
Hari ini begitu banyak hal yang Aku lewati, dan Aku sangat bahagia. Kedatangan Bara memang membawa banyak perubahan. Rasanya Aku begitu kangen bisa ngumpul dengan formasi lengkap.
Setelah tadi bikin huru hara, sekarang kita melipir ke warung kopi Bang Kumis. Di tempat ini banyak kenangan saat kita masih SMA. Canda tawa kita bangun, rasanya hari ini memang begitu sempurna.
"Bunda nelpon," Seru Bara sambil menunjukan layar ponselnya.
"Bunda siapa? Bunda gue?" Tanyaku sambil menunjuk mukaku sendiri.
"Iyalah, gue cuma punya satu Bunda," jawab Bara kesal.
Aku nyengir, sejak awal bertemu memang mereka udah langsung manggil Bunda ke Bundaku. Bunda juga terlihat senang, Beliau juga dekat dengan teman-temanku, bahkan mereka kadang menjadikan Bunda tempat curhat.
"Assalamu'alaikum Bun," Salam Bara, ponselnya di loudspeaker.
"Waalaikumsalam, kamu masih sama Raya?" tanya Bunda dari seberang.
"Ya Bun, ini Raya, kenapa? Kangen?" candaku sambil ketawa.
"Ck, kamu ini, kenapa di telpon dari tadi nggak diangkat?" Semprot Bunda.
"Ponsel Raya Aku sita Bun," Syahnaz ikut nimbrung.
"Astaga kalian ini, cepat pulang, ini Niko sama Dio berantem," ujar Bunda terdengar khawatir.
"Apa?" seruku dan Syahnaz barengan.
"Buruan!" Gertak Bunda dan langsung mematikan ponselnya.
"Nambah-nambahin kerjaan aja," Gerutu Bara.
Aku dan Syahnaz langsung berdiri dan lari keluar warung. Bara terlihat menemui Bang Kumis untuk membayar. Bang kumis terlihat bingung, tapi Aku sudah tidak peduli.
"Niko ngapain berantem sama Kak Dio sih?" Gerutu Syahnaz saat di perjalanan.
"Biarin! Kalau gak digituin Dio gak bakal kapok!" Seru Bara santai.
__ADS_1
"Jangan bilang ini ulah lo, lo ngasih tau Kak Niko?" Selidik ku dengan menatap Bara tajam.
"Apaan! Fitnah lo enak aja, lo kira gue tukang ngadu. Kalau gue mau ngapain pake ngadu ke Niko, gue hajar langsung aja tadi." Bara membela diri.
Kita bertiga sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai di depan rumah, memang terlihat ada mobil Kak Dio yang terparkir di sana. Aku langsung turun dan berlari masuk ke dalam, diikuti Syahnaz.
Semua langsung menoleh ke arahku, di ruang tamu sudah ada Bunda yang duduk dengan bersedekah dada. Kak Niko dan Kak Dio duduk bersebelahan. Aku jelas khawatir dengan kondisi keduanya, tapi Aku menahan tawa saat melihat wajah keduanya yang minta diselamatkan dari ceramah panjang Bunda.
"Raya! Cepat duduk dan selesaikan semua ini. Bunda pusing!" Omel Bunda.
Aku berjalan mendekat dan duduk di sofa lain. Aku menatap kedua cowok itu bergantian. Syahnaz dan Bara baru datang dan memilih duduk di sebelahku. Mereka berdua juga ingin tertawa melihat wajah putus asa Kak Niko dan Kak Dio.
"Kalian kenapa berantem?" Tanyaku polos.
"Butuh wasit gak? Ada Gue nih, ayo dilanjut lagi!" Sahut Bara yang mendapat pelototan dari Bunda.
"Bara, kamu jangan ikut gila kayak mereka, mau Bunda hukum juga?" Sinis Bunda.
"Hahaha… Ampun Bunda, Bara kan anaknya Bunda yang paling manis, gak suka berantem. Ck, emang mereka kayak bocah!" Sindir Bara yang mulai cari muka ke Bunda.
Setelah diceramahi panjang kali lebar sama Bunda, Aku diminta untuk mengobati luka Kak Dio. Hanya luka kecil sih, tapi Aku yakin pasti perih. Dasar Kak Niko nyebelin.
"Maaf," Cicit Kak Dio saat kita berdua duduk di teras belakang.
