku merasa nggak enak.
"Nggak papa. Ehm cowok yang malam itu siapa kamu?" Tanyanya seperti mengalihkan pembicaraan.
"Kak Niko, dia kakak kembarku." Kataku yang sudah mulai santai.
"Kamu kembar?" Dia kelihatan heboh.
"Iya kembar cewek cowok." Jawabku.
"Wah, waktu kecil pasti kalian gemesin banget, aku itu kalau ada anak kembar suka pengen. Kamu kalau punya anak bisa kembar juga ya?" Pancingnya.
"Kemungkinan besar sih bisa." Kataku.
"Jadi pengen halalin kamu." Celetuknya membuatku melotot.
"Hah?"
"Bercanda Ra, serius amat sih." Imbuhnya dengan tertawa santai.
Setelah obrolan itu suasana jadi hening, hanya suara musik yang menemani kita. Bian fokus menyetir, sedangkan aku lebih suka melihat pemandangan di luar sana. Sesekali aku juga membalas chat di ponselku. Tadi anak-anak pada heboh karena aku ketinggalan rombongan. Tapi aku sudah jelaskan kalau posisiku sudah dijalan.
Ibra juga dari tadi sudah heboh menelponku. Tapi sudah aku jelaskan dan minta dia untuk tidak melaporkan hal ini ke YMS, bisa kena omel mbak Lulu aku nanti.
"Kamu disana nanti hati-hati, jangan keluar dari villa sendirian." Pesan Bian.
"Kenapa?" Tanyaku yang mendadak khawatir.
"Nanti banyak yang terpesona sama kecantikan kamu." Ucapnya dengan menatapku.
Bluusshh..
Astaga, orang ini pintar sekali bikin aku panas dingin, mana jantung dari tadi nggak bisa diajak kompromi. Rasanya aku pengen sembunyi di lubang semut, apalagi pipiku sekarang pasti merah, haiissh.
__ADS_1
***