Aku yang sedang mengobati luka di bibirnya mendongak, kedua mata kami bertemu. "Apa?" Sinisku.
"Maaf udah banyak ngelakuin salah dan nyakitin kamu," ujarnya membuatku sedikit tersentuh.
"Kak Dio harusnya ngerti posisi Aku, Aku tadi sengaja ngajakin Bara kesana, biar Kak Dio tahu apa yang Aku rasain selama ini." Kesal ku.
Kak Dio menggenggam tanganku, "Maaf Beib." Dia mencium tanganku.
"Aku selalu cemburu liat Kak Dio digelendotin Selly, tapi kalian selalu berdalih teman, Aku nggak mau terlihat posesif dan ngekang kamu bersosialisasi. Jadi Aku selalu ngalah walaupun itu sakit." Keluhku.
"Maaf," ulangnya lagi.
__ADS_1
"Kak Dio tau, semua anak di kampus pada ngomongin kita, Kak Dio itu pacarku tapi kemana-mana selalu sama Selly, mereka bilang yang jelek-jelek tentang kita. Aku tuh gak Terima kita digituin. Tapi kamu sendiri juga gak bisa dibilangin. Nurut aja sama Selly," kesal ku.
"Aku minta maaf Beib, selama ini dipikiranku, kedekatan ku dan Selly itu hanya teman biasa, Aku nggak sadar kalau itu pemicu masalah kita." Kak Dio ngerasa bersalah.
"Sebenarnya Aku nggak masalah kamu berteman sama cewek, tapi masalahnya ada di Selly. Dia itu ada rasa ke kamu, dan secara nggak langsung manfaatin pertemanan kalian buat bikin kita tengkar. Coba sama Kak Ria, Aku gak ada masalah, bahkan sering ngobrol santai." Ceritaku.
Kak Ria itu juga salah satu teman dekat Kak Dio. Dia satu kelas dan juga aktif organisasi. Tapi dia anaknya santai, juga welcome ke Aku. Kita malah sering ngobrol dan curhat bareng.
"Iya Beib, setelah kejadian tadi Aku sadar kalau emang selama ini Aku terlalu cuek dan lebih sibuk di duniaku sendiri. Aku gak sadar kalau semua itu nyakitin kamu," ujar Kak Dio dengan mengusap pipiku.
"Aku gak masalah kalau Kakak sibuk berorganisasi atau sibuk dengan dunia kakak. Aku sadar kita masih berpacaran,
Aku juga punya kesibukan lain. Aku cuma gak suka kamu terlalu sibuk dengan Selly." ucapku dengan menunduk.
"Iya Beib, Aku janji bakal jaga jarak sama dia." Janjinya.
Aku mendengus kesal, "Aku gak butuh janji kamu Kak, udah berapa kali kamu janji ke Aku? Buktiin!" Aku mencoba menekannya.
"Iya iya Beib, Maafin Aku ya," ujar Kak Dio dengan menatapku dalam.
Aku tersenyum, " Awas diulangi lagi." Ancam ku.
"Gak berani, ampun Beib." Janjinya dengan mencium tanganku, "Tapi kamu gak ada hubungan apa-apa kan sama Bara?"
Aku terkekeh, Kak Dio terlihat masih kesal. Ternyata pacar gantengku ini bisa juga cemburu. Dan wajahnya itu gemesin sekali. Bikin Aku pengen cium, eh.
"Gak ada Beib, kita murni sahabatan, dia juga lagi deketin cewek jogja," kataku menjelaskan.
"Syukur deh, Aku uring-uringan terus dari tadi Beib," ucapnya yang terlihat lelah.
"Terus kenapa kamu bisa berantem sama Kak Niko, kamu dihajar sama dia? Kok wajah Kak Niko masih mulus, tapi wajah kamu ada lecetnya gini?" Selidik ku yang masih ngeri melihat luka di bibir dan di pelipis Kak Dio.
Kak Dio menghela nafas panjang, dia terlihat enggan untuk bercerita. Sampai sekarang Aku masih belum tahu alasan mereka bertengkar, tapi ini jelas berhubungan denganku.
Kulirik Kak Niko yang terlihat santai di ruang tamu. Bercanda bareng Bara dan Syahnaz. Aku makin penasaran sama masalah kedua cowok ini, padahal biasanya mereka akur-akur aja.
__ADS_1
***